NovelToon NovelToon
FRIENDS WITH BENEFITS

FRIENDS WITH BENEFITS

Status: tamat
Genre:Cintamanis / Patahhati / Tamat
Popularitas:1M
Nilai: 5
Nama Author: Chida

Spin off Kawin Lari & Langit Jingga

Kegagalannya dalam menjalin hubungan dengan seorang gadis, membawanya ke dalam keterpurukan yang terasa menyakitkan.

Demi ambisi dan egonya dalam meneruskan perusahaan keluarga yang sedang berkembang pesat, dia menyia-nyiakan cinta seorang gadis yang selama dua tahun selalu menunggunya kembali. Dan pada akhirnya dia benar-benar harus melepaskan cintanya pergi.

Pertemuannya dengan gadis lain yang merupakan anak dari teman bisnis orang tuanya, membawanya kembali terhanyut akan ambisi nya yang sempat tertunda.

Hingga perjanjian itu pun muncul di kepalanya dan di setujui oleh gadis bermata indah itu, demi keuntungan kedua belah pihak.

Akankah perjanjian itu berubah menjadi cerita indah antara mereka berdua? Ikuti kisahnya di karya ke enam Chida.

Enjoy reading 😘

update santai ya, kalo khilaf bisa sampe 1 minggu full up🤭

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saya jadi Aku

"Menurut lo gimana?" tanya Teddy siang itu di bawah sinar matahari.

Mereka sedang berada di proyek jalan tol yang sudah mulai berjalan.

"Apa?"

"Ya salah satu dari kita harus ada yang stay disini sampai proyek selesai," ujar Teddy sambil menggulung kembali kertas berisi desain gambarnya.

"Kan udah ada Pak Bima dan tim, udah cukup itu. Kita, gue atau lo bisa bolak balik ke sini untuk memantau."

"Yakin lo?"

"Yakin, lagian tim dari Pak Kalla kan pasti mengawasi, kalo pun ada kecurangan udah pasti akan habis sama kita," ujar Raka.

"Ya sudah kalo gitu, mudah-mudahan proyek ini lancar sampai kelarnya." Teddy berjalan menyamai langkah Raka.

"Makan, Ted. Gue lapar," ujar Raka memegangi perutnya.

"Ayo lah, dimana?"

"Gak tau, coba lo searching makanan kayak modelan makanan rumahan gitu di Solo dimana," ujar Raka membuka pintu mobilnya.

"Di warteg mah banyak itu, Ka."

"Ya gak di warteg juga, Ted ... lo cari yang cozy tempatnya."

"Makan aja ribet, Mas-nya."

Teddy menyalakan mobilnya mengikuti arah aplikasi maps hingga berhenti di suatu tempat makan bergaya etnik.

Memasuki rumah makan itu yang terdiri dari beberapa kursi jaman baheula yang tersusun rapi. Untuk hidangannya sendiri di ambil secara prasmanan , hidangan sederhana ala rumahan.

Raka mengedarkan pandangannya, dia terpaku pada sosok gadis yang memegangi kameranya membidik beberapa spot lalu menikmati hasil jepretannya.

"Ka, lo bilang laper." Teddy menyikut perut Raka.

"Eh, iya ... ayo." Raka melangkah menuju makanan yang sudah terhidang.

Setelah mengambil beberapa menu, Raka mencari keberadaan Teddy. Lelaki berhidung mancung, bermata sipit dan berkulit putih itu sedang berbincang-bincang dengan gadis yang tadi Raka lihat.

"Ka ... woi, sini," panggil Teddy melambaikan tangannya.

"Ada Bu Zurra," sapa Raka.

"Bukannya lo tadi udah liat," bisik Teddy mengulum senyum.

"Apa sih." Raka serba salah, lalu meletakkan piring berisi lauk pauk itu ke hadapannya.

"Ibu Zurra sendiri aja?" tanya Raka pada Zurra.

"Iya, kebetulan Kalla kan pagi tadi balik ke Jakarta," jawab Azzura.

"Sudah selesai makan rupanya," ujar Raka.

"Sudah selesai setengah jam yang lalu," kata Azzura tersenyum.

"Asik kan tempatnya, Ka," ucap Teddy.

