Azka yang biasanya duduk di bangku cadangan saat pertandingan basket, tiba-tiba ada yang merasuki tubuhnya dan memberinya kekuatan. Dia menjelma menjadi pemain basket profesional.
Raga Azka kini dikuasai oleh jiwa lain. Bagaimana jika jiwa itu adalah mantan dari mamanya yang telah meninggal dua puluh tahun lalu?
Masalah apa yang belum dia selesaikan di dunia ini hingga membuat jiwanya menetap di dunia? Apa dia memang diutus untuk menjaga Azka dan meraih impiannya melalui raga Azka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
Kenapa aku bisa merasakan pelukan hangat ini lagi?
Azka melepas pelukan Airin dan menatap kedua tangannya. Dia tak bicara apa-apa lagi. Pandangannya masih sibuk memandangi tangannya lalu sesekali meraba tubuhnya.
"Azka, kenapa? Papa panggilkan Dokter sekarang." Revan segera memanggil Dokter karena melihat wajah linglung Azka. Jangan-jangan Azka amnesia.
"Azka, kamu ingat kan? Ini Papa, dan ini Mama." Revan memegang kedua bahu Azka sambil menatapnya.
"Papa, Azka tidak amnesia. Dia ingat mama kok. Iya kan Azka?"
Azka hanya menatap mamanya lalu papanya. "Mama, Papa ...."
Beberapa saat kemudian Dokter segera datang dan memeriksa kondisi Azka. Dokter sempat terheran melihat kondisi Azka yang terlihat bugar dan sudah bisa duduk dengan tegak.
"Apa kepala kamu tidak sakit?"
Azka menggeleng pelan.
"Pandangan jelas?" Dokter melihat kedua mata Azka dan memeriksa seluruh kondisi fisik Azka yang semua berfungsi dengan normal. "Kamu ingat siapa nama kamu?"
"Azka."
"Nama mama kamu?" tanya Dokter lagi.
"Airin." Azka bisa menjawab semua pertanyaan Dokter. Dia tidak amnesia. Dia masih ingat semuanya.
"Jangan banyak bergerak dahulu karena lukanya masih belum kering. Ini sebuah keajaiban karena Azka bisa melewati masa kritis itu dengan cepat," kata Dokter.
Senyum Airin semakin mengembang di bibirnya. Dia kembali duduk di samping brankar Azka saat suaminya sedang mengobrol dengan Dokter terkait kondisi Azka.
"Azka, Mama senang sekali kamu sudah sadar. Melihat kamu memejamkan mata dan tak berdaya, Mama sangat takut kehilangan kamu." Airin menggenggam tangan Azka. Beban yang sempat menggunung akhirnya telah luruh.
Azka hanya menatap Airin. Dia mengeratkan genggaman tangannya. Akhirnya dia diberikan satu kesempatan lagi untuk hidup meskipun harus meminjam raga Azka.
Ya, dia adalah jiwa Azka, seseorang yang sangat berarti di masa lalu Airin. Jiwa Azka yang selama ini berada di dekat Azka sejak lahir. Dia tidak pergi, selalu ada di sampingnya. Dia yang menguasai raga Azka saat Azka kesulitan bermain basket. Dia juga yang senang sekali melihat kedekatan Azka dan mamanya karena dia seperti merasakan kasih sayang Airin lagi.
Setelah 18 tahun berlalu dan kecelakaan yang dialami Azka, dia tidak mengerti mengapa jiwanya bisa ditarik masuk ke dalam tubuh Azka. Jika dulu dia meninggal sebelum melanjutkan impiannya, apa ini saatnya dia melanjutkannya?
Entah dulu atau sekarang, impianku tetap sama yaitu menjadi pemain basket profesional. Mungkin dengan raga ini aku bisa meraih impianku yang tertunda.
"Azka mau minum?" tanya Airin.
Azka hanya mengangguk pelan.
Airin mengambil sebotol air mineral lalu membantu Azka minum lewat sedotan. Setelah menghabiskan minuman itu, Azka masih saja menatap Airin.
Dua puluh tahun yang lalu, dia pernah sangat mencintai Airin dan mengukir kenangan indah bersama. Dia masih ingat betul, sebelum dia pergi, dia sempat menjalin hubungan dengan Airin. Meskipun dia tahu Airin tidak pernah mencintainya tapi momen kebersamaan itu sudah membuatnya bahagia. Selama 18 tahun juga, dia bisa melihat Airin menjadi sosok ibu yang sangat baik dan sekarang dia akan benar-benar merasakan kasih sayang itu.
"Azka, Papa yakin, kamu itu kuat. Kamu berhasil melewati masa kritis itu dengan cepat." Revan membenarkan selimut Azka lalu mengusap bahunya.
