Vivian yang kembali mengulang waktu begitu bahagia, serasa mendapatkan durian runtuh.
"Aku akan menjauh, bahkan takkan menampakkan diriku lagi dihadapanmu Alexander Smith" Ucap vivian penuh tekad
Tapi bagaimana jika takdir malah mendekatkannya dengan pria yang ingin dijauhinya itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iin permata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Lulus sekolah, vivian betul-betul menjalankan misinya, membuka bisnis kafe. Hal itu tak lepas dari dukungan Papi Rudolf yang memberinya sebuah ruko lantai dua, dan Kak Kevin yang memberikan suntikan modal. Mereka percaya bisnis cafe Vivian akan sukses, dari masakan vivian yang sering mereka makan, semuanya terasa sangat lezat.
Memanfaatkan wajah cantiknya, vivian berusaha menarik banyak pengikut di akun sosial media miliknya, dan melakukan live memasak, untuk memperkenalkan kafe miliknya.
Dalam sekejap cafenya menjadi viral, meski telah memiliki karyawan, orderan yang membludak tetap membuatnya keteteran apalagi di jam jam makan siang. Rasa yang enak, harga miring, dan cafe yang unik membuat pelanggan selalu balik ke cafenya.
"Nak, kau harus memperkerjakan juru masak"
Papa Rudolf terlihat cemas melihat anak gadisnya itu selalu pulang dengan wajah kelelahan. Tak tega , takut vivian jatuh sakit.
"Ayah benar, sebenar aku sudah memiliki satu asisten, tapi melihat cafe semakin ramai, rencana nya, mau nambah dua asisten lagi, dan mengajarkan mereka beberapa menu yang ada di cafe. Kalau gitu vivian berangkat dulu ya pah" pamit vivian mengecup punggung tangan papahnya.
Jam menunjukkan pukul dua belas siang, mulai banyak karyawan-karyawan perkantoran memasuki cafe untuk makan siang, untuk mengatasi pesanan bertumpuk, vivian sudah mempersiapkan segala sesuatunya, supaya pesanan cepat terhidang.
Tiba-tiba terdengar bunyi riuh di luar dapur , baik dari pembeli ataupun dari para pegawai wanita, bahkan terkadang terdengar bunyi histeris. Vivian mulai terbiasa dengan hal itu, semua bermula dari seminggu yang lalu, bahkan hingga kini eforianya tidak berkurang, setiap pelanggan vip itu makan siang, cafenya menjadi heboh melihat sosoknya yang memiliki paras yang begitu tampan.
"Ngomong-ngomong soal pria tampan, jujur aku belum menemukan pria yang lebih tampan dari Alexander Smith, meskipun aku belum bertemu secara langsung dengan pelanggan vip itu, aku yakin masih tampanan alexander kemana mana" batin vivian membayangkannya "Alis mata tebal, hidung mancung, bulu bulu halus di rahangnya, apalagi lesung pipi yang muncul kala tersenyum, uhhh meleleh adek baaaang"
Ketika tengah asyik-asyiknya membayangkan wajah alexander, kilasan ketika vivian mengalami penyiksaan pun ikut menyeruak, menyebabkan awan kelabu dihatinya.
"Bos, bos, bos, hayo, ngelamunin apa? Kalau penasaran dengan wajah si 'pelanggan tampan' Inara punya kok beberapa fotonya, bos mau lihat?"
"Gak tertarik, buat kamu saja" Ucapnya dingin, cukup sekali dia tersiksa oleh pria tampan di masa lalunya, kali ini dia tidak mau lagi berhubungan dengan pria tampan manapun.
"Ya sudah kalau begitu bos, ini pesanan pelanggan tampan" menyerahkan sebuah nota.
Sudah seminggu, pelanggan vip itu selalu makan di cafe vivian setiap jam istirahat, dengan menu-menu berbeda yang di pesan setiap hari, sepertinya pelanggan vip ini mau merasakan semua masakan yang dibuat vivian,itu tidak masalah, dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa pelanggan vip itu suka memakan masakan buatannya. Pelanggan bertambah berarti pundi-pundinyapun ikut bertambah.
Jam sore ketika kafe mulai lenggang, digunakan vivian sebaik-baiknya untuk istirahat.
"Vi, ini berkas para pelamar, kandidat yang akan menjadi para asistenmu, menurutku dua ini yang paling cocok, kamu bisa mentraining mereka lebih dulu" Nabil datang menyodorkan berkas kepada Vivian.
"Thanks, ya Bil. Kalau gak ada kamu , aku gak sanggup ngurus cafe ini sendiri" Puji vivian tulus.
