Menikah bukan perkara sepele. Menikah itu perkara dua orang yang saling mencintai dan bertanggung jawab atas keputusan yang telah mereka ambil.
Lalu? bagaimana dengan Nayara yang menikah dengan anak majikan nya yang sangat membencinya.
Setiap hari, Nayara harus menerima hinaan dan cacian dari sang suami.
Akan kah? Nayara mendapatkan cinta nya?
Akan kah Nayara akan bahagia??
yukkkk simakkk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceritaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Nara baru saja pulang dari pemakaman umum. Setiap sekali 2 Minggu, gadis itu selalu mengunjungi kuburan kedua orang tua angkatnya.
Saat tiba di rumah besar keluarga Andara, Nara merasa heran.
"Kok, rumah tiba tiba sepi?" gumam Nara. Biasa nya saat ia pulang, nyonya besar akan selalu duduk di sofa ruang tengah. Dua pelayan akan menemaninya.
"Kemana semua orang? " Nara berjalan menuju dapur, ia melihat Cika sedang menangis di sudut ruangan dapur dekat kulkas.
"Hiks....Hiks..."
Nara mendekati nya, ia memegangi bahu Cika yang bergetar.
"Cika. Ada apa? kenapa kau menangis? kemana semua orang?"
Cika mendongakkan kepalanya, menatap wajah Nara yang terlihat mengabur oleh air matanya.
"Nara..." Cika memeluknya erat.
"Hei, ada apa?" perasaan Nara mulai tidak enak, ia melepaskan pelukan Cika dan meminta penjelasan mengapa ia menangis seperti ini.
"Nara, Nyonya Nara...Nyonya-"
"Nyonya kenapa Cika? ngomong yang jelas !"
"Hiks...Nyonya masuk rumah sakit Nara hiks...Tadi tiba tiba nyonya pingsan"
"Apa?" terasa seperti di sambar petir, Nara terhenyak di lantai.
"Nyo-nya masuk rumah sakit?" ulang Nara terbata.
"Iya Nara, kamu tidak membawa ponsel mu, kami sejak tadi menghubungi mu!"
"Aku harus melihat nya sekarang, nyonya gak boleh kenapa kenapa!" Nara bergegas bangkit, ia menghapus air mata yang mulai keluar dari sudut matanya.
Sebelum pergi, Nara menyempatkan diri ke ruang tamu untuk mengambil ponsel nya, yang tadi ia cas sebelum pergi.
"Nyonya!!" gumam Nara berlari keluar rumah.
"Non!!" teriak pak Joko, supir nyonya besar.
Nara menoleh, ia langsung berlari kearah mobil pak Joko yang seperti nya memang menjemput dirinya.
"Pak, antar saya ke rumah sakit sekarang"
"Baik non, saya memang di perintahkan untuk menjemput nona" jawab pak Joko sembari melajukan mobil nya meninggalkan pekarangan rumah.
Selama di perjalanan, Nara terus berdoa dan tak henti hentinya meneteskan air mata.
"Ya Tuhan, semoga nyonya baik baik saja. Aku tidak mau dia pergi meninggalkan aku. Aku tidak mau kehilangan nya"
Berkali kali Nara mengusap matanya yang terasa mengabur karena air mata. Pak Joko yang tahu bagaimana kedekatan Nara dengan majikan nya ikut sedih melihat nya.
"Sabar yah non, nyonya pasti baik baik saja kok"
"Saya berharap begitu pak, bantu doa yah pak" sahut Nara dengan suara bergetar.
...----------------...
Di lain tempat, Andre sedang meeting. Berkali kali ia menolak panggilan tanpa melihat siapa yang menghubungi nya.
Setelah selesai, barulah Andre melihat ponselnya dan melihat siapa yang menghubungi sejak tadi.
"Buset, 113 panggilan?" gumam Andre terkejut. Paling membuatnya terkejut adalah panggilan yang paling banyak adalah dari papa nya.
Langsung saja, Andre menghubungi kembali nomer papa nya.
Berdering 2 kali, panggilan langsung terhubung.
"Anak sialan! apa kau tidak punya otak hah? sejak tadi aku menghubungi mu! kau tidak mau menjawab nya!". Andre menjauhkan ponsel itu dari daun telinga nya, teriakan papa nya di seberang sana hampir memecahkan gendang telinganya.
"Maaf pa, aku tadi meeting"
"Apa kau sudah gila? apa yang lebih penting dari panggilan orang tua mu huh? "
"Memang nya ada apa sih pa, tumben banget papa menelfon aku"
"Kau tidak tahu, apa kau tidak memiliki hati? mama mu masuk rumah sakit!!!" Geram Bagas tertahan.
