"Gue sudah menepati janji untuk nikahin lo, dan lo juga harus menepati janji untuk tidak mengatakan apapun pada siapapun tentang kita di sekolah. paham!" ucap pria bernama Arga
Argantara antariksa Grahana namanya. sosok paling tampan dan populer di SMA Cakrawala. karna insiden malam itu membuat Arga harus menikahi teman kelasnya yang bernama Freya Dinata Frankie, biasa di panggil dengan sebutan Reya. anak keempat dari tuan Pramandika Frankie.
Akankah Freya bisa meluluhkan hati pria itu? ikuti yok
Slow up
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Mia Novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
perjanjian terakhir
Arga menggendong Freya naik ke kamar. Begitu pintu tertutup, Arga segera melepaskan Freya ke kasur dengan sedikit kasar. Wajahnya gelap, bukan karena kualitas buruk, melainkan karena kemarahan yang meluap-luap.
"Gue sudah bilang, jangan buat masalah!" desis Arga, matanya menyala. "Apa-apaan tadi itu? Lo mau bikin Mama panik kalau Lo kenapa-napa?! Lo lupa kalau dia ada?"
Arga menunjuk perut Freya dengan jari telunjuknya. Kata 'dia' Merujuk pada janin yang membuat hidup Arga hancur dan terikat pada Freya.
Freya yang mulai sadar, mencoba mengatur napas. Rasa mualnya masih ada, tapi kemarahan Arga terasa lebih menyakitkan daripada sakit fisik.
"Aku tidak sengaja, Arga. Aku benar-benar pusing. Rendang itu... aromanya terlalu kuat," balas Freya sambil memegangi perutnya. Ia tahu, di depan Arga, ia tidak bisa berbohong tentang kondisinya.
Arga membungkuk, wajahnya mendekati wajah Freya. Wajahnya dipenuhi kebencian dan rasa terperangkap.
“Lo tahu konsekuensinya kalau sampai Lo sakit dan harus dirawat di rumah sakit,” ancam Arga. "Kabar kehamilan ini bisa bocor. Dan yang paling penting, Alice tidak boleh tahu kenapa gue tiba-tiba menghilang dan menikah dengan Lo!"
"Aku tahu, Arga! Aku juga tidak mau Alice tahu! Aku tidak mau mempermalukan mu lebih jauh dari yang sudah aku lakukan!" kata Freya, kini air matanya menetes. "Aku sudah diasingkan Ayahku. Apa lagi yang kau mau dariku selain diam dan menjalani kehidupan di sofa itu?"
Arga bangkit. Rasa bersalah sekilas menyentuhnya, tapi segera tertutup oleh amarahnya pada nasib.
“Gue tidak peduli dengan menyalakan Lo. Yang gue peduli adalah keselamatan dia ,” kata Arga, Merujuk pada calon anak mereka. "Bukan karena gue peduli sama Lo, tapi karena kalau sampai terjadi apa-apa sama dia, Mama dan Papa tidak akan pernah memaafkan gue! Dan semua drama pernikahan ini akan sia-sia!"
Arga berjalan mondar-mandir. "Mulai besok, lo minum vitamin di depan gue. Lo harus makan. Kalau lo mual, cari makanan hambar. Lo harus sehat. Jangan coba-coba kelaparan karena Lo merasa bersalah atau apalah. Gue nggak mau punya anak yang sakit, Freya. "
Arga kembali menatap Freya. "Dan gue tidak mau Lo pakai kamar mandi ini untuk muntah. Pergi ke kamar mandi bawah. Dan kalau di sekolah Lo mual, Lo segera telepon gue. Jangan pernah sampai melihat Alice Lo terlihat seperti mau pingsan lagi."
Freya mengangguk, menerima semua perintah kejam itu. Arga mengawasinya bukan karena cinta, melainkan karena kewajiban dan ketakutan akan orang tuanya.
"Aku akan menjaga diriku sendiri. Dan aku akan menjaga dia ," kata Freya, menekankan kata dia sebagai pengingat bahwa anak ini adalah ikatan abadi mereka.
Arga bersinar, mengambil ponselnya, dan keluar kamar. Ia naik ke balkon untuk menelepon Alice—mencari pelepasan dari kenyataan yang mengikatnya di bawah satu atap dengan Freya.
Freya menghela napas, menyentuh perut dengan lembut. Ia tahu, rasa mual ini adalah musuh utama dalam sandiwara mereka. Dan Arga, adalah musuh yang mengikat janji pernikahan. Ia harus mencari cara agar dirinya tetap sehat tanpa membuat Arga curiga bahwa ia membutuhkan perhatian lebih dari yang ia dapatkan.
