NovelToon NovelToon
Selingkuh With Bocah

Selingkuh With Bocah

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Selingkuh
Popularitas:18.5k
Nilai: 5
Nama Author: Marica

Dikhianati oleh suami dan adik sepupunya sendiri membuat dunia Intan Kalista Atmaja hancur. Namun ia tetap mencoba untuk kuat. Sampai dirinya dipertemukan dengan Giovanni Abiyan Prayoga, laki-laki yang umurnya lebih muda delapan tahun darinya.

Pertemuan awal yang tak mengenakan membuat keduanya saling membenci. Namun siapa sangka, Pemuda itu justru membawa delima pada Intan saat kenyamanan mulai tumbuh dalam hatinya.

Akankah mereka bersama atau justru Giovanni hanya dijadikan pelampiasan oleh Intan?

Yuk ikuti ceritanya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Harus Kuat

Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, Intan sedang membereskan barang-barangnya, satu persatu dokumen ia susun rapi ke dalam map sebelum akhirnya memasukannya ke dalam laci. Bahunya terasa pegal dan kepalanya terasa berat, karena lelah. Selesai dengan itu semua, Intan keluar dari ruangannya. Ia melangkah sambil sesekali menguap. Hari itu rasanya sangat melelahkan, tetapi tetap menyenangkan.

Ia melangkah di antara meja-meja kosong, sambil mengedarkan pandangannya seperti. "Sarah." Intan memanggil manager restorannya.

Tak lama seorang perempuan muda dengan rambut dikuncir rapi datang menghampirinya. "Ada apa, Bu?" tanyanya sopan.

"Saya mau pulang. Nanti tolong bereskan semua seperti biasa," ujar Intan lembut namun tegas.

"Baik, Bu," balas Sarah sedikit membungkuk dengan nada penuh hormat.

Intan kembali melangkah, tetapi terhenti saat pandangannya jatuh pada sosok Giovanni. Pemuda itu benar-benar tekun bekerja. Wajahnya terlihat fokus, alisnya sedikit berkerut. Tanpa sadar Intan mengulas senyum di bibirnya. Namun dengan Intan menyadari itu, dan buru-buru mengalihkan pandangannya.

"Jangan bodoh, Intan," gumamnya dalam hati sambil melangkah keluar.

Udara malam langsung menyambutnya begitu ia keluar dari restoran. Lampu jalan yang temaram memantul dipermukaan mobilnya yang mengkilap. Intan menekan tombol kunci lalu masuk ke dalam mobil. Ia duduk sejenak sambil menarik napas panjang, seolah menenangkan pikirannya yang penat. Setelah beberapa detik ia menyalakan mesin dan melajukan mobilnya pelan meninggalkan tempat itu.

Jalanan terlihat lenggang membuat Intan lebih leluasa melajukan mobilnya. Namun meski sepi Intan tetap berhati-hati.

Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam Intan sampai di rumahnya. Keningnya mengerut saat melihat ada mobil mertuanya dan mobil lain yang tak Intan kenali.

"Siapa yang datang malam-malam begini," gumamnya heran.

Sebelum turun Intan lebih dulu melihat waktu pada jam yang melingkar di pergelangan tangan kanannya, waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh tetapi rumahnya nampak masih ramai.

Intan lantas turun dari mobil, melangkahkan kakinya ke dalam rumahnya. Dengan langkah pelan tapi mantab. Baru sampai ruang tamu samar-samar Intan mendengar suara orang mengobrol dan tertawa. Sampai di ruangan tengah, Intan tertegun, barulah Intan bisa melihat siapa saja yang ada di rumahnya.

Kedua mertuanya, Ilham, Talia bersama Ibunya. Terlihat sekali mereka sedang mengobrol terkadang tertawa di sela obrolan mereka. Mereka tampak akrab seperti tidak pernah terjadi masalah. Talia terlihat tertawa lepas di samping Ilham, bahkan tak sungkan bermesraan di depan orang lain.

Hati Intan terperosok. Ada rasa getir yang menyesak di dada, Namun ia memilih untuk pura-pura tidak melihat. Ia ingin langsung naik ke kamarnya, tak ingin melihat pemandangan itu.

