Ellena Celestia Baskara adalah gadis pewaris tahta keluarga Jarzam, pemilik perusahaan berlian terbesar di negara itu. Tetapi dia harus mengalami peristiwa buruk saat para mafia merampas seluruh hartanya, dan membunuh kedua orangtuanya, dia melarikan diri dan tenggelam di lautan tempat tinggalnya dewa laut, sang dewa menolongnya dan membalik kehidupan Ellena menjadi seorang bayi lagi yang kemudian ditemukan oleh seorang wanita tua.
Para Mafia itu mengejarnya sampai menemukan sebuah kristal biru sumber kekuatan terbesar seluruh lautan di muka bumi ini, dan mereka merampasnya juga, sang dewa murka dan mengirim titisan setengah kekuatannya dalam kristal kapsul kecil bersamaan dengan Ellena yang juga sengaja di masukkan ke dalam sebuah kapsul kristal, lalu apakah yang akan terjadi dengan kedua kristal itu?
Saksikan kisah selanjutnya hanya di sini, happy reading semuanya ...
Jika membaca tolong tinggalkan jejak ya ges, like, komen, dan vote-nya, thankyouu---haturnuhun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Teriablackwhite, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ADD Eps 5
...•...
...•...
...•...
...•...
...•...
Tawa Rainero tiba-tiba saja pecah di hadapan semua anggotanya sehingga semua orang yang ada di hadapan lelaki itu kebingungan dengan reaksi yang ditunjukkan oleh lelaki itu, bahkan Mylan pun ikut terbuai dengan tawa sang suami.
"Kalian masih percaya Tuhan?! Ayolah ... Tuhan tidak membantu apapun, semua manusia berusaha keras sendirian untuk membangun kehidupannya menjadi lebih baik, manusia-manusia sukses itu karena manusia itu sendiri yang berjuang keras," urai Rainero dengan matanya yang memerah.
Manusia tidak beradab, entahlah! Dia manusia atau bukan, tapi dia berada dalam lingkaran hitam yang sangat berbahaya, Tuhan akan murka terhadap manusia berhati api seperti dia.
Batin Armando mengurai kekesalannya pada atasannya itu, pria paruh baya itu ingin melepaskan diri dari jeratan dawai hitam yang dirajutnya dulu bersama Rainero, kehidupannya semakin jauh dari ketenangan setelah bergabung dengan komplotan mafia DCN ini, pimpinannya benar-benar menentang kuasa Tuhan, bahkan tak jarang Rainero meremehkan kehendak pencipta alam semesta ini.
Mylan melangkah ke depan, tangan kirinya dia tadahkan sedangkan tangannya yang lain mengirap di atas tangannya yang tertadah itu, sinar putih tiba-tiba mengepul di antara kedua tangan Mylan, kemudian muncullah kotak hitam dengan corak abstrak di atas tangan kanan yang tertadah.
"Ini adalah kerang Montana, sebuah kerang magis yang hanya berada di laut Lanzeiruz, kalian makan ini dalam keadaan mentah maka kalian akan dengan mudah bernapas di dalam laut tanpa bantuan apapun," jelas Mylan mengedarkan kerlingannya pada semua orang yang tengah menatapnya kini.
Bagaimana bisa nyonya Mylan memiliki kerang itu, bagaimana dia mendapatkan kerang itu dalam jumlah banyak seperti ini, sungguh aneh.
Monolog batin Armando, kemudian helaan napasnya terurai begitu saja.
Dalam ribuan pertanyaan yang tumbuh di benak anggota mafia itu, satu per satu melangkah untuk mengambil satu buah kerang yang ada dalam kotak hitam itu, kerang segar yang beraroma laut khas, aroma manis menyebar ke rongga hidung setiap anggota itu.
"Kenapa baunya tidak amis nyonya?" tanya Armando heran.
Sudut bibir Mylan menaik sepersekian detik. "Laut Lanzeiruz itu tidak beraroma layaknya laut pada umumnya, dan inilah aromanya yang sesungguhnya," balas Mylan menjelaskan kondisi laut Lanzeiruz sesungguhnya.