"Apaan sih Vi, kerja sama kamu, meski cukup melelahkan , gajinya sesuailah, hahaha. Yaudah, ini mau jam kuliah, aku mau pulang , mau siap-siap dulu, daah Vi"
Vivian mambalas lambaian tangan Nabil dengan tersenyum, melihatnya mulai menjauh meninggalkan cafe.
Sebuah kenangan di masa lalu terputar di benak vivian, Vivian yang dulu selalu bermake up tebal dan berpakaian seksi, Hal itu dilakukan, demi mendapatkan cinta Alexander, tapi jangankan cinta, melirik ke aranya juga tidak, tapi Vivian yang sangat bodoh waktu itu merasa dengan kegigihannya , akan mampu menakhlukan cinta pria itu.
Dengan gusar Vivian menenggak habis , segelas wine merah yang di pegang , melihat Alexander menggandeng mesra seorang wanita, untuk pertama kalinya kala itu.
"Apa-apaan ini siapa wanita itu?, Alex tak pernah menggandeng seorang wanita sebelumnya, apakah dia pacarnya?, tidaaak, Alex hanya milikku seorang" Vivian kalut dengan apa yang dilihatnya saat ini.
Dengan langkah penuh semangat Vivian berjalan mendekati alex, tapi ketika hendak mendekat, sebuah kaki menjegalnya, dan naasnya ada pramusaji. Membawa nampan minum di depannya, gelas minuman itu jatuh berhamburan mengenai wanita yang bersama Alex.
Suasana pesta mendadak mencekam, Alex terlihat murka melihat wanita itu kotor dengan noda minuman.
"Alex maaf aku tidak sengaja, tadi ada yang menjegal kakiku" Vivian bangkit mendekat, berusaha menjelaskan.
"Plakk" Sebuah tamparan keras, membuat Vivian terhuyung jatuh ke lantai, dengan darah yang sedikit mengalir di bibirnya yang robek.
"serrrr" Alex juga menumpahkan segelas wine. Ke tubuh Vivian yang masih terduduk, lalu pergi meninggalkan pesta. Terdengar bisik-bisik mencemooh ke arahnya.
"Dasar wanita tidak tahu diri, berani sekali dia mengganggu wanita Alexander Smith!"
"Benar-benar cari mati!"
"Dasar bodoh!"
Banyak nada umpatan, terlontar ke arahnya, ketika hendak bangkit, seseorang mengulurkan tangan hendak membantunya, Vivian terpaku menatap tangan itu, terharu masih ada orang yang mau membantunya di saat seperti itu, rasa penasaran membuatnya mendongak menatap siapa yang ingin menolongnya.
Begitu terperanjatnya , Vivian tak menyangka orang yang menolongnya adalah Nabil siswa cupu di sekolahnya dulu.
"Pakailah, sepertinya kamu lebih membutuhkannya" menyerahkan sebuah mantel ,, setelah membantunya berdiri.
"Terimakasih"
Tak ada pilihan vivian terpaksa menerimanya, pakaian putihnya berantakan dengan noda wine di mana-mana.
Vivian mendesah frustasi melihat ke empat ban nya yang bocor, bagaimana dia pulang, hari sudah semakin larut dan akan sangat sulit baginya mencari taxi, apalagi karena buru-buru, Vivian lupa membawa handphonenya.
Dengan langkah gontai, vivian menulusuri jalan raya "Yang memecahkan ban mobilku kudoakan jadi bucin sama aku" Teriaknya kesal, tiba tiba bunyi guntur menggelegar disertai petir seakan mengamini doanya, membuat vivian terlonjak kaget, sebuah mobil melintasinya, tapi kemudian berhenti dan berjalan mundur. Vivian memasang sikap siaga, melihat siapakah orang yang di dalam mobil.
"Vivian, ternyata betul kamu, kenapa jalan kaki? Yuk ku antar?" .
Ternyata orang yang di dalam mobil adalah Nabil, betapa leganya Vivian kala itu. keputusannya menjadikan Nabil teman di kehidupan kali ini adalah hal yang tepat, terbukti dalam menjalankan bisnis cafenya, Nabil sangat kompeten merangkap kasir dan bagian keuangan, di kehidupan kali ini akan di lalui dengan sebaik-baiknya.
authooor.. up lah😭 banyak yang masih menantikan kelanjutan ceritanya. tetap semangat, jangan digantung ceritanya. lebih dari setahun aku menanti update dari mu. hingga saat ini aku masih menanti. rela komen panjang dan sekaligus berdoa untuk mu . up ya aku masih menanti😊😊