NovelToon NovelToon
Sial! Aku Bereinkarnasi Jadi Penjinak Cacing Terlemah

Sial! Aku Bereinkarnasi Jadi Penjinak Cacing Terlemah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Reinkarnasi
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: By Magus

Mati karena kelelahan melayani 10 istri cantik? Itu adalah akhir paling konyol dalam hidup Arka. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terlahir kembali sebagai Reno, seorang pemuda miskin di desa terpencil dunia Beast Tamer.
Di dunia di mana kekuatan ditentukan oleh hewan kontrak, Reno justru menjadi bahan tertawaan karena hanya mampu menjinakkan seekor cacing tanah kecil yang lemas. Semua orang menghinanya, menganggap masa depannya telah berakhir sebagai petani rendahan.
Tapi mereka tidak tahu... cacing itu bukanlah cacing biasa. Di dalam tubuh kecil itu, bersemayam jiwa Nidhogg, Naga Kuno legendaris yang pernah memusnahkan sebuah negara dalam satu malam!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PROLOG

HARGA SEBUAH KENIKMATAN -

Dunia ini rasanya seperti sedang berputar di atas komidi putar yang rusak. Pandangan Arka buram. Di atas langit-langit kamarnya yang berlapis emas dan kristal, ia seolah melihat ajalnya sedang melambaikan tangan dengan ramah.

"Mas Arka... ayolah, masa baru dua ronde sudah menyerah?"

Suara manja itu terdengar seperti lonceng kematian di telinga Arka. Ia melirik ke samping. Siska, istrinya yang ketujuh, sedang mengerucutkan bibir merahnya dengan tatapan menuntut. Arka ingin menjawab, tapi tenggorokannya terasa seperti tersumbat pasir. Jangankan untuk bergerak, untuk sekadar mengedipkan mata saja rasanya seluruh otot tubuhnya protes.

Arka adalah pria yang beruntung, setidaknya itulah yang dikatakan semua orang di luar sana. Dia tampan, kaya raya, dan memiliki sepuluh istri yang semuanya cantik bak model majalah ternama. Namun, orang-orang itu tidak tahu satu hal: memiliki sepuluh istri bukan berarti surga dunia. Baginya, itu adalah kerja paksa tanpa henti.

"Aku... aku butuh istirahat, Siska," bisik Arka parau. Suaranya hampir tidak terdengar.

"Yah, Mas nggak seru! Padahal kan hari ini jadwal aku sama Maya. Kita sudah tunggu dari tadi, lho!" Siska mengadu, lalu memanggil istri kesepuluh, Maya, yang baru saja masuk ke kamar dengan pakaian yang tak kalah menantang.

Arka memejamkan mata. Dadanya terasa sesak. Jantungnya berdegup dengan pola yang tidak beraturan, deg..deg..deg. deg..deg..seperti mesin tua yang dipaksa bekerja lembur. Di luar kamar, sayup sayup ia mendengar suara delapan istrinya yang lain sedang meributkan tas branded keluaran terbaru dan rencana liburan ke Paris.

Sial, batin Arka. Uangku banyak, tapi aku bahkan tidak punya waktu untuk tidur nyenyak satu jam saja. Kalau aku mati hari ini, tolong... di kehidupan selanjutnya, jadikan aku pria yang tenang. Aku tidak mau lagi berurusan dengan wanita-wanita haus perhatian ini.

Tiba-tiba, rasa sakit yang luar biasa menghujam jantungnya. Arka tersedak, tubuhnya mengejang sebentar sebelum akhirnya benar-benar lemas. Teriakan histeris Siska dan Maya menjadi suara terakhir yang ia dengar sebelum kegelapan total menelan kesadarannya.

"Ekkkh! Oeee! Oeee!"

Suara tangisan bayi yang melengking memecah keheningan sebuah gubuk tua di pinggiran Desa Tanah Merah. Sekarang Arka bukan, dia adalah seorang bayi merasa paru parunya seperti terbakar saat ia menghirup udara untuk pertama kalinya.

