Empat bersaudara Jafar, Ira, Iskan, dan Tina harus berjuang melawan kehidupan yang keras dan tidak adil bagi mereka, yang dibuang dan ditelantarkan oleh kedua orang tua mereka.
Jafar, sebagai kakak tertua yang kini masih duduk di kelas 12 terpaksa berhenti sekolah dan mencari pekerjaan, serta banting tulang untuk menghidupi ketiga adiknya yang masih sekolah.
Dan Ira, yang kini baru duduk di kelas 10 berusaha dengan sangat baik, belajar dengan giat dan bekerja paruh waktu untuk membantu sang kakak.
Serta Iskan, yang kini masih duduk di kelas 8 selalu bertugas untuk menjaga adik bungsunya-Tina yang masih duduk di kelas 5 SD.
Masalah demi masalah terus berdatangan kepada mereka. Membuat hidup mereka sangat menderita dan terkadang tertimpa oleh rasa putus asa. Lantas, akankah mereka berhasil membuat kehidupan mereka menjadi lebih baik?
Yuk, ikuti kisah mereka. Jangan lupa like dan komen yah! Semoga para readers suka ama ceritanya.
Selamat membaca!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina0801, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep. 6
Selama pelajaran berlangsung untuk kali pertamanya, para guru dan teman satu kelas Iskan merasa tenang sekaligus aneh dengan suasana kelas yang tidak biasa ini. Melihat Iskan yang tak lagi membuat onar dan serius dalam belajar membuat semua orang heran dan bingung apa yang terjadi padanya.
Iskan yang berandalan, seharian ini sangat sopan dan teladan. Ia bahkan berpakaian dengan rapih dan benar kali ini. Seharian pun yang ia pandangi hanyalah buku pelajaran. Perubahannya membuat sedikit merinding orang-orang.
Namun, di depan mata Maya Iskan berubah menjadi lebih keren dari sebelumnya. Bahkan perhatiannya seharian ini tak lepas dari Iskan. Sampai akhirnya jam sekolah telah usai. Iskan sedang berjalan pulang keluar dari gedung sekolah bersama dua teman dekatnya itu.
"Bro! Ke warnet, yuk!" ajak Panji.
"Sorry, Ji. Gue gak ikut, yah?" sambar Iskan menolaknya.
"Kenapa lagi? Jangan bilang loh masih mau belajar?" sahut Ridwan.
"Nggak. Gue harus jemput adik gue. Terus gue ada urusan setelahnya," balas Iskan lagi.
"Yah, gak seru dong kalu loh gak ikut," rengek Panji.
"Gue duluan yah, Bro!" seru Iskan mengabaikan ajakan mereka dan bergegas pergi lebih dahulu untuk menjemput Tina.
***
Seperti biasa Tina menunggu salah satu kakaknya menjemput di depan sekolah. Mendadak langit berubah menjadi hitam. Awan mendung disertai angin yang cukup besar. Tina hanya bisa berjongkok di tempatnya sambil berharap salah satu kakaknya cepat datang menjemput dirinya.
Hujan pun tak lama turun dengan deras. Tiba-tiba seseorang ikut berjongkok menemani Tina di sana. Sementara semua murid sudah pulang menjadi sekolah menjadi hening dan sepi.
Tina menoleh ke sampingnya. Ia dapati orang tersebut tengah tersenyum lebar padanya.
"Kok belum pulang?" tanyanya.
Tina tak langsung menjawab dan kembali menundukkan kepalanya. "Kamu sendiri?" jawab Tina malah bertanya balik padanya.
Anak lelaki itu menghembus nafas berat. "Belum dijemput. Papah dan Mamah pasti lagi sibuk nyari orang buat jemput aku. Selalu saja seperti itu," jawabnya.
Tina mengangkat kepalanya dan menoleh padanya lagi. "Kenapa?"
"Tentu saja, itu karena Mamah dan Papah selalu sibuk bekerja. Kamu bagaimana? Kenapa masih duduk diam di sini? Apakah kamu juga menunggu jemputanmu?"
Tina lagi-lagi menunduk diriingi dengan anggukan kali ini. "Mmm... Aku menunggu kakakku pulang sekolah supaya bisa menjemputku."
"Oh... kenapa tidak orang tuamu saja yang jemput?" tanya anak lelaki itu lagi yang tidak lain adalah Al, menyinggung perasaan Tina.
Tina sontak menatapnya dengan sorotan mata sedih dan penuh kerinduan.
"Mereka tidak ada. Aku tak punya orang tua," jawab Tina.
Seketika suasana menjadi canggung. Al merasa tak enak setelah mengetahuinya.
"Sorry, aku gak tahu," ucapnya.
Tina hanya melontar senyum kecil untuknya. Sejenak mereka terdiam dan tak saling bicara. Suasana menjadi hening. Hanya terdengar suara hujan yang turun dengan deras.
"Mmm ngomong-ngomong, aku belum tahu namamu? Siapa namamu?" tanya Al membuka lagi obrolan sambil mengulurkan tangan.
Jujur Tina merasa sangat tersentuh saat ia menanyakan namanya. Sejauh ini, tidak ada orang yang mau bicara dengan Tina. Dan Al membuat Tina merasa ada diantara mereka.
Dengan senang hati Tina menjabat tangan Al. Lalu, ia pun memperkenalkan dirinya pada Al.
"Tina. Namaku Tina."
"Tina? Senang bisa berkenalan denganmu. Mari kita menjadi teman mulai saat ini."