Jangan lupa like dan vote ya, meskipun sudah end.
Sepasang manusia yang tak kunjung menikah diusianya yang sudah matang. Reuni menjadi awal mula kisah cinta mereka yang lika-liku. Kisah asmara yang dibumbui dengan konflik batin.
Bagaimana kisah cinta mereka? Ayo baca dan nikmati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ade Irvianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Manusia Gengsian
Lolita sudah tiba di rumahnya. Wajah letihnya berubah bugar saat melihat keponakannya yang masih ada digendongan adik iparnya. Lolita mencium pipi lembut sang bayi. Setelahnya, Ia manaiki tangga menuju kamar tidurnya. Ia mengguyurkan air keseluruh badannya di bawah shower. Tubuhnya benar-benar kembali segar, tapi tidak sampai berubah menjadi iron girls.
Lolita membaringkan tubuhnya di atas kasur sambil memainkan benda pipih berbentuk kotak. Ia membuka aplikasi WA menunggu balasan pesan dari Eric. Ia menggulirkan layar ke bawah dan ke atas dengan jari telunjuknya. Rasa kesal sedikit muncul di benaknya, ia menggerutu sendiri di kamarnya.
"Kalau beneran sibuk harusnya, kasih kepastian dong. Gue tolak baru tahu rasa Lo, Ric." Lolita masih menggulirkan layar ponselnya. Kali ini ia menggulirkan ponsel sedikit penuh penekanan. Lolita melemparkan ponselnya di kasur dengan kasar.
"Bodo amat, Ric. Lo yang ngajak nikah bukan, Gue. Gue enggak bakal balas pesan Lo lagi TITIK." Lolita memaki-maki ponselnya di kasur. Ia menarik selimutnya kasar untuk menutupi seluruh tubuhnya, termasuk menutupi wajahnya.
Dreeet Dret
Ponsel Lolita bergetar saat ia akan memejamkan matanya di bawah selimut. Ia mengambil ponselnya cepat dan membuka ponselnya dengan sidik jari. Pesan Eric muncul di layar ponselnya, ia membaca pesan tersebut lirih.
^^^Oke, Hari minggu sore, tidak bisa diganggu gugat. Lokasi kamu deh yang nentuin.^^^
^^^_Eric^^^
Air muka Lolita bertambah kesal saat membaca pesan dari Eric. Bukan masalah apa-apa, menurut Lolita, Eric terlihat seenaknya saja menentukan waktunya tanpa berdiskusi terlebih dahulu dengan dirinya. Janjian dengan Eric ibarat janjian dengan atasan kerjanya yang selalu seenaknya saja saat akan mengadakan rapat.
MAAF TUAN ERIC YANG BUDIMAN. Bisa tidak waktunya diganti?
_send to Eric
Lolita melanggar ucapannya sendiri, padahal beberapa detik yang lalu ia bilang tidak akan membalas pesan dari Eric, tapi ini malah gercep membalas pesannya. Lolita menunggu balasan dari Eric.
Dreet.... tidak lama Eric membalas pesan Lolita.
^^^Aku benar-benar tidak bisa, Lolita.^^^
^^^_Eric^^^
Mata Lolita melotot melihat jawaban dari Eric yang selain kaku ternyata juga keras kepala. Lolita mulai terbawa Emosi oleh sikap Eric.
Eric, Lo yang minta nikah. Not me! Kalau enggak bisa ya sudah. Kalau besok aku enggak datang jangan salahkan aku.
Dengan rasa percaya diri yang memuncak dan didukung emosi yang menggebu, Lolita mengirimkan pesan tersebut. Lolita menunggu balasan pesan dari Eric dengan senyum terjahatnya. Di sisi lain, Eric sedang duduk di depan komputernya yang berada di kamarnya. Ia harus mengecek sebuah data untuk proyek terbaru di kantornya. Meski ia bisa saja menyuruh sekretarisnya, tetapi itu bukan sifat Eric. Eric adalah bos yang tanggung jawab terhadap pekerjaannya.
Eric meraih ponselnya saat melihat layar ponselnya kembali menyala. Ia sangat tercengang dengan balasan pesan dari Lolita. Eric sedikit gentar dengan ancaman dari Lolita. Pasalnya sudah beberapa kali Eric mengirimkan pesan untuk Lolita setelah ajakan untuk menikah dengannya dan jarang mendapatkan balasan. Eric menangkap sinyal buruk dari Lolita, kalau Lolita belum tertarik dengan dirinya. Ia tidak berharap lebih dari Lolita saat wanita itu mengajaknya bertemu untuk memberi tahu tentang keputusannya. Akhirnya, Eric membalas pesan dari Lolita dengan apa adanya.