"Iya, asik tempatnya, banyak spot foto menarik, kalo pengunjung yang suka hal etnik pasti seneng foto-foto disini," ujar Raka lagi sambil menikmati makanannya.

"Hasil jepretan Bu Zurra tadi keren- keren, Ka ... coba deh liat." Teddy menerima kamera poto dari Zurra.

"Iya, keren-keren, pinter ambil angel nya," ujar Raka tersenyum.

"Bu Zurra harus lihat hasil jepretan Raka sekali-sekali, dari kamera handphone aja jepretannya keren, Bu apalagi pake kamera mahal," celoteh Teddy.

"Oh ya, kapan-kapan janji hunting akan saya tagih." Azzura menatap Raka.

"Siap, kapan aja ... kecuali gak ada kunjungan atau kerja keluar kota," jawab Raka.

"Ke hotel bareng aja, Bu Zurra. Gak bawa mobil kan?" Teddy dengan sigap berinisiatif menawarkan diri untuk bersama-sama pulang ke hotel.

"Saya naik taksi aja, masih harus balik ke proyek ada beberapa interior yang harus saya cek lagi."

"Nggak apa-apa kita antar, toh ini juga udah nggak ada kerjaan lagi," ujar Raka yang akhirnya ikut menawarkan diri mengantarkan Azzura.

"Karena saya di paksa, ya udah saya ikut." Azzura tersenyum simpul lalu mereka beranjak bersama meninggalkan tempat makan itu.

*****

"Interior seperti ini banyak diminati sekarang," ujar Raka pada Azzura saat Raka memutuskan untuk ikut turun melihat hasil desain interior yang sedang Azzura kerjakan.

"Iya, modern concept," jawab Azzura. "Tapi saya lebih suka yang klasik," ujarnya lagi.

"Ya, terlihat elegan, vintage, mahal." Raka menoleh pada Azzura yang berdiri di sebelahnya.

"Ya, mahal. Tapi sayang, kebanyakan penduduk Indonesia gak begitu terlalu suka dengan hal yang berbau klasik, bisa di hitung lah, nggak banyak."

"Konsep modern menurut mereka itu terkesan keren, ya kan?"

"Iya ... ngomong-ngomong, Pak Teddy kemana?"

"Eh, iya ... kemana dia?" Raka merogoh saku celananya, mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi Teddy namun tidak berhasil.

"Gimana?"

"Nggak aktif," ujar Raka sekali lagi menghubungi lelaki bermata sipit itu.

"Nggak bisa?"

"Iya. Kemana anak itu?" Raka menampakkan raut wajah yang kesal.

"Di bagian lobby kali, coba kita kesana," ujar Azzura melangkah lebih dulu.

Setengah jam berusaha menghubungi dan mencari Teddy di hotel itu namun tidak menemukan jawaban.

"Udah hampir malam, gimana kalo kita pulang naik taksi aja," ajak Raka.

"Tapi nanti kalo Pak Teddy datang?"

"Biar aja," ujar Raka mengusap layar ponselnya lalu memesan taksi online.

Keadaan canggung di dalam taksi pun begitu terasa. Duduk berdua bersebelahan dengan orang yang baru berjumpa beberapa kali itu sungguh membuatku suasana menjadi kikuk.

Tak terkecuali pada Raka dan Azzura, yang hanya saling diam tanpa ada pembahasan.

"Macet ya, Pak?" tanya Raka pada supir taksi.

"Biasa kalo di area ini suka macet, Mas."

"Saya kira cuma di Jakarta yang macet," kekeh Raka.

"Asli Jakarta kan, Pak Raka?" tanya Zurra.

"Panggil Raka aja, udah bebas jam kantor," kata Raka menarik sudut bibirnya yang mengembang dan Azzura pun membalas dengan tersenyum.

"Kalo Jakarta itu gak ada hari tanpa macet. Oh ada ... kalo lebaran, sering gak macet," ujar Zurra.

"Pada mudik ya, kayak saya," ucap Raka.

"Berarti bukan asli Jakarta?"

"Bangka ... sebenernya juga bukan asli Bangka, kebetulan ayah saya merantau sampai kesana dan ketemu ibu di sana."

"Oh gitu, jadi nggak tau asli mana ya?" Azzura pun tertawa.

"Masih diragukan kebenarannya," ujar Raka.

"Kok bisa?"

