Gadis cantik berpenampilan culun bernama Diana sarasvati, dia sudah beberapa kali pindah sekolah karena ada sesuatu yang tidak menyenangkan. Banyak sekali siswa laki-laki di sekolah lamanya yang menyukainya karena kecantikannya, dan membuat dia dimusuhi oleh teman wanitanya. Untuk menghindari hal tersebut dia merubah penampilannya menjadi culun, dan menjadi siswa baru di SMA Nusa Bangsa. Ternyata di sekolah baru bukan menyelesaikan masalah justru karena penampilannya yang seperti orang culun, banyak teman yang membullynya.
Ada seseorang teman laki-laki tampan namanya Galen Ray Suhendra. Dia salah satu siswa yang mau berteman dengan Diana, dan membela Diana saat dibully.
Untung saja Diana siswa yang pandai, dan karena kecerdasannya itu mengharumkan nama sekolah. Dan semenjak itu dia mulai mempunyai teman banyak, walaupun masih ada yang tidak suka dan membully.
Mari kita simak bagaimana perjuangan Diana menghadapi teman- temannya, apakah Diana akan merubah penampilannya lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Culun
Mamah Airin dan Papah Edo bingung mencari Diana, di setiap sudut rumah sudah mereka berdua cari tetapi juga tidak ada.
Papah Edo mencoba menghubungi ponsel Diana, ternyata ponselnya ada di kamar.
"Pah, kita lapor polisi saja! gimana kalau Diana ternyata diculik," ujar Mamah Airin dengan panik dan cemas.
"Jangan gegabah, Mah! tadi Mamah lihat dengan jelas kalau Diana sudah pulang kan," kata Papah Edo.
Mamah Airin memarahi suaminya, karena mengajak Diana ke kantor dan akhirnya Diana memilih untuk pulang sendiri. Papah Edo juga tidak mau kalah, mereka berdua saling menyalahkan satu sama lain.
Papah Edo menyuruh Mamah Airin untuk mengganti bajunya, karena hendak diajak mencari Diana ke luar rumah. Saat hendak membuka almari Mamah Airin, melihat selimutnya gerak-gerak. Dia menyangka kalau itu guling, perlahan ia tarik selimut itu ternyata Diana tertidur.
"Papah!" teriak Mamah Airin tak membuat Diana bangun.
"Ada apa, Mah," Ucap Papah Edo.
"Lihat siapa itu," kata Mamah Airin menunjukkan Diana tidur di atas tempat tidurnya.
"Biarkan saja, Mah! mungkin dia kecapean, ayo kita keluar," kata Papah Edo.
Mereka merasa lega Diana sudah ditemukan, lalu Papah Edo mengajak istrinya ke kamar tamu, mereka hendak beristirahat.
"Papah, belum jawab pertanyaan Mamah tadi," ucap Mamah Diana.
Mamah Diana kembali menanyakan apakah dia masih cantik atau tidak pada suaminya, Papah Edo mengatakan kalau sudah tidak cantik lagi. Jawaban Papah Edo membuat istrinya mengerucutkan bibir, lalu meninggalkan Papah Edo sendiri.
Keesokan harinya Diana bangun lebih awal, ia teringat kalau masih tidur di kamar mamahnya. Diana bergegas menuju ke kamarnya sendiri, karena dia lupa belum mengerjakan PR. Untung saja masih pagi dan dia teringat.
"Diana, bangun sayang!" teriak Mamah Airin dengan keras.
"Sayang, pelan saja! biar Papah yang bangunin Diana," sahut Papah Edo.
Papah Edo menengok di kamarnya ternyata sudah tidak ada, lalu pergi ke kamar Diana dan ternyata Diana sedang merapikan rambutnya berdandan seperti orang culun. Papah Edo tersenyum, lalu mengajak anaknya untuk sarapan.
Ray sudah menunggu Diana didepan Rumah, dia ingin berangkat bareng dengan Diana. Saat Diana keluar rumah dan sudah siap hendak berangkat, Ray baru keluar dari dalam mobil dan mengajak Diana naik mobilnya. Ray juga meminta izin lebih dulu kepada Papah dan Mamah Diana.
"Galen, kamu ngapain jemput aku? kurang kerjaan saja," ucap Diana ketika berada diperjalanan.
"Kamu bukannya bilang terimakasih kek," kata Ray fokus menyetir mobilnya.
Diana tersenyum sembari membenarkan kacamatanya, yang hampir saja jatuh karena Ray mengerem mobilnya dengan mendadak. Mobil merah didepannya sepertinya sengaja memperlambat lajunya, sehingga membuat Ray keteteran.
Ray mencari celah untuk menyalip mobil merah itu, karena dari tadi menghalangi kalau Ray tidak hati-hati sudah nabrak dari tadi. "Apa sih maunya itu orang, bikin kesal aja," ucapnya.
