Sepertinya alam semesta ingin bercanda denganku, orang yang ku cintai meninggalkanku di saat mendekati hari pernikahan kami. meninggalkan luka yang menurutku tidak ada obat untuk menyembukannya walaupun dia kembali untuk minta maaf.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon olip05, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 5
Tinggal menunggu beberapa jam lagi aku akan menjadi istri sah dari laki-laki yang tidak aku kenal sama sekali. Bahkan wajahnya saja aku tidak tahu. Oh Tuhan apa ini jalan terbaik untuk diriku? Apakah aku sudah mengambil keputusan dengan benar?
Aku yang mengira hari ini akan jadi hari yang sangat membahagiakan untuk diriku, malah jadi sebaliknya. Menjadi hari terburuk dalam sepanjang hidupku.
Hari ini tidak pernah terlintas oleh pikiranku menikah dengan lelaki yang sama sekali tidak aku kenal. Tadi malam mamah berpesan padaku walaupun aku menikah dengan lelaki yang tidak aku cintai tapi aku harus berprilaku dengan baik, tetap menjaga nama baik suamiku nanti. Dan melayaninya dengan baik pula, tapi aku tidak yakin apakah aku bisa menjadi istri yang baik bagi suamiku.
“Sayang ayo keluar keluarga mempelai prianya sudah datang sayang” ujar mamah mengagetkanku. Aku berbalik badan menghadap mamah, hari ini mamah begitu cantik dengan kebaya yang mamah kenakan tapi mata mamah tidak memancarkan kebahagiaan. Bibirnya bisa saja tersenyum dengan mempesona tapi mata mamah tidak bisa bohong kalau mamah tidak bahagia.
aku melihat sekali lagi diriku dicermin sebelum keluar kamar, Gaun Pengantinnya sangat pas ditubuhku.! Abian seharusnya hari ini, hari yang sangat membahagiankan untuk kita tapi ternyata takdir berkata lain.
Kamu menginggalkanku tanpa alasan yang jelas. Aku ingin sekali membencimu tapi Hatiku tidak bisa membencimu aku berharap hari ini kau datang dan kembali menikah denganku.
“Anak mamah udah cantik ko, yu kita keluar sekarang” mamah menggandeng tanganku, dan ada papah di dekat pintu
“Kamu beneran sayang mau lanjutin pernikahan ini?" Tanya papah, aku tahu ada kehkawatiran diraut wajah papah
“Aku yakin pah, mungkin ini udah takdirku” jawabku yakin. Papah mengangguk dan kami pun berjalan ke altar pernikahan.
******
Akhirnya aku bisa beristirahat setalah berdiri berjam-jam. Badanku lelah sekali apalagi kakiku sangat pegal.
Rasanya aku ingin seakli langsung tidur tanpa harus membersihkan badan dan make up diwajahku.
Aku berjalan ke Kamar Mandi untuk bersih-bersih dan berganti pakaian. Setelah aku keluar dari kamar mandi aku melihat ada Arun duduk di tepi Ranjang sambil memainkan ponselnya.
Ya, Arun adalah suami ku. aku lupa nama panjangnya dan aku juga tidak peduli dengan namanya. Aku duduk di meja rias untuk mengeringkan rambutku, tidak ada yang membuka suara di antara kami hanya terdengar suara pengering rambut di antara kami.
Aku pun bingung harus memulai obrolan dari mana, aku sama sekali tidak mengenalnya. Sungguh, rasanya canggung sekali berada di posisi seperti ini.
“Malam ini aku harus pergi kesingapura, ada urusan bisnis disana” ujar Arun dengan suara tegas, aku menghentikan aktivitas mengeringakan rambutku dan menoleh kepadanya.
“Kamu ingin meninggalkanku di malam pertama pernikahan kita?” tanyaku, sebenarnya aku tidak apa-apa ditinggalkannya, tapi rasanya aneh sekali. Di malam pertama pernikahannya, dia akan pergi untuk urusan bisnis. Apa dia tidak mengajukan cuti? Dan yang aku tahu dari papah bahwa dia adalah seorang CEO diperusahaanya.
“Emang apa yang kamu harapkan dimalam pertama pernikahan kita, hah?” tanya Arun, masih pokus pada Ponselnya.
