Putri seorang gadis berusia 17 tahun. Harus rela menerima kenyataan dijodohkan dengan seorang tentara berpangkat Lettu dari kesatuan Angkatan Udara skuadron pesawat tempur. Seperti gadis kebanyakan seusainya. Alias lagi masa puber-pubernya, dan zaman sekarang lagi demam-demamnya K-POP. Tentu dia mengidam-idamkan memiliki pacar seperti Oppa-Oppa Korea. Meski calon tunangannya ganteng dan berpangkat. Tapi masa, dia nikah sama om-om?
Ken yang saat ini menginjak usai 33 tahun. Tak menyangka akan mendapatkan malapetaka ini. Sejak ditinggal kekasihnya 5 tahun silam. Dia belum siap menjalin hubungan lagi. Tapi sekarang dia bisa apa? Tambah bikin suntuk lagi, kenapa lah calonnya cabe-cabean?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonelondo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6 Putri Datang
Oke, Gengs... Sekarang kita maju ke depan ya. Ke cerita setelah pembacaan surat wasiat, alias setelah acara pertunangan Ken dan Putri.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
KEESOKAN HARINYA SESUDAH ACARA PERTUNANGAN KEN DAN PUTRI
Cuitan burung melingkupi rumah bercat putih dan kelabu. Suara kebrisikan ayam pun meramaikan suasana. Rumah yang terletak di pinggir kota itu memang kalau pagi ramai. Biasa hewan kan, kalau pagi suka mengeluarkan suara. Begitu pula yang terjadi dengan binatang peliharaan di sana.
Hari ini masih libur. Bukan hanya Ken, Sabtu-Minggu bapaknya pun libur. Sebenarnya nggak jadi patokan juga kalau weekend bapaknya libur. Namanya dia pemilik usaha. Jadi suka-sukanya menentukan hari libur.
Usai bercengkrama dengan hewan terakhir peliharaannya, bapaknya masuk rumah. Istrinya lagi menyuci di belakang.
Ken sudah 30 menit telentang di kolong mobil. Biasa, laki-laki suka mengisi waktu luang dengan mengutak-atik otomotif, atau barang elektronik. Tiba-tiba ada suara menggema menggoyangkan mobilnya.
Bug! Bug! Bug!
Lelaki itu terkejut lekas mencari siapa dalang pembuat keonaran tersebut. Matanya tertuju ke arah di ujung kakinya. Ada sepasang kaki kecil yang telapaknya terbalut sepatu kets berwarna pink. Terus saja menendang-nendang mobilnya.
Bug! Bug! Bug!
Siapa sih?!
Dengan muka kesal Ken mendorong alas di bawah badannya. Yang berfungsi melindungi tubuhnya biar gak kotor. Lalu saat tubuhnya sudah keluar dari kolong mobil. Namun dengan keadaan masih telentang. Seketika matanya terpana melihat dua kaki ramping, putih, dan mulus, terpajang nyata di penglihatannya.
Jadi ternyata pembuat onar itu adalah seorang gadis. Gadis itu memakai celana pendek yang minim. Hanya menempel lekat pas di pantat. Wajar sebagai laki-laki, jika pria itu terpana.
“Om, mau nanya dong! Ini rumahnya Om Ken, bukan?”
Ken berdiri lalu memperhatikan lagi gadis itu. Namun kali ini dari ujung kaki hingga ke kepala. Perasaan dia nggak punya kenalan ABG. Siapa ya?
Maklum, dua orang itu saat acara tidak ada yang saling lihat.
“Om!” tegur gadis itu.
“Kamu siapa?” Ken mengerutkan kening.
“Idiiihh... Om mau tahu aja, genit amat! Udah deh, cepetan jawab. Ini rumah Om Ken, bukan?”
Ini anak siapa sih? Udah nggak sopan. Maksa dia lagi jawab. Udah gitu, dia dikatain genit lagi!
Ken menurunkan badan dia malas meladeni. Lebih baik dia melanjutkan aktifitasnya lagi saja. Lagi pula, dia nggak kenal.
“Om! Yeee... Ditanya juga, malah dicuekin. Om! Om! Om!" seru gadis itu, sambil menendang-nendang mobil itu lagi.
Bug! Bug! Bug!
“Putri...,” teriak bapak Ken, membuat dua orang itu serentak jadi terpana.
Namun yang satu, alias yang di kolong mobil. Terkejut karena ternyata gadis itu calon istrinya. Sedangkan yang satu lagi takut yang memanggilnya itu adalah orang yang dicarinya.
Bapak tua itu tadi lagi ada di ruang keluarga. Merasa ada suara ribut-ribut di garasi. Dia penasaran jadi menengok di jendela. Nggak disangka ternyata calon mantunya datang.
Putri memundurkan tubuhnya atas reaksi riang orang itu yang berjalan mendekatinya.
Jadi gadis itu berpikir, bapak Ken itu adalah Ken. Maklum, saat acara dia pun nggak peduli dengan orang-orang yang hadir.
