Azimah gadis lulusan SMA yang harus berkorban demi kehormatan keluarganya. ia harus rela menjadi istri muda seorang pria kaya yang sudah kepala lima.
Dalam menjalani kehidupan poligami ia harus mengikuti serentetan peraturan yang merantai kebebasannya. Namun dengan keteguhan dan kecerdasannya ia dapat mengubah pemikiran suaminya dan para istri yang lain. Ia harus bertahan dan menunggu kebebasan dirinya datang dengan sendirinya tanpa melanggar norma-norma agama maupun hukum.
Di tengah kehidupan poligami yang menyiksa batinnya, ia bertemu dengan seorang pengacara tampan yang kemudian mendiami hatinya. Mampukah ia bersatu dengan pengacara tampan itu tanpa kata "selingkuh" ataukah ia memilih setia pada suaminya yang sah. Atau justru berlari dari kehidupan yang pelik.
Novel ini penuh dengan drama, skandal dan intrik para tokohnya. penuh misteri juga peristiwa tak terduga. Bagaimana akhir kisahnya???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mimi Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Obrolan Malam
"Silahkan pilih yang kamu suka, Marni dan Tina akan membantu, saya tunggu di sana ya" Kata Mbakyu sambil menunjuk ke arah kursi di pojokan.
"Ehm ..Azimah, pilih yang sopan ya" Pesan Mbakyu sebelum meninggalkanku.
Aku sekarang berada di pusat perbelanjaan. Romo menugaskan Mbakyu untuk mendandaniku biar pantas. Enak saja, aku begini saja sudah cantik, kenapa masih disuruh merawat diri. Aku sudah membawa baju satu koper dari rumah tapi katanya itu belum cukup. Baju-baju yang kupunya kurang bagus dan kurang stylish. Karena itu Mbakyu mengajakku berbelanja yang banyak di sini. Padahal sebelumnya aku berniat tidak ingin mempercantik diri karena takut Romo tertarik padaku dan....akh...sakitnya hatiku mengingat itu.
Stop. Jangan ingat tua bangka itu. Nikmatilah masa senangmu disini Azimah, bisik batinku. Jika aku larut dalam derita memiliki suami tua, aku akan stress. Dan jika aku stress aku tidak akan sanggup membuat rencana melepaskan diri dari Romo.
Aku memilih-milih pakaian dibantu kedua pelayanku. Karyawan di toko itu berbondong-bondong ikut melayaniku. Sepertinya mereka tahu aku siapa. Tapi bukan aku yang dikenali, tentu saja Mbakyu yang membuat mereka melakukan itu. Keluarga Romo begitu terpandang karena kekayaannya.
Gamis, atasan, rok, mukena, jilbab semuanya kubeli. Entah berapa banyak duit yang kuhabiskan siang ini. Ditambah lagi harga yang mahal. Maklumlah di Mall mana ada barang murah. Yang jelas aku tidak meminta, mereka yang memberiku. Meski aku menerima tetap saja aku tidak meminta. Jadi jangan anggap aku matre dan terlalu senang menikah dengan pria kaya. Sama sekali. Jika aku diperbolehkan berhenti aku akan berhenti sekarang juga. Materi bisa kucari, tapi kebahagiaan tak bisa dibeli.
Semua kebutuhanku sudah terbeli. Marni dan Tina masih mengurus pembayaran di kasir. Sementara itu, aku berkeliling hanya di lantai itu. Kutemukan yang paling kusuka. Book store. Ada banyak buku bacaan di sana. Segera kupanggil Tina, aku memilih buku-buku kesehatan khususnya yang berhubungan dengan kebidanan. Aku tahu impianku sudah sirna. Tapi apa salahnya jika aku membacanya untuk menambah pengetahuan. Ini bukan bagian dari rencana belanja. Tapi aku yakin ini juga tidak dilarang. Toh uang yang kupakai belanja adalah jatah bulanan dari Romo.
"Sudah?" Tanya Mbakyu.
Aku mengangguk. Kami berjalan menuju pintu keluar.
