NovelToon NovelToon
SanuBari

SanuBari

Status: tamat
Genre:Romantis / Chicklit / Tamat
Popularitas:153.9k
Nilai: 4.9
Nama Author: Aris pujiono

Perjalanan hidup memang sangatlah rumit. Sanu, gadis cantik berambut keemasan memikul pundak untuk membahagiakan adik dan ibunya. Bekerja di Ibu Kota dari pintu satu ke pintu yang lain. Dari semangat menjadi letih dan mengeluh. Tapi, Sanu tidak pernah menyerah, demi sebuah impian.

Seorang pria yang mencintai Sanu, dengan diam membantunya. Bari, satu pekerjaan dengan Sanu. Salah satu alasan Sanu bertahan di perusahaan MLM.

Saling membantu, ada persahabatan, ada kekecewaan, pengorbanan dan juga ada cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aris pujiono, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ikut Ke lapangan

Jam lima subuh Sanu melihat Rina sudah bersiap berangkat kerja.

"Apa Kamu mau berangkat kerja, Rina. Ini kan masih pagi."

Rina tersenyum. " Aku berangkat dulu ya, Sanu. Jangan lupa, nanti kost di kunci.

Ucapan dari Rina sudah menjadi jawaban. Sanu mengangguk melihat Rina menutup pintu. Sanu pun segera mandi memakai pakaian yang diberikan Muna tadi malam.

Disana Sanu disambut pak Nazar yang berdiri di depan pintu.

"Pagi ...." Pak Nazar mengangkat tangan mencoba melakukan tos kepada Sanu. Sanu ikut mengangkat tangan melakukan tos dengan pak Nazar. Begitupun para karyawan kantor, setiap mau masuk mereka melakukan tos. Apa itu sebuah ritual? Atau apalah, Sanu belum mengerti. Kebingungan yang satu belum terpecahkan kebingungan yang lain muncul di benak Sanu.

Sanu diajak Pak Nazar duduk di ruang observasi. Ruangan sejuk bebas asap rokok. Sanu sangat menyukai desain ruangan ini. Berwarna hijau, warna yang dipercaya mendatangkan kesuburan.

"Kamu duduk di sini dulu, nanti akan ada temenmu," ucap pak Nazar.

Sanu mengangguk.

Pukul enam pagi, Sanu mendengar suara teriakan banyak orang. sepertinya mereka sedang melakukan sesuatu, telinga Sanu samar mendengarnya. Sanu penasaran ingin naik ke atas. Apa yang dilakukan orang-orang itu? Saat mau keluar dari ruangan, pak Nazar membuka pintu membuat Sanu terperanjat.

"Sanu mau kemana?" tanya pak Nazar.

"Mau ke toilet, Pak." alasan Sanu

"Toiletnya ada disamping."

Sanu segera keluar dari ruang observasi menuju toilet. Paling tidak Sanu bisa menghela napas karena kaget pak Nazar yang datang tiba-tiba.

Setelah sedikit tenang, Sanu kembali keruang observasi. Disana sudah ada tiga orang memakai baju hitam putih sama dengan Sanu. Pak Nazar mempersilahkan Sanu duduk hendak memberi pengarahan. Suara di lantai atas masih terdengar, kali ini bunyi seperti kendang dan orang ramai bernyanyi. Tapi Sanu lebih fokus mendengarkan pengarahan dari pak Nazar.

Sehabis itu Sanu diberikan selembar kertas pertanyaan. Sanu mengisi semua lembar kertas itu, lalu dikumpulkan di tangan pak Nazar.

Suara langkah kaki dan suara bising terdengar nyata di telinga Sanu tepat berada di samping ruangan observasi. Tiga karyawan kantor masuk ke ruang observasi. Mereka mengajak anak baru mengikuti mereka bertiga. Sedang Sanu bersama pak Nazar dibawa Naik kereta listrik. Sanu jadi teringat saat pertama kali datang ke Ibu Kota bersama Aida teman satu kampungnya.

