Pernikahan yang di dasarkan oleh perjodohan, membuat Max tak pernah menganggap Monica sebagai istrinya. Ia selalu memperlakukan Monica dengan begitu kasar. Bahkan, tak tanggung-tanggung Max selalu membawa wanita bayaran nya ke apartemen nya dan Monica untuk memuaskan nya.
Suara desahan dari dalam kamar Max, membuat Monica terisak. Ia benar-benar merasa tak di hargai sebagai seorang istri. Sudah hampir setahun pernikahan mereka, namun Max masih belum juga berubah.
"Ceraikan putri ku sekarang juga!" ucap Juan.
Bagai tersambar petir di siang bolong, Max merasa tubuhnya begitu lemas saat mendengar ucapan Juan barusan. Kenapa di saat ia sudah mencintai Monica, Juan malah menyuruh nya untuk menceraikan Monica.
"Dad, ku mohon. Jangan pisahkan aku dengan Monica. Aku mencintai nya Dad. Aku sangat mencintai nya" ucap Max. Berlutut di hadapan ayah mertua nya. Namun, bukannya merasa iba, Juan malah menatap Max dengan sinis.
Bagaimana kah kisah nya? Akankah Max bisa mempertahankan pernikahan nya dengan Monica?
Yuk, simak ceritanya.
Update setiap hari senin-jumat!
Sabtu dan minggu libur!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 6
Berikan vote, coment, dan like ~
Di dalam ruangan kerja nya. Max sedang menatap sebuah foto seorang gadis kecil yang tersenyum ke arah kamera. Entah darimana ia mendapatkan foto itu, hanya dia lah yang tau.
"Sebenarnya, aku ingin menikahi mu jika kau sudah dewasa nanti. Tapi, kenapa Tuhan mengambil mu begitu cepat" ucap Max. "Monica. Nama istri ku juga Monica" ucap Max lagi lirih. Untuk pertama kalinya Max mengatakan istri ku.
"Tapi, tentu saja itu bukan dirimu" ucap Max.
Braakk!
"Hai Max" ucap Greyvano dan Jello memasuki ruangan Max begitu saja.
"Tidak bisakah, kalian mengetuk pintu lebih dulu" ucap Max. Menatap kedua sahabatnya itu tajam.
Hahaha
Kedua sahabatnya itu hanya tertawa mendengar ucapan Max. Mereka duduk di kursi yang ada di depan meja kebesaran Max.
"Apa ini" ucap Max. Saat Greyvano memberikan nya sebuah undangan pernikahan.
"Tentu saja undangan pernikahan. Memang apalagi" ucap Greyvano.
"Kau akan menikah?" ucap Max.
"Ya. Aku akan menikah di Indonesia. Kau bisa datang bersama dengan istri mu" ucap Greyvano.
"Kau tidak mengundang ku?" ucap Jello.
"Bukankah, aku sudah memberikan undangan nya untuk mu?" ucap Greyvano. Membuat Jello tertawa.
"Max, bagaimana dengan istri mu" ucap Jello tiba-tiba.
"Kenapa kau tiba-tiba menanyakan nya" ucap Max.
"Aku hanya bertanya saja" ucap Jello.
"Max apakah kau tidak ingin menyelidiki lagi tentang gadis kecil yang kau sukai dulu" ucap Jello.
"Aku sudah menyuruh asisten ku menyelidiki nya dulu. Dan dia sudah meninggal" ucap Max.
"Apa kau tidak ingin menyelidiki nya lagi? Siapa tau, gadis kecil itu adalah istri mu yang sekarang" ucap Greyvano.
"Ha! Mana ada orang yang sudah meninggal bisa bangkit kembali" ucap Max. Membuat kedua sahabatnya itu terbahak.
"Kau benar juga. Tidak mungkin dia bangkit kembali" ucap Jello.
...*****...
Didalam kamarnya, Monica sedang bersiap-siap untuk ke rumah kedua orang tuanya. Ia menutupi beberapa memar yang ada di wajahnya itu dengan riasan sederhana nya. Setelah selesai bersiap, Monica pun segera keluar dari apartemen.
"Kak Monica!" ucap Madalyn. Saat Monica telah tiba di kediaman orang tuanya.