“Loh! Kok kamu ke sini sendiri? Mana papi, mamimu?” tanya bapak Ken setibanya, sambil melihat sekitaran Putri.
“Om, siapa?”
“Loh! Masa, kamu nggak kenal? Om ini, bapaknya Mas Ken.”
Fiuh!
Putri bernafas lega di dalam hati. Lalu dia merespon.
“Oh!”
"Papi mamimu mana?" tanya bapak Ken lagi.
"Putri sendiri."
"Oo... Sendiri. Ya udah. Ayo, masuk."
Kemudian mereka berjalan. Sesampai mereka di dalam, Putri disuruh duduk duluan di ruang tamu. Karena bapak Ken mau memanggil istrinya dulu di belakang. Tak lama, bapak tua itu bersama istrinya datang bersama menghampiri Putri.
“Loh! Putri...," tegur ibu Ken, setiba mereka.
Lalu mengambil posisi duduk di depan tamu mereka, dan di ikuti oleh suaminya di sisinya. Kemudian saat ibu tua itu mau lanjut bicara, dia mengamati dulu paha mulus yang terpajang di depannya. Begitu pula suaminya, tadi di garasi dia nggak begitu mengamati.
Orang tua mana yang gak bengong lihat calon mantu pakai baju begitu. Untung, Putri calon mantu pilihan. Kalau gak, pasti sudah di cut! Selain itu, mereka pun sadar calon mantu mereka masih remaja. Biasanya, senang pakai bawahan pendek.
“Ehem!”
Ibu Ken berdehem kecil untuk mengembalikan fokusnya. Begitu pula suaminya.
"Ehem!"
"Kok, Putri ke sini sendiri?”
Ibu Ken kemudian bicara apa yang mau dikatakannya. Tadi suaminya ada memberi tahu.
“Kan, Putri hanya main aja."
Putri berbicara sambil melihat-lihat isi di dalam rumah itu. Memang gadis itu nggak membawa tas besar.
"Oo... Gitu."
“Putri tadi di luar ada ngobrol apa sama Mas Ken? Tadi kok bapak dengar ribut-ribut?" tanya bapak Ken, ingin tahu.
“Oh! Itu, Om Ken.” Putri melempar pandangan ke luar kaca.
“Om...?” kaget orang tua Ken serentak.
“Putri jangan manggil, Om. Manggilnya, Mas Ken." Ibu Ken mengingatkan.
“Itu kalau umur kita dekat, Tante... Umur Putri dan Om Ken kan jauh...” Putri berkata sesuai pemahamannya.
“Tante...?” seru mereka lagi.
"Kok manggil Ibu, Tante sih?" protes Ibu Ken lagi.
“Terus kalau manggil Ibu, Tante. Dan Mas Ken, Om. Manggil Bapak apaan, Putri?”
Bapak Ken jadi penasaran untuk panggilannya, dan karena hal itu juga dia jadi melupakan apa yang tadi ditanyanya.
“Ya, Bapak Om Ken." Putri bicara sembari menggoyang-goyangkan kakinya.
Orang tua Ken saling lihat-lihatan. Memang sungguh aneh. Masa, calon mantu manggil, Tante, dan Om? Eh, Bapak Om Ken deh! Terus ke calon suaminya, Om? Sudah kayak orang jauh, dan nggak kenal saja. Bapak Ken berbisik ke telinga istrinya.
“Ya udah, kita biarin aja. Anak umur segini suka susah kalau dipaksa. Mood-nya suka nggak stabil.”
"Iya sih!" Ibu Ken mengangguk.
“Putri kok tahu, rumah Bapak Om Ken dan Tante?” Bapak Ken jadi menuruti kemauan Putri.
“Tahu aja!" balas Putri singkat.
“Mami, Papi, tahu nggak Putri ke sini?”
“Om, Tante, nggak ada air apa? Putri haus nih!" Putri merespon lain.
“Oh! Iya, iya.” Ibu Ken berdiri lekas ke dapur.
Rupanya nggak lama suaminya menyusul, meninggalkan Putri di sana. Karena dia penasaran Putri ke sini sudah bilang apa belum. Jadi bapak tua itu berniat ingin menghubungi orang tua Putri. Lalu saat suaminya melakukan panggilan ke mereka. Istrinya jadi menunda mengantar minuman untuk Putri. Karena dia juga ingin tahu.
“Hallo?” sapa Bimo di sana.
“Mo, anakmu lagi di sini loh! Kamu tahu gak?” Bapak Ken bicara ke inti.
"Hah?!”
Bimo terkejut, dan lekas berjalan menemui istrinya yang sedang berada di kamar.
“Mi, Putri sekarang lagi di rumah Murni dan Adit loh!" ucapnya memberi tahu.
Sontak mami Putri yang lagi membereskan laci di lemari, lekas merespon.
“Hah?! Kok bisa? Kok anak itu bisa tahu rumah mereka?”
Bimo tidak menanggapi ucapan istrinya. Karena dia lebih ingin bertanya ke Adit tentang hal yang ingin diketahuinya.
