Terjebak dalam tubuh karakter figuran yang sakit-sakitan, seorang wanita harus bertahan hidup di dunia novel sebelum maut menjemputnya. Demi mendapatkan obat dan perlindungan dari keluarganya yang manipulatif, ia mengajukan pernikahan kontrak selama satu tahun kepada Axion, pria berjuluk "Iblis" kekaisaran.
Namun, pernikahan ini menjadi rumit karena setiap anggota keluarga menyimpan rahasia besar. Axion ternyata menyimpan ingatan dari kehidupan sebelumnya yang penuh dendam, sementara putra angkat mereka adalah sosok misterius yang aslinya bukan berasal dari dunia manusia.
Meski awalnya penuh ketegangan dan instruksi untuk hidup saling mengabaikan, sikap sang suami perlahan berubah drastis. Pria yang semula dingin itu kini menjadi sangat protektif dan tidak segan bertindak kasar pada siapa pun yang merendahkan istrinya. Hubungan yang seharusnya berakhir dalam setahun kini berubah menjadi ikatan keluarga yang rumit namun tak terpisahkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon flowy_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memori Kelam Axion.
Axion pernah mati sekali.
Wanita bernama Catherine Valencia itulah penyebabnya.
"Aku sudah tahu kalau Duke mencintaiku sejak lama. Tapi maaf, aku tidak bisa menerima perasaan itu."
"Apa?"
"Meskipun Duke menatapku seperti itu, hatiku tidak akan berubah!"
Saat mendengar itu, Axion hanya bisa membatin; 'wanita ini benar-benar gila.'
Catherine seenaknya berasumsi kalau Axion menyukainya, hingga akhirnya tindakan bodoh wanita itu menyeret Axion pada kematian.
Namun, begitu nyawanya melayang, Axion terbangun kembali.
Ia sempat merasa aneh saat menyadari dirinya telah kembali ke masa lalu.
-
Hari demi hari berlalu. Semuanya berjalan persis seperti ingatan Axion di kehidupan sebelumnya. Mulai dari penemuan seorang anak saat penaklukan di wilayah Barat, hingga perdebatan dengan Kaisar yang menolak rencana adopsinya.
Kaisar justru mengadakan pesta besar untuk merayakan kemenangannya. Di pesta itu, Axion memperhatikan sekelilingnya. Semua percakapan yang ia dengar, bahkan intonasi bicara orang-orang di sana, tidak ada yang berubah sedikit pun.
Kini Axion benar-benar yakin. Ia telah kembali ke masa lalu.
‘Ini pasti sebuah kesempatan.’
Kesempatan untuk menghancurkan siapa pun yang pernah mengkhianatinya. Terutama Catherine Valencia. Axion bersumpah akan menghancurkan wanita itu beserta seluruh keluarganya sampai tak tersisa.
Namun, di tengah semua kejadian yang "terulang" itu, muncul satu hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya.
"Aku Gabriella. Gabriella Valencia."
Wanita itu benar-benar muncul di hadapannya.
"Apa karena aku tiba di ibu kota lebih awal, makanya masa depan berubah?"
Wanita yang tadi lari ketakutan saat melihatnya bersama Gabriella adalah sosok yang seharusnya menjadi istrinya di kehidupan sebelumnya. Dalam alur waktu yang terus berulang ini, hanya Gabriella yang menjadi satu-satunya keanehan.
"Lagi pula, aku tidak menyangka dia akan mengungkit soal Amaryllis."
Axion tahu bahwa tanaman itu benar-benar ada. Ia pernah mengerahkan segala cara untuk mendapatkan Amaryllis demi kakak perempuannya—satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Karena tanaman itu disebut sebagai satu-satunya obat bagi sang kakak, Axion bahkan rela menawarkan harga yang fantastis saat Amaryllis muncul di pelelangan. Namun, usaha itu tetap gagal.
'Sialnya, orang-orang kuil itu ikut campur hingga aku gagal memenangkan lelang itu.'
Itu adalah salah satu kenangan terburuk di kehidupan sebelumnya. Namun sekarang, Amaryllis yang bahkan tidak bisa ia dapatkan meski telah mempertaruhkan anggaran wilayah selama lima tahun, justru datang sendiri padanya.
"Meski dari keluarga yang sama, sepertinya Gabriella jauh lebih pintar dari pada Catherine."
Sebenarnya Axion tetap tidak menyukai Gabriella hanya karena ia berasal dari keluarga Valencia. Meski wanita itu mengaku datang untuk menghindari perjodohan dengan pria tua, bisa saja di dalam kepalanya ia sedang merangkai khayalan romantis yang konyol seperti Catherine.
"Kau tidak tahu istilah 'nikah dulu baru cinta'? Kita bisa saja saling jatuh hati setelah menjalani pernikahan kontrak, kan!"