Namun langkahnya terhenti ketika suara dingin yang familiar memecah keheningan. Dua adalah Hilda, ibu mertuanya sendiri.

"Bagus banget ya jam segini baru pulang," sindir Hilda dengan nada tinggi.

Intan berhenti di anak tangga, bahunya menegang. Namun ia tidak berbalik. Ia memilih untuk berdiri membelakangi semua orang, mencoba menahan diri untuk tidak meledak.

"Intan, dari mana kamu? Kenapa baru pulang?" tanya Ilham dengan lembut. Namun terasa kosong di telinganya.

"Tadi pagi aku sudah mengatakannya," jawab Intan datar dan tanpa menoleh.

Hilda menyipitkan mata, suaranya terdengar semakin menusuk. "Pantas saja Ilham berselingkuh dengan Talia. Ternyata kelakuanmu seperti ini? Tidak bisa memberikan keturunan, tidak bisa pula memberikan perhatian kepada suaminya. Istri macam apa itu?" hina Hilda.

Urat di pelipis Intan memegang. Ia masih diam, tetapi jemarinya meremas ujung rok erat-erat, menahan amarah yang hampir meledak.

"Kalau tahu seperti ini," lanjut Hilda tajam. "Lebih baik Mama dulu jodohkan Ilham dengan Talia bukan sama kamu."

Ucapan Hilda kali ini membuat Intan berbalik pelan. Matanya memancarkan kemarahan yang ia tahan selam ini. Tatapannya bergantian menyapu wajah orang-orang yang ada di hadapannya.

"Jadi Mama sudah tahu tentang perselingkuhan mas Ilham dengan Talia?" tanya Intan. Suaranya terdengar bergetar namun tegas.

"Mama bahkan sekarang tahu jika Talia sedang mengandung anaknya Ilham," balas Hilda tanpa ragu. "Mama jadi semakin merestui hubungan mereka."

Intan terdiam, dunianya seolah berhenti sesaat. Jantungnya berdetak cepat, tetapi tatapannya tetap dingin. "Oh my God, Ma. Aku tidak habis pikir dengan jalan pikiran Mama. Mama tahu anak Mama salah dan masih membela dia," katanya dengan nada getir.

"Jika situasinya seperti ini, Mama tidak punya pilihan lain," jawab Hilda angkuh. "Selama kamu pergi Talia yang mengurus Ilham dan sekarang di saat kamu tidak bisa memberikan anak, Talia bisa memberikan anak untuk Ilham. Harusnya kamu berterima kasih pada Talia. Ia mengerjakan tugas yang harusnya kau kerjakan."

"Oh, thank you, Talia," ucap Intan cepat dan sinis. Ia menatap Talia tajam hingga membuat Talia menunduk canggung. "Itu yang Mama mau, 'kan? Sekarang boleh aku pergi ke kamarku dan beristirahat?"

Tanpa menunggu respon Intan kembali melangkah, berjalan maniki anak tangga, tetapi Bari beberapa langkah Intan kembali terhenti dan berbalik, menatap mereka dari atas.

"Satu lagi, Ma," ucapnya datar. "Tolong kalian pergi dari rumahku. Kalau bertamu tahu waktu dong. Ini sudah malam."

"Intan —" Ilham berusaha menahan.

"Apa?" balas intan cepat, suaranya tajam seperti pisau.

Ruangan itu langsung hening. Tidak ada yang berani menatap Intan yang lagi. Hanya suara langkah kakinya yang semakin menjauh, meninggalkan keheningan yang terasa menyesakkan.

Sampai di kamar Intan langsung membuka pintu dengan cepat. Pintu itu berderit pelan sebelum ia masuk dan menguncinya rapat, tak ingin siapapun masuk dan mengganggunya.

Napasnya terdengar berat, dada naik turun menaha emosi yang sejak tadi ia pendam.

Detik berikutnya Intan berjalan cepat ke arah tempat tidur, melempar tas kecil yang menggantung di bahunya dan melemparkannya sembarangan ke atas ranjang. Langkahnya gontai seperti orang yang baru saja kehilangan arah.

