Kalista, seorang food blogger dengan ribuan penggemar dimana mana.
setiap konten yang di upload nya di media sosial akan selalu mendapat jutaan views.
tentu saja hobinya yang paling jelas adalah makan.
Aruna, putri dari seorang paruh baya pemilik restoran terkenal, dia bekerja ditempat ibunya sebagai latihan karena setelah lulus SMA dia akan meneruskan usaha ibunya itu.
salah satu kebiasaan nya adalah melakukan beatbox.
Luna, anak dari seorang petani, didesa nya orang tuanya adalah yang paling kaya.
mereka punya banyak tanah yang dijadikan kebun buah dan sayur, padi dan juga dijadikan tempat ternak hewan yang salah satunya adalah sapi dan kambing.
Luna sendiri punya satu sapi kesayangan yang dia berikan nama blackmoo, sapi nya hitam dan selalu lapar hingga terus berisik.
secara tidak terduga ketiga gadis itu mati dan berpindah ke masa lalu dijaman kuno, abad pertengahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6
Dikediaman besar Valkey.
Dalam ruangan Kepala keluarga, Albert Hall Valkey duduk dengan penuh wibawa dikursi kerjanya.
Barulah ia bangkit saat penjaga mengumumkan kedatangan seorang tamu.
Ia duduk disofa dan mempersilahkan tamunya duduk.
Tangannya melambai memberikan perintah pada pelayan agar menyiapkan kudapan dan teh.
beberapa saat kemudian, kudapan dan teh tersaji, para pelayan diperintahkan segera pergi dari ruangan itu.
Saat itulah Duke Albert membuka suaranya untuk memulai percakapan penting, ia bersikap serius karena tamu nya adalah seorang pangeran.
"Yang mulia memiliki kepentingan?" Tanya duke Albert tanpa basa basi, dia memang selalu dikenal sebagai orang tanpa basa basi.
Pada saat itulah, pangeran itu mengeluarkan sebuah gulungan kecil dari saku pakaiannya, ia menaruhnya ketengah meja.
Duke mengulurkan tangannya mengambil gulungan itu dan membukanya, begitu setiap baris kata ia baca saat itulah keningnya sedikit mengerut meskipun samar, namun perubahan kecil itu masih dapat ditangkap oleh pangeran itu.
"Yang mulia yakin? Putriku memiliki rumor buruk." Duke kembali menggulung kertas itu.
"Ya, ini dekrit resmi dari raja." Balas pangeran itu dengan acuh tak acuh.
Duke Albert terdiam sesaat lalu memerintahkan prajurit yang menjaga didepan pintu untuk memanggil Caily.
Beberapa saat kemudian pintu didorong dan seorang gadis dengan gaun berwarna putih memasuki ruangan, ia melangkah dan duduk disofa tanpa memberikan salam, tatapan matanya lurus pada manik biru laut sang ayah, wajahnya datar tanpa ekspresi.
"Caily, dimana sopan santunmu? Didepan mu ada yang mulia pangeran Shanez." Tegur duke Albert dengan tajam.
Caily mengangguk singkat, ia bangkit dan memberikan salam dengan anggun, lalu ia kembali duduk.
Namun kedua pria dalam ruangan itu tahu jika pandangan dingin Caily hanya terus terarah pada duke bahkan saat gadis itu memberikan salam hormat pada pangeran Shanez.
Caily menatap Duke Albert seolah menanyakan apa.
Duke Albert menyodorkan gulungan kertas tadi kearah Caily yang langsung diterima oleh gadis itu.
Pada saat Caily membaca setiap baris huruf dalam kertas, Duke diam diam menatap kearahnya dan menunggu reaksinya.
Namun wajahnya bahkan tidak mengerut sedikitpun, hanya datar dan datar.
Barulah beberapa saat setelahnya, Caily kembali menggulung kertas itu dan menaruhnya ke tengah meja.
"Apa keputusanmu?" Tanya duke.
"Hm." Balas Caily singkat.
"Itu iya?" Tanya duke Albert memastikan.
