NovelToon NovelToon
Possessive Husband

Possessive Husband

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:863.1k
Nilai: 4.8
Nama Author: Puji Rahayu Ningsih

"Gak!! Aku gak mau nikah sama dia."Nadia menatap ibu tirinya tidak suka.

"Perusahaan papa kamu terancam bangkrut. Apa kamu mau jatuh miskin?"Meli mencoba membujuk Nadia yang keras kepala.

Nadia adalah anak tunggal dari pasangan Aldi dan Dina. Dulu keluarga itu sangat harmonis, tapi semenjak mamanya meninggal dan papanya nikah lagi dengan Meli, Nadia seakan hilang jati diri. Dia menjadi gadis Nakal.

"Apa tidak ada jalan lain selain aku harus menikah dengan dia? Aku belum mengenal laki-laki itu, bagaimana mungkin aku bisa menikah dengannya? Oh tuhan...., Ayolah, aku ini masih mau bersenang-senang dengan masa muda ku. Pa, Plis..."Nadia meminta bantuan Aldi lewat tatapan matanya.

"Maaf sayang, kamu harus tetap menikah dengan dia. Papa yakin, kamu akan bahagia bersamanya."Aldi pergi begitu saja. Sedangkan Meli sedang tersenyum penuh kemenangan.

"Welcome air mata. Pernikahan gila yang tidak pernah aku inginkan. Jangankan menikah, untuk pacaran saja aku tidak sudi."Nadia mengepalkan tangannya erat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji Rahayu Ningsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6. jijik?

Tentu saja malam ini semua orang terpukau dengan penampilan Nadia. Lihatlah perempuan itu sekarang, dres yang dia pakai sangat pas di tubuh mungilnya. Rasanya Rehan ingin mengarungi perempuan yang beberapa waktu lalu sah menjadi istrinya. Hatinya sedikit tidak rela berbagi kecantikan istrinya dengan orang lain.

Malam ini Nadia mengenakan dres berwarna hitam yang terdapat pita biru di tengahnya. Rambut yang dia Gelung, serta poni yang dia tunjukkan, membuat aura kecantikannya bersinar.

Nadia berjalan dengan di gandeng oleh Rehan. Di atas Altar sana, Aldi berdiri dengan gagah. Aldi menatap Nadia yang juga menatapnya.

"Lihatlah perempuan yang berdiri di samping lelaki tampan itu, dia adalah putri ku. Nadia Zaen. Waktu seakan berjalan dengan cepat, sepertinya baru kemarin aku mengajarinya menaiki sepeda, tapi sekarang dia sudah bisa menjalani kehidupannya sendiri. Perempuan yang di persunting oleh Nak Rehan adalah gadis kecil ku dulu. Dia bukan perempuan manja seperti perempuan pada umumnya, dia adalah perempuan tangguh, dia selalu menghadapi masalahnya sendiri tanpa merepotkan orang lain." Aldi mengusap air matanya, matanya tidak lepas dari wajah cantik putrinya.

"Dia sangat mirip dengan mamanya, sifat penyayang dan baik hatinya, membuat saya bangga memilikinya." Cerita Aldi mengenai Nadia dulu, mengalir begitu saja.

"Sekarang dia tidak lagi menjadi tanggung jawab ku, sekarang putri kecil ku sudah milik Nak Rehan Mahendra. Untuk mu Nak, menantu satu-satunya Papa, papa titip Nadia. Bimbing dia, sayangi dia, lindungi dia, dan cintai dia. Aku percayakan dia pada mu." Aldi tidak lagi bisa menahan semua air matanya.

Nadia berlari menaiki Altar, dia memeluk papanya erat. Seburuk apapun sifat dan perbuatan papanya kepadanya, dia tetaplah papanya. Pangeran kuda putihnya.

"Aku menyayangi ayah." Aldi terkekeh pelan, dia rindu sifat manja putrinya yang sempat hilang dulu.

Rehan tersenyum melihat Anak dan ayah yang saling berpelukan. Dia menghampiri mereka berdua, ikut menghambur kedalam kehangatan yang tercipta antara Nadia dan Aldi.