Serempak semuanya mengangguk tanpa berpikir hal aneh-aneh tentang Mylan, kecuali Armando, lelaki paruh baya itu semakin merasa heran, lagi-lagi pertanyaan 'Bagaimana Mylan bisa mengetahui semua hal itu' kembali melambung tinggi dalam benaknya.
Masih dalam detik yang sama, para anggota mafia DCN melahap kerang Montana yang berwarna biru dengan perpaduan warna putih itu, rasanya yang sedikit manis menyebar ke seluruh indra perasa mereka, ada rasa mual yang kemudian menguntit di tenggorokannya.
"Bagaimana?" tanya Rainero sambil melepaskan kancing kemejanya satu per satu sampai tiga kancing kemejanya terlepas.
"Aneh," sahut Armando. "Rasa yang baru, saya baru merasakan ada kerang yang memiliki rasa semanis ini, sampai rasanya saya ingin muntah," tambah Armando.
Rainero menyeringai. "Abaikan rasa dari kerang itu, ayo kita memburu lautan misterius itu." Netra lelaki itu melesat jauh menembus air terjun yang berjatuhan dari atas awan yang menutupi keadaan sebenarnya yang terjadi di dalam lautan berwarna merah muda.
"Lima di antara kalian tunggu di sini, jaga sekitar agar tidak ada satu pun yang mengetahui operasi kita saat ini," titah Rainero.
"Tentu saja tuan Rainero," sahut semuanya serempak.
"Armando, kau harus ikut karena kau yang tahu wujud dari anak itu. Hari ini kita harus menemukannya sebelum ada orang lain yang menemukannya terlebih dahulu," ucap Rainero lagi.
Armando yang berada di belakang segera menuntun langkahnya untuk ke dekat Rainero, detik berikutnya Rainero dan Mylan melompat tenggelam ke dalam lautan biru terbentang luas itu tanpa keraguan sedikitpun. Kemudian sepuluh anggotanya yang lain ikut terjun ke dasar lautan itu mengikuti jejak sang pimpinannya.
Dua belas orang telah tenggelam ke dalam lautan itu tanpa takut kehabisan oksigen, mereka mengerahkan kemampuan berenangnya dengan kecepatan yang mereka mampu untuk tiba di depan pilar putih tersebut.
Tiba di depan gerbang air mancur itu Rainero dan Mylan menghentikan pergerakannya, dia mengambang, setengah raganya tertelan oleh air yang memiliki suhu dingin itu, tangannya tak berhenti untuk menyisir air guna untuk membantu tubuhnya tetap mengambang.
"Gerbang ini akan membawa kita ke dalam lautan yang sering orang katakan dengan lautan para dewa," celetuk Rainero dengan senyuman sinisnya.
"Kali ini kita akan mendatangi dewa secara langsung," timpal Mylan penuh keyakinan, simpul senyumnya menaik begitu saja.
"Ayo berenang lebih kuat lagi," ajak Rainero.
Serempak semuanya mengangguk menyetujui ajakan dari pimpinannya. Mereka segera mengayuh kakinya berenang untuk menembus pilar putih itu, tetapi ternyata ... Sungguh aneh, gerbang air terjun itu tiba-tiba saja terbuka lebar, layaknya penyambutan yang penghuni asli.
"Wow! Laut Lanzeiruz menyambut kedatangan kita dengan suka cita," seru Rainero puas membentangkan kedua tangannya ke udara sedang kakinya tetap mengayuh untuk menjaga keseimbangan tubuhnya.
"Ayo!" seru Mylan mengirap tangannya ke depan dan berenang lebih dulu.
Lantas Rainero dengan anggotanya yang lain menyusul di belakang wanita itu, satu pun di antara mereka tak ada yang berani mendahului Mylan karena ada Rainero di antara mereka. Gerbang air terjun terbuka dan membawa semuanya masuk ke dalam lautan beraroma permen karet dan berwarna merah muda seperti aromanya yang manis.
Semuanya terpukau dengan penampilan laut yang sering dikatakan oleh legenda negerinya, seperti inilah wujud asli dari laut Lanzeiruz. Begitupun dengan Rainero yang ikut terpukau dengan penampilan dari laut yang membuatnya penasaran semasa hidupnya.