Pak Nazar memberikan kartu trip syarat masuk kereta. Sanu berada di belakang pak Nazar. Langkahnya pak Nazar begitu cepat, hingga Sanu harus berlari untuk mengimbanginya.

Pak Nazar dan Sanu menunggu di peron sebelah kiri. Itu artinya pak Nazar akan mengajak Sanu berangkat ke arah timur. Kereta datang dari arah barat. Kereta pagi yang melintas dari barat begitu sesak dengan para penumpang. Pak Nazar segera masuk kereta diikuti dengan Sanu berdesak-desakan dengan lempang lainnya.

Sejenak, Sanu melihat setiap pemandangan Ibu Kota yang dilewati kereta listrik. terlihat kontras jika sanu melihat dari televisi. Ibu Kota dengan kemewahannya. Tapi pada kenyataannya banyak orang yang tinggal di kolong jembatan bahkan ada yang mandi, mencuci di sungai yang tidak layak untuk dikonsumsi manusia.

Pak Nazar menyadarkan lamunan Sanu.

"Stasiun berikutnya kita turun, Sanu."

Sanu mengangguk bersiap untuk turun di stasiun Gondangdia.

Pak Nazar dan Sanu turun dengan langkah cepat seperti dikejar waktu.

Sanu di ajak masuk perkampungan yang padat penduduk. Hampir semua rumah tidak ada halamannya. Sanu dan pak Nazar istirahat di sebuah Masjid. Pak Nazar sekali lagi memberi pengarahan untuk Sanu.

'Hari ini kamu cukup melihat apa yang saya lakukan. Nanti di amati ya, Sanu?" Ucap pak Nazar saat duduk bersila di depan Sanu.

Sanu mengangguk.

Pak Nazar terlihat menulis sesuatu di lembaran kertas kosong. Sanu belum mengerti apa yang ditulis pak Nazar. Sanu hanya berani memperhatikannya saja.

"Ayo kita mulai!" seru pak Nazar.

Sanu mengikuti kemana pak Nazar berjalan. Mengetuk rumah, memberi salam, lalu mencobakan alat pijat yang berbentuk lumba-lumba itu ke warga kampung satu persatu. Tak jarang pak Nazar juga ditolak bahkan ada ysng membentak. Tapi, pak Nazar tetap tersenyum kesemua warga. pak Nazar begitu pintar berbicara, hingga salah satu warga ada yang membeli alat yang di bawa pak Nazar. Satu dari dua alat pijat yang di bawa pak Nazar sudah terjual.

Siang tiba, waktunya istirahat. Pak Nazar melakukan kewajibanya sebagai seorang muslim. Setelah selesai, pak Nazar menghampiri Sanu duduk di teras Masjid.

"Dari apa yang kamu lihat, kesimpulannya apa?"

Sanu mengeryitkan dahinya tampak berpikir. "Jual alat kesehatan."

Pak Nazar tersenyum. "Semangat ya, Sanu."

Sanu tampak tidak mengerti, kenapa pak Nazar malah memberi semangat.

Kembali pak Nazar mengetuk pintu satu persatu menawarkan alat pijatnya. Setidaknya itu yang ada dipikiran Sanu. Tugas Sanu hari ini hanya mengamati, tapi cara pak Nazar berinteraksi dengan orang, Sanu jadi tertarik ingin mencobanya.

Di detik-detik terakhir pak Nazar berhasil menjual satu alatnya lagi. Dengan ini alat pijat yang dibawa pak Nazar tinggal tester saja.

Pak Nazar pun mengajak Sanu pulang naik kereta listrik lagi. Di dalam kereta sangat sejuk dan lenggang. Kali ini Sanu bisa duduk di kursi kereta. Tidak seperti tadi pagi, sesak penuh dengan manusia. Sanu menghirup dalam-dalam udara Ac kereta. Sanu menyukai udara dingin, sebab udara dingin mengingatkan Sanu tentang kampungnya, dingin dan sejuk.