"Aku berjanji, Nadia akan bahagia bersama ku." Rehan mengusap lembut rambut Nadia.

Mereka turun bersama. Membiarkan sang Mc kembali menghendel acara ini.

"Mari para tamu undangan sekalian, kita berdansa." Seru sang Mc dengan nada bahagia.

Suara musik romantis mengalun begitu indah. Rehan sedang berdansa bersama Nadia. Jarak mereka begitu dekat, hembusan nafas mereka menerpa wajah mereka masing-masing.

"Kamu sangat cantik." Semburat merah hadir di kedua pipi Nadia. Pujian yang Rehan layangkan untuknya membuat dia salah tingkah.

"Aku tidak sabar memakan mu nanti malam." Tubuh Nadia berkidik ngeri, Lelaki di depannya benar-benar mesum.

Wajah mereka semakin dekat, hampir saja mereka bertindak di luar batas dengan saling berciuman bibir, namun....

"Apa kalian benar-benar sudah tidak tahan? Tahanlah sebentar, kalian akan bebas melakukannya nanti." Melody tiba-tiba muncul bagaikan setan di tengah-tengah Rehan dan Nadia.

"Ishh..., kamu apa-apansih, Nad?!" Kesal Nadia, dia sangat malu kepada Melody. Hampir saja tadi.

"Sorry aku telat datang, aku kesana dulu. Sepertinya ada banyak berondong disana." Melody tersenyum canggung, dia telah mengganggu pengantin baru.

"Tentu, ada banyak berondong yang menunggu mu disana. Cepatlah kamu pergi Nona." Ucap Rehan, penuh penekanan.

"Baiklah-baiklah, aku tidak akan mengganggu kalian lagi. Bay..." Melody melenggang pergi begitu saja.

Rehan menghela nafas kasar, dia menarik pinggang ramping Nadia hingga membentur dadanya.

"Mari kita ke kamar, aku tidak mau menjadi tontonan mereka karena menelanjangi mu disini." Rehan berucap serak.

"Ba_baiklah." balas Nadia gugup.

Mereka berdua sudah berada di dalam kamar. Rehan membuka kemejanya. Matanya menatap Nadia sayu.

"Aku menginginkan mu." Rehan mendekati Nadia yang sedang duduk di pinggir ranjang.

"Tapi..."

"Kamu istri ku, bolehkan aku meminta hak ku?" Nadia mengangguk ragu. Mungkin ini saatnya dia melepas keperawanannya. Lagi pula Rehan suaminya, sudah menjadi kewajibannya untuk melayaninya.

"Lakukanlah dengan pelan." Rehan mengangguk, dia ******* bibir Nadia dengan lembut.

"Ah..." Suara desahan itu lolos begitu saja dari bibir Nadia.

***

Semua orang sudah pulang. Pagi ini mentari bersinar terang. Wajah Nadia memerah ketika mengingat apa yang dia lakukan semalam dengan Rehan.

Nadia masih bergelung dengan selimutnya. Dia seakan malas hanya untuk beranjak dari tempat tidurnya.

"Kamu ingin sarapan apa?" Rehan sudah rapi dengan baju santainya. Celana boxer serta baju putih polos menjadi pilihannya. Tapi dari mana lelaki itu mendapatkan baju ganti?

"Aku tidak ingin sarapan." Nadia menutupi tubuhnya yang telanjang. Dresnya tergeletak di lantai kamar hotel.

"Tidak perlu kamu tutupi, aku sudah melihatnya tadi malam. Mandilah terlebih dahulu, baju ganti mu sudah ku siapkan dan aku letakkan di atas nakas." Rehan tersenyum kepada Nadia.

"Tetap saja aku malu sama kamu. Pejamkan mata mu, aku ingin pergi ke kamar mandi. Badan ku sudah lengket semua." Suruh Nadia, ketus.

"Kalau aku tidak mau menutup mata ku?" Tantang Rehan, menyeringai.

"Jangan harap aku mau memberi kamu jatah lagi." Sepertinya ancaman yang Nadia berikan tidak main-main.

"Oh, baiklah." Pasrah Rehan.

