Hawwa Ananda Putri Abizar (Hawwa) Gadis yang baru duduk di Kelas 12 memaksa menikahi Sepupu nya, Juliandra Adam Elvano.(Adam) CEO perusahaan minyak terbesar di negara nya, Meski mendapatkan banyak pertentangan, dengan segala cara akhirnya Adam menyetujui untuk menikahi nya namun hanya sebatas Istri sirri nya saja, karena ada Cinta yang lain di hati Adam.
"Aku selalu berharap bisa menjadi bunga dalam genggaman mu, yang bisa kau petik lalu kau sunting, meski aku sadari ada bunga yang lain dalam dekapanmu, walau aku tahu suatu saat aku akan tercampakkan begitu saja seperti cermin retak yang tak berharga," Hawwa.
"Hadirmu selalu ku hindari, Cintamu tak pernah ingin kumiliki, namun kepergianmu membuatku menyadari Ada ikrar suci yang tak bisa aku ingkari," Adam.
"Ya Allah, jika dia benar-benar untuk ku, dekatkan hatinya dengan hatiku, jika dia bukan milikku damai kan aku dengan ketentuanmu," Hawwa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chacha shyla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku mencintaimu.
"Assalamualaikum, Bunda, Ayah, Maafkan kalau Hawwa baru pulang,'' ucap Hawwa begitu kakinya melangkah masuk.
''Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,
sudah, tidak apa-apa sayang, tapi Lain kali kalau kamu mau pergi bilang pada Bunda sayang biar Bunda tidak khawatir, untung tadi ada Alaya, Bunda langsung menyuruh Alaya menghubungimu.
Bunda tidak melarangmu nak, hanya saja di kota ini di negara ini kau masih baru, kau belum tahu kehidupan di sini seperti apa dan orang-orangnya seperti apa. Untuk itu Bunda sarankan kamu harus hati-hati ya sayang,'' ucap Yumna mendekat sambil mengelus dengan lembut pucuk kepala gadis itu.
''Iya Bunda," timpal Hawwa merasa bersalah.
"Apa kau sudah makan,? biar Bunda siapkan makanan untukmu," tawar Yumna.
"Tidak, Terima kasih. Bunda tidak perlu repot-repot Hawwa sudah makan di luar. Hawwa mau ke kamar dulu ya Bun, Hawwa ingin segera membersihkan diri dulu.'' Pamitnya, yang di angguki Yumna dan vano.
''Oh… ya! Bun… Alaya sudah pulang ya?" tanya Hawwa kembali.
"Iya sudah, tapi sepertinya Dia sedang tertidur karena Capek katanya," terang Yumna lagi.
"Oh… iya, kalau begitu Hawwa masuk dulu ya! Bunda, Ayah," Vano hanya mengangguk mengiakan ucapan keponakannya tersebut.
"Ayah..., sepertinya Hawwa menyimpan sesuatudeh dari kita" ucap Yumna begitu Hawwa menghilang dari pandangan.
"Ah... Bunda, mungkin itu hanya perasaan Bunda saja, memangnya Bunda tahu darimana kalau Hawwa menyimpan sesuatu?" tanya Vano menyelidik.
"Sayang, Aku Baru hanya menebak saja," ujar Yumna yang di sambut kekehan dari Vano.
"Bunda ini sudah seperti ahli Nujum saja, yang tahu apa yang disembunyikan Hawwa." Ledek Ayah Vano.
"Ayah..., bunda serius, apa Ayah tidak lihat dari mimik wajahnya, Apa perlu Bunda menanyakannya langsung?" tanya Yumna sambil menatap sang suami seolah meminta persetujuan nya.
"Dengar sayang, tidak semuanya kita harus tahu, mungkin Dia punya masalah pribadi dengan perasaannya, atau dengan kawan-kawannya, sebaiknya kita tidak perlu menanyakannya dulu Jika Dia mau bercerita barulah kita mendengarkannya dan memberikan solusi yang terbaik untuknya." Vano berusaha memberikan arahan agar Yumna tak terlalu jauh ikut campur.
"Baiklah Ayah," Yumna pun akhirnya mengalah.
"Oh ya! Adam tadi kemana Bun?" tanya Vano tiba-tiba.
"Sepertinya ada tuh Yah... di balkon," tunjuk Yumna menatap keatas.
"Entah kenapa Aku merasa anak itu juga sepertinya menyimpan sesuatu dari kita," tutur Vano.
"Idiiih.. perhatian amat sama anak jantannya," ledek Yumna tersenyum.
"Mungkin anak Ayah tuh pengen dinikahkan, tapi siapa coba perempuan yang ingin menjadi istri Putra Ayah itu, dia kan tidak pernah menjalin kasih dengan siapapun, atau jangan-jangan anak ayah__" Yumna menjeda kalimatnya di saat Vano melempar tatapan tajam nya.
"Bunda Jangan berpikir yang tidak-tidak, bukankah Bunda tahu setiap ucapan itu adalah doa dan Dia itu Putra Ayah dan Bunda apa Bunda mau Putra Bunda mempunyai cinta sesama jenis," Vano berusaha mengingatkan.
"Astagfirullah hal adzim Na'uzubillah mindzalik jangan sampai dia seperti itu," sesal Yumna.
"Iya! untuk itu Bunda Jangan berpikir yang tidak-tidak" tegas Vano menasehati sang istri.
"Maafkan Bunda ya Yah...? Bunda hanya khawatir saja karena selama ini Putra kita tidak pernah berkencan ataupun memperkenalkan seorang gadis pada kita," terang Yumna.
"Seharusnya kita bersyukur untuk itu, karena tidak seharusnya Putra kita menyentuh wanita yang belum sah menjadi istrinya," ujar Vano.