"Hm." Balasan Caily masih sangat singkat.
Untuk sesaat Duke Albert mengepalkan tangannya tanpa disadarinya.
Caily bangkit dan memberi hormat lalu pergi tanpa mengatakan hal lebih.
Sedangkan pangeran Shanez yang awalnya bahkan tidak melirik sedikitpun pada Caily kini bahkan tak dapat mengalihkan pandangan nya dari punggung gadis itu.
Ketidak percayaan melintas dimatanya, tangannya bergerak sedikit.
Dengan sedikit canggung duke Albert menatap pangeran Shanez.
"Maafkan perilaku tidak sopannya terhadap pangeran, lain kali saya akan memberi peringatan padanya."
"Ya, ini sudah selesai, saya pergi dulu." Sahut pangeran Shanez.
Duke Albert mengantar kepergiannya lalu memutar langkah kakinya menuju kamar Caily.
Namun dalam perjalanan dia berpapasan dengan Christofer.
"Untuk apa pangeran Shanez kemari?" Tanya Christopher.
"Mengantar dekrit resmi dari raja." Balas Duke Albert kembali melanjutkan langkahnya diikuti oleh Christopher disampingnya.
"Dekrit? Tentang apa?" Tanya Christopher kembali.
"Pertunangan antara pangeran Shanez dan Caily." Balas Duke Albert yang lagi lagi tanpa disadarinya tangannya mengepal dengan tegang.
Untuk sesaat Christopher terkejut namun hanya sekilas sebelum kembali mensejajarkan langkahnya dengan sang ayah.
"Caily menerimanya?" Tanya Christopher yang langsung diangguki oleh Duke.
"Pangeran Shanez orang yang berbahaya, ayah tidak menolaknya?" Christopher sungguh sangat tidak tahu dengan apa yang dipikirkan Duke saat menerima dekrit itu.
Duke menggelengkan kepalanya.
"Itu dekrit resmi, tidak bisa ditolak bahkan jika Caily sendiri yang menolaknya."
"Tapi pangeran Shanez itu... " Christopher menggantung kalimatnya sendiri.
Tapi Duke Albert sangat tahu dan paham apa yang dimaksud oleh Christopher.
Kini keduanya berada tepat didepan pintu kamar Caily.
Beberapa saat kemudian pintu terbuka dan menampilkan Caily dengan gaun putihnya yang sangat anggun.
Tatapan dingin dan wajah datar Caily adalah hal yang baru baru ini mengganggu pikiran mereka, bahkan Calief yang paling membencinya pun tidak bisa menghentikan otaknya yang terus menerus memikirkan Caily, itu mengganggunya.
"Ini tentang pertunanganmu." Ucap Duke yang memilih membuka percakapan terlebih dahulu.
"Hm?" Balas Caily yang lagi lagi membangkitkan rasa tidak nyaman dalam diri Duke, itu terlalu singkat hingga membuatnya kebingungan memilih kata kata.
"Kenapa kau menerimanya?" Christopher membuka suaranya saat melihat jika Duke tampaknya agak bingung.
"Dekrit resmi." Balas Caily singkat.
"Jika itu bukan dekrit resmi, apa kau akan menolaknya?" Tanya Christopher lagi.
"Aku tidak punya suara untuk itu, setiap hal sudah ayahmu urus." Balas Caily dengan acuh tak acuh.
Kata 'Ayahmu' entah kenapa mengganggu pikiran Duke, ia merasa ada hal yang salah dengan kata kata itu, seolah menekankan jika diantara keduanya hanyalah orang asing yang secara kebetulan berteduh ditempat yang sama.
"Kalian bisa kembali." Ujar Caily sambil menutup pintu kamarnya.
Hal itu terlalu cepat bahkan Duke dan Christopher tidak sempat bereaksi.
"Tapi kau tidak tahu siapa pangeran Shanez." Ucap Christopher mendekati pintu, suaranya cukup untuk didengar sampai kedalam.
Tapi tidak ada balasan dari dalam ruangan yang membuat Christopher mundur dan pergi dari tempat itu begitu pula dengan Duke.