Pagi berikutnya, suasana di meja makan terasa lebih tegang, meskipun Mama Rosa tenang. Rosa secara terang-terangan menaruh jus buah murni dan sepiring buah-buahan hambar di depan Freya.
"Sayang, jangan banyak makan yang pedas-pedas dan beraroma kuat dulu ya. Kamu harus jaga diri baik-baik," kata Rosa penuh perhatian, tanpa menyentuh kehamilan itu langsung di depan Arga.
Arga, yang sedang melirik Freya, menangkap maksud ibunya. Ia mengambil vitamin yang ia simpan di saku celananya, dan menaruhnya di depan Freya.
"Minum sekarang," perintah Arga dingin.
Freya mengangguk dan segera meminumnya. Perjanjian diam antara mereka kini diperkuat oleh pengawasan keluarga Grahama.
Di sekolah, sandiwara kembali dimainkan. Arga menunjukkan afeksi berlebihan pada Alice, sementara Freya mencoba fokus. Namun, pemandangan Clara kini terasa lebih mengganggu.
Saat Freya kembali ke kelas setelah istirahat, ia menemukan sebuah kertas kecil di mejanya.
Clara: Aku tahu itu bukan anemia. Dan aku tahu Arga memperhatikanmu. Kalau butuh bantuan, aku ada di kelas kimia.
Freya meremas kertas itu. Ia tidak bisa meminta bantuan Clara. Itu terlalu berisiko.
Pulang sekolah, Mama Rosa memegangi Freya.
"Mama tahu kamu lelah, Sayang. Tapi Mama minta satu hal," Rosa merangkul Freya, suaranya pelan dan serius. "Tolong jangan sering-sering diasingkan oleh Arga di sofa. Ini berbahaya. Malam ini, tolong, bicara padanya. Minta dia berbagi tempat tidur. Mama akan membelikan kasur baru besok, tapi untuk malam ini, kamu harus tidur di tempat yang nyaman."
Freya tercekat. Permintaan Rosa ini adalah tantangan terbesar dalam sandiwara mereka. Bagaimana mungkin ia meminta Arga berbagi ranjang, sementara Arga membencinya dan sedang berusaha keras membangun tembok?
“A-aku akan coba bicara padanya, Ma,” janji Freya, meskipun hatinya dipenuhi ketakutan.
Malam itu, Freya tahu ia tidak hanya harus menghadapi kebencian Arga, tetapi juga harus menembus batas fisik yang telah ditetapkan Arga, demi keselamatan dia yang semakin hari semakin nyata di dalam perutnya yang masih datar.
Freya menunggu Arga kembali ke kamar setelah dia yakin anggota keluarga lain sudah tidur. Arga masuk dengan wajah lelah dan segera kamar mandi tanpa melihat Freya, menuju seolah-olah Freya memang benar-benar transparan.
Setelah Arga keluar, Freya memberanikan diri. Arga sudah duduk di tepi kasur, sibuk dengan ponselnya.
"Arga," panggil Freya pelan.
Arga mendongak, langsung dingin. "Ada apa? Lo melanggar aturan gue?"
Freya menelan ludah. "Bukan. Aku... Mama Rosa memintaku untuk tidak tidur di sofa lagi."
Wajah Arga menegang, matanya berbinar penuh keasaman. “Lo mengadu ke Mama?”
"Tidak!" potong Freya cepat, takut Arga salah paham. "Mama yang melihatku terlihat pucat saat sarapan. Mama bilang, demi... demi 'dia', aku butuh tempat tidur yang layak. Mama bilang dia akan membelikan kasur baru besok, tapi untuk malam ini, aku harus tidur di kasur ini."
Arga melempar ponselnya ke samping. Ia bangkit dan melangkah mendekati Freya. Setiap langkah Arga terasa seperti drum yang mengancam di dada Freya.
"Lo pikir gue sebodoh itu, Freya? Lo gunakan kehamilan itu sebagai senjata untuk memaksa gue berbagi ranjang? Setelah gue bilang gue benci sentuhan Lo?" desis Arga, amarahnya tertahan.
"Aku tidak memaksa, Arga! Aku hanya menyampaikan pesan Mama! Dan kalau aku terus tidur di sofa, dan aku sakit, Mama yang akan memanggil dokter dan curiga. Kau mau itu?" tantang Freya, menggunakan ketakutan Arga pada keluarga sebagai tamengnya.
Arga mengepalkan tinju, menyadari ia berada di posisi yang kalah. Jika ia disukai, Rosa pasti akan menyukainya.
"Baik," Arga akhirnya menyerah, suaranya dipenuhi kebencian yang dalam. "Lo menang. Tapi dengarkan gue baik-baik, Freya. Ini perjanjian terakhir kita."
freya punya keluarga baru setelah sah jadi istri arga