NovelToon NovelToon
Love Sign

Love Sign

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Cintamanis / Tamat
Popularitas:101.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nurwahidah Bi

Teruntuk kau yang terlambat mengatakan cinta.

Aku di sini, di tempat tanda cinta berada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurwahidah Bi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 5: That Man

Jaegi-dong, Dongdaemun. 06 Maret pukul 10.00 KST.

Sementara itu. Di tempat berbeda. Seorang lelaki mencurigakan memasuki daerah yang cukup ramai, dengan mengendap-endap sosok itu terus menatap jalanan dan menghindarkan tubuhnya dari benturan para pembeli.

Seorang gadis muda pun terlihat berdiri di depan sebuah toko obat tradisional, lalu menatap si lelaki seakan memanggil untuk menghampirinya.

"Kau sudah menemukannya?" tanya lelaki itu kepada gadis yang menutupi wajahnya dengan kain burgundy.

"Kemari!" Tangan gadis itu mengayun kasar menyuruhnya memasuki toko obat.

"Kenapa kau berpakaian seperti ini? Kita tidak sedang syuting."

"Kau bilang aku harus berhati-hati! Jadi-"

"Aku memang bilang kau harus waspada. Tapi, ini lingkungan rumahmu sendiri. Kenapa harus bersembunyi?" sela lelaki itu memasuki bagian rumah dari toko obat.

Merasa takut di lingkungan rumah sendiri, terdengar lucu di telinga pria berkulit gelap itu. Tatapannya meluas, tempat ini masih sama seperti terakhir kalinya. Gadis berambut pendek pun segera mengambil beberapa catatan dari laci mejanya.

"Lalu apa kau berhasil menghubunginya?" Lelaki itu seolah memburu jawaban.

"Maafkan aku! Tapi, yang kutahu dia tidak ada di tempat yang dikatakan orang-orang aneh itu, ini sedikit informasi yang kudapatkan!" ucap gadis itu mengisyaratkan sesuatu yang tak pasti.

"Jika ada perkembangan lebih lanjut tentangnya, segera hubungi aku!" Ia memasukkan lembaran kertas yang dilipat sembarang ke dalam saku jaket.

"Kak Sun Woo, apa kau masih berada di rumah Han Eun Ji? Masih tinggal di sana?" Hanya tatapan yang mengisyratkan sebuah kebenaran yang didapatkan gadis itu. "Kau harus segera pindah! Jika tidak, orang-orang itu akan menemukanmu! Cepat atau lambat."

"Tenang saja! Dia tidak mengenal Han Eun Ji, dia juga tidak mengenalmu. Orang-orang itu tidak akan tahu."

Tingkat kecemasan gadis itu mendadak meningkat, wajahnya tampak kalut. Mulutnya tak henti membaca mantra melarikan diri. Seruannya untuk meninggalkan rumah Eun Ji semakin membuat lelaki dengan rambut tak disisir itu mengembangkan senyumannya. Ah, santai sekali dia.

Tiga bulan sudah lelaki itu berada di satu tempat, tentu saja gadis itu akan merasa khawatir. Karena seingatnya, lelaki bernama Sun Woo itu pernah dikejar sekelompok orang sampai harus menyembunyikan dirinya di kota rahasia bernama Guryong.

"Oh Ya, Kak. Semalam, Kak Ji Yeon menelepon dan meminta bantuanku. Dia juga menyebut tentang Park Min Joon yang kabarnya sedang mencari Jin Hee."

"Benarkah? Sepertinya, semenjak kembali ke rumah itu, dia semakin serius untuk mencari Jin Hee! Aku pikir dia tidak akan pernah mencarinya. Jung Hee, jika dia menghubungimu katakan kau tidak tahu apa-apa."

Dari intonasi suaranya, Sun Woo sepertinya begitu putus asa dengan Min Joon. Sesekali Sun Woo melirik jendela, bukan untuk menghangatkan pandangan. Melainkan untuk mengeringkan sudut matanya yang mendadak basah.

Kehangatan musim semi tak mampu menepis rindu akan sosok lugu yang dulu dikenalnya. Bersembunyi selama hampir dua tahun. Menghindari setiap sosok yang dikenalnya adalah satu-satunya cara bertahan hidup.

"Jung Hee, apa kau masih menyimpan album photo kami?"

"Sebentar, aku ambilkan untukmu!" Jung Hee bergegas menuju kamar dan keluar dengan kardus besar berdebu.

Sun Woo perlahan menyentuh kardus berwarna hijau tua, menyingkap serbuk halus yang membuat Jung Hee alergi. Sebuah album photo bergambar angsa besar menarik perhatiannya.

Diambilnya benda itu, ia mampu merasakan kerinduan yang terpendam selama ini sedang meronta kesakitan karena benda itu.

Selembar demi selembar, kertas tebal itu dibaliknya dengan ragu. Membuatnya kembali mengenang, hari-hari saat semuanya masih baik-baik saja.

***

Haeundae-gu, Busan. 28 April 1992.

Sun Woo masih mengingat bagaimana dirinya yang masih berusia delapan tahun, tergila-gila dengan kedatangan seorang wanita cantik. Wanita berkulit pucat itu membawa sebuket bunga, aromanya pun mulai menggelitik hidung mancung Sun Woo. Dengan penuh keanggunan, wanita bergaun coklat muda itu menyapa Sun Woo dengan senyuman manis.

"Apa benar kau ibu baruku?" tanya Sun Woo kecil sambil menatap wanita itu dalam-dalam.

"Apa kau suka, jika aku jadi Ibumu?" lanjut wanita itu lagi sambil membawa Sun Woo ke pangkuannya. Sun Woo tersenyum pasti, ibu barunya pun memindahkan garis bibirnya. Sebuah senyuman tercipta, senyum yang juga dimiliki Jin Hee.