Catherine juga pernah mengatakan hal yang sama.
"Hah, benar-benar konyol."
Hanya dengan memikirkannya saja sudah cukup untuk membuat kepala Axion berdenyut.
Meski begitu membenci keluarga Valencia, alasannya menerima Gabriella sangatlah sederhana.
‘Jika aku menikahinya, sumber dana keluarga Valencia akan terputus.’
Saat ini, keluarga Valencia hidup dengan cara menumpang pada kekayaan Gabriella yang sangat besar. Maka dengan mempertahankan pernikahan ini, Axion secara tidak langsung sedang memutus aliran dana mereka.
‘Lagipula, aku bisa mengawasi dan mencari kelemahan keluarga Valencia selagi dia ada di sisiku.’
Rencana itu benar-benar sempurna.
Mata merah Axion yang penuh akan kebencian terpantul jelas pada bilah pedang yang kini telah bersih mengilat.
Sring.
Dengan satu gerakan tenang, ia menyimpan kembali pedangnya.
"Ngomong-ngomong...."
Kenapa ia tidak mempunyai ingatan tentang Gabriella Valencia sebelumnya? Jika dia adalah saudari Catherine, seharusnya mereka pernah bertemu setidaknya sekali.
"Ah, seingatku dia sudah mati."
Apakah karena kecelakaan?
Axion sendiri tidak tahu pasti. Selama masa kontrak terpenuhi, apa pun yang terjadi pada wanita itu bukan lagi urusannya.
Setelah menghapus sosok Gabriella dari pikirannya, Axion membuang saputangan bernoda darah itu tanpa ragu.
......................
Keesokan paginya.
"Gabriella Valencia!"
Bentakan keras Count Valencia menggema hingga ke seluruh penjuru kediaman.
"Apa yang sebenarnya sudah kau lakukan?!"
"Sepertinya aku tidak mengerti maksud perkataan Ayah."
"Apa? Tidak mengerti? Eldaim baru saja...."
Wajah sang Count memerah menahan geram setelah mengetahui keadaan Eldaim.
"Dia ditemukan pingsan di dalam kereta kuda! Katanya tidak ada satu pun orang yang melihat Eldaim di ruang perjamuan kemarin!"
"......"
"Ini perbuatanmu, kan?"
"Tanyakan saja langsung padanya setelah dia sadar. Lagi pula, Ayah tidak akan percaya apa pun yang aku katakan."
"Jawab saja pertanyaanku! Apa yang kau lakukan pada saudaramu?!"
Eldaim tidak mati. Dia hanya pingsan.
‘Dia pingsan begitu melihat energi iblis, jadi aku tidak merasa melakukan sesuatu yang salah.’
Gabriella memilih untuk bersikap seolah tidak tahu apa-apa, karena menjelaskan situasi yang sebenarnya, hanya akan membuang-buang waktu.
Tepat saat Count Valencia hendak meluapkan amarahnya kembali, suara ketukan pintu memotong suasana tegang itu. Kepala pelayan muncul dengan tergesa-gesa.
"Tuan, ada tamu yang ingin bertemu."
"Pagi-pagi begini tanpa janji temu? Katakan aku sedang sibuk, suruh dia kembali lagi nanti!"
"Sepertinya itu akan sulit, Tuan."
"Kenapa? Apa Kaisar sendiri yang datang?!"
"Duke Axion datang untuk melamar Nona Gabriella."
"Apa!"
Ekspresi Count Valencia seketika berubah.
"Nona Gabriella, sepertinya Anda harus segera menemuinya. Duke bilang beliau tidak punya banyak waktu luang."
"Tentu. Aku tidak mungkin membiarkannya menunggu."
Gabriella menyampirkan syal dengan tenang, lalu berjalan mengikuti kepala pelayan. Count Valencia yang sudah kehilangan momentum untuk marah pun hanya bisa mengekor di belakang dengan perasaan campur aduk.
Namun, mereka tidak dibawa menuju ruang tamu.
Melihat sosok tinggi tegap berbalut jubah hitam berdiri di depan pintu utama, Count Valencia langsung menghardik pelayannya.
"Apa yang kalian lakukan? Kenapa tidak mempersilakan Duke masuk ke ruang tamu!"
"Aku sendiri yang memutuskan untuk tetap di sini."
"O-oh, begitu rupanya?"
Tanpa memedulikan sang Count, Axion melangkah menghampiri Gabriella.
"Menikahlah denganku."
Sebuah kotak di sodorkan ke hadapan Gabriella. Di dalamnya, sebuah kalung berlian tampak berkilau dengan begitu indahnya.
"Karena aku tidak tahu apa yang kau sukai, aku membawa apa saja yang kulihat. Kau boleh memiliki semuanya."
