Jangan menilai seseorang hanya dari penampilan, karena Hati yang kaya mungkin berada dibawah Mantel yang buruk, sebelum menilai seseorang, selalu ingat tidak ada orang suci atau Pendosa yang murni.
Menjadi seorang Gangster memang bukan pilihan, namun karena pernah mendapatkan bullyan saat masih menuntut ilmu di negara orang, Ruby Ajeng Apsari nekad masuk dalam sebuah kumpulan Gangster dengan tujuan sebagai perlindungan diri.
Namun diumurnya yang sudah menginjak kepala tiga, mau tidak mau dia harus kembali ke negara asal, bahkan disebuah perkampungan yang jauh dari kata kemewahan, karena Ibunya memilih tinggal di desa untuk menikmati masa tuanya, walau sebenarnya dia punya usaha dan rumah mewah di kota.
Sebenarnya dia sudah nyaman tinggal di negara orang, namun sebelum Ibunya mengamuk dan menjemput langsung ke luar negri, Ruby memilih pulang.
Dan siapa sangka, ternyata tujuan Ibunya menyuruh pulang karena punya niat terselubung, untuk menjodohkan putrinya dengan pemuda desa biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iska w, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6.Tujuan Utama
Dan saat pintu rumah minimalis namun terlihat sangat asri itu terbuka, muncullah seorang anak gadis yang selama ini mereka rindukan dan mereka nantikan kepulangannya.
"Selamat siang Ayah dan Ibu tercinta, anak kalian sudah pulang!" Ruby langsung berjalan melewati celah diantara tubuh kedua orang tuanya yang terbengong sesaat melihat putrinya sudah kembali pulang.
"ASTAGA RUBY, PUTRI KESAYANGAN IBU!" Setelah menyadarinya dia langsung memeluk tubuh Ruby karena mereka sudah lama sekali tidak bertemu, hanya berkabar lewat ponsel saja.
"Akhirnya kamu pulang juga nak, lalu mana tukang paketnya tadi?" Jawab Ayah Ruby yang malah memilih mengecek keluar rumah.
"Ini, paket ekspres dari luar negri!" Ruby langsung menunjuk dirinya sendiri sambil nyengir kuda.
"Kamu ini bisa saja Ruby, tapi apapun itu Ayah senang akhirnya kamu mau pulang nak!" Sebagai seorang Ayah memang dia terkadang khawatir dengan keberadaan putrinya yang jauh dari pantauan dirinya.
"Tentu saja Ruby akan pulang, kemarin-kemarin Ruby itu banyak pekerjaan yang sulit ditinggalkan Yah, jadi nggak bisa pulang." Karena entah mengapa banyak yang sering cari masalah dengan dirinya.
"Emang pekerjaan kamu disana apa Ruby?" Tanya Ayah Riby yang sebenarnya selalu penasaran, karena Ruby tidak pernah cerita dengan pekerjaannya.
Ketua Gangster!
"Ketua bagian Ayah." Jawab Ruby yang memang tidak pernah punya keinginan untuk bicara jujur, walau dia juga ikut terjun bisnis properti juga, sebagai sampingan disana.
Sebagai ketua Gangster mencari uang banyak tidaklah sulit baginya, apalagi jika ada perusahaan gelap yang meminta pengamanan dari mereka, uang akan mengucur deras direkening miliknya, apalagi sampai saat ini sudah banyak perusahaan ilegal yang bekerja sama dengan dirinya.
"Wow, anak Ayah memang luar biasa, memangnya kamu ketua bagian apa Ruby?" Tanya Ayah Ruby kembali.
Mampus gue, bagian apa ini?
"Emm... Ketua bagian keamanan Yah." Jawab Ruby yang bingung juga, ingin berbohong dia ayahnya, tapi kalau tidak bohong mungkin dia bisa membahayakan kesehatan jantung Ayahnya.
"Kok keamanan? memangnya kamu jadi Satpam, kenapa jauh sekali dari jurusan mata kuliah yang kamu ambil?" Tanya Ayah Ruby dengan wajah penuh heran.
"Hehe... bukan dong Ayah, pokoknya ketua bagian yang mengamankan barang semacam itulah, susah pokoknya kalau mau dijelasin, aduh... kenapa pegel-pegel semua badanku ya yah ." Ruby langsung mencoba mengalihkan pembicaran mereka agar tidak harus membahas pekerjaannya, karena sudah pasti akan menambah list dosa bagi Ruby.
"Sudahlah Yah, Ruby baru aja sampai, biarkan dia istirahat terlebih dahulu, nanti saja kita mulai sesi tanya jawabnya." Ibu Ruby langsung menengahi pembicaraan mereka dan membantu membawa barang-barang yang Ruby bawa.
"Woah... Ibu memang terbaik, paling mengerti dengan keadaan anaknya, hehe!" Ruby langsung menghamburkan pelukan kearah Ibunya, karena pembicaraan Ayahnya tentang pekerjaan langsung teralihkan.
"Jelas dong, Ibu gitu loh! ya sudah sekarang kamu mandi dulu, makan trus istirahat, nanti malam calon suamimu akan Ibu suruh datang untuk melamarmu!" Ucap Ibu Ruby dengan senyuman termanisnya, yang berhasil membuat Ruby sontak langsung melepas pelukan Ibunya.