Sanu dan pak Nazar turun di stasiun Pasar Mnggu dekat kantor. Sesampainya di kantor, Sanu duduk di ruang observasi. Tak berselang lama satu persatu karyawan kantor yang membawa anak baru datang menyuruh duduk. Sanu dan tiga anak baru di berikan lembaran soal untuk di isi. Seorang karyawan menemani Sanu dan tiga anak baru.

Setelah mengisi lembaran soal yang ada di kertas. Satu persatu anak baru di panggil ke lantai dua untuk interview. Sanu orang yang terakhir dipanggil manager. Sanu terlihat gugup, Muna yang berpapasan di tangga memberi semangat Sanu. Sanu tersenyum.

Sanu masuk ke ruang manager. wajah manager itu terlihat serius duduk di kursi empuk. Sanu di persilahkan duduk.

"Sebelumnya anda sudah pernah kerja?" tanya manager itu.

"Sudah, Pak."

"Jika anda dihadapkan sebuah pilihan. pilih jadi pegawai atau pengusaha."

"Pengusaha." Jelas Sanu.

"Alasannya?" tanya manager itu.

"Karena jadi pegawai gak enak, selalu disuruh-suruh."

Manager itu berdehem lalu mengulurkan tangannya. "Selamat anda di terima di kantor ini."

Sanu terkejut tidak menyangka bakal semudah itu.

"Gimana diterima?"

Sanu terperanjat saat ada Bari menunggu di depan pintu manager.

"Alhamdulillah di terima."

"Selamat ya, besok jangan lupa berangkat pagi," ucap Bari.

Sanu mengangguk wajahnya bersemu merah sambil menuruni tangga. Diam-diam Sanu memperhatikan Bari.

1
norihan ab razab
Best..menarik🤗
Yuni Triana
mampir lagi ke ceritaku ya Pulang Malu Tak Pulang Rindu
Doraemon
klepon nya Kaka🗿
Penggemar
hihhh...sedih amat sih
Aris Pujiono: hihihi ...😁😁
total 1 replies
Muslimah Haja
kqsian jg sanu..semua bajunya dia tinggalkan
Aris Pujiono: iya kak ...
total 1 replies
Muslimah Haja
semoga saja laki" yg menilong sanu benar"" baik
Muslimah Haja
bahaya ni bos laki" nya sanu..nakal
Muslimah Haja
semoga saja sanu dpt pekerjaan yg layak
Muslimah Haja
semoga temannya benar nawa sanu kerja dgn pekerjaan yg baik
Veronica Maria
akhirnya happy ending. good luck utk karyamu yg slnjutnya tor
Aris Pujiono: terima kasih kak
total 1 replies
Veronica Maria
ada y dokter kyk gitu. urusan pribadi dicampurkan dgn pengobatan. dimana kode etik kedokterannya cba. bsa2 dicabut ijinnya kalau gitu
Veronica Maria
seharusnya tetap krja di tmpt skrg krn mereka jg menerima sanu meski sdh cacat. tpi mgkn sanu tdk mau merepotkan org lain
Veronica Maria
dasar org tua brian kurang ajar jg. mlh ninggalin sanu yg sdh keadaan gitu. heran
Veronica Maria
sanu kakinya diamputasi, brian lupa ingatan .. sampe sgtu parahnya ceritamu tor. glenca kabur .. duh enaknya. knp mereka gak bahagia ? mlh jdi melow gini
Veronica Maria
tdk sengaja aku memencet tanda klik. pdhl aku tdk suka tpi tdk bs kubatalkan
Veronica Maria
papanya nyesel tpi sdh gak guna. hempaskan aja glenca. ajak cek ke RS jg apa bner bunting
Veronica Maria
terlalu banyak ttg cerita ruang lingkup krj. dah nyampai brp bab ceritanya itu mulu
Veronica Maria
patah tumbuh hilang brganti. pergi muna, dtg dara. kyk cewe murahan aja dan spt tdk ada cowo lain aja. duh dunia
Veronica Maria
benar2 munafik kan ? mknya namanya muna
Veronica Maria
muna mah seneng sama bari tpi bari gak suka. ya namanya jg muna mk slmanya akan tetap muna he he
Aris Pujiono: hehehe .... iya kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!