Bibir lelaki itu menyeringai. "Aroma permen karet yang kamu bicarakan ternyata itu nyata," ucap Rainero di telinga istrinya.
"Tentu saja, aku tidak akan berani berbohong padamu," timpal Mylan cepat.
Wanita itu kembali berenang lebih dulu, pergerakkan semakin cepat, dia terbenam masuk ke dalam laut merah muda itu dengan ketenangan, begitupun dengan suaminya dan seluruh anggota yang terus mengekori kemanapun wanita itu bergulir.
Mylan terhenti sejenak kala merasakan sakit yang begitu mendalam di area dadanya, seperti ada yang mencekik wanita itu. Dia tersungkur di dasar lautan, tubuhnya terjatuh lemah sambil dia memegangi dadanya yang terbuncang.
Dari depan, siluet cahaya biru bergerak ke dekat Mylan, cahaya itu terus menyerang Mylan tanpa alasan sehingga para anggota dan suaminya di sana nampak kebingungan. Lekas Rainero menyeret Mylan membawanya berenang bersama dirinya menjauh dari siluet cahaya biru itu.
Seberkas cahaya yang menyerupai pena di langit kala matahari dan rembulan tenggelam dalam persembunyiannya.
"Ada apa dengan laut ini, kenapa menyerang nyonya Mylan?" bisik Armando pada dirinya sendiri. "Aku yakin jika nyonya Mylan memiliki hubungan yang pekat dengan laut aneh ini," sambung Armando masih berbisik kebetulan posisinya ada di barisan paling belakang.
Rainero terus berenang mencoba menjauhi siluet aneh itu. Sampai mereka berhenti di sebuah singgasana kecil yang dikelilingi banyak kerang Montana yang tertutup, kerang Montana di area itu tertanam begitu kokoh tanpa berkembang biak, siluet biru yang dilihatnya tadi pun ada di sekitar sana, bedanya adalah siluet itu tak lagi menyakiti Mylan.
"Tempat apa ini?" tanya Rainero masih menggenggam tangan Mylan.
Namun, kemudian Mylan menarik tangannya keluar dari jeratan dekapan sang suami, dia berenang ke dekat gerbang putih itu, matanya menyipit bersamaan dengan dahinya yang mengerut. "Tempat ini adalah singgasana para duyung legenda, tapi katanya sebagian duyung yang menghuni singgasana ini telah ditarik oleh Raja dan Ratu duyung ke sebuah tempat," jelas Mylan sembari menghela napasnya yang sempat tercekat tadi.
Bola mata Rainero melebar, lalu kedua sudut bibirnya menyeringai puas, pikirannya berkembang begitu saja, mengingat suatu hal yang menurutnya adalah keuntungan yang sangat besar. Keinginannya untuk menemui gadis kecil itu seketika sirna.
"Kristal biru pusaka!" celetuknya begitu saja.
Mylan menoleh cepat, bola matanya membuntang kuat, lalu dia telan ludahnya secara kasar. "Iya! Di sinilah tempat sang pusaka laut Lanzeiruz," sahut Mylan kemudian, wajahnya masih tegang.
Rainero berputar mengarah pada anggotanya yang ada di belakang. "Lupakan gadis kecil itu, kita cari benda pusaka itu, yang pastinya akan memiliki keuntungan yang lebih besar lagi," seru Rainero tegas.
"Baik tuan," sahut semuanya serempak, kecuali Armando.
Lelaki paruh baya itu bergeming, jantungnya terasa berhenti sejenak. Pikirannya berkabut dengan kemungkinan bahaya yang akan terjadi jika sang pusaka direnggut begitu saja. Armando berenang ke dekat Rainero.
"Tuan tunggu! Kau tidak bisa mengambil sang pusaka dari singgasananya, pusaka itu ada karena untuk menjaga keseimbangan lautan bukan?" pungkas Armando bermata tegang.
Rainero menoleh kasar, tatapannya meruncing hanya pada Armando. " Kamu hanya anggota lemah, kamu bukan apa-apa jika berhadapan denganku, jadi jangan macam-macam! Ikuti saja perintahku," tegas Rainero tak ingin mendengar anak buahnya.