"Pak! Lihat, Pak! Bayinya laki-laki!" suara seorang wanita terdengar sangat dekat. Suaranya tidak manja seperti istri-istri Arka dulu, melainkan suara yang penuh dengan rasa syukur dan kelelahan yang tulus.

Arka mencoba membuka matanya, tapi pandangannya masih kabur. Ia merasakan tangan yang kasar namun hangat mengangkat tubuh kecilnya.

"Terima kasih, Gusti... Terima kasih," ucap seorang pria dengan suara berat yang bergetar karena haru. "Dia akan kita beri nama Reno. Reno, sang pemberani."

Arka tertegun dalam diam. Reno? Jadi aku benar-benar hidup lagi?

Beberapa hari kemudian, Arka yang kini resmi menjadi Reno mulai menyadari lingkungannya. Ini bukan lagi dunia modern dengan gedung pencakar langit dan mobil mewah. Tidak ada AC, tidak ada aroma parfum mahal. Yang ada hanyalah bau jerami, bau tanah basah, dan aroma masakan sederhana dari dapur tungku.

Gubuk tempatnya tinggal sangat memprihatinkan. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu yang sudah banyak lubangnya. Jika hujan turun, ayahnya harus sibuk menaruh ember di sana sini karena atapnya bocor. Namun anehnya, Reno merasa jauh lebih tenang di sini. Tidak ada sepuluh istri yang mengejarnya. Hanya ada ayah dan ibu yang sangat menyayanginya meski mereka hanya makan ubi rebus setiap hari.

15 Tahun Kemudian.

Matahari baru saja naik setinggi galah ketika Reno sedang mengasah sabitnya di belakang rumah. Tubuhnya sekarang tinggi dan tegap, kulitnya kecokelatan terbakar matahari, khas anak desa yang setiap hari membantu orang tuanya di sawah.

"Reno! Berhenti dulu asah sabitnya!" panggil ayahnya, Pak Darman, dari arah pintu.

Reno menoleh dan tersenyum. "Sebentar lagi selesai, Pak. Biar nanti motong rumput buat kerbau jadi lebih cepat."

Pak Darman mendekat, lalu duduk di sebuah lumping kayu tua. Wajahnya terlihat serius namun ada gurat kebanggaan di sana. "Hari ini adalah hari besar buatmu. Kamu sudah lima belas tahun. Kamu tahu kan apa artinya itu?"

Reno menghentikan kegiatannya. Tentu saja dia tahu. Di dunia ini, dunia para Penjinak Binatang (Beast Tamer), usia lima belas tahun adalah masa transisi. Setiap remaja akan mengikuti upacara kontrak untuk mendapatkan binatang peliharaan pertama mereka. Binatang itulah yang akan menentukan jalan hidup seseorang.

"Aku tahu, Pak. Hari kontrak binatang," jawab Reno tenang.

"Bapak minta maaf, Nak," suara Pak Darman merendah. Beliau menunduk melihat tangannya yang kasar dan penuh luka. "Bapak tidak punya uang untuk membelikan mu telur binatang buas yang bagus di pasar kota. Teman temanmu, seperti Bagas anak Kepala Desa, kabarnya sudah disiapkan telur Serigala Hutan Tingkat Perunggu. Tapi kita..."

Reno meletakkan sabitnya dan memegang bahu ayahnya. "Pak, jangan bicara begitu. Aku tidak butuh telur mahal. Takdir sudah mengatur siapa yang akan jadi partnerku. Mau itu serigala atau cuma ayam hutan, aku akan menjaganya dengan baik."

Pak Darman terharu melihat kedewasaan anaknya. Ia tidak tahu bahwa jiwa di dalam tubuh Reno adalah jiwa pria dewasa yang sudah kenyang dengan asam garam kehidupan.

"Ya sudah, ayo berangkat. Upacaranya dimulai sebentar lagi di Balai Desa."