“Aku tidak mengharapkan apapun. Aku hanya aneh saja kau seorang CEO tapi dimalam pernikahanmu, kamu harus pergi mengurusi pekerjaan. Apa tidak ada yang bisa menggantikanmu.? Bukankah kamu punya banyak karyawan?” Arun menghentikan bermain ponselnya dan menoleh padaku dan sudut bibirnya terangkat menunjukan senyum yang meremehkan menurutku. Jujur saja Arun memang sangat tampan, pasti banyak wanita akan terpesona ketika melihat Arun. Tapi setampan apapun Arun, tetap saja hatiku hanya milik Abian.
“Baru juga jadi istriku beberapa jam, kamu sudah juriga padaku?” ucap Arun sinis.
Hey, aku tidak curiga. Dan akupun tidak peduli apa yang akan dia lakukan di Singapura nanti. Aku hanya bertanya,! apa ada yang salah ketika aku hanya bertanya saja.?
Aku lebih baik diam tidak menjawab pertanyaan yang sangat tdak masuk akal itu.
“Gara-gara pernikahan ini aku harus membatalkan rapat penting bersama perusahaan yang sudah lama aku incar, dan terjebak dalam keadaan yang gila ini. Seharusnya aku sekarang sudah menjalin kontrak dengan perusahaan itu, dan mendapatkan banyak keuntungan” lanjut Arun, aku hanya melongo mendengar tutur katanya. Aku sungguh tidak menyangka ada orang yang begitu sangat gila, dia lebih memperdulikan bisnisnya dari pada pernikahannya ini.
Oh maaf aku lupa bahwa pernikan ini sangat dadakan baginya mungkin dia belum bisa menerima pernikahan ini sama seperti aku tapi setidaknya dia tidak perlu menyalahkan pernikahan ini. Jika dia tidak mau kenapa menerima menikah dengan ku.?
“Maaf jika pernikahan ini telah merugikan dirimu, oke sebelum kamu pergi ke Singapur mari kita perjelas hubungan kita. Kamu tidak mencitaiku sama halnya seperti aku. Kita sama-sama saling tidak mencintai. Jadi, walaupun kita suami istri , kita tidak boleh ikut campur dalam urusan masing-masing. Tapi kita harus tetap menjaga nama baik masing-masing. Karena jika ada masalah yang memalukan maka imbasnya bukan hanya kepada nama baik kita tapi kepada keluarga kita juga.” Kataku panjang lebar, sebenarnya aku sudah merencanakan peraturan yang akan kami jalani tapi aku lupa apa saja yang sudah aku recanakan. Dan hanya ingat yang barusan aku katakan.
Arun tertawa kecil dan merebahkan dirinya diatas kasur. “Kalau dipikir-pikir aku sama sekali tidak mendapatkan keuntungan dalam pernikahan ini. Sedangkan kau mendapatkan keuntungan, yaitu menyelamatkan nama baik keluargamu” Arun terbangun dari tidurnya dan berjalan kearahku.
Aku mundur perlahan-lahan karena Arun semakin mendekat padaku sampai punggungku menabrak sebuah lemari. Oh Tuhan suasana apa ini? Kenapa aku begitu gugup? Tatapannya begitu tajam kearahku, seringai dibibirnya menambah kesan menyeramkan di wajahnya.
“Hey, mau apa kamu?” kataku dengan suara sedikit bergetar
Dia semakin mendekat padaku sampai tidak ada jarak diantara tubuh kami, dan dia mendekatkan wajahnya pada wajahku. Oh Tuhan aku benar-benar takut.
“Bagaimana kalau aku minta ganti rugi atas kerugian pernikan ini. jadi, kita sama-sama untung,! Bukankah itu impas?” ujar Arun berbisik ditelingaku. Aku benar-benar gugup, dia belum juga menjauhkan Badannya.
“Aku akan kasih uang yang kau minta seberapa banyak pun, untuk ganti rugi” aku berusaha agar suaraku tidak terdengar bergetar saat berbicara. aku tidak mau dia mengira aku ketakutan, walaupun aku sangat takut sekarang.
Dia terkekeh ditelingaku, hembusan napas hangatnya menerpa Leherku, membuat aku sedikit merinding. Dan wangi maskulin parfumnya begitu jelas di indra menciumanku.