"Ambigu," tawa Raka begitu lepas.

"Ada-ada aja." Azzura ikut tertawa. "Kalo Pak Teddy?"

"Teddy itu masih sepupu, ibunya sepupu ibu aku ... ibu saya maksudnya," ujar Raka membetulkan sebutan dirinya.

"Aku juga nggak masalah, saya terlalu formal. Ini sudah di luar jam kerja," ujar Azzura mengingatkan kembali.

Raka pun tersenyum lalu mengusap tengkuk lehernya. Mobil taksi itu akhirnya berhenti tepat di pelataran hotel mereka. Berjalan beriringan masuk ke dalam lift lalu berpisah di beda lantai.

"Makasih," ujar Azzura.

"Sama-sama," jawab Raka menahan pintu lift dengan tangannya.

"Next kita harus hunting spot foto, gimana?"

"Boleh."

"Bromo?" Azzura menawarkan ajakan pada Raka.

"Ide bagus," ujar Raka mengangguk angguk lalu tersenyum.

"Deal ... ntah kapan tapi patut di note ya," kekeh Azzura.

"Note." Raka melepaskan tangannya dari pintu lift hingga pintu itu tertutup dengan sendirinya.

Senyum pemuda berusia 28 tahun itu kembali merekah. Mengingat kembali perbincangan yang mengada-ada namun cukup berkesan. Raka melangkah menyusuri koridor hotel, menggesek kartu aksesnya di pintu kamar.

"Sstt ... sstt." Suara dari balik pintu kamar di seberang kamar Raka pun terdengar.

"Anjaayy ... kemana aja lo, syaiton!" Bentak Raka ketika dia menoleh mendapati Teddy yang mengeluarkan sedikit kepalanya dari pintu kamar lelaki itu.

"Kehatimu," ujar Teddy cepat-cepat menutup kembali pintu kamarnya.

**Enjoy reading 😘

Like dan komennya Kakaaak... nuhun yaaah 😘**

1
Puput Gendis
kisah nami sm kala ada gak author 🥰
Ira Suryadi
Luar Biasa
PrettyDuck: Halo pembaca setia Noveltoon 🤗
Aku baru merilis cerita berjudul : "In Between" ✨️
Kalau berkenan silahkan berkunjung dan nikmati ceritanya 💕

Mila tidak pernah menyangka kalau 'penghancur' masa remajanya akan kembali lagi jadi bosnya di kantor. Ini bukan cuma soal benci, tapi soal luka yang dipaksa sembuh saat pelakunya ada di depan mata.
total 1 replies
Dina Okta
hallo kk cida kk teman nya KK jus kelapa yaaa??? aku pembaca nya karya kk njusss.izin mampir ya di karya kk🙏🙏🙏
Vlink Bataragunadi 👑
woooow kereeeeen asliii/Angry/
Vlink Bataragunadi 👑
hooh ih, ribet deh wanita.... termasuk aku /Facepalm/
snow Dzero
Luar biasa
SariRani
Baguuus ❤️
SariRani
Baguus bangeeet 😭
Kezie fitri
chida kemana ya?

ini udh 2024 lloh hampir 2025, udh lama ga apdate novel baru, semoga KA chida baik2 Ajja ya
May Keisya: dmn Thor yg KBM bkn
total 2 replies
Aisyah Zahra
ganggu aja sih tedy bear /Joyful/
Aisyah Zahra
kasian juga diposisi jenna
Wina Destania
ihh Raka nyebelin kesannya jadi azura yang nyosor
Wina Destania
baca ulang 2024 sangat menghibur untuk aku yang lagi kehilangan baca ini berulang ulang ngerasa benar ada sosok seperti raka
Chida: lelaki redflag banyak kak makanya kudu kita green in🤭
total 1 replies
May Keisya
apakah bima???
mamaqe
keren
Lee Yana Mariyaanie
omooo...genk duda akutt...omooo..kangen dean iiih......
Mega Girl
smua certa y bagus² semua, semangat sellau thor
Mega Girl
maniss bgt cerita² y, semamgat selalu thor
w03lan7ulian
Luar biasa
Kᵝ⃟ᴸ _ᵉᵖʰᶦ
aaaaaa gk nyangka akhirnya aq baca sampai end....
konfliknya ringan tapi sweet 🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!