Seorang gadis cantik, ia mahasiswa berprestasi tinggi bernama Sheril Mehrunissa. Ia terjebak dalam situasi yang sulit. Kesucian yang ia pertahankan selama ini akhirnya direnggut oleh pria yang tidak di kenalnya.
Tidak sampai disitu saja. Ternyata dia hamil. Pihak kampus langsung mencabut semua pasilitas yang dia dapatkan, ia di keluarkan secara tidak hormat karena sudah mencoreng nama baik kampus.
Nasib buruk terus saja menghampiri Sheril, sampai-sampai ia terkena tekanan batin saat ayah dari bayinya sendi menculik dan mengurungnya di sebuah villa.
Sheril terpaksa menikah sirih dengan pria yang sudah memiliki istri.
ikuti kisah selanjutnya ...
jangan lupa dukungannya
berikan 🔯 5 jika kalian terkesan.
wajib like dan vote jika sudah membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon desi m, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alzian
POV hotel Vee.
Seorang pria yang bernama Alzian Guinandra. Ia baru saja membuka mataya, kepalanya masih terasa pusing akibat kebanyakan meminum minuman terlarang itu. Zian merenggangkan otot-otot nya.
Sesaat Zian melihat ada bercak darah di seprai, Alzian ingin memastikan darah apa itu? Alzian menyibak selimutnya dan menjatuhkannya di lantai.
Saat itu juga Alzian sadar kalau tubuhnya tidak ada satu benangpun yang menutupi tubuhnya.
Ha ....
Alzian sadar dan mengingat apa yang terjadi dengannya tadi malam. Alzian mengelus bercak darah yang menempel di seprai.
"Benar, ini adalah darah, darah perawan? Iya perempuan itu masih perawan," ujar Zian berbicara dengan dirinya sendiri.
"Tapi kemana dia, kemana perempuan itu," Alzian mencari perempuan itu berangkali ada di kamar mandi, Zian membuka pintu kamar mandi, tapi tidak ada siapapun di dalamnya.
Zian kembali duduk di bibir tempat tidurnya. Ia berusaha mengingat wajah perempuan itu, "Dia cantik, tubuhnya padat dan halus," Alzian kembali mengingat adegannya malam tadi, ia meneguk saliva nya.
"Perempuan itu, saya akan mencarinya, siapa tau dia masih ada di sekitar sini," gumam Zian sambil melangkahkan kakinya ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Zian langsung pergi meninggalkan hotel. Tidak lupa ia membawa seprai yang ternoda itu.
Zian ingat kalau perempuan itu mengobati tangannya, setelah itu ia merenggut kesuciannya.
Ah ... Zian meremas rambutnya dengan kasar, ia menyesali perbuatannya.
"Nino, iya Nino tau sesuatu," Alzian langsung menelpon Nino. Begitu telpon tersambung, Zian langsung berucap,
"Kamu cari perempuan tadi malam," ucap Zian.
"Tapi aku sudah kembali, Zian," ujar Nino di seberang sana.
"Brengsek kamu, perempuan itu masih perawan, bagaimana kalau terjadi sesuatu dengannya!" Ujar Zian meninggikan suaranya.
Nino terkekeh mendengar ucapan sepupunya itu. "Baru buka bungkus kan enak bos," ucap Nino enteng.
"Tutup mulut mu itu Nino! Sekarang kasi tau cepat, dimana kamu menemukan perempuan itu," ujar Zian.
"Baiklah," ujar Nino. Nino pun menjelaskan dimana ia menemukan perempuan itu.
"Saya yakin dia masih di sana bos," ujar Nino.
"Baiklah saya akan kesana, kalau saya tidak menemukanya, kamu harus mencarinya sampai ketemu," ujar Zian.
"Sebentar, kenapa kamu harus mencari perempuan itu? Bukankah itu bagus kalu dia tidak meminta pertanggung jawaban darimu Zian," ucap Nino.
Zian terdiam mendengar ucapan Nino.
"Kamu itu bodoh sekali, bagaimana kalau dia minta pertanggung jawaban dari mu? Bagaimana dengan istrimu ha!" Ujar Nino lagi.
"Tidak Nino, aku harus minta maaf dengannya, apa pun yang terjadi aku yang salah," ujar Zian.
"Terserah kamu saja," ujar Nino.
Zian langsung mengakhiri pembicaraannya dengan Nino. Zian menepikan mobilnya, lalu memijat pelipisnya. Zian merasakan ada sesuatu yang aneh di hatinya. Walaupun ia tidak begitu mengingat wajah perempuan itu, tapi Alzian tetap saja membayangkan rasa perasaanya tadi malam.
Sesaat Alzian juga mengingat pertengkaran kecil antara istrinya tadi malam.
flashback
"Sayang, aku ingin kerumah mama," rengek Ririn manja pada suaminya yang tidak lain adalah Alzian.
Pada waktu itu, Alzian baru saja pulang dari kantor.
"Sayang, aku capek banget, bagaimana kalau hari libur saja kita kesana," ujar Alzian pada istrinya.
Ririn tidak menjawab ucapan suaminya, malahan Ririn memalingkan wajahnya tidak ingin menatap suaminya.
"Sayang, kamu marah?" Ujar Alzian lembut.
