Yang dia inginkan hanyalah kehidupan normal sama seperti yang lainnya, sesekali ia berdoa pada Tuhan untuk mengabulkan keinginan sederhananya namun masih juga di abaikan.
Sejenak ia berhenti bertanya pada mereka yang memburunya, ia selama ini lari dari tanggung jawab namun saat ia lelah ia berhenti berlari, berbalik kemudian menyambut mereka.
"Saya lelah jadi akhiri saja di sini"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Dina oktafia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa?
"Katakan" mulai meninggikan suaranya, "Siapa namamu" tanya anak kecil di hadapannya dengan tatapan mata yang nanar, "Nana, panggil aku Nana" kata gadis tadi menamai dirinya sendiri dengan sebutan Nana.
Namun sebelum melanjutkan pertanyaannya ia terlebih dahulu melepaskan jeratan di tangan dan kakinya barulah ia kembali bertanya, "Apa orang itu ada di sini?" tanya Nana to the point.
Anak laki-laki yang sudah terlepas dari jeratan pun tak langsung menjawabnya, ia langsung berdiri sembari mencoba membebaskan teman-temannya yang juga bernasib sepertinya, "Seseorang dengan tubuh besar sepuluh kali lipat darimu, dia orangnya" kata anak laki-laki tadi memberitahu.
Setelah mendapatkan jawaban pertama atas pertanyaannya ia pun ikut membebaskan semua teman-temannya saat itu juga, "Jadi katakan tentang semua informasi yang kau ketahui" kata Nana kembali mengintrogasi, "Kenapa..." bukannya menjawab ia malah bertanya balik seakan-akan tidak ingin menjawabnya.
Ada banyak cara yang harusnya bisa ia lakukan saat ini untuk bisa kabur dari tempat itu, namun bagaimanapun juga mereka bukanlah tandingan mereka, "Kami bisa apa" mulai menelungkup kan kedua tangannya ke wajahnya dengan deraian air mata yang mulai menumpuk di pelupuk matanya.
Sesak rasanya bagi anak kecil seusianya yang harus mengalami semua penyiksaan ini, namun "Katakan saja" kata Nana tidak mau ikut larut dalam suasana yang kian lama memihaknya tersebut.
Bagaimanapun juga semua itu sudah terjadi, jangankan mereka bahkan dirinya sendiri saja sudah mengalami hal yang sangat menghancurkan dirinya kemarin jadi apapun yang mereka rasakan bisa dengan jelas Nana pahami saat itu juga.
"Kenapa" mulai bergumam, ekspresi wajah yang pucat di tambah dengan tubuh yang gemetar bisa sedikit menjawab pertanyaan yang hendak Nana lontarkan padanya, "Jadi aku anggap kalau kalian itu memang ingin berada di sini" gumam Nana yang mulai bangkit dari posisinya tadi, "Hanya ada satu kesempatan untuk membalaskan dendam, jadi manfaatkan saja" kata Nana sebelum beranjak pergi.
Pintu yang semula terkunci dari luar bisa dengan gampang ia lepaskan hanya dengan menarik gagang pintunya saja, "Dan katakan pada orang-orang di sana untuk berhati-hati kalau bertemu denganku" gumam Nana memasang wajah sadis.
Dan setelah melihat kepergiannya barulah ia bisa berbicara dengan jelas, "Apapun yang terjadi itu sangat mengerikan, bahkan aku saja tidak bisa mengatakannya" gumamnya yang langsung tertelungkup ke tanah dengan detak jantung yang hampir meledak.
Tak beberapa lama kemudian teman-temannya mulai sadar, "A-apa yang terjadi" pekik seorang anak kecil yang lebih muda darinya mulai mengusap kepalanya yang kotor, "Kau bangun" katanya langsung mendekat serta memeluknya dengan pelan, "Tidur saja" katanya lembut sembari memikirkan cara agar dia bisa membawa semuannya keluar.
Anak-anak yang di kumpulkan serta di kunci di dalam gudang merupakan anggota keluarga dari mereka yang saat ini berada di bawah kekuasaan Teo, alias pemimpin kelompok, jadi bisa di katakan kalau Teo menggunakan anak-anak tersebut sebagai sandera agar bisa mengancam siapa saja yang hendak berkhianat serta memberontak padanya.
"Bawakan aku lagi" teriak Teo yang sudah setengah teler tatkala dirinya berhasil menghabiskan beberapa botol miras hasil jarahan mereka.
Sosok pemimpin yang begitu kuat serta begitu sadis merupakan sosok yang sangat mereka takuti sekaligus benci saat ini, tak ada cara untuk bisa lepas darinya kecuali membunuhnya, meski mereka sudah sangat yakin akan rencana mereka dalam melenyapkannya namun saat akan melakukan nya ada saja yang terjadi, seperti salah satu dari mereka yang akan menyerangnya tiba-tiba hilang dan di temukan tak lagi bernyawa di suatu tempat, dan semua itu adalah ulah Teo , pemimpin mereka.
"Jadi siapa yang bisa mengalahkan ku hah!" teriaknya dengan lantang sembari memutar-mutar botol di tangannya, "Hahaha" tertawa terbahak-bahak.
Mendengar suaranya yang begitu memekikkan telinga sudah mampu membangkitkan hasrat membunuh mereka namun sayangnya mereka semua tidak bisa berbuat banyak tatkala Teo memiliki sandera dari keluarga mereka saat ini, "Sial!!!" mengumpat diri sendiri.
"Kalau aku membunuhnya aku pasti bisa menghilangkan rasa sesak di hatiku" gumam seorang gadis yang diam-diam masuk ke dalam ruangan yang saat ini tengah di adakan pesta penuh dengan derita, "Dialah orangnya" bisik dirinya yang satu lagi mulai merayu Nana untuk segera melenyapkan sosok yang membuat seluruh keluarganya tewas saat itu namun, Nana lebih memilih menundanya, karena apa? karena saat ini dirinya tidak ingin membunuhnya dengan mudah, ada banyak cara yang ia butuhkan agar bisa membalaskan nya dengan indah, "Yah benar" tersenyum menyeringai saat rencana demi rencana mulai tersusun di kepalanya dengan sempurna.
Bagaimana cara Nana berhasil masuk? ia diam-diam mulai mengendap-endap masuk saat beberapa orang yang ia temui mengijinkannya masuk serta menunjukkan ruangan Teo berada.
"Terimakasih" tersenyum datar.