Luna yang hidup dengan kakeknya yang sudah tua mau tidak mau menerima pernikahan paksa yang sudah diatur oleh sahabat kakeknya.
"Kakek aku hanya ingin menemani Kakek dimasa tua," Luna berkata lirih sambil menyentuh tangan keriput kakeknya.
Tidak pernah terlintas di pikiran Luna jika akan menikah dalam perjodohan, Luna gadis polos dan tidak neko-neko harus menikah dengan CEO yang dingin dan galak tidak pernah dekat dengan seorang wanita.
Lalu bagaimana Luna bisa menjalani pernikahan dengan suami yang super Perfect, sedangkan dirinya merasa seperti Upik abu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al-Humaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maafkan Luna
Sejak terakhir kabur dari Raditya, Luna bisa bernapas lega saat pria itu tidak lagi menemuinya, kakek Seto juga tidak lagi membahas perjodohan yang membuat Luna rasanya ingin pergi. Tapi mengingat kakek Seto yang sudah tua dan tinggal sendiri, Luna tidak akan setega itu.
Pagi-pagi sekali Luna sudah bangun dan menyiapkan sarapan untuk dirinya dan juga kakek Seto, sampai Luna sudah mandi dan rapi, tapi sejak tadi kakek Seto kok belum keluar dari kamar, biasanya beliau akan jalan pagi hanya sekedar untuk melemaskan otot.
"Kenapa Kakek belum keluar kamar?" Luna yang khawatir memilih untuk berjalan kekamar kakek Seto, ia membuka pintu kamar perlahan masih terlihat terang karena lampu kamar tidak di matikan.
"Kek!" Luna memanggil dan mengintip kedalam, diatas ranjang masih ada kakek Seto yang berbaring terlelap.
"Kakek tidak bangun?"
Luna semakin masuk kedalam, dan berdiri disisi ranjang dengan kakek Seto yang masih terlelap.
"Kakek," Luna menyentuh tangan kakek Seto yang terasa sangat dingin, membuat wajah Luna seketika pias.
*
*
Di Lorong rumah sakit, Luna menangis terisak gadis itu duduk sendiri didepan pintu kaca dimana kakeknya berada didalam sana. Tidak pernah terlintas di kepala Luna jika ia akan menemukan kakeknya tak sadarkan diri, Luna begitu sedih dan terpukul.
"Jangan tinggalin Luna kek, Luna tidak punya siapa-siapa lagi." gumam Luna dengan Isak tangisnya.
Tak lama pintu kaca itu terbuka dan keluar seorang pria yang menggunakan jas putih dengan memakai kaca mata.
"Dokter bagaimana keadaan Kakek saya?" Luna langsung berdiri dan bertanya dengan nada mendesak, ia begitu kahawatir dan takut jika terjadi sesuatu dengan sang kakek.
"Beliau hanya hanya mengalami demam seperti biasa, itu disebabkan dari bakteri atau virus yang membuat daya tubuh beliau menjadi drop, perhatikan pola makan beliau agar tidak terjadi lagi kondisi seperti ini."
Luna merasa lega, namun juga rasa takutnya belum sepenuhnya hilang.
"Terima kasih dok."
Dokter itupun pergi, Luna menunggu kakek Seto dipindahkan keruang inap.
Luna duduk di kursi sisi ranjang tempat kakek Seto berbaring, gadis itu menatap sedih kakaknya yang terbaring lemah.
"Maafkan Luna kek, Luna belum bisa membuat kakek bahagia." Lirih Luna dengan perasaan sedih, "Luna tidak akan membuat kakek sedih, hanya kakek yang Luna miliki." Lirih nya lagi dengan perasaan bersalah.
Luna mengingat obrolan terakhirnya dengan sang Kakek, beliau hanya ingin melihat Luna menikah dan bahagia.
"Umur kakek tidak akan ada yang tahu mau sampai kapan, kakek hanya ingin melihat kamu menikah dan ada yang menjaga kamu dengan baik. Kakek tidak ingin meminta apapun hanya saja percayalah jika pilihan kakek adalah yang terbaik untuk mu."
Luna mengusap air matanya kala mengingat obrolan terakhir mereka, bahkan di sana Luna masih bisa menolak permintaan sang kakek.
"Tidak harus menikah dengan pria itu Kakek, Luna belum mau menikah apalagi dengan pria itu, Luna bisa cari sendiri yang terbaik untuk Luna."
Mengingat itu Luna benar-benar menyesal telah bicara seperti itu, hati kakeknya begitu lembut sedangkan dirinya berkata tanpa bisa melihat betapa terlukanya sang kakek.
"Luna janji kek, akan menuruti permintaan Kakek. Maafkan Luna yang sudah membuat kakek seperti ini." Luna mencium pugung tangan kakek Seto dengan rasa penyesalan.
Ia tidak tahu di mana seseorang yang berdiri diambang pintu sedang tersenyum lebar mendengar apa yang Luna katakan.
*
Sama cogan tajir loh Lun masak Ngak mau🤣