"Malas ngomong sama kamu," ujar Ririn ketus.
Zian menghela napasnya dengan pelan.
"Ya sudah, kalau kamu memang ingin kesana, biar sopir saja yang antar ya," ujar Zian. Ririn langsung menatap manik mata suaminya dengan wajah yang emosi.
"Aku itu mau ajak kamu nginap di rumah mama, bukan minta di antar sama supir," ujar Ririn.
"Sayang, rumah mama kamu itu cukup jauh dari kantor, kalau aku nginap di sana, bisa-bisa aku terlambat sampai di kantor," ujar Zian menjelaskan pada istrinya.
"Iya, kamu selalu mementingkan pekerjaan dari pada istri sendiri," ujar Ririn tajam.
"Bukan begitu, pekerjaan juga penting buat masa depan kita dan juga anak-anak kita nanti," ujar Zian memberikan pengertian pada istrinya.
"Sudahlah, tidak ada gunanya aku bicara sama kamu," ujar Ririn langsung berdiri dan meninggalkan suaminya.
"Ririn!"
Panggil Zian, namun Ririn sudah menjauh darinya. Zian meremas rambutnya dengan kasar. Ia kesal dengan sikap istrinya yang tidak ingin mengerti akan dirinya.
Setelah itu, Zian langsung ke bathroom untuk membersihkan dirinya. Setelah itu, ia mengenakan pakaian santainya, lalu bergegas mencari istrinya. Zian tau dimana istrinya menyendiri saat ia lagi marah padanya.
Zian pergi ke taman samping rumahnya, dan benar saja, Zian melihat istrinya sedang bermain dengan putri kecilnya yang masih berumur 7 bulan.
Zian langsung menghampiri mereka berdua. "Sayang, kangen sama papa?" Ujar Zian menatap putri kecilnya dengan gemes. Zian berharap istrinya akan bicara padanya. Namun, bukannya berbicara, tapi meninggalkan Zian dan putrinya begitu saja.
Nama putri Alzian: Aura Tama Riguinna.
Zian menarik napasnya dalam-dalam.
......................
Setelah putrinya tertidur, Ririn kembali ke kamarnya. Ia melihat suaminya masih sibuk dengan laptopnya. Ririn langsung saja merebahkan badanya di tempat tidur.
Zian melirik istrinya yang sudah merebahkan tubuhnya di ranjang, Ia pun langsung mematikan laptopnya. Zian ikut merebahkan tubuhnya di samping istri. Sementara posisi Ririn membelakangi tubuh suaminya.
"Sayang, aku kangen sama kamu," bisik Zian di telinga istrinya sambil memeluknya dari belakang.
Ririn tidak menyahuti ucapan suaminya. Ia tetap saja dengan posisi seperti itu.
"Sayang, aku menginginkan mu," ujar Zian lagi.
"Sudahlah Zian aku ngantuk, jangan menggangguku," ujar Ririn membuat hati Zian langsung berdetak.
"Tapi Ririn, aku ingin melakukannya, aku kangen," ujar Zian.
"Kenapa kamu menginginkannya, bukanya kamu lebih memilih mabuk di luaran sana ketimbang memikirkan anak dan istrimu," ucap Ririn kesal.
"Ririn, kenapa kamu bicara seperti itu, kamu dari dulu tau, kan, kalau aku ini suka minum, tapi kenapa kamu jadikan alasan," ujar Zian.
"Aku ngk tau, apa saja yang kamu lakukan di luaran sana, apa lagi kamu sering pergi ke klub malam," ujar Ririn.
"Apa maksud mu bicara seperti itu Ririn," ucap Zian sedikit meninggikan suaranya.
"Aku rasa kamu sudah tau apa maksud ku," ujar Ririn.
"Ririn, kenapa kamu bersikap seperti ini, apakah kamu tidak mencintaiku lagi, jangan hal sepele kamu jadikan alasan semuanya, apakah kamu sudah bosan dengan ku," ujar Zian memutar tubuh istrinya agar mereka bisa saling menatap.
"Zian, aku tidak ingin berdebat dengan mu, aku lelah, aku ngantuk," ujar Ririn semakin membuat Zian kesal.
"Ya sudah, tidurlah dengan nyenyak," ujar Zian sambil bangkit dari tidurnya. Zian mengambil jaket kesayangannya, lalu melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamarnya.
"Zian! Kamu ingin kemana?" Teriak Ririn setelah Alzian meninggalkan kamarnya.
"Aku ingin menenangkan pikiran ku," ujar Zian dingin.
"Iya, pergi saja, kalau ke klub malam, kamu tidak punya alasan untuk tidak kesana, tapi giliran aku memintamu ke rumah orang tuaku, beribu alasan keluar dari mulutmu," ungkap Ririn membuat Zian semakin geram.
"Tutup mulutmu itu Ririn! Kamulah alasanku untuk pergi kesana," ujar Zian membentak Ririn.
"Zian! K-kamu ... kamu sekarang sudah mulai membentak ku," ujar Ririn lirih tidak percaya, airmatanya sudah membasahi pipi mulusnya.
Alzian pergi tanpa menoleh Ririn sedikitpun.
wajib ⬇️
vote✅
like✅
jangan lupa dukungannya.