Ela, karena kelakuannya yang selalu saja susah diatur akhirnya membuat kedua orangtuanya memindahkannya ke rumah si Mbah.
Di rumah peninggalan si Mbah, ternyata menyimpan banyak rahasia kelam masa lalu.
Yuk ndongeng dengan Othor, yang tokoh-tokohnya dari nama para readers setia lagi...
Hihihi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilamici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Pesan Dari Alam Lain
"Kalau tadi Bibik masak banyak La, karena ternyata perkiraan kamu datang jam segini ya akhirnya soto sama mendoannya dibagi-bagi."
Kata Bik Putri Marpuah,
Ela tampak nyengir,
"Iya Bik, tidak apa-apa, masih ada hari esok."
Ujar Ela, membuat Bik Putri mantuk-mantuk, bersamaan dengan itu Paman muncul dari ruang belakang untuk ikut bergabung, dan Kais membawakan air teh panas untuk Ela,
"Minum dulu La, biar segeran badannya."
Ujar Kais,
Ela pun menyambut wedang teh buatan Kais dengan senang hati, Ela terlihat langsung menyeruput wedang teh nya,
Harum melati yang menjadi campuran teh khas kota Tegal itupun langsung seperti aroma terapi,
Ela yang semula kepalanya sedikit berat, kini langsung terasa lebih enteng seketika.
Kais lantas duduk satu kursi dengan Ela di kursi panjang model jaman dulu, namun masih bagus karena dirawat dengan baik.
"Habis ini istirahat dulu La, besok siang baru kita ke rumah Mbah."
Kata Kais pula,
Ela mantuk-mantuk saja, ia nyatanya masih sibuk memikirkan apa yang terjadi di atas travel.
Gadis yang sepanjang perjalanan tidur, tapi ternyata tidak masuk daftar penumpang, tusuk konde pengantin jaman dulu yang akhirnya Ela buang di jalan raya dari travel, lalu juga kardus tak bertuan yang ditumpuk dengan kardus milik Ela.
Ah, mengingat soal kardus, Ela jadi ingat salah satu kardus yang ia bawa adalah titipan orangtuanya untuk Bik Putri, Bik Resti dan yang lain,
"Paman, yang dus bekas mie itu isinya titipan oleh-oleh dari Bapak sama Ibu buat Bik Putri dan Bik Resti serta kerabat lainnya."
Ujar Ela,
"Oh tadi Paman masukkan semua ke kamar, sebentar Paman ambil lagi,"
Suami Bik Putri pun berdiri dari duduknya, lalu berjalan menuju kamar yang memang biasa disediakan untuk orang yang menginap barang satu atau dua hari, bisa dibilang itu adalah kamar tamu, meskipun tak sepenuhnya untuk tamu pula, karena di sana biasanya Bik Putri juga menggunakannya untuk menyetrika baju.
"Rumah Mbah sudah agak lama tidak ditempati jadi agak lembab, besok Bibik akan ajak Bik Resti masak di sana supaya lembabnya hilang,"
Kais menatap Ibunya, jelas ia masih ingat cerita soal Ibu Juwi melihat perempuan menyapu malam-malam di depan rumah si Mbah.
Tak lama terdengar kemudian suara Paman dari arah kamar belakang,
"Kardus mie yang mana ini Ela?"
Tanya Paman,
Ela mengerutkan kening,
"Bapak tanya itu La."
Kata Kais,
"Kardus mie cuma satu kok Kais,"
Ujar Ela sambil berdiri kebingungan,
Kais juga ikut berdiri, pun dengan Bik Putri.
Ela berjalan menuju kamar yang ada Pamannya,
Sampai di sana, terlihat Pamannya berdiri di depan tiga kardus, Ela tentu saja terkejut luar biasa,
"Lho... Tadi Paman bawa kardus dari luar berapa?"
Tanya Ela terlihat begitu bingung karena seingatnya Paman mengambil dua kardus yang dibawanya,
"Tiga,"
Jawab Paman,
"Tiga?"
Ela membulatkan matanya,
"Ya tiga, dua ditumpuk, satu dipisah, ya kan?"
Paman memastikan,
Ela menoleh ke arah Kais dan Bik Putri, lalu...
"Aku hanya membawa dua..."
Lirih Ela, lalu...
"Ini bukan kardus Ela,"
Kata Ela akhirnya,
Semua pun jadi ikut bingung,
"Bukan punya kamu bagaimana maksudnya La?"
Bik Putri akhirnya berjongkok di depan kardus-kardus itu,
"Dari Jakarta aku hanya bawa dua kardus Kais, yang satu ini tidak tahu punya siapa."
"Lha tapi ini ada di depan jadi Paman bawa masuk,"
Tutur Paman,
"I... iya Paman, itulah yang membuat Ela bingung."
Ela garuk-garuk kepala.
"Ya sudah, mana kardus mie yang kamu bawa dari Jakarta? Nanti besok siang yang satunya Paman antar ke agen travel barangkali punya orang."
Kata Paman akhirnya.
Ela pun berjongkok di depan dua kardus yang hampir tak bisa Ela bedakan,
Ela akhirnya asal ambil saja, karena bahkan untuk talinya juga sama, ini sangat membingungkan.
"Sini Bik Putri bantu."
Ujar Bik Putri,
Kais mengambilkan gunting untuk menggunting ikatan di kardus yang akan dibongkar,
"Tadi memang ada kardus lebih di travel, tapi aku sudah meyakinkan itu bukan punyaku, dan aku tak membawanya, bagaimana bisa kardus ini tiba-tiba ada di sini?"
Gumam Ela seraya membuka kardus, dan...
"Astaga."
Ela terpekik kala akhirnya kardusnya dibuka,
Di dalamnya terlihat isinya bukan oleh-oleh, dan jelas itu bukan kardus milik Ela,
"Apa La?"
Kais penasaran ikut melongok,
Bik Putri dan Paman membongkar isi kardus itu, sedangkan Ela mundur ke belakang sambil menggelengkan kepalanya,
"Ini tidak beres, jelas ini tidak beres,"
Kata Ela,
Bik Putri mengeluarkan kain, sanggul dan tusuk konde model lama dari dalam kardus,
Bik Putri, Paman dan Kais memandangi benda-benda itu,
"Seperti milik pengantin jaman dulu ya Bu,"
Kata Paman pada Bik Putri,
Bik Putri memandangi lebih lekat kain dan tusuk konde di depannya,
"Ini seperti milik Mbah buyut, aku pernah melihatnya dulu saat kecil di lemari si Mbah."
Ujar Bik Putri,
"Lemari di rumah Mbah, Bu?"
Tanya Kais,
Bik Putri mengangguk,
"Ya, di lemari kamar Mbah, dulu kamar itu juga ditempati Mbah buyut, ada kain dan tusuk konde seperti ini, cantik sekali, ini kain ada benang yang dari emas asli."
Bik Putri menunjukkan kain yang memang cantik di depannya,
"Tapi pertanyaannya, ini milik siapa bisa terbawa aku?"
Lirih Ela,
**--------------**
aku kira endingnya Ratih berterima kasih sama ela, trs dia jadi pendampingnya ela buat menghajar temen2 kampusnya nya ela yg sombong2 itu