adult romance ❤
Kecantikan Alya Sanjaya yang membuat kaum adam rela bertekuk lutut,bahkan kecantikannya membuat Daffa Rahardian, suami Alyza Putri Pratama, kembar tidak identik dari Alya, mengejarnya untuk mendapatkannya dan menjadikannya istri dan ibu dari anaknya.
"Aku berharap akulah yang dipilih papa Reza dan mama Emy untuk diasuh mereka, tapi mereka malah memilih Alyza dan membuangku..."*Alya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nophie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Keluar bersama
POV Daffa
Gak tahu sejak kapan… tapi perasaan nyaman dan senang selalu muncul ketika aku berdekatan dengan Alya. Apakah berawal dari rasa kasihan melihat nasib Alya yang sangat berbeda dari nasib mendiang Alyza yang selalu dipenuhi oleh kasih sayang dari mertuanya .Tapi kayaknya bukan karena kasihan. Aku rasa ini adalah cinta pada pandangan pertama. Aku, Daffa Rahardian menyukai Alya dari pertama.kali bettemu. Ini gila!! Padahal aku baru pertama kali bertemu pas pemakaman Alyza, istriku. Secepat itukah move on?
PoV end.
Oleh karena itu, Daffa ingin mengajak Alya keluar. Karena selama disini, orang tua kandungnya pun tidak pernah bisa membuat Alya luluh dan bersikap hangat pada mereka.
Sehingga Alya semenjak datang ke tempat ini, belum pernah sekalipun keluar,
paling hanya makan malam diresto 2 kali.
Alya banyak menghindari interaksi dengan papi maminya,
seakan tidak ingin banyak masalah, walaupun katanya dia sudah memaafkan apa
yang telah terjadi sebelum mommy Almira berangkat ke Inggris dan katanya Alya
sudah tidak menyalahkan kedua orangtuanya. Orang tuanya pun tidak memaksa, mencoba memberi ruang dan waktu bagi Alya, karena
mereka tahu tidak mudah menerima kenyataan itu.
“Yuk, baby El sudah siap nih daddy!” kata Alya sambil
menggendong baby El, sedangkan stroller dan perlengkapan baby El dibawa oleh
mbak Ani, dan menyerahkannya pada Daffa.
Walau biasanya, Daffa dan Alya jarang bertegur sapa, dan
biasanya Alya sangat datar dan cuek pada Daffa, tapi perkataan Alya barusan
seperti tersirat hubungan mereka akrab, dan itu semua karena baby El. Daffa
tahu bahwa Alya hanya mencoba membangun komunikasi yang baik antara daddy dan baby El.
“Baiklah mommynya baby El… ayo kita berangkat… pasti baby El
sudah tidak sabar mau jalan jalan sama mommy dan daddy yaaaa….” Lanjut Daffa
sambil mencium pipi chubby baby El yang ada di gendongan Alya. Saat itu, wajah
Daffa menjadi sangat dekat dengan tubuh Alya, dan pastinya aroma vanilla manis
yang memikat milik Alya memenuhi rongga hidung Daffa. Jadi pingin meluk trus
nyium deh. Pikir Daffa lagi.
“Ini tuan, semua
perlengkapannya non Elena sudah ada semua di stroller.” Kata baby sitternya
sambil menyerahkan stroller ke hadapan Daffa, yang membuat Daffa tersadar dari
lamunannya.
Daffa kembali memandang Alya seperti remaja ABG yang
menggendong bayi mungil yang lucu dan menggemaskan.
“Ayok mommynya baby El, kita berangkat…” kata Daffa sambil
mendorong stroller keluar, rasa hati ingin sambil memeluk ALya, tapi takut
nanti Alyanya terkejut malah bisa batal acara keluar siang ini.
Dan Alyapun tidak protes dengan panggilan Daffa yaitu ‘mommynya
baby El’ tadi, ini membuat Daffa sedikit bahagia karena berarti Alya tidak
menolak keberadaannya.
“Hei.. kalian mau kemana?” Tanya Mami Emy kebingungan melihat
Daffa dan Alya hendak pergi membawa baby El.
“Mau keluar membeli perlengkapan baby El ke mall, Mi..Mami mau ikut?” Tanya Alya dengan sopan. Nada suaranya hanya biasa, belum sehangat kalau Alya berbicara dengan mommy Almiranya. Tapi ini sudah merupakan
perkembangan yang baik karena dia sudah merespon dengan sopan dan tidak ketus
seperti dulu.
Daffa sudah kelabakan, dalam hati dia berdoa supaya mami Emy menolak ajakan Alya, karena kalau mami Emy bilang iya maka hancurlah rencananya untuk pergi berdua dengan Alya.
