NovelToon NovelToon
Sang Kaisar Abadi Yang Terlahir Kembali

Sang Kaisar Abadi Yang Terlahir Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Seorang Kaisar Abadi yang berkuasa dan ditakuti di seluruh alam semesta dikhianati dan dibunuh oleh orang-orang terdekatnya. Namun, alih-alih jiwanya hancur, ia terbangun kembali sebagai seorang pemuda tak berguna di sebuah klan kecil yang hampir punah, ribuan tahun di masa depan. Dengan semua ingatan dan pengetahuannya yang luas dari kehidupan sebelumnya, ia memulai kembali perjalanan kultivasinya. Kali ini, ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Di Balik Tirai Kabut

Pagi buta di markas Ordo Pemburu Bayangan disambut dengan kesibukan yang tidak biasa. Tiga sosok berdiri di pintu batu tersembunyi yang mengarah ke permukaan—Arga, Darmaji, dan Sinta. Masing-masing membawa perlengkapan minimal: bekal kering, kantung air, dan senjata pilihan. Arga masih setia dengan pisau berkaratnya, meski Sinta sempat menawarkan senjata yang lebih layak.

"Pisau ini sudah membawaku sejauh ini," katanya saat itu. "Aku akan menyimpannya sampai waktunya tiba."

Sinta hanya mengangkat bahu.

Kini, di bawah cahaya kristal redup lorong markas, Darmaji memberikan instruksi terakhir pada dua pemburu senior yang akan menjaga tempat itu selama kepergian mereka.

"Kalau kami tidak kembali dalam sebulan, pindahkan semua isi arsip ke markas cadangan. Bakar yang tidak bisa dibawa."

Pemburu itu mengangguk tanpa pertanyaan. Disiplin ordo memang luar biasa.

"Kita berangkat." Darmaji menyentuh dinding batu dengan tongkatnya. Pintu bergeser terbuka, memperlihatkan hutan yang masih diselimuti kabut pagi.

Arga menarik napas dalam-dalam. Udara dingin menusuk paru-parunya, tapi Benang Emas di Dantian-nya berdenyut hangat, menyebarkan kehangatan ke seluruh tubuh. Ia melangkah keluar, diikuti dua rekannya.

Pintu batu tertutup di belakang mereka, menyatu kembali dengan tebing seolah tidak pernah ada.

---

Perjalanan ke selatan memakan waktu tiga hari.

Mereka bergerak cepat, memanfaatkan jalur-jalur tersembunyi yang hanya diketahui oleh Ordo Pemburu Bayangan. Darmaji memimpin dengan tongkatnya yang sesekali mengetuk tanah—bukan karena ia membutuhkan bantuan berjalan, melainkan karena tongkat itu adalah alat pendeteksi. Setiap ketukan mengirimkan gelombang energi halus ke dalam tanah, membaca keberadaan monster atau manusia di sekitar mereka.

"Lingkaran Naga Hitam juga bergerak," kata Darmaji di hari kedua. "Aku merasakan jejak energi mereka. Samar, tapi ada. Mereka mungkin mengambil rute berbeda."

"Atau mereka sudah lebih dulu sampai," timpal Sinta.

"Kalau begitu, kita akan menyusul."

Hari ketiga, pemandangan mulai berubah. Pepohonan raksasa Hutan Timur perlahan digantikan oleh pohon-pohon cemara yang lebih pendek tapi lebih rapat. Udara semakin dingin, dan di kejauhan, siluet biru keabu-abuan mulai terlihat—Pegunungan Kabut.

Arga belum pernah melihat pegunungan itu secara langsung, bahkan dalam kehidupan sebelumnya sebagai Kaisar Langit. Wilayah selatan memang jarang ia kunjungi—terlalu terpencil, terlalu sedikit sumber daya kultivasi yang bernilai. Tapi kini ia mengerti mengapa para Penjaga memilih tempat ini.

Kabut.

Begitu mereka memasuki kaki pegunungan, kabut mulai menyelimuti. Bukan kabut biasa—ini kabut yang tebal, lengket, dan anehnya... terasa hidup. Benang Emas di Dantian Arga berdenyut lebih cepat, seolah mengenali sesuatu di dalam kabut ini.

"Kabut ini mengandung energi," gumamnya.

Darmaji mengangguk. "Sisa-sisa formasi kuno. Mungkin formasi penyembunyian yang kau sebutkan. Setelah ribuan tahun, formasi itu melemah dan bocor, menciptakan kabut abadi ini."

"Berarti kita sudah dekat."

"Mungkin. Tapi kabut ini juga berbahaya." Sinta menunjuk ke tanah. Arga mengikuti arah tunjukannya dan melihat tulang-belulang. Bukan tulang manusia—terlalu besar. Monster. Beberapa di antaranya masih utuh, seolah pemiliknya mati saat sedang berjalan.

"Kabut ini membingungkan arah," jelas Darmaji. "Monster-monster yang masuk tersesat, berputar-putar sampai mati kelelahan. Kita harus berhati-hati."

Mereka melanjutkan perjalanan dengan lebih waspada. Darmaji menggunakan tongkatnya setiap beberapa langkah, memastikan mereka tidak berjalan melingkar. Sinta berjalan di belakang, mengawasi kemungkinan serangan dari arah yang sudah mereka lewati. Arga di tengah, indranya diperluas, merasakan setiap perubahan dalam kabut.

Ada sesuatu di sini, pikirnya. Sesuatu yang memanggil.

Liontin di dadanya—pecahan lingkaran—berdenyut lebih kuat. Begitu juga liontin bulan sabit yang kini dibawa Darmaji dalam kotak logam hitam. Getarannya terasa bahkan dari kejauhan.

"Arga." Suara Darmaji terdengar tegang. "Kau merasakannya?"