"Apa kau menyukai ibu barumu?" tanya ayah Sun Woo yang melihat keakraban keduanya.

***

Seoul. 29 Juli 1992.

Suatu hari, Sun Woo kecil pindah ke daerah perumahan elit bersama keluarga barunya, ia bertetangga dengan seorang anak laki-laki yang beberapa bulan lebih muda. Anak itu selalu saja mengikutinya. Meskipun tidak terlalu menyukai anak itu, perlahan keduanya menjadi teman akrab.

***

28 Agustus 1992.

Sebulan telah berlalu, hari ini anggota keluarga baru datang menyambangi rumah Sun Woo. Dia masih mengingat, seorang anak perempuan yang terlihat malu-malu ketika dipertemukan dengannya. Lim Sun Woo pun tidak peduli dengan kedatangan adik tirinya itu dan hanya bisa membeku melihat adik yang baru datang dari luar negeri.

Saat diperkenalkan kepada Sun Woo. Tanpa diperintah siapa pun, anak itu tiba-tiba saja memanggilnya 'Kakak'. Tentu saja itu mengejutkan Sun Woo. Namun terasa menyenangkan.

"Ini untukmu!" ucapnya memberikan cincin karet berwarna emas ke dalam genggaman Sun Woo.

***

30 Agustus 1993.

Saat ulang tahunnya yang ke-sepuluh, Sun Woo dan keluarga mengadakan acara kecil di kompleks perumahan. Ibu tirinya yang bekerja sebagai pengusaha, membuatkan pesta kecil. Di tempat inilah pertemuan tak terduga antara Min Joon dan Jin Hee yang disaksikan Sun Woo.

"Berdiri!" perintah Sun Woo pada Jin Hee yang menangis sedari tadi.

"Aku tidak mau! Aku mau pergi denganmu!" rengek Jin Hee.

"Ya ... Kim Jin Hee! Menjauh dariku," ucapnya mendorong, menjauh dari balita itu. Melihat itu sang ibu lekas datang menolong Jin Hee. Panggilan mesranya mampu menghentikan langkah Sun Woo, ia berbalik dan melihat sang ibu yang sedang membujuk Jin Hee.

"Jin Hee ... bukankah kau sudah berjanji tidak akan menangis! Ouh, anak ibu ... Ini kan ulang tahun kakakmu! Dengarkan ibu?" ucapnya menatap Jin Hee yang cengeng, "Kalau anak ibu tersayang terus bersikap seperti ini, kakakmu akan terus menolakmu," ucap ibunya memeluk Jin Hee erat.

"Jin Hee tidak mungkin mengerti, Bu!" batin Sun Woo. Ibu meninggalkan Jin Hee yang berhenti menangis dan pergi menuju tempat Sun Woo berdiri.

"Lim Sun Woo, apa yang kau lakukan?"

"Apa? Aku tidak melakukan apa-apa," jawabnya khawatir.

"Baiklah! Ibu ingin tanya, kenapa kau tidak mau jika Jin Hee ikut bersamamu?"

"Aku sudah besar, jadi aku tidak ingin bermain dengan anak-anak! Mereka akan menertawakanku jika bersama anak keci!"

"Anak-anak? Sun Woo ... dia adikmu! Namanya Lim Jin Hee. Kau sangat mengecewakan! Ibu tahu sulit bagimu untuk menerima kami, tapi-"

"Apa ... Ibu akan memarahiku?"

"Apa? Tadi kau memanggilku siapa? Kau baru saja memanggilku ibu? Tidak ... untuk apa ibu memarahimu?" jawabnya lembut mengusap kepala Sun Woo.

"Benarkah?" tanya Sun Woo tak percaya.

"Tentu saja! Apa Ibu terlihat seperti sedang berbohong? Apa Ibu terlihat ingin memarahimu?" ucapnya yang dibalas dengan gelengan kepala dari Sun Woo. "Baiklah, panggil teman-temanmu, dan bermainlah bersama dengan Jin Hee! Dan ingat, kau tidak boleh memanggilnya Kim Jin Hee, kau mengerti 'kan?" lanjut Ibunya menenangkan.

"Baiklah!" ucapnya patuh sembari mengambil kue di atas meja.

***

Bersambung

Footnote:

Guryong: Sebuah distrik populasi kumuh di Gangnam, Seoul, terletak di kaki bukit Guryong. Jika melihat Google Maps, anda tidak akan menemukan daerah ini melainkan hanya stasiun Guryong. Daerah ini dihuni oleh korban penggusuran, yang rata-rata penghuninya berada di bawah garis kemiskinan. Tempat ini seolah disembunyikan dari peta, namun para relawan dengan mudah dapat menemukan tempat ini. (Cr: jalan2.com)

1
Eka Suryati
Wanita yang tetap memiliki sisi lembut dan feminim
Eka Suryati
Sepeetinya seru
cerita yg menarik karena kekuatannya ada pada kata2 yg indah
Eka Suryati
Kata2nya puitis
Oshin
cerita yg unik
Nada Cika Cika
.......
Jalanyang Luruss
Masih berharap ada extra partnya sayang author sibuk banget yak kayanya
Kak Mira Diki
ceritanya bagus ya, rapi banget
Nurwahidah Bi
upp
Nurwahidah Bi
up
Nurwahidah Bi
upp
Nurwahidah Bi
up
Nurwahidah Bi
upp
Nurwahidah Bi
up
Nurwahidah Bi
upp
Nurwahidah Bi
up
Nurwahidah Bi
upp
Nurwahidah Bi
up
Sukma Wati
Kak bi.......
Dewi Suci
Next
Dewi Suci
Helo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!