"Ya harapannya sih seperti itu semoga saja Adam bisa menjaga dirinya ya!" harap Yumna.
"Lalu bagaimana dengan Putri kita,?" tanya Vano.
"Putri kita itu adalah putri yang terbaik, Dia tidak akan pernah melakukan kesalahan yang akan membuat kedua orang tuanya malu." Timpal Yumna.
"lya sayang kalau aku lihat putri kita itu Sepertinya dia menjiwai dirimu sedangkan Adam dia sepertiku, tapi semoga saja Dia tidak hancur seperti aku di masa lalu yang jatuh cinta hingga tak tahu batasan, sehingga kau hadir dalam hidupku dan memberikan warna yang berbeda di di duniaku yang tanpa warna,'' ujar Vano mengenang masa lalunya.
''Sama-sama, Ayah kalau diingat masa lalu kita kita tidak pernah menyangka ya Yah, kalau kita bisa sampai sejauh ini sekarang. Lihatlah putra-putri kita sekarang sudah dewasa.'' Ucap Yumna bersandar di dada suaminya.
''Kau benar sekali sayang, malah rasa cintaku padamu semakin kuat, dan aku ingin hanya maut yang memisahkan kita,'' Vano pun makin mengerat kan pelukannya dari belakang.
*
Hawa yang selesai membersihkan tubuhnya setelah memakai bajuDia pun duduk di pinggir tempat tidur sambil memandang punggung Alaya Yang tertutup setengah selimut tebal sedangkan dirinya belum mengantuk sama sekali.
'Sebaiknya aku bikin susu hangat dulu sebelum tidur,'' gumanya Ia pun melangkah membuka pintu. Namun baru saja tangannya menutup rapat pintu kamar la tiba-tiba saja ia ditarik dan dibekap.
''Jangan berteriak dan memberontak ikutlah denganku!'' ucap lelaki tersebut Hawwa pun Hanya menggangguk mengikuti lelaki tersebut yang menyeret tangannya, namun akhirnya ia pun mencoba untuk melepaskan diri.
''Lepaskan aku Kak sakit," cicitnya pada akhirnya namun bukannya dilepaskan tangannya semakin erat ditarik menuju balkon.
"Kak Adam, lepaskan!" lelaki yang tak lain adalah Adam itu menatapnya sekilas lalu menghempaskan tangannya begitu kuat.
"Kak Adam, Kenapa kau kasar sekali padaku? apa Kau tidak lihat pergelangan tanganku sudah memerah?'' tunjuk kesal Hawwa.
''Dengarkan aku anak kecil, soal itu aku tidak peduli, kau jangan membuatku semakin membencimu, Apa yang kau lakukan pada Alexa hari ini itu adalah satu kesalahan terbesarmu, Kau menamparnya tanpa alasan tanpa meminta maaf, lalu kau pergi begitu saja, dan ya! kau juga begitu murahan!" cecar Adam berapi-api.
"Sekarang Jelaskan padaku apa maksudmu menampar wajah Alexa di depanku?'' geram Adam.
''Sebelum Aku menjawab pertanyaan kakak jawab dulu pertanyaanku! Kenapa kau mengatakan Aku wanita murahan? Apa kau pernah melihatku menjajakan diriku di depan para lelaki? Apa kau pernah melihatku sembarangan dipeluk oleh lelaki?" protesnya masih dengan nada kesal.
''Heh…" Adam hanya tersenyum miring mendengar pertanyaan dari wanita di depannya itu.
"Aku memang tidak pernah melihatmu menjajakan dirimu pada lelaki, hanya yang aku tahu Kau terlalu murahan dipeluk oleh lelaki yang belum berstatus sebagai suamimu, Apa kau kira aku tidak melihat Apa yang kau lakukan tadi? dengar Hawwa... jika kau lancang melakukan semuanya maka Jangan Harap Aku akan memberikanmu Simpati meskipun kau itu adalah saudara sepupuku sendiri sebaiknya aku peringatkan padamu jangan lewati batasanmu!" ancamnya.
"Jadi Kakak sedang mengancamku?" kritik Hawwa
"Aku tidak mengancammu! Aku hanya memberikanmu peringatan saja agar kau tidak mengulanginya lagi, dan kau harus tahu batasanmu! " ingatkan nya lagi masih dengan ancaman.
"Apa salahku pada kakak, Kenapa Kakak melakukan ini padaku?" protes Hawwa.
"Kau tidak salah apa pun padaku, kau hanya bersalah pada Alexa, kau tahukan kalau Alexa itu adalah kekasihku dan siapapun menyakiti Kasihku Aku tidak akan menyukainya meskipun Ia adalah keluarga ataupun saudaraku sendiri," terang Adam dan itu membuat Hawwa semakin geram.
"Kenapa kau tidak bertanya untuk apa aku melakukan nya? Aku punya alasan tersendiri untuk melakukan itu, Jika kau punya alasan untuk mengancamku, maka aku pun punya alasan untuk melakukan nya, Apa kau ingin tahu alasannya apa? karena aku tidak ingin siapapun wanita menyentuh tubuhmu karena kau adalah milikku dan selamanya akan tetap seperti itu karena aku sangat mencintaimu Kak!" pekik Hawwa.
"Kau tahu kedatanganku ke sini? aku ke Indonesia hanya untuk menemuimu, untuk mengatakan perasaanku dan untuk menjadi istrimu" tutur Hawwa lagi.
"Apa kau sadar dengan apa yang kau katakan ini?" kesal Adam. "Tentu saja aku sadar apa kau kira aku sudah gila saat mengatakan semuanya padamu?" Hawwa yang kesal mengerucutkan bibirnya.
ada setangkai mawar utk mu