Seolah sudah menunggu aba-aba, pintu terbuka lebar. Sejumlah pelayan masuk dengan gerakan teratur, menjajarkan berbagai macam bunga dan perhiasan di sana.
Gabriella memperhatikan satu per satu perhiasan yang disodorkan kepadanya—mulai dari kalung, gelang, anting, hingga jepit rambut—semuanya ada, kecuali cincin.
Seketika ia tersadar bahwa ini hanyalah lamaran kosong tanpa perasaan. Namun, tepat saat ia hendak membuka suara—
"Tunggu, tunggu sebentar! Gabriella saat ini sedang merencanakan pernikahan dengan Count Diego!"
Count Valencia menyela dengan terburu-buru.
Jika kesepakatan dengan Count Diego di batalkan, denda yang harus di bayar sangatlah besar. Jadi, kami butuh waktu untuk mempertimbang—"
"Denda itu, biar aku yang bayar," potong Axion dengan nada datar, seolah uang bukanlah masalah baginya.
"Tapi jumlahnya tidak main-main, Duke."
"Kau sedang meragukan kemampuanku untuk membayar jumlah sekecil itu?"
"Bu-bukan begitu maksud saya!"
"Kalau begitu, mari kita mendengar keputusan Gabriella."
Ini semua hanyalah sandiwara yang sudah diatur rapi. Dan jawaban Gabriella pun,sudah pasti bisa di tebak.
"Aku menerima lamarannya."
"Apa?"
"Kalau begitu, kita berangkat ke wilayah Argenta sekarang juga," ujar Axion dingin.
"Hah?"
Count Valencia menatap Gabriella dan Axion bergantian dengan wajah pucat.
"Tu-tunggu. Putriku juga harus pergi sekarang?"
"Kenapa? Ada masalah?"
"Tentu saja saya—!"
"Tidak ada masalah," potong Gabriella tegas.
Merasa diabaikan, Count Valencia hendak membentaknya, namun ia tiba-tiba menyadari sesuatu yang janggal.
'Jangan-jangan...'
Apakah kedua orang ini sudah mencapai kesepakatan sebelumnya?
Ia mungkin bisa bersikap semena-mena pada Gabriella, tapi tidak pada Axion. Count Valencia pun segera mengubah sikapnya.
"Duke. Walaupun kami tidak memiliki hubungan darah, ia adalah putri yang aku besarkan dengan penuh kasih sayang. Jadi, izinkan saya berbicara dengannya sebentar sebelum ia pergi."
Axion menatapnya dengan pandangan menghina, lalu mengalihkan perhatian kepada Gabriella.
"Kau meminta izin pada orang yang salah. Jadi, apa keinginanmu?"
"Aku ingin mengucapkan salam perpisahan terakhir kali. Tidak akan lama."
"Baiklah, aku akan menunggu di luar. Panggil aku jika terjadi sesuatu."
Begitu Axion menghilang, Count Valencia langsung mencengkeram bahu Gabriella dengan kuat.
"Apa sebenarnya yang terjadi Gabriella?!"
Cengkeraman itu terasa menyakitkan. Namun, Gabriella segera menyembunyikan rasa muaknya di balik senyum yang lembut.
"Ayah, aku akan membawakan uang dalam jumlah yang jauh lebih besar dari pada harta milik Count Diego."
"Kau sedang bercanda? Duke Argenta itu tidak bisa dibunuh, bahkan dengan energi iblis sekalipun!" bentak sang Count dengan suara rendah agar tidak terdengar orang luar.
"Uang tidak harus di dapatkan dengan cara membunuh suamiku. Duke sudah berjanji akan memberiku pesangon dalam jumlah besar saat kami bercerai nanti."
"Apa?"
"Ayah bisa memeriksanya sendiri. Duke memang menyebarkan rumor secara rahasia bahwa ia sedang mencari istri kontrak."
"Bagaimana kau bisa tahu hal itu? Dan juga, kalau ini memang kontrak, kapan kalian akan bercerai?"
"Kira-kira satu tahun lagi."
"Satu tahun?!"
Seketika wajah Count Valencia pucat pasi.
"Hanya satu tahun, Ayah."
"Tidak, tidak, bukan itu maksudku..."
Di hari Gabriella tersadar setelah mencoba mengakhiri hidupnya dengan racun, sang Count sebenarnya sudah menerima kabar dari dokter bahwa usia putri tirinya itu tidak akan lama lagi.
Namun, selama ini ia menyembunyikan kenyataan itu dari Gabriella karena alasan sederhana. Ia takut jika Gabriella tahu umurnya tinggal sedikit, wanita itu akan menolak untuk menikah lagi dan tidak bisa membawakan warisan dari suaminya.
Hanya itu yang ada di pikirannya.