Ta, besok pagi agendaku ke rumah nenek di Bandung. Sudah lama keluargaku merencanakan agenda ini. Tidak enak kalau tiba-tiba aku membatalkan acara ini dengan sepihak. Kalau kamu tidak mau siang, ya sudah. Kapan-kapan saja kita ketemunya, bertemu diacara reuni lagi juga tidak masalah.
_send to Lolita♡
Eric membalas pesan tersebut dengan perasaan harap-harap cemas, ia takut Lolita berpikir bahwa dirinya tidak benar-benar tulus dengan ajakan nikah itu. Eric tidak punya pilihan lain, ia harus mengakui bahwa dirinya tidak mudah untuk meluluhkan hati perempuan. Ia sudah sadar, kenapa wanita tidak bisa bertahan lama dengan dirinya. Wanita lain memang akan terpesona dengan parasnya yang memang terbilang genteng dan mapan, tetapi wanita akan memilih mundur dengan sikap Eric yang seperti ini.
Eric masih mengenggam ponselnya sambil menunggu balasan dari Lolita. Ia berhenti mengecek data hanya menunggu balasan dari wanita yang diajakmya menikah beberapa hari lalu. Ia tidak pernah berpikir kalau akhirnya ia mengajak menikah dengan seseorang dalam keadaan yang sangat absurd baginya. Ponsel Eric menyala saat menunggu lima belas menit. Ia melihat balasan Lolita yang tidak pernah terbayangkan. Jantung Eric seakan berhenti sejenak saat mulai membaca balasan pesan tersebut.
^^^Kamu tidak mau, mengenalkan aku sama nenek kamu?^^^
Wajah Eric berubah sumringah. Sekali lagi, Eric benar-benar tidak percaya dengan balasan Lolita. Tanpa sadar Eric sedari tadi sudah senyum-senyum sendiri. Ia tidak pernah sebahagia ini karena seorang wanita. Ia membalas cepat pesan Lolita dengan hati berbunga-bunga.
Kamu beneran? Apakah berarti kamu menerima ajakan aku?
^^^Belum tentu Tuan Eric. Aku hanya minta diajak bertemu keluarga kamu. Sudah dulu, sampai bertemu hari minggu. Jemput aku ya,^^^
'Siap.'
Eric membalas pesan Lolita singkat.
Eric menghempaskan dirinya ke kasur dengan perasaan aneh yang menjalar di tubuhnya. Ia tidak berhenti senyum-senyum sendiri, ia juga sesekali tertawa kecil di dalam kamarnya. Rasanya memang beda saat melihat tingkah aneh Eric saat ini. Orang yang biasanya dingin dan wajah datar di depan karyawan dan orang-orang di sekitarnya kini berubah total saat sedang jatuh cinta. What? Jatuh cinta? Apakah itu sudah terbilang jatuh cinta? Disebut apalagi kalau selain itu.
Eric memandangi langit-langit kamarnya sambil senyum-senyum tidak jelas. Ia beranjak dari kasurnya untuk kembali menghadap komputernya. Pantas saja disebut gila kerja, di rumah saja ia masih sempat-sempatnya membawa pekerjaan di rumah. Kedua orangtua Eric menyebut dirinya si gila kerja. Orangtuanya juga khawatir kalau Eric nantinya malah keterusan bekerja sampai lupa mencari istri. Ada rasa menyesal saat papa Eric melemparkan perusahaan itu diserahkan kepadanya. Papanya merasa bersalah, ia berpikir kalau Eric terlambat menikah karena harus memikul beban perusahaan yang ia bangun sejak dari nol.
Papa Eric ingin pensiun lebih awal, ia merasa kalau Eric sudah pantas untuk mengelola perusahaannya itu. Orangtua Eric menginginkan hidup tenang dengan merawat tanaman-tanaman hijau di kebunnya. Perusahaan itu dibangun hanya untuk masa depan Eric sebagai anak tunggal. Papa Eric merasa bertanggung jawab akan masa depan anaknya.
Eric masih saja senyum-senyum sendiri kalau mengingat balasan pesan Lolita. Ia tidak sabar menunggu hari minggu yang akan jatuh lusa. Waktu terasa sangat lambat saat kita menunggu, dan waktu sangat cepat saat kita merasa bahagia. Eric menyelesaikan pekerjaan itu sampai tengah malam.
Terima kasih sudah mampir.