"Galen, hati-hati ya! aku masih ingin hidup, membahagiakan Papah, Mamah!" teriak Diana saat Ray menambah kecepatan pada mobilnya.
"Aw... !" teriak Diana lagi.
Ray menanyakan keadaan Diana, dia takut kenapa-napa karena teriak. Diana hanya takut, Ray menjalankan mobilnya dengan kencang.
Mobil merah tadi hendak menyalip mobil Ray, tetapi Ray langsung menghadangnya dan turun dari mobil. Ternyata yang mengendarai mobil itu adalah Beno, dia adalah teman satu sekolah tapi beda kelas.
"Lu, apaan sih! pakai berhenti di tengah jalan," ucap Beno yang juga turun dari mobilnya.
"Cara nyetir lu, bisa bikin orang celaka! gue juga buru-buru ini," kata Ray.
Saat Dania ikut turun dari mobil, Beno tertawa terbahak-bahak melihat penampilan Diana. "Sejak kapan cowok tertampan di sekolah ceweknya culun model gitu," ucapnya menunjuk Diana.
Diana menundukkan kepalanya, lalu kembali masuk ke dalam mobil Ray. Ray sendiri juga tidak mempedulikan ucapan Beno, karena hanya akan membuang-buang waktu.
Insiden di jalan tadi membuat mereka bertiga telat, sehingga mereka dihukum membuat cerita dan wajib membacakan di depan kelas. Mereka bertiga diberi waktu tiga puluh menit, selain membuat cerita mobil mereka juga dilarang parkir di dalam lingkungan sekolah.
"Semua ini gara-gara lu," ucap Ray menatap kesal Beno.
"Lu, yang salah! pakai berhenti segala tadi," kata Beno tidak mau disalahkan.
Tanpa banyak bicara Diana menceritakan kejadian tadi, apa yang dia alami ditulis menjadi sebuah cerita.
"Culun, buatin gue dong," kata Beno sembari mengulurkan buku tulisnya.
"Dia punya nama, jangan asal panggil lu!" ucap Ray dengan keras.
Tak lama kemudian Ibu guru datang mengatakan kalau waktu mereka sudah habis, mereka juga diminta untuk masuk ke dalam kelas masing-masing.
"Culun... culun...! guys ... mari kita sambut kedatangan culun!" teriak Siska ketika melihat Diana dan Ray datang terlambat.
Saat mereka berdua memasuki kelas, teriakan dari Siska dan teman-temannya membuat Diana merasa malu. Mereka membully Diana tidak berfikir lebih dulu, hanya asal bicara saja.
Bu Mirna yang baru saja hendak masuk kelas menyaksikan kejadian itu lagi, membuat beliau berteriak agar berhenti membully Diana.
"Siska, jaga ucapan kamu!" bentak Bu Mirna.
"Kok Siska, Bu! yang lain juga lho," kata Siska.
Suasana di kelas menjadi sangat gaduh, tidak ada yang mau mengakui kesalahan sendiri. Mereka semua justru saling menyalahkan dan masih mengatakan Diana culun.
Bu Mirna sampai mengancam mereka tidak akan mengajar di kelas lagi, karena mereka tidak mau berhenti mengatakan Diana culun.
"Hentikan!" teriak Ray.
Mereka baru terdiam setelah mendengar Ray berteriak dengan kencang, Ray meminta pada teman-temannya untuk segera meminta maaf kepada Bu Mirna. Tetapi Mereka tidak mau melakukan, apalagi Siska dan kedua temannya sudah jelas tidak mau meminta maaf.
"Asof, kamu ini ketua kelas harusnya menjadi panutan buat teman-teman! kenapa kamu ikut membully Diana?" tanya Ray.
Asof mengakui kesalahannya, kemudian dia meminta maaf pada Diana lalu mencari Bu Mirna untuk meminta maaf.
Bu Mirna sakit hati dengan mereka yang tidak memperhatikan, beliau tidak mau merubah keputusannya. Dalam waktu satu minggu ini Bu Mirna tidak mau mengajar, beliau akan digantikan oleh guru lain.
"Bu Mirna, boleh bicara sebentar," ucap Diana.
"Boleh Diana, kamu mau bicara apa," kata Bu Mirna.
Diana mencoba merayu Bu Mirna agar mau mengajar lagi, tetapi beliau tetap pada pendiriannya. Bu Mirna menyuruh Diana untuk kembali ke kelasnya, di kelas sudah ada guru yang menggantikan beliau.
Asof sebagai ketua kelas juga turut meminta maaf, dan meminta Bu Mirna kembali mengajar. Ternyata hasilnya juga sama, dia juga disuruh kembali ke kelas.
"Diana, Ray, maju ke depan! bacakan cerita kalian," kata Guru yang menggantikan Bu Mirna.
Mereka kembali berteriak lagi, dan mengatakan Diana culun lagi.
jangan ngancam donk ray
jangan di sembunyikan dan di zholimi mulu ....