"Tunggu sebentar" Kata Mbakyu. Ia lalu menerima telepon dan menjauh dari kami.
Cukup lama Mbakyu menerima telepon. Marni memberiku tempat duduk. Entah darimana dia dapatkan kursi plastik itu. Haus sekali siang ini. Di dalam terasa dingin, begitu keluar terasa panas.
"Tina, tolong belikan saya minuman dingin"
Tina segera melaksanakan perintahku. Kulihat sekeliling. Banyak remaja bergandengan tangan dengan kekasihnya. Sungguh bahagianya mereka. Ada pula sepasang suami istri yang sepertinya seumuran da si istri sedang hamil. Begitu dimanjanya istrinya. Tak kalah lagi ada kakek nenek yang berjalan bersama didampingi anak dan cucunya. Mereka setia hingga lanjut usia. Akankah aku menikmati yang seperti itu kelak. Kapankah? Ataukah tak ada kesempatan lagi untukku. Oh ya Robb, kenapa mimpi buruk ini tak kunjung usai. Kenapa aku tidak segera bangun. Mimpi ini begitu lama.
"Azimah.....Azimah kan?" Seorang pria muda datang dari sebelah kananku.
"Oh, Bagus"
"Alhamdulillah, kamu kok bisa ada di sini"
"Oh iya, kamu juga di sini"
"Aku kerja di Bali, tapi kebetulan lagi ada touring di Lombok. Gak nyangka bisa keteku di sini ya"
Bagus adalah temanku SMP. Sejak SMP dia menyukaiku tapi gak enak dengan Firman yang lebih dulu kurespon. Sampai-sampai daat melanjutkan SMA dia tak mau satu sekolah dengan kami -aku dan Firman-.
"Kamu sendiri, kerja di sini?" Duh dia bertanya seperti itu. Aku harus jawab apa.
"Eh..aku..."
"Eh minta nomer WhatsApp dong" Sahut Bagus sambil membuka hapenya.
"Aduh aku lupa, hapeku ketinggalan"
"Oke gak papa, nih kartu namaku. Hubungi aku ya"
Kuterima kartu nama itu. Kubaca dengan teliti. Dia seorang agen distributor produk minuman kemasan. Dan sekarang sedang ada event di Lombok.
"Nyonya, ditunggu Nyonya Halimah di mobil" Kata Marni.
"Oh, iya, aku duluan ya Gus"
Aku masuk ke mobil, kubuka minuman dingin yang dibelikan Tina tadi.
"Siapa Laki-laki itu Azimah?" Tanya Mbakyu.
"Oh itu...."
Belum selesai aku menjawab Mbakyu menimpali.
"Hati-hati, sekarang kamu adalah istri dari Romo, jaga sikapmu di luar. Jangan sembarang ngobrol dengan pria lain"
"Oh, iya"
Huft. Benar-benar aturan yang mencekik. Apakah Lestari dan Jenny juga mengalami hal seperti ini. Jika benar mereka pasti tertekan. Atau jangan-jangan sebenarnya mereka pun ingin berpisah dengan Romo tetapi menanti momen yang pas, sama sepertiku. Bisa juga. Jika demikian aku akan mencari tahu. Mereka bisa jadi temanku dan bisa saling bantu untuk melepaskan diri dari Romo.
***
Seperti yang dikatakan Mbakyu bahwa makan bersama adalah momen berkumpulnya seluruh keluarga. Malam ini kami makan bersama dalam satu meja besar. Romo duduk paling ujung. Mehmed berada di sisi lain berhadapan dengan Mbakyu Halimah. Sebelah Mehmed ada Jenny disusul Lestari. Sementara aku berada di sebelah Mbakyu Halimah.
"Semua sudah berkumpul, mari kita berdoa" Kata Romo mengawali acara makan malam kami.
Berbagai menu terhidang di meja. Sebagian besar menu khas Lombok yang belum pernah kucoba. Berada di meja makan ini serasa seperti di restoran. Koki yang dipekerjakan tentu sudah ahli dalam mengolah masakan nusantara. Terlihat dari garnis yang terdapat pada setiap menu.
