Kisah ini tentang seorang gadis polos bernama Aluna George yang terjebak dalam pernikahan bersama seorang mafia berdarah dingin. Alexandre Graham seorang pria tampan yang tidak pernaheduli soal cinta, baginya wanita mainan.
Harta, tahta dan kekuasaan membuatnya mampu memilih wanita manapun yang ia inginkan. namun semuanya berubah saat ia bertemu dengan gadis manis dari acara lelang.
Hubungan yang awalnya baik, akhirnya rusak karena sebuah kesalahan. kesalahan yang membuat keduanya harus terikat, kesalahan apakah itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vhy7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kau berhutang padaku
Aluna terbangun, lagi-lagi ia berada di tempat yang asing. Bedanya kini ia berada di sebuah kamar luas dengan barang-barang mahal di dalamnya, gadis itu meringis saat ia menggerakkan kakinya.
Gadis itu ingat, terakhir kali ia sadar empat pria jahat menembak kakinya. Ia membuka selimut yang di tubuhnya lalu memeriksa kakinya, dan benar saja kakinya sedang di perban.
Sedang fokus menggerakkan kakinya perlahan, pintu terbuka memperlihatkan seorang wanita paruh baya berjalan masuk dengan nampan berisi bubur dan air putih di atasnya.
"Nona sudah bangun?" tanya wanita itu ramah.
"Di..dimana ini?" Aluna menatap wanita itu dengan ekspresi takut, apa yang telah ia lalui beberapa Minggu ini membuatnya takut jika bertemu dengan orang baru.
"Nona sedang berada di mension tuan Alex," jawab wanita paruh baya tadi, ia meletakkan gelas air putih di balas lalu mengaduk bubur tadi, agar sedikit dingin.
Aluna menelan air liurnya susah payah, ia tidak bisa menyembunyikan jika ia memang lapar. Yah memang wanita bernama mawar masih memberinya makan, tapi hanya sedikit.
"kamu lapar yah? ini makan dulu," ucap wanita itu lembut, melihat Aluna ia jadi teringat dengan Elena. Saat itu Alex belum memiliki apa-apa, jadi menyelamatkan Elena bisa di katakan adalah hal yang mustahil.
"Trimakasi emm..." kalimat Aluna terpotong ia tidak tau harus memanggil apa wanita paruh baya di depannya itu.
Wanita itu tersenyum, "Bibi, panggil saja bibi."
Aluna tersenyum tapi si saat yang bersamaan ia juga sedih, gadis itu teringat mamanya dan juga bibi. Jika usaha ayahnya benar-benar sudah di ambil orang yang sampai saat ini ia tidak tau, lalu bagaimana pengobatan bundanya? dan apakah bibi akan terus di sana jika sudah tidak mendapatkan gaji?
Mata Aluna mulai berkaca-kaca, selama beberapa Minggu ini ia menangisi hal yang sama.
"Kamu baik-baik saja?" tanya bibi panik, ia tidak mengerti kenapa gadis itu tiba-tiba menangis.
"Mama," satu kata itu keluar dari Aluna di ikuti dengan suara tangis yang memilukan.
"S... tenanglah, cerita sama bunda," pinta bunda sambil mengusap bahu Aluna pelan.
"Sebelum aku di bawa paksa oleh orang-orang itu, mamaku sedang berada di rumah sakit," jelas Aluna, meski sedikit ragu pada wanita di depannya tapi ia juga berharap wanita itu bisa membantunya.
"Rumah sakit apa,?dia nama mamamu?" tanya bibi tanpa melepaskan usapan lembut tangannya di bahu gadis itu.
"Rumah sakit permata di kota B, nama mamaku Rani." jawab Aluna cepat, seketika ia mendapat harapan. Entah kenapa hatinya memaksa untuk percaya kepada wanita di hadapannya.
"ko..kota B, Apakah kamu tau kamu sedang berada di mana?" tanya wanita itu lagi.
Aluna menggelengkan kepalanya, yang ia tau hanya terus berpindah dari orang jahat satu ke orang jahat lainnya.
"Nona sedang berada di kota J," jawab bunda membuat gadis itu terkejut. Jadi orang itu membawanya benar-benar jauh dari rumah.
"Tolong saya bi, saya harus pulang," pinta Aluna memelas, bibi menatapnya kasihan. Tapi ia tidak bisa dengan begitu saja membiarkan Aluna pergi, di sini ia hanya seorang pembantu.
"Tuan Alex akan melepaskanmu jika kamu sudah sehat, kakimu tertembak bukan? lalu bagaimana jika kamu akan pulang jika kakimu masih sakit?" Wanita itu menjelaskan, jika menolak secara terang-terangan bisa saja gadis ini sakit hati.
Aluna terdiam, benar juga tapi jika dia tidak pulang bagaimana dengan mamanya?
"Jika nona ingin pulang, makan dulu bubur ini setidaknya kamu harus pilih dulu," tawar wanita itu, sibuk memikirkan mamanya Aluna lupa bahwa tadi ia sedang lapar.