"Revan lagi! Ck! Harus panggil dia Papa? Setiap melihat kemesraan mereka berdua membuatku iri." Kemudian Azka tersenyum miring. "Aku kan sekarang juga bisa manja sama Mama Airin. Lihat saja nanti."
"Kamu kenapa Azka?" tanya Revan yang melihat tawa smirk Azka.
Azka hanya menggelengkan kepalanya. "Mama, aku lapar. Apa ada makanan?" tanya Azka. Mulai sekarang dia akan menjadi Azka yang sangat manja pada Airin.
"Sebentar ya, tunggu suster mengantar makanan. Sebentar lagi," kata Airin.
"Sayang, kamu juga harus makan. Kamu cuma sarapan saja seharian ini," kata Revan.
"Papa kan juga sama belum makan, setelah Azka makan baru kita makan ya," kata Airin. Setelah menatap suaminya, dia menatap Azka lagi.
"Mama sayang gak sama Azka?" tanya Azka tiba-tiba.
Airin semakin tersenyum. Setelah menginjak remaja, Azka tidak pernah bertanya seperti itu. Tapi sekarang bicara Azka seperti seorang anak yang manis yang ingin selalu dimanja. "Tentu sayang. Kamu separuh jiwa Mama. Mama tidak akan bisa kehilangan kamu."
Beberapa saat kemudian suster mengantar makanan untuk Azka.
"Makasih, Sus." Airin segera mengambil makanan itu dan menyuapi Azka.
"Agak bersandar biar nyaman." Revan membantu putranya duduk bersandar dengan tumpukan bantal. "Aku beli makanan dulu, sebentar lagi kita makan."
"Mas Revan sudah kasih tahu Vania kan kalau Azka sudah sadar?" tanya Airin.
"Sudah. Vania menginap di rumah Mama. Biar besok saja ke sini karena ini sudah malam." Setelah itu Revan keluar dari ruangan Azka.
Airin kini mulai menyuapi Azka. "Dihabiskan, biar cepat sehat."
Azka hanya mengangguk pelan dan menerima suapan demi suapan dari tangan Airin.
Airin, meskipun kamu menganggap aku ini anak kamu, tidak apa-apa, yang terpenting sekarang aku sudah berada di dekat kamu dan merasakan perhatian kamu secara langsung.
"Azka, apa kamu ada hubungan spesial dengan Amira?" tanya Airin.
Setelah menelan makanannya barulah Azka menjawabnya. "Aku baru mengenal Amira. Dia tetangga baru kita kan?"
"Iya, dia tetangga baru kita. Anaknya Pak Tomi. Kasihan, dia merasa terpukul sekali karena kamu terluka setelah menyelamatkannya."
Azka hanya terdiam sambil menerima suapan dari Mamanya.
"Mama sangat mengerti bagaimana perasaan Amira saat ini, pasti dia sangat sedih karena kamu sudah bertaruh nyawa demi menyelamatkannya."
Azka hanya menatap Airin sambil mengunyah makanannya. Tentu saja, dia mengingat semua kenangan itu. Dia pernah berkorban demi Airin, bahkan dia hampir cacat seumur hidupnya. "Aku melakukan itu karena aku cinta."
"Kamu cinta sama Amira?" tanya Airin sambil meletakkan piring makanan yang telah habis.
"Eh, ehmm ...." Maksudnya aku cinta kamu, Airin.
"Bukannya kamu pacar Nadia?" tanya Airin.
"Kok Mama tahu?" tanya Azka karena setahu dia, Azka yang asli memang tidak pernah cerita tentang Nadia pada Mamanya.
"Tahu dari Vania. Nadia yang pernah ke rumah sama Tio juga kan?"
Azka hanya menganggukkan kepalanya.
"Lalu kenapa kamu bisa jatuh cinta sama Amira?"
Azka tidak tahu harus menjawab apa, akhirnya dia hanya bisa berpura-pura memegang kepalanya dan meringis kesakitan. "Kepala aku sakit, Ma."
"Ya sudah kamu tidur saja. Semoga kamu cepat sembuh, agar cepat pulang ke rumah." Airin membantu Azka merebahkan dirinya di atas brankar.
Beberapa saat kemudian Revan masuk bersama Amira. "Itu, Azka sudah siuman. Kamu jangan terlalu khawatir."
Rasa khawatir Amira membuatnya ingin bertemu Azka. Meskipun hari sudah malam, dia tetap datang ke rumah sakit. Amira berjalan mendekat, dadanya semakin berdebar tak karuan saat melihat Azka. Dia tercekat dan tak percaya dengan apa yang dia lihat. Dia tahu, jiwa yang berada di dalam tubuh Azka bukan jiwa yang sebenarnya.
"Om Azka ...."
💞💞💞
Azka, come back... 😅