"Dit, anakku ke sana sama siapa?"
“Sendiri. Jadi kalian nggak tahu anak kalian ke sini?” tanya bapak Ken, karena dia tadi mendengar omongan mereka.
“Nggak."
"Oala..."
“Kapan anak itu pergi ya, Pi? Tahu dari mana ya, dia alamat mereka? Apa jangan-jangan dia membongkar ruangan kerja, Papi?" Mami Putri di sana, mengajak bicara suaminya lagi.
"Ya, bisa jadi!" respon suaminya.
Bapak Ken saat acara temu kangen menulis alamat rumah mereka di secarik kertas, dan di letakkan papi Putri di meja kerja. Semalam saat orang tua Putri tidur. Putri masuk ke ruangan kerja papinya. Demi ingin lihat kayak apa rumah yang mau ditinggalkannya. Dia berniat mau mengecek dulu. Kalau ternyata gak enak, jadi nanti dia akan mati-matian menolak tinggal di sana. Karena itu lah hari ini dia datang. Jadi dugaan orang tua Putri benar. Lagian, sudah pasti benar. Karena dari mana juga Putri bisa dapat alamat rumah orang tua Ken.
"Telepon kalian di loud speaker dong... Biar enak kita bicaranya," tegur ibu Ken, karena suaminya ada melakukan itu.
"Oh iya!" respon papi Putri, lalu mengaktifkan mode itu.
“Anak kalian juga ke sini nggak bawa koper." Ibu Ken memberi tahu.
“Oh! Gitu?” seru mereka.
Karena penasaran, mereka jadi keluar dari sana untuk pergi ke kamar Putri. Ternyata memang barang-barang anak mereka masih ada. Setiba mereka di sana.
“Ya sudah, nanti aku antar Putri pulang,” pungkas bapak Ken.
“Jangan!" cegah Bimo.
Mendelik. "Kenapa?”
“Mumpung anakku di situ, ya sudah sekalian aja di situ.”
“Terus nanti tasnya?”
“Nanti kuhubungi anakku. Nanti kalian ikuti aja aturan main kita.”
"Oo... Ya sudah. Oke!"
Klik! Sambungan terputus.
10 menit berlalu. Terdengar dering suara di Hp Putri saat tiga orang itu sedang bercengkrama. Putri membuka tasnya untuk melihat siapa gerangan yang menelponnya. Yang ternyata adalah papinya. Dengan muka bete, dia mengangkatnya.
“Iya, Pi?”
“Huhuhu... huhuhu....”
“Papi, kenapa?” panik Putri, lekas berdiri.
“Mamimu darah tingginya kumat, Nak..."
Melotot. “Hah?!”
“Barusan Papi lagi ngobrol sama mamimu. Tentang kamu gak pergi-pergi ke rumah orang tua Mas Ken. Eh, tiba-tiba darah tinggi mamimu kambuh.”
“Aaa... Papi bohong pasti deh!” Putri bicara, dengan linangan air mata.
“Serius, Nak. Masa, Papi bohong. Papi udah nangis begini.... Kamu di mana? Kok nggak ada di rumah?”
Klik! Sambungan diputus oleh Putri.
Tentu anak itu gak mau mengatakan. Namun rupanya beberapa saat kemudian dia berubah pikiran. Karena ternyata dia nggak mampu pulang sendiri. Mungkin karena dia merasa bersalah atas apa yang terjadi pada maminya. Jadi dia butuh bantuan untuk ditemani sebab badannya gemetaran. Pastinya orang yang menemaninya, jadi membuatnya nanti ketahuan dia habis dari mana.
Putri menangis sesunggukan di teras. Menunggu orang tua Ken yang lagi merayu anak mereka agar mau mengantarnya. Sebenarnya bapak Ken bisa. Buktinya tadi ada bilang begitu ke orang tua Putri. Cuman karena mereka ini lagi didekatkan, dan Putri minta di antar Ken. Jadi bapak Ken tidak mengajukan diri.
“Ayo dong Mas, antar Putri... Kasihan kan, Putri...," rayu ibunya Ken.
“Huhuhu...” Putri terus menangis.
Ken memutar bola matanya bete. Dia bukan gak mau mengantar, cuman malas banget berdua dengan gadis itu.
“Ayo dong Mas, antar... Kasihan tuh anaknya nangis terus," rayu juga bapaknya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=@.@\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Pemberitahuan! Seminggu hanya 4 x terbit. Kalau ada waktu luang bisa 5. Tapi itu tergantung urusan real lifeku. Hari terbit tidak bisa ditentukan. Pokoknya seminggu begitu. Jadi ditunggu saja ya, Gengs...
maaf othor sekedar koreksi menurut saya🙏
sampai sekarang kalo baca pasti lupa kasih like karwna keasyikan baca
tengah malam tahan2 Tawa 🤣🤣🤣🤣
tengah malam ketawak2 sendiri Thor..
semangat trus ya