"Bagaimana belanjamu hari ini Azimah?" Romo bertanya padaku.
"Menyenangkan. Terima kasih Romo" Jawabku lirih.
"Hmmm bagus, makanlah yang banyak, badanmu kelihatan kurus. Bune, bantu dia"
"Iya Romo" Jawab Mbakyu.
"Makanlah ini, ayam pelalah, makanan khas lombok. Cobalah" Mbakyu mengambilkanku menu yang disebutkan tadi.
Aku berterima kasih. Jujur saja makanan di meja ini semuanya menarik tapi nafsu makanku tak sebagus ketika di rumah. Tentu saja karena keadaanku yang seperti ini. Kondisi psikisku yang menyebabkanku tidak lahap makan.
"Azimah, jika lidahmu belum cocok untuk makanan Lombok, makanlah ini, ayam bakar kecap, sayur sop juga ada" Lestari menawariku.
"Alhamdulillah.....istri-istriku rukun dan kompak" Puji Romo, dan Lestary tampak tersanjung dengan pujian itu.
Aku tersenyum sebagai basa-basi. Jujur saja aku merasa canggung makan dengan mereka. Tapi ini bagian dari aturan rumah yang harus dipatuhi.
"Mehmed, bagaimana sekolahmu?" Tanya Romo.
"Lancar Romo. O iya Romo, kemarin aku telat" Jawab Mehmed yang masih SMP.
"Kenapa?"
"Mobil tiba-tiba mogok. Bagaimana kalau besok aku pakai mobil merahnya Romo uang jarang dipakai?" Usul Mehmed.
"Tidak usah, mobil itu juga mengkhawatirkan mogok, besok biar diantar pakai mobil Romo, sepulang sekolah Deni akan mengantarmu ke showroom. Pilih yang kamu suka"
What? Dibeliin mobil baru? Benar-benar dimanja itu anak. Mogok sekali saja langsung ganti baru. Dasar borjuis.
"Terima kasih Romo" Mehmed kelihatan begitu senang. Kulirik Mbakyu. Dia juga terlihat senang putranya dimanja sebegitunya.
"Romo, saya punya permintaan kecil" Giliran Jenny mengajukan usul.
"Hm? Apa?"
"Saya ingin belajar bahasa Inggris, bukannya apa-apa Romo, saya hanya ingin meningkatkan kualitas diri saya"
Romo tampak berpikir sejenak.
"Bagus itu. Kalau begitu semua juga ikut belajar. Aku akan minta Deni buat cari guru privat. Semuanya ikut, kaku juga boleh Mehmed. Semua istri saya harus berkualitas. Bagus Jenny, usul yang bagus"
Jenny tampak senang dipuji. Jadi jelaslah mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan perhatian Romo. Ckckck, apakah mereka tidak sayang hidupnya dihabiskan dengan orang setua Romo. Mereka tampak masih sangat muda, seharusnya mereka bersama orang yang sama mudanya. Kecuali Mbakyu, dia tampak serasi dengan Romo. Menurutku cuma dia satu-satunya istri yang sepadan dengan Romo.
Dari makan malam itu, aku cukup tahu bagaimana karakter mereka meski hanya sekilas. Aku akan terus menyelami dalam diam. Lestari dan Jenny menurutku mereka bersaing satu sama lain. Tetapi Mbakyu, tidak begitu tertarik dengan persaingan. Yang menarik adalah, Mehmed yang sudah terbiasa dengan kehidupan poligami orangtuanya. Dia masih sangat muda, tapi disuguhkan dengan sesuatu yang sulit dicernanya. Sekalipun dia sudah disunat ia tetaplah anak-anak. Kehidupan poligami yang ada dalam satu atap bisa saja mempengaruhi psikisnya. Ia bisa saja melakukan penolakan terhadap keluarganya yang dianggap tidak ideal. Idealnya satu ayah untuk satu ibu. Tapi hebatnya keluarga ini mampu memberi pengertian pada Mehmed. Sehingga tampak begitu harmonis dan hangat.
***
cerita baguuusss...
seruuu...
sukses trs tuk karya2nya 💕💕💕💕