NovelToon NovelToon
Perjodohan Berbalut Dendam

Perjodohan Berbalut Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ana L.

Demi melunasi hutang ayahnya, Naura Aulia Zafira terpaksa menikah dengan Dewa Angkasa Buwana, penguasa mafia yang kejam dan berkuasa. Pernikahan ini bukan atas dasar cinta, melainkan balas dendam masa lalu yang dipendam Dewa pada keluarga Naura.

Di balik kemewahan dan kekuasaan, Naura harus bertahan hidup di tengah kebencian, bahaya, dan sikap dingin suaminya. Namun, ketegaran dan kelembutan Naura perlahan mengguncang hati Dewa, membuatnya terjebak antara dendam kesumat atau cinta yang tumbuh diam-diam.

Saat kebencian mulai memudar dan cinta bersemi, masa lalu kelam kembali mengancam nyawa mereka. Akankah dendam mengakhiri segalanya, atau cinta mampu mengubah takdir dan membawa mereka pada kebahagiaan abadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana L., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langkah Nekat

Tiga hari berlalu sejak perintah mutlak Dewa dikeluarkan. Di permukaan, segalanya tampak tenang seolah badai sudah lewat. Bisnis keluarga Buwana semakin kokoh, pengaruhnya merambah ke setiap sektor penting di kota, dan nama Dewa Angkasa Buwana kini bukan lagi sekadar nama yang ditakuti, melainkan sebuah kekuatan yang disegani bahkan oleh pemerintah sekalipun. Namun, di balik kemegahan itu, ketegangan menggantung setebal rambut. Ardiansyah, musuh terakhir dan paling licik itu, tidak menunjukkan tanda-tanda menyerah. Ia menghilang bagai ditelan bumi, dan kebisuan itu justru jauh lebih menakutkan daripada serangan terbuka apa pun.

Di ruang kerja pribadi yang tertutup rapat, Dewa berdiri di depan peta besar yang menandai setiap titik penting proyek pelabuhan internasional aset terbesar dan sumber kekuasaan Ardiansyah. Wajahnya dingin, namun matanya menelusuri setiap garis dengan ketelitian yang mematikan. Di sebelahnya, Naura duduk dengan berkas-berkas dokumen hukum dan laporan keuangan yang menumpuk di atas meja. Wanita itu tidak hanya berdiri sebagai istri, tetapi sebagai ahli strategi yang mampu membongkar setiap celah pertahanan musuh.

"Semua izin bangunan itu palsu, Dewa," ucap Naura pelan sambil menunjuk deretan tanda tangan dan cap resmi di atas kertas. Suaranya tenang, namun setiap kata memuat beban bukti yang berat. "Dia membangun kerajaan itu di atas tanah sengketa, menggunakan uang hasil korupsi dana negara, dan menyuap pejabat tinggi untuk menutupi segala kejanggalan. Selama ini dia aman karena dia memegang semua bukti pemerasan terhadap orang-orang yang membantunya. Tapi sekarang... orang-orang itu sudah jatuh satu per satu. Kekuatannya tinggal nama saja."

Dewa tersenyum miring, senyum yang mengandung ancaman dingin khas seorang penguasa mafia yang tidak pernah gagal dalam satu pun rencananya.

"Dan sekarang, kita ambil sisa-sisa yang dia miliki," Ia berjalan mendekat, lalu meletakkan kedua tangannya di atas sandaran kursi Naura, mengurung wanita itu dalam lingkaran perlindungannya. "Kau yang menyusun strategi bisnisnya, aku yang menangani sisanya. Dia pikir uang dan koneksi bisa menyelamatkannya? Dia lupa bahwa di kota ini, hukum hanyalah tulisan di atas kertas, sementara kekuasaan mutlak ada di tanganku."

Naura menoleh, menatap manik mata hitam yang selama ini menyimpan begitu banyak luka namun kini penuh dengan cinta untuknya. Ia mengusap pipi suaminya dengan lembut, sentuhan yang mampu melunakkan hati iblis paling kejam sekalipun.

"Jangan terlalu terburu-buru, Sayang. Ardiansyah tahu dia terpojok. Orang yang sudah kehilangan segalanya tidak punya lagi rasa takut, dan justru itulah yang membuatnya berbahaya. Dia pasti sudah menyiapkan jebakan. Dan seperti yang dikatakan Sera... sasaran utamanya adalah aku."

Dewa mengerutkan rahangnya seketika. Aura dingin langsung menyelimuti ruangan. Bagi dunia luar, Dewa adalah sosok yang kejam, berdarah dingin, dan tak segan membunuh siapa saja yang menghalangi jalannya tanpa rasa bersalah sedikit pun. Tapi di hadapan Naura, kekejaman itu berubah menjadi perlindungan mutlak yang hampir obsesif.

"Biarkan dia mencoba," desis Dewa dengan nada rendah yang bergetar amarah. "Jika dia berani mendekat, aku akan pastikan dia meratapi saat dia pertama kali berpikir untuk menjadikanmu sasaran. Aku mungkin seorang penjahat, aku mungkin penguasa dunia gelap ini, tapi ada satu aturan yang tak boleh dilanggar siapa pun: tidak ada yang boleh menyakiti wanita yang kucintai. Demi kau, aku berani melawan seluruh dunia sekalipun."

Belum sempat Naura menjawab, pintu ruangan terbuka kasar. Rian masuk dengan napas terengah-engah, wajahnya pucat dan penuh kekhawatiran, sesuatu yang sangat jarang terlihat pada prajurit paling setia dan tangguh milik Dewa. Di belakangnya, Sera juga tampak cemas, tangannya menggenggam sebuah berkas laporan darurat.