"Ya. Pecahan ketiga. Samar, tapi ada. Di depan sana."

Mereka mempercepat langkah. Kabut semakin tebal, hampir seperti berjalan di dalam awan. Jarak pandang kurang dari tiga langkah. Tapi Arga tidak perlu melihat—ia cukup mengikuti tarikan liontin di dadanya.

Lalu tiba-tiba, Darmaji berhenti.

"Tunggu."

Arga dan Sinta ikut berhenti. Di depan mereka, kabut sedikit menipis, memperlihatkan sesuatu yang membuat ketiganya terdiam.

Sebuah gerbang batu raksasa.

Tingginya setidaknya sepuluh kali tinggi orang dewasa, terbuat dari batu hitam yang sama sekali tidak tertutup lumut—aneh, mengingat kelembapan kabut di sekitarnya. Di puncak gerbang, ukiran tiga simbol: lingkaran, bulan sabit, dan bintang. Tapi simbol bintang yang paling menonjol, berpendar redup dengan cahaya keemasan.

"Ini dia," bisik Darmaji.

Mereka mendekat. Gerbang itu tidak memiliki daun pintu—hanya bingkai batu raksasa yang berdiri sendiri di tengah kabut. Tapi saat Arga melangkah mendekat, ia merasakan adanya penghalang tak terlihat. Seperti dinding kaca yang dingin.

"Formasi," katanya. "Kuat. Sangat kuat."

Darmaji menyentuh penghalang itu dengan tongkatnya. Percikan energi memantul, membuatnya mundur selangkah. "Ini bukan formasi biasa. Ini formasi yang hanya bisa dibuka oleh sesuatu yang spesifik."

Arga mengamati gerbang itu. Tiga simbol di puncaknya. Dua di antaranya—lingkaran dan bulan sabit—kini berkedip seirama dengan liontin yang mereka bawa. Tapi simbol bintang tetap redup.

"Aku mengerti." Arga menatap dua rekannya. "Gerbang ini membutuhkan ketiga liontin untuk terbuka. Tapi kita hanya punya dua. Itu sebabnya simbol bintang tetap redup."

"Jadi kita tidak bisa masuk?" tanya Sinta.

"Tidak dengan cara biasa." Arga meletakkan tangannya di penghalang tak terlihat. Benang Emas di Dantian-nya berdenyut, dan ia mengalirkan sedikit energinya ke penghalang. "Tapi aku adalah keturunan Penjaga. Mungkin... mungkin aku bisa memaksa masuk."

"Berbahaya," peringatan Darmaji.

"Aku tahu. Tapi kita tidak punya pilihan. Lingkaran Naga Hitam bisa datang kapan saja."

Ia menutup mata dan berkonsentrasi. Energi Benang Emas mengalir dari Dantian-nya, melalui lengannya, ke telapak tangan yang menempel di penghalang. Ia merasakan formasi itu—rumit, kuno, penuh dengan lapisan-lapisan pertahanan.

Buka, perintahnya dalam hati. Aku adalah darah Penjaga. Aku punya hak untuk masuk.

Penghalang itu bergetar. Lalu, perlahan, sebuah celah mulai terbuka—cukup untuk dilewati satu orang.

"Cepat!" desis Arga. "Aku tidak bisa menahannya lama-lama!"

Darmaji dan Sinta melesat melewati celah. Arga menyusul, dan begitu ia melepaskan tangannya, celah itu tertutup kembali.

Mereka berdiri di sisi lain gerbang. Kabut di sini justru lebih tipis, memperlihatkan pemandangan yang menakjubkan: sebuah lembah luas yang di tengahnya berdiri menara batu hitam, persis seperti yang digambarkan dalam kitab kuno. Tiga sungai mengalir dari arah berbeda, bertemu di kaki menara, menciptakan danau kecil yang airnya berkilau keperakan.

"Lembah tempat tiga sungai bertemu," bisik Darmaji. "Kita menemukannya."

Tapi sebelum mereka sempat merayakannya, suara di belakang mereka membuat darah membeku.

"Akhirnya. Aku sudah menunggu kalian."

Mereka berbalik. Dari balik gerbang, di sisi kabut yang tebal, sesosok tubuh melangkah masuk—menembus penghalang seolah itu tidak ada.

Pria berjubah abu-abu. Tetua Abu dari Lingkaran Naga Hitam.

Dan di tangannya, sebuah liontin berbentuk bintang berpendar dengan cahaya keemasan.

1
Mommy Dza
So sweet 😁 akhirnya Arga bs tdur nyenyak
Mommy Dza
Masuk ke dalam kegelapan
kenangan pertama
Mommy Dza
Mencari pecahan
Mommy Dza
Pilihan yg sulit
Mommy Dza
pemangsa yg kesepian ternyata🥹
Mommy Dza
Lanjut💪
Mommy Dza
Tetap semangat Arga 💪
Mommy Dza
Cara memperkuat segel adalah
Mommy Dza
Bravo Arga 👍💪
BlueHeaven
Sekelas Penguasa Tertinggi kok sampe nggak tau sih, apalagi setetes demi setetes tiap harinya
MyOne
Ⓜ️👣👣👣Ⓜ️
Mommy Dza
Arga kembali 💪
Mommy Dza
Arga mau dimangsa 🥹 haddehh
hancurkan dia Arga
Mommy Dza
Memperbarui segel dan mengurung pemangsa 💪
Mommy Dza
Arga semakin kuat 💪
Mommy Dza
Nasib apa yg menunggunya 🥹
Mommy Dza
Lanjut thor
Mommy Dza
Wah ketemu pecahan kedua yah 💪
Mommy Dza
Siapa lagi yg muncul /Smug/
Mommy Dza
Bunuh dia Arga 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!