Pengumuman! sedang masa di revisi dari bab 85
Maaf, atas ketidaknyamanannya, mungkin akan ada pengubahan jalan ceritanya, terima kasih
Bagaimana jadinya ketika seorang wanita Mafia bertukar tubuh dengan seorang gadis SMA yang merupakan kekerasan sekolah, tak hanya itu gadis itu juga merupakan putri dari cinta pertamanya? Akankah dia bisa menjalani kehidupan itu? Dan membantunya membalas dendam pada orang-orang yang telah menyakitinya? Simak kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon xianyan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
06
Saat sedang enak melamun. Tiba-tiba. .
Brak!!! mejanya di pukul dengan sangat keras, hingga membuat Ruksa terlonjak kaget dan tersadar dari lamunannya.
Di dalam hati ia sangat ingin mengutuk orang tersebut. Namun karena ia harus menjaga image bodoh nan polosnya ia terpaksa bersabar, tangannya mengelus dadanya pelan-pelan untuk menenangkan detak jantungnya yang sedang tidak beraturan.
Ia mendongakkan kepalanya dan mendapati seorang gadis dengan rambut coklat panjang lurus dengan memilki poni lucu di jidatnya, dengan fitur wajah blasteran indo jerman.
Gadis itu berdiri di sebrang mejanya seraya menatapnya dengan tatapan yang begitu sulit di artikan.
Kedua alis Ruksa mengernyit heran, apalagi seisi kelas tengah menatap kearahnya.
' Ini anak cantik, tapi nggak punya sopan santun, ' batin Ruksa.
" Hai, gue Laila. Salam kenal. " ucapnya seraya mengulurkan tangannya pada Ruksa.
Namun Ruksa tak langsung menerimanya, ia menatap lekat tangan itu kemudian menatap wajah gadis itu.
Aneh? Kenapa Dania tak pernah bercerita tentang gadis ini? Apa dia murid baru atau. . .
" Nama lo Dania kan? Gue denger, lo habis di pukuli sama Queensha yah. " ucapnya tiba-tiba. " Maafin teman gue yah, dia itu emang labil dari dulu nggak bisa jaga emosi, maklum lah anak pejabat sekaligus selebriti media sosial. " terangnya dengan raut muka menyesal. " Oh iya, ini adalah kali pertama kita bertemu, semoga kita bisa akrab. " tangan gadis itu kembali terulur, tapi sama seperti sebelumnya. Ruksa membiarkan tangan itu tetap melayang di udara.
Kringg!!! Kringgg!!!
Terdengar suara bel sekolah yang menandakan bahwa jam istirahat telah usai. Kendati begitu gadis itu belum pergi dari hadapannya dengan tangan yang masih terulur. Dengan wajah yang memperlihatkan deretan giginya yang putih nan rapih.
Saat hendak ingin menjabat tangan itu, tiba-tiba seorang guru masuk ke dalam kelas. Alhasil, gadis itu pun akhirnya pergi dari hadapannya.
Selama kelas berlangsung, gadis itu memberinya sebuah kertas yang bertuliskan bahwa ia ingin mengajaknya untuk pulang bersama.
Dan benar saja, setelah kelas telah usai, Gadis itu kembali menghampiri dan mengajaknya kembali untuk pulang bersama.
Ada yang aneh.
Untuk sementara waktu, Ruksa mengabaikannya, seraya mencari tahu niatan dari gadis itu.
Esok paginya, Gadis blasteran itu kembali mendekatinya, dengan alasan bahwa dia ingin meminta maaf atas nama Queensha. dan juga dia menyesal karena tak bisa mencegahnya.
Di dalam hati ia mencibir, dia pikir Ruksa tak tahu wajah aslinya, ia mendengus, sungguh acting yang sangat luar biasa. Gadis itu patut menerima piala oscar.
Untuk hari ini, Ruksa sengaja menerima tawaran gadis itu, lumayan, dari pada berdesak-desakkan di dalam angkot, yang sering di penuhi bau keringat yang sangat menyengat hidung.
Jika bukan karena malaikat maut itu, dia pasti tak perlu menderita seperti ini. Tapi tak apa, karena sebentar lagi ia akan meninggalkan kehidupan yang menyeramkan ini.
Mobil yang di kendarai oleh Laila merupakan sebuah kendaraan baru dengan keluaran edisi terbatas, bahkan Ruksa sendiri tak bisa memilikinya. Karena saking sulitnya untuk mendapat benda itu.
Selama di perjalanan, Laila bercerita bahwa dirinya dan Queensha sudah berteman sejak kecil, ia juga menjelaskan alasan sikap buruknya yang tercipta karena ayahnya yang begitu tegas. Maka dari itu dia sangat tertekan.