"Tuan Dewa... Nyonya Naura..." Rian membungkuk cepat, namun suaranya bergetar menahan kegelisahan. "Ada perkembangan baru. Mata-mata kami baru saja melaporkan sesuatu yang besar. Ardiansyah tidak bersembunyi lagi. Dia bergerak."

Dewa menegakkan punggungnya seketika, sorot matanya menajam mematikan. "Di mana dia? Dan apa yang dia rencanakan?"

"Dia mengundang seluruh pengusaha besar, pejabat pemerintah, dan juga media massa ke lokasi proyek pelabuhan besok siang," potong Sera sambil meletakkan peta dan undangan resmi di atas meja. "Dia menggelar acara peresmian tahap kedua. Dia berani tampil di depan umum, seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi... ada pesan khusus yang dikirimkan secara pribadi hanya untuk kalian berdua."

Sera menatap sahabatnya dan suami sahabatnya itu bergantian, lalu melanjutkan dengan nada serius, "Dia menulis: 'Datanglah, atau seluruh kebenaran masa lalu yang kalian sembunyikan akan kuumumkan di hadapan semua orang. Termasuk bagaimana dua keluarga besar ini saling membunuh, dan bagaimana cinta tumbuh di antara kebencian yang kalian bangun sendiri.' Dia tahu segalanya, Dewa. Dia tahu sejarah kelam perjodohan ini, dia tahu rahasia di balik perpisahan kalian dulu, dan dia berniat menggunakannya untuk menghancurkan nama baik Buwana dan Zafira sekaligus."

Keheningan mencekam menguasai ruangan itu sejenak. Ardiansyah tidak hanya menyerang aset dan kekuasaan, dia menyerang kehormatan dan kisah hidup mereka. Dia tahu bahwa meski Dewa berkuasa di dunia gelap, kehormatan di mata masyarakat dan ketenangan hati Naura adalah hal yang paling dijaga suaminya itu.

Dewa tertawa pelan, namun tawa itu tidak mengandung kebahagiaan sedikit pun, melainkan dingin dan penuh ancaman kematian. Ia menatap Naura, dan di matanya terlihat tekad yang semakin mengeras.

"Jadi dia memilih jalan terakhirnya. Dia berpikir dengan membuka masa lalu, dia bisa membuatku mundur? Dia salah besar. Justru dia baru saja menggali kuburnya sendiri lebih dalam." Dewa meraih tangan Naura, menggenggamnya erat seolah ingin meyakinkan wanita itu bahwa tak ada apa pun di dunia ini yang mampu memisahkan mereka.

"Kita akan datang, Dewa?" tanya Naura tenang, meski di hatinya ada gelombang kekhawatiran. Ia tahu risiko yang akan mereka hadapi. Di tempat terbuka, di tengah keramaian, di bawah sorotan mata banyak orang, bahaya bisa datang dari arah mana saja.

"Kita akan datang," jawab Dewa tegas. "Kita akan datang berdua, sebagai suami istri, sebagai pemimpin keluarga Buwana dan Zafira yang bersatu. Kita akan datang, dan di sana... di depan mata seluruh kota, kita akan akhiri permainan kotor ini selamanya. Dia ingin mengekspos masa lalu? Biarkan saja. Karena kebenaran yang sesungguhnya bukanlah kebencian yang dia tanamkan, melainkan cinta yang tumbuh dan mengalahkan segalanya."

Dewa berbalik menatap Rian dan Sera, aura pemimpin yang kejam dan tak tergoyahkan kembali terpancar kuat dari seluruh tubuhnya.

"Rian, siapkan pasukan terbaikmu. Penuhi setiap sudut lokasi itu dengan anak buah kita, meski harus menyamar sebagai tamu, satpam, atau bahkan pekerja bangunan. Jangan biarkan ada celah sedikit pun. Setiap gerakan Ardiansyah harus ada di bawah pengawasan kita. Sera, kau urus semua dokumen balasan kita. Kumpulkan semua bukti kejahatan dia yang tersisa, siapkan untuk diluncurkan tepat saat dia membuka mulutnya. Kita akan serang balik lebih cepat dan lebih keras dari yang dia bayangkan."

"Siap, Tuan!" jawab Rian dan Sera serempak dengan penuh keyakinan, lalu bergegas keluar untuk menjalankan perintah.

Saat tinggal berdua saja, Dewa menarik Naura ke dalam pelukannya yang kuat dan hangat. Ia mencium ubun-ubun istrinya lama sekali, seolah ingin menanamkan rasa aman yang mendalam.

"Ingat satu hal, Naura. Apa pun yang terjadi besok, seberapa pun berbahayanya situasi itu... jangan pernah menjauh dariku. Di sisi kiri atau kananku, di belakangku atau di depanku, kau harus selalu ada dalam jangkauan tanganku.

Malam itu, kota itu diselimuti ketegangan yang tak kasat mata. Di tempat persembunyiannya, Ardiansyah tersenyum licik, yakin bahwa rencana nekanya akan menghancurkan kekuasaan Dewa Buwana. Ia tidak tahu, bahwa di istana megah itu, dua jiwa yang sudah ditempa oleh rasa sakit dan cinta, sedang bersiap melancarkan serangan balasan terbesar yang pernah dirasakan musuh mereka.

1
Rara M.
wow 💗🎈👻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!