Setelah sama-sama merasakan sakit hati yang paling dalam, Bima dan Renata menata hati mereka, sampai akhirnya, Renata dan Bima kembali menemukan kebahagiaan bersama pasangannya masing-masing.
Namun, takdir ternyata kembali mempertemukan mereka dalam situasi yang sama-sama sulit.
Lalu, akankah takdir kembali berpihak pada mereka setelah mereka berdua sama-sama merasa kehilangan?
Yuk, kepoin kisah Bima dan Renata. Seperti biasanya, jangan lupa sedia tisu, karena cerita ini banyak mengandung bawang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazwa talita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 6 KEDATANGAN PAMAN
"Pa–paman ...." Kedua mata Karina terbelalak saat melihat siapa yang datang dan kini berdiri di depan pintu.
Seorang pria paruh baya yang selama ini ia pikir begitu menyayanginya, ternyata tega melakukan sesuatu yang membuatnya kecewa. Pria itu berpura-pura menyayangi Karina, merawatnya dengan baik, sehingga akhirnya, Karina pun tumbuh menjadi seorang gadis yang sangat cantik.
Karina sungguh tidak menyangka kalau setelah ia tumbuh dewasa, sang paman justru ingin menjualnya.
"Dasar tidak tahu diuntung! Kamu pikir,
kamu bisa lari dariku?" Suara sang paman menggema di ruangan itu. Sepertinya, laki-laki tua itu lupa kalau dirinya saat ini sedang berada di rumah sakit.
"Pa–paman." Mendengar teriakan sang paman, tubuh Karina beringsut mundur ke sudut ranjang. Gadis itu terlihat sangat ketakutan.
Bima masih menatap datar ke arah mereka berdua. Wajah tampan pria itu tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Bima bahkan tampak tidak peduli dengan raut wajah ketakutan gadis cantik di depannya.
"Ayo kita pulang!" Sang paman yang bernama Damaryuda itu menarik tangan Karina dengan kasar. Wajahnya meringis kesakitan. Mungkin gadis itu masih merasa kesakitan di bagian kepalanya yang tertutup perban.
Bima yang awalnya hanya diam saja langsung mencengkeram tangan Damar yang menarik Karina, hingga laki-laki tua itu meringis kesakitan.
"Apa kamu tidak melihat kalau dia sangat kesakitan?" Bima menatap tajam ke arah Damar. Rahangnya mengeras menahan amarah. Bima mungkin memang bukan orang baik karena dulu ia sering menyakiti Renata.
Namun, ia tidak suka jika ada seorang laki-laki yang berbuat kasar terhadap perempuan. Apalagi, kejadian itu kini tampak di depan matanya.
Bima memang belum tahu siapa gadis itu dan apa permasalahan yang sedang dihadapinya. Namun, saat melihat pria tua yang dipanggil paman itu begitu kasar pada Karina, jiwa kemanusiaannya muncul. Apalagi, saat Bima melihat di belakang pria tua itu ternyata berjejer beberapa orang bertubuh tinggi besar yang sudah bersiap melawan saat mereka melihat tuannya meringis kesakitan hanya karena cengkraman tangan Bima.
"Siapa kamu? Kenapa kamu ikut campur urusanku?" Damar melotot ke arah Bima. Wajah tuanya memerah sambil meringis kesakitan karena Bima belum juga melepaskan cengkraman tangannya.
"Aku tidak akan ikut campur jika kamu tidak berbuat kasar pada wanita ini!" Bima melepaskan tangan Damar dengan kasar. Kedua matanya menyorot tajam pada pria tua itu.
"Wanita itu adalah keponakanku! Aku mau berbuat apa pun padanya itu urusanku bukan urusanmu!" Damar mengepalkan kedua tangannya. Amarahnya naik seketika mendengar ucapan Bima.
"Dia keponakanmu?" Bima menunjuk ke arah Karina. Sementara Damar mengangguk menatap sinis ke arah Bima.
"Jadi begini caramu memperlakukan keponakanmu yang sedang sakit?" Bima menatap tajam ke arah pria tua di depannya.
"Apa kamu tidak melihat keadaannya? Kau lihatlah! Gara-gara perbuatanmu, luka di kepalanya kembali berdarah!" Bima menunjuk Karina yang merintih kesakitan. Gadis itu memegangi kepalanya yang terasa sakit. Perban di kepalanya tampak basah dan berwarna merah akibat sentakan tangan Darmayuda yang menarik gadis itu dengan kuat.