Nadia menyibakkan selimutnya. Bercak darah bekas tadi malam masih membekas di sprainya. Nadia merasakan nyeri di selengkapnya.

"Stttt...." Desah Nadia.

"Kamu kenapa?" Rehan bertanya dengan mata terpejam.

"Selengkangan ku sakit, ini semua karena mu." Nadia berjalan bagaikan orang yang baru saja di sunat.

"Mau aku gendong?" Tawar Rehan.

"Gak usah, dasar Modus." Tolak Nadia. Dia masuk kedalam kamar mandi.

Rehan sedang duduk di sofa kamarnya, dia menonton tayangan televisi yang menayangkan tentang kemewahan Resepsi pernikahannya dengan Nadia.

Rehan tidak kaget melihat tayangan seperti ini. Nadia adalah putri satu-satunya dari keluarga Zaen, meski papanya menikah lagi, Nadia tidak punya saudara angkat, karena mama tirinya Mandul. Sedangkan dirinya, Dia adalah pengusaha muda yang berhasil mendirikan berbagai perusahaan sendiri. Ketampanan dan kecantikan dirinya dan Nadia membuat semua orang menobatkan hari kemarin menjadi hari patah hati nasional. Terdengar lebay memang, tapi itulah faktanya.

"Rehan..." Panggil Nadia sambil berteriak.

"Ambilkan aku handuk serta semua baju ku." Pinta Nadia.

Rehan berjalan mengambil handuk yang dia letakkan di pinggir pintu, lalu dia mengambil baju dan perlengkapan Nadia di atas nakas.

Tangan Nadia muncul di pintu yang sedikit terbuka.

''Terimakasih." Ucap Nadia, tulus.

***

Mereka berdua sedang menikmati makanan di restoran yang terletak di depan Hotel milik keluarga Mahendra. Nadia seperti sedang menikmati makannya.

"Bagaimana kamu bisa tahu jika aku menyukai spegeti?" Nadia menelan mie yang sudah dia kunyah.

"Tentu aku tahu semuanya tentang mu, apa yang aku tidak tahu dari kamu?" jawaban Rehan membuat Nadia bungkam.

"Kalau makan jangan seperti anak kecil, belepotan." Rehan menyondongkan wajahnya kedepan wajah Nadia. Dia mengelap ujung bibir Nadia yang terkena caos. Coba tebak, Rehan mengelap sisa makanan yang berada di pinggir bibir Nadia mengunakan apa? Pasti kalian bingungkan....

Rehan mengusap bibir Nadia menggunakan jempolnya. Lalu Rehan memasukan jempolnya kedalam mulutnya.

"Huek, kotor." Nadia berkidik ngeri.

"Kamu gak jijik? Itu bekas makanan aku loh." Nadia mengambil tisu, dia mengelap sisa kotoran makanan yang berada di ujung bibirnya sendiri.

"Jijik? Ngapain jijik? Kamu istriku, terserah aku mau apa."

1
Muna Junaidi
Hadirrrr kembali thorrrr💃💃💃
Alyah Nasution
😂😂 lucu hahaha
Apih Nabila
lanjut kak
Teriyanti Yan
Musiknya terlalu brisik, sehinga suaranya kurang jelas
Rahayu
Kalau saya lanjut ceritanya masih ada yang baca?
Rita Erisha
visual + bio nya nadia donk thor
Rita Erisha
visual nadia nya donk thor
Andez Ajja
🤣🤣🤣😂😂😂😂resiko mas hhhhh
Andez Ajja
cerita xa sangat mnarik
Yana Saleh
next dong
Ulfa Sawani
asyik bacax
Ulfa Sawani
seru yaaa
Ulfa Sawani
ceritax seru yaaaa..pengen sepeti dlm cetita ini..
Reni Tri Cahyowati
lanjut thor
Onih Sumarni
.😁😁🤲
Wiwin Yustika Yustika
Lanjut dong
Öžôŕã
bunuh aja si rehan sebel aq
Öžôŕã
gedek gwe sma rehan,,,, cuma manis di mulut doang
Öžôŕã
knapa kagak keluar negri skalian thorr
Ni Made Partini
habis sampai sini Aja nih😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!