Berteman cukup lama, tidak cukup bagi seorang pemuda bernama Bara Zayyan berani mengakui perasaannya pada seorang gadis cantik bernama Alisa Aileen Nathania yang tak lain adalah teman satu kelasnya sendiri.
Namun sikap dan perlakuan Bara selama ini pada Ica nama panggilan untuk gadisnya, membuat siapapun bisa menerka jika Bara memang punya perasaan lebih pada gadis itu.
Hingga akhirnya Bara memilih pergi jauh setelah lulus dari SMA dengan membawa rasa yang belum sempat terucap.
"Aku pergi bukan bermaksud untuk menghapus rasa ini, hanya saja aku sedang berjuang untuk memantaskan diri ini untukmu. Kelak saat kembali, aku berharap kita bisa bersama meski nanti keadaanmu mungkin tak lagi sama. Namun aku pastikan saat itu cintaku masih tetap sama" Bara Zayyan
"Kenapa tidak dari dulu kamu memberanikan diri untuk mengungkapkan rasa, mengapa harus menunggu waktu yang begitu lama. Dan maaf, saat ini kita sudah tidak bisa bersama karena mungkin keadaanku yang tak lagi sama" Alisa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risalah_Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang Bareng
Hari ini adalah hari terakhir untuk pelaksanaan Ujian Nasional. Itu artinya setelah ini semua siswa hanya tinggal menunggu hasil pengumuman saja.
Hari ini semua siswa terlihat lebih bersemangat dari biasanya. Karena setelah ini mereka sedikit bernafas lega karena sudah merampungkan ujiannya.
Siswa kelas dua belas IPS1 hari ini akan mengadakan makan bersama untuk merayakan atas selesainya ujian mereka. Dan mereka sudah membooking cafe untuk acara tersebut. Sesuai hasil kesepakatan rencananya mereka akan pergi sepulang dari sekolah.
"Bar....ini kesempatan lho buat ngungkapin perasaan lho ke Ica. Kalau gue perhatiin, kayaknya Ica juga suka sama lho. Cuman wanita itu maunya diperjuangkan bro. Jadi sebagai cowok lho harus lebih peka" Bukan Reza namanya jika tidak hobi menasehati sahabatnya ini.
"Gue nyerah Za, gue gak mau jadi perusak hubungan orang" Jawaban Bara terdengar begitu berat ditelinga Reza.
"Maksud lho" Reza terlihat tidak faham dengan maksud ucapan Bara.
"Bukannya Ica sudah jadian sama Kahfi. Dan sepertinya dia nyaman jalan sama dia" Bara mengatakan itu sambil sekuat mungkin mencoba menegarkan hatinya.
"Bar....sebelum Ikrar Ijab Qobul terucap, siapapun berhak untuk mendapatkan Ica. Termasuk lho, lagian lho kenapa sih kok jadi lemes kayak gini" Reza terlihat gemmas sendiri dengan sahabatnya.
"Udahlah Za, sekarang waktunya happy sama temen-temen. Lagian gue gak cocok sama Ica. Dia terlalu tinggi buat gue gapai dan gue cukup sadar diri kok. Mungkin dia cocoknya sama Kahfi. Dia ganteng, pinter, idola sekola juga. Dan yang paling penting dia punya segalanya. Sementara gue, gue itu ibarat busa ditengah hamparan samudra, gak pernah terlihat. Dan sekalinya terlihat langsung hilang diterpa gelombang ombaknya" Bara mengatakan itu sambil tersenyum. Namun lebih tepatnya senyum yang dipaksakan.
Tanpa keduanya sadari ternyata obrolan mereka didengar oleh Ica yang kala itu sengaja bersembunyi dibalik pintu kelas. Saat itu Ica ingin masuk untuk mengambil sesuatu didalam tasnya, namun saat dia mendengar namanya disebut dalam obrolan mereka membuat diapun mengurungkan niatnya untuk masuk.
Setelah mendengar langsung pernyataan Bara, tanpa terasa Ica meneteskan air matanya. Ingin rasanya saat itu juga Ica berlari menghampiri Bara dan mengatakan kalau diapun juga memiliki rasa yang sama. Namun sepertinya Bara lebih memilih membuang jauh perasaannya dari pada berjuang untuk menggapainya.
"Kamu yang menilai jika dirimu hanyalah gumpalan busa ditengah hamparan lautan. Namun bagiku kamu adalah setitik bintang di langit sana. Meski tak sebesar rembulan, namun sinarmu mampu menambah keindahan langit. Namun jika kamu lebih memilih menyimpan rasanyamu sendiri, aku sendiri bisa apa Bara...." Tanpa sadar Ica berguman sendiri sambil memegangi dadanya yang tiba-tiba merasa sesak.
Dengan cepat Icapun segera menghapus air matanya. Ia tidak ingin sampai dilihat oleh teman-temannya. Kemudian Ica memilih untuk pergi dan mengurungkan niatnya untuk masuk kekelas. Ica baru kembali setelah temannya mengabari jika sebentar lagi akan berangkat menuju cafe yang sudah dibooking untuk acara makan bersama teman sekelasnya.
Setelah memastikan semua teman satu kelas itu berkumpul, barulah mereka semua berangkat ketempat yang sudah menjadi tujuan.
Dan tak butuh waktu lama, mereka kini sudah berada ditempat tujuan. Suasana cafenya cukup instagramable, sangat cocok untuk para kaum muda yang berkunjung ke sana.