"Itu akibat dari kesalahannya. Kalau dia tidak kabur, saat ini dia pasti sedang bersenang-senang. Dasar gadis bodoh! Gara-gara kelakuanmu, paman dan bibimu harus menanggung malu!" Darma berteriak memaki Karina.
"Kalau paman tidak berniat menjualku pada tua bangka itu, aku juga tidak akan kabur, paman!" Karina berteriak marah sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit.
Cukup sudah dirinya mengalah selama ini. Paman dan bibinya itu sungguh keterlaluan! Selama ini dia terus menerima perlakuan tidak baik dari bibinya juga dua orang sepupunya. Karina tidak menyangka kalau ternyata sang paman pun bersikap sama-sama jahat.
"Menjualmu? Aku hanya ingin menikahkanmu bukan menjualmu, Karin!"
"Paman menikahkan aku dengan laki-laki yang bahkan pantas menjadi kakekku! Paman juga menerima uang hampir satu milyar darinya. Apa itu namanya bukan ingin menjualku? Aku bahkan mendengar dengan jelas kalau tua bangka itu akan menjualku kembali pada orang lain setelah dia puas menikmati tubuhku!" Karina berteriak menumpahkan amarahnya. Gadis cantik itu benar-benar merasa sakit hati dan kecewa pada sang paman dan keluarganya.
Damaryuda tersentak kaget. Tidak menyangka kalau ternyata Karina mengetahui semua niat busuknya.
"Pantas saja dia kabur, ternyata dia mendengar semua yang aku katakan pada Thomas," batin Damar.
"Seharusnya kamu tidak kabur Karina. Anggap saja kalau pernikahan itu adalah bentuk dari balas budi karena paman dan bibimu sudah merawatmu dari kecil," ucap Damar sambil menatap sinis ke arah Karina.
"Bahkan uang satu miliar pun tidak cukup untuk biaya hidupmu dari kecil hingga dewasa," lanjutnya lagi dengan penuh percaya diri. Damar seolah ingin menunjukkan pada Bima dan orang-orang di sekitar mereka kalau Karina bukanlah apa-apa tanpa pertolongan darinya.
"Biaya hidupku dari semenjak kecil?" Karina menatap remeh pada sang paman.
"Apa paman lupa? Atau memang pura-pura lupa?" Gadis itu menatap sang paman dengan tajam.
"Kalau paman lupa, biar aku ingatkan lagi!" Karina berucap penuh penekanan. Sementara itu, sang paman terlihat sangat terkejut. Ia sungguh tidak menyangka kalau Karina yang selama ini terlihat pendiam ternyata berani melawannya. Gadis itu bahkan berteriak di hadapannya.
Darmayuda mengepalkan tangannya erat. Mencoba menahan amarah yang sebentar lagi siap meledak. Sementara itu, Bima masih memperhatikan Karina. Tidak menyangka kalau gadis itu ternyata bisa juga membela diri. Padahal, gadis itu tadinya gemetar ketakutan.
"Semua biaya hidup yang paman keluarkan itu berasal dari aset kedua orang tuaku. Perusahaan, rumah, bahkan beberapa mobil yang berderet di rumah paman adalah milik orang tuaku. Seandainya saja kedua orang tuaku masih hidup, semua harta yang paman punya itu pasti akan jatuh ke tanganku!"
Damaryuda terkejut mendengar ucapan Karina. Laki-laki paruh baya itu tidak menyangka kalau keponakannya yang sangat penurut itu berubah menjadi pemberontak seperti ini.
"Aku tahu kenapa paman sangat ingin aku menikah. Saat aku menikah, maka semua perusahaan atas nama papa akan jatuh ke tanganku dan saat itu tiba, paman dan bibi akan lebih leluasa menikmati semua harta kekayaan orang tuaku!"
"Karina!" Darmayuda berteriak marah. Tidak menyangka kalau ternyata Karina yang terlihat begitu polos itu mengetahui semua rahasia dan juga rencananya.
"Kenapa paman? Semua yang aku katakan, benar bukan?"
*
*
Maaf teman-teman, Author baru sempat bisa update Bima 🙏🙏
Tulus banget siy kamu,
Cinta tanpa syarat asalkan yg dicintai bahagia,,
lma bgt y
pasti udh bnyk yg nunggu
Dah lama bgt
klo Renata munafik cinta tapi dipendam
Alhamdulillah aku pminat takdir ..maafkan aku istriku..cinta Karmila ...lihat aku seorang sllu ku tunggu update nya tiap hari
ayo update lagi takdir 2 Bima ditunggu secepat mungkin