Genre : Comedy, Harem, Petualang, Parody.
Dalam pengakuan cintanya Kenzi telah ditolak mentah-mentah oleh gadis yang disukainya hingga mengalami serangan jantung.
Di kematiannya dia bertemu dewi yang menawarkan kehidupan keduanya menjadi pahlawan di dunia sihir namun dia menolak dan memilih untuk jadi pria biasa, cita-citanya adalah menemukan 33 Heroine dan hidup damai dengan membuat Harem sendiri, sayangnya tanpa ia ketahui dunia ini lebih mengerikan dari yang dia pikirkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isekai Fantasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 06 : Seorang Gadis Dark Elf
"Tuan Kenzi?"
"Ah.. maaf, aku sedikit melamun barusan."
"Jika Anda tidak keberatan Anda bisa berdagang di wilayah kami, aku akan dengan senang memberikan perlindungan."
Itu memang menjanjikan akan tetapi jika aku melakukannya maka tidak ada artinya jika aku memenangkan kompetisi di antara kami berdua, pada akhirnya aku menolaknya dengan sopan membuat Amira kehilangan perkataannya.
"Itu... aku sedikit terkejut, biasanya orang-orang sangat menginginkan untuk bergabung dengan perusahaan atas."
"Aku hanya lebih suka melakukan semua hal dengan caraku sendiri, kalau begitu aku pamit."
"Iya."
Aku berjalan meninggalkan Amira yang masih kebingungan.
"Cloe kamu ada di sini?"
"Iya nona... aku ingin melaporkan hasil ujian tuan Kenzi namun memilih menunggu sampai pembicaraan Anda selesai."
"Aku mengerti, mari kita lihat."
Mata Amira terkejut dengan apa yang dia lihat, dia mengkonfirmasi semua itu pada Cloe yang hanya menggaruk kepalanya bingung untuk menjelaskannya.
"Itulah hasilnya, tidak ada kecurangan apapun.. bahkan penguji memberikan soal yang lebih sulit untuk dikerjakannya dan semuanya nilai sempurna."
"Benar-benar mustahil, bahkan sarjana yang di didik oleh kerajaan juga tidak sanggup menjawabnya."
"Benar, yang lebih mengejutkan tuan Kenzi juga memperkenalkan sistem yang disebut sebagai algoritma."
"Sekarang aku merasa pilihan tepat karena melakukan hal ini."
Selepas meninggalkan toko Amira, aku dikejutkan dengan para penjaga yang membawa orang-orang di belakangnya yang diikat rantai, bukan berarti ini pertama kalinya aku melihatnya mereka adalah budak yang dijual belikan di kota ini.
Aku menghentikan mereka.
"Tunggu, apa yang kalian lakukan?"
Salah satunya menjawab.
"Mereka tidak ada yang membeli jadi kami akan membawanya kembali."
"Apa yang akan mereka lakukan?"
Penjaga terdiam beberapa saat sebelum menjawabku setelah menkonfirmasinya ke penjaga lain.
"Mereka akan dipekerjakan ditambang dengan upah kecil dan makanan seadanya, bagiku di beli orang lain akan jauh lebih baik dibandingkan bekerja di sana."
Tatapanku teralihkan ke arah seorang gadis dengan rambut putih sebahu serta kulit gelap, dia jelas seorang Dark Elf.
"Dia masih kecil, kejahatan seperti apa yang dia lakukan?"
"Hanya mencuri makanan di rumah salah satu bangsawan, kami sendiri tidak ingin melakukannya namun semuanya peraturan yang tidak bisa ditentang, jika dia tidak bisa bekerja di tambang biasanya mereka akan membuangnya ke hutan monster."
Dunia ini terlalu kejam.
"Aku akan membelinya."
"Aku mengerti, harganya 10 koin emas."
"Dan lepaskan kalung budaknya."
"Anda yakin? Jika kalung dilepas dia akan melarikan diri biasanya seseorang akan menandai kalung tersebut oleh pemiliknya hingga dia tidak akan lari ataupun membatah semua perintah tuannya."
"Lakukan saja!"
"Ba-baik."
Tanpa sadar aku berteriak hingga penjaga itu memekik takut sebelum melakukan apa yang aku inginkan.
Dari kejauhan mereka menghilang ke dalam kereta.
"Kau tidak lari?" tanyaku pada gadis yang berdiri di belakangku.
"Tuan baru menyelamatkanku, sepertinya Anda bukan orang yang jahat juga."
"Begitu, sejujurnya aku perlu seseorang apa kamu mau bekerja untukku."
Gadis itu menggelengkan kepalanya.
"Aku hanya seorang budak, sudah sepantasnya menuruti tuannya."
"Aku melepaskanmu bukan untuk menjadi budak jika kamu tidak suka maka jangan melakukannya ataupun sebaliknya."
Gadis tersebut memiringkan kepalanya.
Sikapnya tenang dan juga ucapannya terkesan datar.
"Aku pikir Anda seorang Lolicon atau sebagainya?"
Mendengar itu aku berlutut selagi memegangi kepalaku.
Aku mati karena disangka seperti itu, kata lolicon cukup membuatku trauma.
"Hilangkan kata lolicon, ingat kamu tidak boleh mengatakannya."
"Baik tuan... itu?"
"Kenzi... itulah namaku."
"Tuan Kenzi," ia mengatakannya dengan sedikit semangat.
"Namamu?"
"Lin."
"Kalau begitu Lin, mohon bantuannya dari sekarang."
"Hm."
"Kamu pasti lapar, mari makan sesuatu.. apa ada yang kamu suka?"
Lin memiringkan kembali kepalanya.
"Malah bengong, ayo pergi."
"Baik."