' Iya, tapi bukan berarti dia harus melampiaskannya pada orang yang tak bersalah. ' Batin Ruksa.
Lagi pula ia juga memiliki ayah yang tegas, namun Ruksa tak pernah melampiaskannya pada orang yang tak bersalah seperti yang di lakukan Queensha pada Dania.
Tak lama kemudian, keduanya sampai di depan sebuah rumah berukuran sedang, dengan halaman yang di penuhi tanaman sayuran, serta beberapa tumbuhan bunga warna warni yang mempercantik tampilan halaman kecil itu.
Saat hendak turun, Ruksa terlebih dahulu mengajak wanita itu masuk kedalam rumahnya, yang ternyata langsung di terimanya tanpa ada keraguan sedikit pun.
Entah apa yang di rencanakan gadis itu. Namun untuk sementara Ruksa memilih terlihat bodoh dan polos.
Dengan Ruksa yang turun lebih dulu, gadis itu dengan patuh mengikutinya dari belakang.
Saat itu kebetulan, ayah Dania masih bekerja di tokonya, jadi di rumah itu hanya ada Ruksa dan juga Laila.
" Ayo masuk, maaf yah rumahku kecil banget dan juga kumuh. " kata Ruksa untuk sekedar basa basi.
" Ih, jangan gitu dong, kita kan teman. Lagi pula gue nggak peduli rumah lo kecil atau pun jelek. " timpal Laila dengan senyum di wajahnya.
Ruksa pun tersenyum, lalu membukakan pintu, keduanya pun masuk ke dalam rumah.
Setibanya di dalam rumah, terdapat dua kursi panjang yang berada tepat di tengah rumah dengan sebuah tv led berukuran 32 inci.
" Mau aku buatin minum? " tawar Ruksa.
" Boleh. " timpalnya. " Oh iya, apa kamar lobyang ini? " tunjuknya
pada kesebuah pintu yang terdapat nama DANIA yang terbuat dari sedotan warna warni.
Tanpa menunjukkan rasa curiga, kepala Ruksa mengangguk.
" Iya, Kenapa memangnya? " timpalnya seraya kembali bertanya.
" Bolehkah aku masuk? "
Ruksa terdiam sejenak, ia tak langsung menjawab begitu saja.
" Nggak boleh yah? " Tanyanya kembali dengan raut wajah memelasnya, kepalanya menunduk seraya memainkan kesepuluh jari tangannya.
Jika bukan karena dirinya berada di tubuh Dania, Ruksa mungkin sudah memukul wajah palsu itu lalu membongkar kedok aslinya. Namun kali ini ia harus belajar sabar.
Kedua sudut bibirnya terangkat ke atas, kepalanya mengangguk seraya memperbolehkan gadis itu masuk ke dalam kamarnya.
Setelah mendengar jawaban dari Ruksa, gadis itu langsung kegirangan lalu memeluk tubuhnya. Sedangkan dirinya mencebikkan bibirnya, ia merasa geli dengan kepura-puraan ini.
" Kalau begitu aku pergi ke dapur dulu yah sebentar. "
Laila pun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Ruksa pun lalu pergi menuju dapur, membiarkan Laila berbuat sesuka hatinya.
Selama di dapur Ruksa termenung sejenak, menyadari bahwa tak ada satupun bahan yang bisa ia buatkan minuman.
" Masa iya sih gue kasih dia kopi hitam? " gumamnya.
Tangannya menggaruk tengkuknya kebingungan, hingga pada akhirnya ia hanya menyajikan segelas air putih dengan satu toples berisikan makanan ringan.
Setelah kembali dari dapur dia tak menemukan gadis itu di manapun, bahkan di dalam kamarnya pun tak ada.
" Kemana itu anak pergi? " tanyanya pada diri sendiri. " Gila, gue capek-capek bikin air minum, eh dia malah nggak ada, nggak sopan banget. " Ia pun meletakkan nampan berisikan segelas air putih dengan setoples berisikan makanan ringan, " Suka heran sama kelakuan anak zaman sekarang, "
Karena tak ingin menyia-nyiakan segelas air itu, mau tak mau Ruksa pun meminumnya sendiri seraya menonton tv.
Di saat tengah asik menonton, dari sudut matanya ia tak sengaja melihat secarik kertas yang di lipat dan simpan di atas meja.
" Maaf, aku ada urusan mendadak, jadi aku harus pergi. Selamat bertemu di sekolah sekolah. "
Setelah membaca catatan itu, Ruksa pun terkekeh.