Balai Desa Tanah Merah sudah ramai dipenuhi penduduk. Di tengah lapangan, terdapat sebuah panggung kayu yang di atasnya diletakkan sebuah kotak besar berisi tanah dan bebatuan dari hutan terlarang. Di dalam kotak itulah, berbagai binatang kecil dan telur diletakkan untuk dipilih oleh para calon penjinak.

"Bagas, maju ke depan!" teriak sang penguji, seorang pria tua dengan jubah abu abu.

Bagas, seorang pemuda bertubuh tambun dengan pakaian sutra yang mencolok, maju dengan angkuh. Ia memasukkan tangannya ke dalam kotak dan tak lama kemudian, ia menarik keluar seekor anak serigala berbulu abu-abu yang menggeram kecil.

"Luar biasa! Serigala Hutan! Potensi Tingkat Perunggu!" seru sang penguji.

Tepuk tangan meriah membahana. Bagas membusungkan dadanya dan melirik sinis ke arah Reno yang berdiri di barisan paling belakang.

"Selanjutnya, Reno!"

Reno berjalan maju dengan langkah santai. Bisikan-bisikan mulai terdengar dari warga desa.

"Kasihan si Reno, ayahnya cuma petani miskin. Paling-paling dia cuma dapat kelinci atau tikus tanah."

"Iya, mana mungkin dia bisa dapat binatang tempur."

Reno tidak memedulikan omongan itu. Baginya, kebisingan warga desa ini tidak ada apa apanya dibandingkan teriakan sepuluh istrinya dulu. Ia sampai di depan kotak, lalu menutup matanya. Ia membiarkan instingnya yang bekerja.

Tangannya meraba raba di dalam tanah yang lembap. Tiba-tiba, ia merasakan sesuatu yang bergetar sangat halus. Sesuatu yang terasa dingin, namun memiliki denyut nadi yang sangat kuat terlalu kuat untuk ukuran binatang kecil.

Reno menggenggam benda itu dan menariknya keluar.

Suasana yang tadinya bising tiba-tiba menjadi sunyi senyap, sebelum akhirnya tawa pecah dari segala penjuru.

"Hahahaha! Cacing? Dia dapat cacing tanah?!" Bagas sampai memegangi perutnya karena tertawa terlalu keras.

Di telapak tangan Reno, seekor cacing kecil berwarna merah pucat sepanjang jari telunjuk menggeliat lemas. Tubuhnya sangat kecil, tampak rapuh, dan seolah olah akan mati jika terkena sinar matahari terlalu lama.

"Reno... kamu yakin ingin melakukan kontrak dengan... ini?" tanya sang penguji dengan tatapan kasihan.

Reno menatap cacing itu. Anehnya, saat matanya bertemu dengan bagian yang dianggap sebagai kepala cacing itu, Reno merasakan gelombang energi yang dahsyat menghantam jiwanya. Itu bukan sekadar cacing. Ada sesuatu yang sangat kuno dan gelap bersembunyi di balik tubuh lemah itu.

"Ya, aku yakin," jawab Reno mantap.

Ia menggigit ibu jarinya hingga berdarah, lalu meneteskan darahnya tepat di atas tubuh cacing tersebut. Darah itu langsung terserap habis. Sebuah lingkaran sihir berwarna hitam legam warna yang tidak pernah dilihat oleh siapa pun di desa itu, muncul di bawah kaki Reno selama satu detik sebelum menghilang.

"Kontrak Jiwa Berhasil!" sebuah suara menggema di dalam kepala Reno.

Reno membawa cacing itu pulang dengan tenang, mengabaikan ejekan orang-orang yang menyebutnya "Penjinak Sampah". Setibanya di rumah, ia meletakkan cacing itu di atas meja kayu kamarnya.

"Nah, kecil. Sekarang kita sendirian. Siapa kau sebenarnya?" tanya Reno pelan.

Tiba-tiba, suhu di dalam kamar Reno turun drastis. Cahaya lampu minyak bergoyang-goyang ditiup angin gaib. Cacing yang tadinya menggeliat lemas itu tiba-tiba berdiri tegak, kepalanya mendongak menatap Reno.