Setelahnya ia menjatuhkan dirinya ke tempat tidur. Begitu punggungnya menyentuh kasur seluruh kekuatannya yang tersisa seolah tercabut dari raganya. Tubuhnya bergetar hebat. Isak kecil yang ia tahan akhirnya pecah, bergulir menjadi tangisan yang lirih namun memilukan air matanya jatuh membasahi bantal.

Ia tak pernah menyangka semuanya akan berakhir seperti, ini rumah tangga yang dulu ia jaga dengan cinta kini hancur berantakan dan yang paling menyakitkan kedua mertuanya justru menyetujui hubungan terlarang antara Ilham dan Talia.

Intan menangis sambil mengingat saat dulu pertama kali ia masuk ke dalam keluarga suaminya, kedua mertuanya memperlakukan dirinya dengan sangat baik, tapi kebaikan itu mulai memudar saat bulan demi bulan dirinya tak kunjung hamil dan kini mereka sudah benar-benar berubah saat tahu ada wanita lain yang sedang mengandung keturunan mereka.

Intan menutup wajahnya dengan kedua tangan suaranya tercekat di tenggorokan. "Kenapa mereka tega ..." bisiknya pelan nyaris tak terdengar.

Hati Intan menjerit mengingat semua itu. Apa salahnya jika dirinya belum bisa memberikan keturunan karena semua itu ada di luar kendalinya.

Setelah beberapa menangis Intan mengambil posisi duduk. Tidak sengaja pandangannya jatuh pada pantulan dirinya sendiri di cermin riasnya. Keadaannya terlihat kacau. Melihat itu membuatnya teringat pada janjinya pada dirinya sendiri.

"Intan come on, jangan terpuruk. Itu justru akan membuatmu merasa kalah."

Segera Intan mengusap jejak air matanya yang ada di pipinya setelah itu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

1
sunshine wings
Storynya bagus
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
❤️❤️❤️❤️❤️
ig: Marica_Author
siap kak 🥰
Arinawati Rina
lanjut dong kak lgi seru nich
ig: Marica_Author
insyaAllah ya kak. tak tamatin yang satu dulu🙏
Yuli Yulianti
up nya sering sering dong thor
Yuli Yulianti
sudah waktu nya kamu jujur intan biar mm mu tau kebejatan Ilham ..
Happy Kids
terlalu jaga perasaan jd nya dibalik kan sama suamimuu wkwkwkw harusnya nindi ttp dikasi tau
sunshine wings
Bukan menggalakkan perselingkuhan tapi kalo keadaan sudah begini.. Hubungan suami isteri gak boleh diselamatkan lagi lebih baik berpisah.. Berpoligami benar tapi kalo gak adil sama juga boongnya..
sunshine wings
Yes.. Kebenaran itu adalah hakiki.. 🥰🥰🥰🥰🥰
sunshine wings
Mangkanya Intan.. Terus terang pada ibumu.. Menjelaskan secara perlahan² jadi gak kaget..
sunshine wings
benar apa kata Gio, Intan..
sunshine wings
Kenapa ndak jelaskan pada mamamu duduk perkara yg sebenarnya Intan supaya mama lebih mengerti.. Terus terang jangan sembunyikan.. Jadi ada solusinya..
sunshine wings
Satu aja caranya Intan.. Rumah itu dijual..
sunshine wings
Suami dayus..
sunshine wings
Siapa yg mau sisa biarpun dibolehkan poligami itu.. Jijik rasanya.. 🤷🏻‍♀️🤷🏻‍♀️🤷🏻‍♀️🤷🏻‍♀️🤷🏻‍♀️
sunshine wings
Ya terserahlaa mas.. tp ikut jalan masing²..
sunshine wings
Wow.. Gio udah menunjukkan rasa.. 😍😍😍😍😍
sunshine wings
🥰🥰🥰🥰🥰
sunshine wings
🤭🤭🤭🤭🤭🥰🥰🥰🥰🥰
sunshine wings
Hati Gio udah tersangkut..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!