Namun beberapa saat kemudian, Caily yang berada di dalam kamarnya merasakan hembusan angin yang sangat sejuk dari jendela, sebuah kertas terbang memasuki kamar melewati jendela yang terbuka, kertas itu tergelatak dilantai.
Saat Caily mengambil kertas itu ia bisa melihat sisa es di tepian jendela, ia menebak jika kertas itu dikirim oleh orang dikediaman itu, entah itu Duke, duchess, Christopher ataupun Calief ia tidak tahu.
Caily mulai membaca tiap baris kata dalam kertas itu yang ternyata adalah informasi dan data tentang pangeran Shanez, pangeran yang menjadi tunangannya saat ini.
Pangeran Shanez adalah putra raja dengan mendiang selir agung pertama, dia sepantaran dengan Charlos, hanya saja alasan ia tidak menjadi penerus raja adalah keputusannya sendiri yang lebih memilih berkelana setelah ditinggal oleh ibunya.
Pangeran Shanez lebih unggul dari pangeran Charlos.
Baik itu sihir, berpedang ataupun akademis.
Keputusannya yang mundur dan tidak ingin mewarisi tahta raja membuat beberapa orang tidak suka, Karena dengan kekuatan dan kecerdasannya diperkirakan ia mampu membawa kerajaan pada kemenangan selama beberapa dekade.
Di akademi kerajaan, pangeran Shanez dikenal sebagai si peringkat satu tanpa belajar, karena yang para murid lihat, pangeran Shanez selalu sibuk berkelana bahkan hanya kembali saat ujian saja.
Ada rumor beredar jika sebuah kuil, rumah dagang, toko obat ternama dan juga sebuah organisasi tanpa nama ada dibawah kendali pangeran Shanez.
Singkatnya orang ini memang berbahaya jika disinggung.
Namun dari semua baris kata, yang membuat Caily tertarik adalah baris kata paling bawah.
Disana tertulis jika pangeran Shanez memiliki cinta pertama bernama Alisa yang juga merupakan teman masa kecilnya.
"Orang dengan kekuatan dan kekuasaan besar seperti dia juga punya cinta pertama?" Gumam Caily yang sedikit merasa geli.
Dunianya terlalu realistis, cinta pertama baginya adalah omong kosong.
"Seharusnya dengan kekuatannya, tidak tunduk pada titah raja juga tidak ada masalah. Dia bisa menikah dengan gadis cinta pertamanya itu." Sinis Caily sambil menaruh kertas itu secara acak.
Caily melompat ke kasur empuknya dan berbaring dengan nyaman disana.
"Moo! gua kangen~" Rengeknya pelan.
Tidak bisa mengunjungi kandang kuda membuat rasa rindunya pada sapi kesayangannya tidak terobati.
"Lagian, dunia kuno tuh kenapa ribet banget sih? jaman apa masih main jodoh jodohan?" Gerutunya kesal.
"Dikiranya jaman Siti Nurbaya kali ya." Sinisnya sambil mengigit bantal.
"Eh, Siti Nurbaya sama raja dikerajaan ini, tuaan mana ya?"
"Ah elah gak ada bedanya, mau Siti Nurbaya mau yang mulia raja, gak ada bedanya! jaman mereka tuh emang ribet soal pernikahan."
Gadis itu terus meracau tanpa menyadari jika sosok dibalik pohon terus mengawasi tingkah lakunya, dia memang mendengar suara Caily tapi ia tidak mengerti dengan bahasa yang gadis itu gunakan.
Dia adalah Calief yang secara diam diam memberikan informasi itu, entah kerasukan setan apa, ia malah berbuat baik pada Caily.
Calief sendiri tidak mengerti apa yang dirinya lakukan dan inginkan, dia benci Caily tapi kenapa dirinya malah ingin membantu gadis itu?
Menggaruk kepalanya dia segera pergi dari tempat itu, menghilang secepat kilat namun menyisakan butiran es seperti salju ditempatnya barusan.