Lelaki berwajah bengis itu masih bersikeras untuk menerobos masuk ke dalam singgasana itu, Mylan dan anggota lainnya ikut masuk ke dalam sana, kecuali Armando. Lelaki paruh baya itu menghela napasnya panjang.
Manusia keji! Dunia ini akan hancur jika sang pusaka dipisahkan dari rumahnya.
Urai batin Armando, lantas lelaki paruh baya itu berenang menjauh dari sana. Pikirannya kalut, dia tak ingin terlibat dari operasi keji ini, dia memilih untuk mengasingkan diri dari pimpinannya itu.
Rainero, Mylan dan anggotanya yang tersisa tiba di dalam singgasana itu, ke-lima belas duyung legenda tengah mengelilingi sang pusaka kristal biru, menggunakan kekuatan yang mereka miliki agar sang kristal memancarkan energinya untuk menjaga keseimbangan lautan di seluruh muka bumi.
"Hentikan!" teriak Mylan angkuh, dia melangkah menuruni tangga utama di singgasana sana.
Seketika ke-lima belas duyung legenda itu terhenti, netra biru lautnya berkeliaran dengan tegang, ekornya bergerak ke atas dan ke bawah, mereka mengegah mendekati semua manusia yang tiba-tiba saja bertandang ke sana.
"Kalian mau apa? Ini adalah daerah terlarang?" tanya salah satu manusia duyung berekor hijau.
"Bagaimana bisa kalian menembus pilar putih. Tidak ada yang bisa menembusnya kecuali bagian dari kami," timpal manusia duyung lainnya.
Mylan berdiri di depan para manusia duyung pemegang kendali sang kristal biru. "Tentu saja bisa, karena aku," tunjuk Mylan penuh tekad.
Bola mata para manusia duyung itu tiba-tiba saja menjungkar. Kemudian mereka berjajar satu arah membelakang sang kristal biru yang tak lagi berputar seperti tadi. "Apa yang kalian inginkan?" tanyanya lagi.
"Lebih baik kalian pergi dari sini, sebelum pertapaan Dewa Baruna selesai dan kalian akan tewas," timpal manusia duyung yang lain.
Mylan mendengkus lalu menguar senyumannya sambil dia menggisil kedua tangannya. "Sebelum dewa datang, kalian sudah lenyap!" pekik Mylan membentangkan kedua tangannya dan menghembuskan semburat cahaya putih kemerahan.
Cahaya itu mampu menggeser para manusia duyung itu terpental jauh ke belakang, melewati sang kristal biru yang terbaring di singgasananya.
"Aaaargh ...."
Seruan para manusia duyung itu memecahkan ketenangan laut Lanzeiruz, pekikannya tembus ke telinga para peri duyung yang tinggal di kerajaan dimana sang dewa penguasa lautan tinggal, mutiara-mutiara yang kekilauan di sana seketika kehilangan cahayanya.
Salah satu peri duyung tertinggi di sana bergerak dari kolam beraroma mawar yang menyegarkan mendekati para mutiara yang menempel di seluruh bangunan kerajaan itu. Matanya menyipit, lalu dia memejamkan matanya untuk melihat secara bayangan tentang apa yang telah terjadi di singgasana sang pusaka.
"Kekacauan yang amat mematikan telah terjadi," ucapnya kemudian dia membuka matanya.
Para duyung legenda itu terkapar tak berdaya di atas batu karang yang ada di sana, lima di antaranya tewas karena Mylan mencekiknya dengan akar-akar yang merambat di sekitar sana.
"Hentikan!" bentak salah satu manusia duyung itu. "Kalian manusia keji! Akan menemui kematian yang lebih mengerikan dari ini," kutuknya geram sambil memegangi dadanya yang membiru.
Mylan tertawa lepas. Tak ada ketakutan yang terekam dari bola mata pipihnya, lalu diikuti oleh suaminya yang sedari tadi hanya menyaksikan kehebatan dari istrinya, begitupun dengan anggota yang ada di sana.
"Kematian pun takut dengan manusia yang tangguh seperti kita, yang mati mengerikan adalah bangsa kalian!" tukas Mylan mengerutkan dahinya.
...----------------...
...Next .......
jangan lupa mampir di novel pertama qu
🙏