“Aku tidak butuh uang recehanmu” ucap Arun Sombong.
Hey, apa katanya uang recehan? Aku ini seorang Dokter Bedah. Uangku begitu banyak, walaupun aku tahu tidak sebanyak uangnya tapi uangku cukup untuk bertahan hidup Lima Tahun dengan kehidupan Sosialita.
“Bagaimana kalau kamu ganti rugi dengan tubuhmu ini,? Walaupun tubuhmu tidak sebagus wanita-wanita diluar sana tapi bisa untuk-” perkataan Arun terputus ketika aku langsung mendorong tubuhnya sekuat tenaga. Sampai dia sedikit menjauh dari tubuhku.
Arun tertawa terbahak-bahak, aku tidak tahu apa yang lucu sampai dia tertawa sebahagia itu.
“Hahahaha wajahmu sangat lucu sekali haha, kau sangat ketakutan ya?” kata Arun masih tertawa. Menyebalkan, kenapa dia terus tertawa? Aku sangat tidak suka dengan tertawanya seperti mengejek diriku.
"Apa maksudmu mengganti rugi dengan tubuhku? Jangan harap kau bisa meyentuhku” kataku tegas dan memasang wajah seriusku, bahwa ucapanku tidak bercanda.
Arun menghentikan tawanya dan menatapku aneh “Heh apa maksudmu? kamu pikir aku akan menyentuhmu, hah? Hahah jangan harap aku menyentuh tubuh kurang gizi sepertimu” Ucal Arun sambil meyangkan tangannya di udara.
Enak saja dia bilang tubuhku kurang gizi! Apa Mata dia Katarak? Tubuhku ini adalah idaman para wanita.
Dan apa coba? Dia ingin aku mengganti rugi dengan tubuhku. lalu apa yang dia mau dengan tubuhku? Jika, tidak menyentuhku.
“Sudah seminggu pembantu di Apartemenku berhenti bekerja. Jadi tidak ada yang mengurusi Apartemenku dan aku ingin kamu yang menjadi penggantinya. Menyiapkan pakaianku, masak untukku dan membersihkan Apartemenku. Gimana? mudahkan?”
Aku sangat malu kenapa aku sampai kepikiran kalau dia ingin menyentuh tubuhku, padahal dia Cuma mau aku menjadi pembantunya. Hah apa tadi katanya? ingin aku jadi pembantunya,? Oh sungguh sangat keterlauan.
“Aku seorang dokter dan aku sangat sibuk di Rumah Sakit jadi aku gak punya waktu buat ngurusin kamu apalagi ngebersihan Apatermen kamu”
“Aku bisa cari pembantu baru buat kamu, dan aku yang akan kasih gaji pembantu itu. Jadi, sama aja seperti aku yang ngerjain” lanjut kataku.
“Kamu kira aku gak mampu buat ngasih gaji pembantu,! aku bahkan bisa ngasih gaji untuk ratusan pegawai” kata Arun dengan sangat sombongnya
“Pokoknya, aku pengen kamu yang jadi pembantu nanti, bukan orang lain dan aku gak mau dibantah. Ini sudah keputusan mutlak dariku.” Kata arun dengan tegas
“Aku gak-” belum sempat aku untuk protes, tiba-tiba ponsel Arun berdering dan Arun langsung mengangkat telponnya.
“Oke baik. Kamu tunggu saja di Lobby sebentar lagi saya akan turun kebawah” kata Arun pada seseorang yang menelponya. Dan langung mematikan telponnya.
“Aku gak-”
“Besok kamu akan dijemput pak Muin dan akan mengantarkan kamu ke apartemenku. Sekarang aku harus cepat pergi ke Bandara” ujar Arun dan dia langsung pergi begitu saja tanpa mendengar protesku.
Menyebalkan-menyabalkan kenapa aku harus terjebak dalam situasi gila ini.?
“Abian ini semua gara-gara kamu! kalau saja kamu tidak meninggalkan ku mungkin malam ini aku sedang berbahagia dengan kamu. Dan tidak akan merasakan keadaan yang sangat menyedihkan ini, ini semua gara-gara kamu” kataku lirih dan air mataku jatuh begitu saja mengingat Abian.