"Apa? ma-Mama masuk rumah sakit???"
Klik.
"Hallo! Hallo, pa! bagaimana keadaan mama??" Andre terus berteriak, tapi panggilan nya sudah terputus.
Seakan tidak percaya, baru saja tadi pagi Mama nya berbicara dengan nya dan sekarang? oh astaga, Andre benar benar di buat syok.
Pria itu langsung bergegas menuju ke rumah sakit. Meskipun bandel dan selalu mengabaikan apapun yang di perintahkan mama nya, Andre tetaplah anak yang menyayangi orang tua nya.
Setiba nya di rumah sakit, Andre berlari menuju ke ruangan ICU.
"Kak Andre?" gumam Nara saat bertemu dengan Andre di lorong rumah sakit.
Andre tidak melirik nya, ia terus berjalan cepat menuju ke ruangan ICU. Nara terdiam, pikiran nya sangat kacau. Ia mengikuti Andre dari belakang.
"Papa!!" Andre berlari mendekati papa nya, tapi.
Plak!
"Anak macam apa kamu huh!"
Andre terdiam, pipi nya terasa memanas bekas tamparan papa nya.
"Tuan, sudah. Ini rumah sakit, lebih baik sekarang kita berdoa untuk nyonya" ucap Nara.
Bagas menghembuskan nafas nya, melepaskan emosi yang seketika memuncak. Bukan nya benci kepada anak nya, Bagas hanya kesal saat Andre menolak dan terus menolak panggilan nya saat darurat tadi.
Andre berlutut di lantai, bahu nya bergetar menandakan dirinya sedang menangis.
"Tuan" panggil Nani, wanita baru baya itu mengusap bahunya, lalu memeluk nya dari samping.
"Aku salah, Nani. Mama pasti marah dan kecewa sama aku"
"Tidak nak, mama kamu tidak akan marah jika kamu ada di sini" bujuk Nani.
Nara berdiri di depan pintu kaca ruangan Relaina di tangani. Terlihat wajah pucat Relaina yang terbaring lemah di periksa oleh para tim medis.
Air mata tak terbendung lagi, semua orang di sana merasa sangat sedih melihat kondisi Relaina.
"Nyonya...."Lirih Nara. Tangan nya menempel pada kaca bening yang menampakkan wajah Relaina, seakan sedang mengusap wajah pucat itu.
"Nyonya harus kuat, harus sembuh" lirih Nara dalam tangis nya.
Sementara itu, di dalam ruang ICU, dokter dan para perawat membantunya memeriksa dan mencoba sebisa mungkin menyelamatkan Relaina yang drop.
...----------------...
1 jam sudah berlalu, Nara duduk di depan pintu ruang ICU. Andre duduk di lantai sembari bersandar pada dinding di depan Nara.
Meskipun saling berhadapan, keduanya tak saling melirik.
"Nara!" panggil Bagas.
Gadis itu tidak bereaksi, ia seperti tidak mendengar panggilan Bagas.
"Nara!" panggil Bagas lagi, ia memberi isyarat pada Nani agar mendekati gadis itu.
"Nara..." Nani menggoyangkan bahu Nara yang tertunduk memeluk lututnya.
Bruk~
Tubuh Nara oleng ke samping, ia sudah tidak sadarkan diri lagi.
"Nara!!! Nara!!" panggil Nani panik. Melihat Nara tidak sadarkan diri, Bagas langsung memanggil dokter.
"Dokter!!! Dokter!!!!"
Andre melihat nya, secara spontan ia langsung berdiri dan mendekati Nara.
"Kenapa dia?" tanya Andre.
"Seperti nya dia pingsan tuan!" jawab Nani.
Andre langsung menggendong Nara, ia membawa gadis itu ke ruangan pemeriksaan, sesuai arahan dokter yang datang setelah di panggil oleh Bagas.
Nani mengikuti Andre, begitu juga dengan Bagas. Ini belum selesai, masalah baru malah muncul.
Bagas mengusap kepalanya panik, meskipun Nara hanya anak pembantu mereka, tetap saja Bagas akan khawatir. Gadis periang itu sudah sama seperti putri mereka sendiri. Hanya karena kerendahan hati Nara, makanya gadis itu bersikeras bekerja di rumah itu. Padahal, Relaina dan Bagas sudah menyuruhnya untuk berhenti dan menjadi putri di rumah itu.
...----------------...
Aku mampir.
Semangat berkarya ya💪🤗