“Enggak ah.. sebentar lagi mami mau ada arisan, sebenarnya mami mau kenalin kamu sama temen temen mami, siapa tahu kalau ada anaknya teman mami yang punya anak laki dan bisa di jodohin ke kamu Al… minimal kenalan dulu… kamu disini banyak dirumah aja soalnya.” Kata mami Emy lagi. Perkataan mami sontak membuat membuat bahagia dan jengkel si Daffa. Daffa senang karena mami gak mau ikut dan tidak menghancurkan acara ‘kencan’nya bersama Alya. Tapi Daffa juga sekaligus jengkel karena Alya mau dijodoh kan dengan anak temen arisan maminya. Gak usah mereka, Daffa aja mau kok jadi pacar sekaligus kalau dijodohkan bisa jadi suami Alya.
“Mami… Alya ga suka dijodohin yaa… “kata Alya sambil memutar bola matanya, tanda sebal dengan perkataan maminya.
“Iya enggak di jodohkan … dikenalkan… supaya kamu ada teman
selama disini..” kata mami masih tidak mau kalah.
“Udahlah Mi… Daffa berangkat dulu… Keburu sore, bye mamiiii” seru Daffa sambil mendorong Alya untuk cepat keluar. Daripada nanti panjang urusannya dengan mami kalau ditanggapin terus.
“Bye mii..” Alyapun berpamitan dengan kondisi didorong dorong oleh Daffa..
***
Hening dan canggung
Begitulah suasana di dalam sebuah mobil yang berisi 2 setengah anak manusia,
dikatakan setengah karena si baby Elena kan masih kecil jadi dihitung setengah
oleh author. ( he he he)
“Al.. kamu kok diam aja… kamu gak suka keluar?” Tanya Daffa
memecah keheningan didalam mobil.
“Enggaklah… cuman aku gak ada memories sama sekali dengan kota ini.” Desah Alya
sedikit sendu.
“Apa kamu masih sedih? Ceritakan saja… aku siap dengerin
mommynya baby El…” kata Daffa sambil menyentuh sedikit tangan Alya yang sedang menggendong baby El yang
tertidur dalam pelukkannya.
Daffa ingin menggenggam jari Alya , tetapi Daffa takut kalau
tingkahnya akan membuat Alya menjadi illfeel atau yang lebih parah dia akan
menjadi takut dengan Daffa.
“Ehm, apa yang harus diceritakan? Gadis yang dibuang orang tuanya karena adat? Agar saudara kembarnya tidak sakit sakitan? Kisah yang gak penting diceritakan tetapi terlalu sakit untuk dijalani.”kata Alya dengan nada
sarkas.
“Masih sakit hati dengan itu, mommy?” ahhh kayaknya panggilan ‘mommynya baby El’ sudah menjadi panggilan kesayangan Daffa pada Alya, mungkin Alya juga gak terganggu dengan panggilan itu, karena dia juga gak
protes walau Daffa berulang kali memanggilnya dengan sebutan itu.
“Hemm, maaf kalau kamu tersinggung… karena yang aku
bicarakan adalah tentang Alyza , mendiang istrimu. Dia menikmati semua yang
terbaik sejak dia lahir dan aku…mungkin kalian tidak mengerti…” Bisik Alya
lirih dengan nada sedih, walau tidak ada air mata lagi yang menetes dipipinya.
“Mungkin aku belum mengalami apa yang kamu alami, tapi aku
mencoba mengerti dan menyelami kesedihanmu… “ kata Daffa kini satu tangannya
sambil menggenggam tangan Alya, seakan ingin memberinya kekuatan.
Alya terdiam, matanya memandang pemandangan di luar mobil
yang seakan menari nari di pelupuk matanya. Tidak ada tangisan disana, hanya
gurat kesedihan .
“Apa aku tidak ditakdirkan untuk bahagia?” Tanya Alya lirih,
tapi perkataan itu masih bisa didengar dengan jelas oleh Daffa. Daffa tidak
meresponnya secara langsung, jujur dia juga bingung bagaimana menghibur Alya.
Tangan Daffa masih menggenggam tangan Alya, dan Alya pun hanya membiarkannya, membuat Daffa berpikir kalau Alya tidak keberatan dengan apa yang ia lakukan.
.
.
.
TBC
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Thank you readerrr
minta like, vote dan rate nya donggg
jadi habis baca, tinggal tekan tombol like dan komen yaaa....
biar authornya tambah semangat dalam menulis
makasih readerrr ... God bless youuuu
mudah banget muve on...bedalah sama perempuan suka mikir 2x
mksih byk
maap
:)