"APA! CALON SUAMI! yang benar saja Buk, aku baru aja pulang loh ini?" Ruby tak habis pikir jadinya, tidak ada angin tidak ada hujan tapi tiba-tiba sudah punya calon suami aja.
"Ahahaha... syukurin kamu, tadi kamu bangga-banggain Ibu, sekarang rasain kamu nak!" Ledek Ayah Ruby yang seolah tertawa puas saat melihat Ruby terlihat terkejut bukan kepalang.
"Buk, jangan beginilah, aku belum mau menikah?" Ruby belum punya banyak persiapan soal ini, apalagi pekerjaan dirinya cukup berbahaya jika calon suaminya itu dari kalangan orang biasa, dia pasti akan menjadi incaran bagi musuh-musuh atau orang yang ingin menjatuhkan dirinya.
"Kenapa?" Tanya Ibu Ruby yang ingin tahu alasannya.
"Aku bisa kok apa-apa sendiri, jadi tidak perlu pasangan, untuk sementara ini." Jawab Ruby dengan bangganya.
Seorang wanita yang bisa melakukan semua hal sendiri akan cenderung malas untuk berpasangan, apalagi jika mengingat banyak pria yang sering membuat ulah dengan seorang wanita, rasa malas itu sontak sering merajalela dari diri Ruby, toh dia terbiasa memikul beban sebagai ketua Gangstee yang biasanya diemban para kaum lelaki.
"Woah... apa kamu sudah tidak waras?" Seketika darah Ibu Ruby naik drastis, dia hanya memiliki satu anak, bagaimana ceritanya kalau putri satu-satunya itu tidak mau menikah, garis keturunannya pasti akan selesai sampai disana pikirnya.
"Aku sudah terbiasa hidup sendiri dan selama ini enjoy aja kok, aku nyaman begini Buk." Bantah Ruby kembali, dia bahkan kasian dengan calon suaminya nanti jika harus terseret dalam lingkungan kerjanya dan yang pasti Ruby tidak akan sebebas dulu lagi, sedangkan tanggung jawabnya sebagai ketua Gangster masih banyak diluar sana.
"Ruby, asal kamu tahu saja, sekuat apapun seorang wanita, tapi dia tetap butuh seorang pendamping hidup tau nggak, memangnya kamu ini tercipta hanya butuh Ibu saja? karena peran seorang pria kamu itu ada dan tercipta didunia ini, gimana sih pelajaran Biologi kamu saat masih di bangku sekolah dulu, apa perlu ibu jelaskan kembali dengan detailnya?" Cecar Ibu Ruby dengan kesalnya, karena menghadapi Ruby memang butuh kesabaran yang cukup tinggi.
"Apa Ibu mau memberikan tutorialnya kepada anak kita?" Tanya Ayah Ruby yang sedari tadi memilih menyimak saja.
"Yang benar aja Ayah ini, belum saatnya, dia aja nggak mau menikah, mau tempur sama siapa dia!" Celetuk ibu Ruby sambil mencubit pinggang suaminya.
"Kalau cuma Tempur doang sih, dengan anak buahku juga bisa, bahkan soal yang gampang itu!" Ruby malah mengartikan kata Tempur sesuai dengan pekerjaannya, tidak seperti kata kiasan dari Ibunya.
"Maksud kamu gimana, anak buah siapa, memangnya kamu sudah punya pacar?" Walau Ibu Ruby sudah menyiapkan pasangan sendiri, tapi jika putrinya sudah punya pilihan sendiri dia pun akan merestuinya.
"Ehh... belum punya sih, tapi... Ayah tolongin Ruby dong Yah!" Teriak Ruby yang sudah tidak bisa berkilah lagi, karena selama ini dia tidak memikirkan soal pasangan.
"Ayah angkat tangan kalau soal itu, selamat berjuang nak, maaf Ayah tidak bisa membantumu melawan istri kesayangan Ayah, kalau begitu ayah mau ke Warteg saja cari tempe bacem, semangat nak!" Dan Ayah Ruby langsung menghindar, karena tidak ada gunanya menentang keputusan istrinya.
"Ayah! astaga Ayah ini jahat sekali, ikut Yah!" Teriak Ruby yang langsung ingin kabur dari Ibunya.
Dugh!
Tapi satu kaki Ibunya langsung menghalangi langkah kakinya.
"Jangan, nanti Ibumu murka, coba dengarkan kata-kata Ibumu, kalau kamu ingin hidup dengan tenang." Ucap Ayahnya yang hanya menoleh sekilas.
"Sudahlah, jangan banyak drama kalian, kamu aja jomblo sampai sekarang Ruby, kalau nggak Ibu jodohin mau sampai umur berapa kamu mau melajang, mau apa jadi perawan tua kamu!" Umpat Ibu Ruby yang langsung menarik lengan putrinya agar tidak kabur darinya.
"Astaga, jadi ini sebenarnya maksud dan tujuan Ibu menyuruhku untuk pulang, tau gitu aku nggak usah pulang, nyesel banget dah gua!"
Ruby hanya bisa tertunduk lemas, dia seolah sudah masuk ke kandang Singa, yang sulit jika harus keluar apalagi kabur begitu saja jika sudah memasuki rumah kedua orang tuanya.
Setiap orang tentu ingin mendapatkan kemudahan dalam hidupnya. Termasuk, dalam hal menemukan pasangan hidup. Sebab, pada kenyataannya ada banyak orang yang harus menunggu waktu yang cukup lama untuk bisa bertemu dengan jodohnya.