Ragu-ragu Aluna mengambil mangkuk di tangan bibi, dengan sangat perlahan ia memasukkan satu sendok ke bibirnya.
Gadis itu lagi-lagi meringis, ternyata di bibirnya juga ada luka entah luka dari siapa ia tidak tau.
Bibi ikut meringis, "pelan-pelan nona."
Aluna mengangguk sambil perlahan-lahan terus memakan buah itu, cukup lama ia menghabiskan satu mangkuk bubur itu tapi bibi masih dengan setia menunggunya selesai.
"Minum dulu nona," ucap bibi ambil memberikan air putih yang tadi ada di nakas.
Setelah meminum air putih itu hingga setengah Aluna bersyukur, ini pertama kalinya dalam beberapa Minggu ia merasa kenyang.
"Ini ada beberapa resep obat yang di tinggalkan dokter, nona harus meminumnya yah," pinta bibi sambil meletakkan beberapa obat di atas nakas.
Aluna mengangguk, "trimakasi bi.
Tak lama setelah itu bibi pamit untuk keluar, di depan pintu ia bertemu Alex.
"Apa dia sudah sadar?" tanya Alex pada bibi yang baru saja hendak menutup pintu kamar Aluna.
"ia tuan, nona bahkan sudah makan," jawab bibi, Alex mengangguk lalu membiarkan bibi pergi.
Pria itu berjalan masuk ke dalam kamar dan menutup pintu, hal itu otomatis membuat Aluna terkejut lalu menyembunyikan tubuhnya di dalam selimut.
"Si...apa kamu?" tanya Aluna, tapi bukannya menjawab pria malah semakin mendekat ke arahnya.
"Jangan macam-macam yah," tegas Aluna sambil beringsut turun dari kasur.
Pria itu menghentikan langkahnya lalu tersenyum sinis, "Bukannya seharusnya kau berterimakasih padaku?"
Aluna menundukkan kepalanya, "Terimakasih tapi tolong jangan mendekat padaku," ucap Aluna pelan.
Alex tertawa melihat reaksi gadis itu, yah mainan seperti ini yang ia mau. Tidak salah ia mengeluarkan uang banyak untuk mainannya kali ini.
Hendak menggoda pria itu kembali berjalan ke arah Aluna membuat gadis itu berdiri dari tempat tidur, namun sayangnya kakinya tidak mendukung untuk tindakan itu.
Brak!
Tubuh Aluna terjatuh di susul dengan vas bunga kaca di atas meja, Alex terkejut langsung berjalan ke arah Aluna.
"Tidak, kau memecahkan vas bunga mahalku," teriak Alex membuat Aluna bergetar ketakutan.
"Lihat ini, dasar gadis bo**h," bentak Alex sembari berdiri di samping Aluna dan juga vas yang sudah pecah itu.
Bibi yang mendengar keributan langsung berjalan masuk ke dalam kamar yang di tempati Aluna.
"Sekarang bersihkan semua ini, setelah itu akan datang lagi dan meminta pertanggungjawaban mu," ucap Alex berlalu dari sana.
Setelah Alex keluar, bibi dengan cepat berjalan kearah Aluna dan membantu gadis itu untuk kembali ke tempat tidur.
"Saya akan mengambil sapu dulu nona," ucap bibi sambil berlalu keluar, namun ia terkejut saat mendapati Alex masih berada di depan pintu.
"Tuan?"
"Ambillah sapu, aku hanya memastikan bahwa yang membersihkan kekacauan itu adalah gadis itu.
"Baik tuan," ucap bibi, sebenarnya ia ingin menolak tapi melihat wajah marah Alex membuat nyalinya menciut.
Bibipun pergi mengambil sapu dan saat ia kembali ia melihat gadis itu sedang duduk menunduk di kasur, sedangkan Alex sedang duduk di sofa.
"Ambil sapu itu lalu bersihkan," perintah Alex pada Aluna.
bibi memberanikan diri untuk berbicara, "tapi tuan kakinya sedang terluka."
"Aku tidak peduli, seharusnya gadis itu melakukan semua hal yang aku perintahkan." jawab Alex.
"Lagi pula, dia juga berhutang Budi dan berhutang uang padaku," sambung Alex lagi dengan mimik wajah yang tidak bersahabat.
Melihat itu Aluna segera berdiri, ia tidak mau bibi terkena marah karena membantunya. Dengan tertatih ia melangkahkan kakinya ke arah bibi, lalu mengambil sapu.
"Tapi nona..," ucap bibi menatap Aluna, gadis itu hanya mengangguk pertanda bahwa ia baik-baik saja.
Melihat itu Alex berdiri dan berjalan ke arah Aluna, ia menatap gadis yang sedang susah payah menyapu pecahan beling di lantai.
"Bagus kau memang harus menuruti segala perintahku karena kamu.." ucap Alex berhenti, ia tersenyum menang.
"Berhutang padaku,"
TBC