"Manusia... kau punya nyali juga menjadikanku budakmu," sebuah suara berat dan serak bergema langsung di otak Reno. Suara itu begitu penuh wibawa dan ancaman, seolah berasal dari dasar neraka.

Reno terkejut, tapi ia tidak lari. "Kau bisa bicara? Jadi tebakanku benar, kau bukan cacing biasa."

"Cacing?! Aku adalah NIDHOGG! Sang Naga Kuno Pemusnah Kerajaan! Aku adalah bencana yang pernah melahap sejuta ksatria dalam satu tarikan napas!" cacing itu berteriak lewat transmisi jiwa. "Sialan! Bagaimana mungkin jiwaku yang agung terjebak di tubuh lunak tak bertulang ini?!"

Reno terdiam sejenak, lalu ia justru tertawa kecil. "Naga kuno, ya? Tapi sekarang kau cuma cacing merah yang bisa diinjak anak kecil sampai mati."

"TUTUP MULUTMU, MANUSIA! Jika aku mendapatkan kembali kekuatanku, aku akan"

"Kau tidak akan melakukan apa-apa tanpa bantuanku," potong Reno dengan tenang. Ia mendekatkan wajahnya ke cacing itu. "Dengar, Nidhogg. Aku adalah pria yang sudah mati sekali. Aku tidak takut pada gertakan mu. Kita sudah terikat kontrak. Kalau aku mati, kau juga lenyap. Jadi, daripada mengancam ku, lebih baik kita bekerja sama."

Nidhogg terdiam. Aura hitam yang tadi menyelimutinya perlahan meredup. "Apa yang kau inginkan, Manusia?"

"Sederhana," Reno tersenyum tipis. "Bantu aku menjadi yang terkuat di dunia ini agar tidak ada satu pun orang yang berani mengganggu ketenanganku. Dan sebagai imbalannya, aku akan memberimu semua makanan yang kau butuhkan untuk berevolusi kembali menjadi naga."

Nidhogg terdiam cukup lama, seolah sedang menimbang nimbang. "Kesepakatan yang menarik. Tapi kau harus tahu satu hal, Manusia. Nafsu makanku tidak terbatas. Aku butuh energi dari inti jantung binatang buas. Semakin kuat binatang yang kau bunuh, semakin cepat aku tumbuh."

"Itu bukan masalah," jawab Reno sambil mengelus cacing itu dengan ujung jarinya. "Dulu aku mati karena melayani sepuluh wanita. Sekarang, aku hanya perlu melayani satu cacing rakus. Kurasa ini jauh lebih mudah."

Di bawah sinar bulan yang masuk melalui celah dinding gubuk, sebuah aliansi paling aneh dalam sejarah dunia penjinak binatang baru saja terbentuk. Seorang mantan suami yang kelelahan dan seekor naga pemusnah yang menyamar jadi cacing tanah.

"Mari kita tunjukkan pada dunia, Nidhogg. Apa yang bisa dilakukan oleh seekor cacing," bisik Reno penuh ambisi.

Malam itu, di dalam gubuk miskin yang terasing, takdir dunia ini mulai bergeser. Sang Pemusnah telah bangkit, dan dia sedang lapar.

1
Bambang Hartono
lanjutkan
Jack Strom
Tanggung dah... 😁
Jack Strom
Hmmm... 🤔
Jack Strom
Biasa, lawan berlapis... hehehe 😛
Jack Strom
Hajar!!! 😁
Jack Strom
Wow, alasan Raka sangat logis... Tapi, benarkah? 🤔
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Aneh... 😁
Jack Strom
Keren... 😁
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Mantap.. 😁
Jack Strom
Waduh, Raka mulai mengancam... 🤔
Jack Strom
Sandiwara satu babak kah dengan Bagas? 🤔
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Ayo, bertarung... 😁
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Ayo, berpetualang... 😁
Jack Strom
Keren... 😁
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Aduh, sumber masalah jadi lolos... 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!