Tanpa terasa mereka sudah dua jam lebih berada disana. Namun tak satupun dari mereka berniat untuk pulang.
"Fik....gue kayaknya balik dulu deh. Soalnya tadi mama pesen ke gue kalau udah selesai suruh cepet balik" Ica terlihat ingin pamit untuk pulang lebih dulu.
"Apa perlu gue anter" Tawar Fika
"Udah gak usah, gue pulangnya bisa naik taksi aja" Tolak Ica
Icapun kemudian keluar untuk menunggu taksi lewat karena memang Cafe itu letaknya tepat di sebelah jalan utama.
Saat Ica keluar, bertepatan dengan Bara yang kebetulan juga hendak keluar. Seperti halnya Ica, Barapun bermaksud pulang lebih dulu. Namun bukan karena ada kepentingan keluarga, melainkan dirinya bermaksud untuk masuk kerja.
"Bara....." Panggil Ica begitu melihat Bara ada tepat didepannya dan sedang mengendarai motornya.
"Ica....kamu kenapa berdiri disini" Bara sedikit kaget karena tiba-tiba saja Ica berada disana dan terlihat sedang berdiri sendiri. Entah kenapa Ica malah berdiri sendirian ditepi jalan
"Mau pulang, tapi masih nunggu taksi" Jawan Ica jujur
Barapun nampak berfikir apakah ia akan menawarkan diri untuk mengantarnya pulang, atau malah membiarkan gadis kesayangannya berdiri sendiri dipinggir jalan.
"Em....kalau kamu mau, aku bisa ngantar kamu pulang. Itupun kalau kamu gak keberatan naik motor" Bara terlihat ragu-ragu saat mengatakan itu.
"Emang kamu bersedia buat nganter aku pulang" Icapun memastikan jika Bara benar-benar bersedia untuk mengantarkannya pulang.
"Hem...." Jawab Bara singkat dan dengan ekspresinya yang datar.
Namun hal itu tak membuat senyum dari wajah Ica luntur begitu saja. Karena saat ini Rasanya Ica ingin loncat-loncat sambil tertawa kegirangan. Padahal tadi Ica sempat kesal setelah dirinya yang tak sengaja mendengar penuturan Bara tentang perasaannya yang memilih mundur pada Reza.
Entah mimpi apa dirinya semalam, hingga sekarang dirinya bisa merasakan pulang bersama dengan dibonceng motor oleh Bara.
"Pakek helmnya" Bara terlihat menyodorkan helmnya pada Ica. Beruntung disana ada helm milik Reza karena anak itu berniat pulang belakangan bersama yang lain.
Wajah Ica tiba-tiba terlihat cemberut, dirinya sudah membayangkan jika Bara akan memakaikan helm itu padanya persis seperti didrakor-drakor yang sering dia tonton. Dan baginya itu terlihat sangat romantis. Namun sayang, itu hanya khayalannya saja.
"Kamu kenapa, gak suka naik motor. Maaf aku cuman ada motor gak ada mobil kayak pacar kamu" Barapun jadi salah faham karena melihat ekspresi Ica yang tiba-tiba cemberut. Bara mengira Ica cemberut lantaran dia kurang suka karena harus naik motor.
Tak ingin Bara sampai tersinggung dan berujung tak jadi mengantar dirinya pulang. Icapun dengan cepat menggelengkan kepalanya.
"Ayo berangkat" Dengan cepat Ica menarik pergelangan tangan Bara. Hingga membuat pria itu seketika terdiam dan mematung ditempatnya karena mendapat perlakuan yang demikian dari Ica.
"Bar....kok malah bengong sih" Ica terlihat menggerakkan tangan Bara yang nampak sedang bengong sendiri.
"Eh....iy-iya, ayo" Bara sampai terlihat gugup sendiri.
"Ini kamu pakai juga biar gak masuk angin" Masih dengan ekspresi datarnya Bara memberikan jaket miliknya agar dipakai Ica. Bara tidak ingin gadisnya sampai jatuh sakit karena masuk angin. Ditambah lagi cuacanya saat itu juga panas.
Dan akhirnya setelah Ica selesai memakai jaket pemberian Bara, mereka berdua benar- benar pulang.
Disepanjang perjalanan tak ada obrolan sama sekali dari keduanya. Mereka sama-sama diam. Hingga tanpa terasa motor yang bara kendarai sudah sampai didepan gerbang rumah Ica.
"Gak masuk dulu Bar" Ica mengatakan itu sambil berusaha membuka helm dari kapalanya.
"Terima kasih, gue langsung pulang aja"
"Makasih udah mau nganterin aku" Kali ini Ica berucap sambil menyerakan helmnya pada Bara
Dan setelah menerima helm dari Ica, Bara langsung tancap gas dan berlalu meninggalkan Ica. Baik Bara maupun Ica, mereka sama-sama lupa jika sebenarnya ada yang ketinggalan.
Ica baru menyadari jika dirinya masih memakai jaket milik Bara setelah dirinya masuk kedalam rumah.
"Ya Ampun, ini jaketnya Bara masih gue pakek" Ica sampai menepuk jidatnya sendiri.
Sementara Bara, dia baru ingat akan jaketnya saat tubuhnya mulai merasakan dingin bercampur panas karena terkena desiran angin yang kencang dan kondisi cuaca yang lumayan panas.
jangan lupa mampir di karyaku ya kak🙏
semangat terus nulisnya
lah". ❌