"Kak aku merindukan mu" ucap Marvin. Ia dan Madalyn mendekati Monica dan langsung memeluk kakaknya yang sudah satu bulan tidak mereka temui.
"Kakak juga merindukan kalian" ucap Monica. Membalas pelukan kedua adiknya.
"Ayo kita masuk kak. Mommy dan Daddy pasti sangat senang dengan kedatangan mu" ucap Madalyn. Monica pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ketiganya pun masuk kedalam rumah yang terlihat megah itu.
"Monica, apa kabar mu Sayang" ucap Lika. Memeluk putri sulung nya dengan sayang.
"Kabar ku baik Mom" ucap Monica. Membalas pelukan Mommy nya.
"Ayo kita duduk" ucap Lika. Mereka pun menuju ke ruang tengah dan duduk di sofa yang ada di sana.
"Apa kau datang kesini sendiri? Max tidak ikut?" ucap Juan. Saat mereka semua sudah berkumpul di ruang tengah.
"Max sedang bekerja Dad" ucap Monica. Juan hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Apa kau sudah ada tanda-tanda?" ucap Lika. Membuat Monica mengerutkan keningnya bingung.
"Maksud Mommy?" ucap Monica bingung.
"Apa tidak ada tanda-tanda cucu Mommy tumbuh disini?" ucap Lika. Membuat Monica menundukkan kepalanya. Bagaimana mungkin ia dan Max memiliki anak jika Max tidak pernah menyentuh nya. Max selalu bermain dengan wanita lain, bulan dengan dirinya.
"Belum Mom" ucap Monica. Menatap Lika dengan senyuman nya.
"Bersabarlah. Dia akan segera hadir di antara kalian" ucap Lika lembut. Membuat Monica menangis dalam hati.
"Iya Mom" ucap Monica. Berusaha menyembunyikan kesedihan nya dengan tersenyum.
"Apa kau sudah makan siang? Ayo kita makan siang bersama" ucap Lika. Monica menganggukkan kepalanya. Dan mereka pun menuju ke dapur untuk makan siang bersama.
...*****...
Malam harinya.....
Max pulang ke apartemen dan tidak menemukan keberadaan Monica. Ia menggeram marah. Berani sekali Monica keluar tanpa seizin nya.
"Dasar istri tidak punya sopan santun. Berani sekali dia keluar tanpa seizin ku" ucap Max geram.
Ting tong!
Ting tong!
Max yang ingin menghubungi asisten nya untuk mencari Monica pun mengurungkan niatnya saat bel apartemen nya berbunyi. Ia melangkahkan kakinya ke arah pintu dan membuka pintu apartemen itu.
"Ber....." Max yang ingin mengumpat pun, menghentikan ucapan nya saat melihat yang ada di depan pintu itu adalah wanita bayaran nya yang datang untuk memuaskan nya.
"Ada apa" ucap wanita yang berpakaian seksi dan ketat itu.
"Masuk!" ucap Max. Wanita itu pun segera masuk ke dalam apartemen. "Langsung saja masuk ke kamar ku" ucap Max lagi. Saat melihat wanita itu yang terlihat bingung.
"Ha! Baiklah. Aku akan menunggu mu" ucap wanita itu. Dengan senyuman nakal nya. Ia pun segera masuk ke dalam kamar Max.
Max yang baru saja akan menutup pintu apartemen pun mengurungkan niatnya saat melihat Monica. Ia menatap Monica dengan begitu tajam. Monica yang di tatap seperti itu oleh Max pun menelan salivanya. Saat Monica sudah berada di dekat nya. Max langsung menarik tangan Monica dengan kasar dan membawa Monica masuk ke dalam apartemen.
BRAAK!
Max menutup pintu apartemen itu dengan kencang membuat Monica terkejut. Max melepaskan ikat pinggang nya sambil terus menatap Monica dengan tajam.
"Berani sekali kau keluar tanpa seizin ku?" ucap Max. Mendekati Monica.
"A-aku hanya pergi ke rumah orang tua ku" ucap Monica. Melangkahkan kakinya mundur, karena Max semakin mendekat.
PLAK
Max memukul tubuh Monica begitu kuat dengan ikat pinggang nya. Membuat Monica meringis kesakitan. Matanya masih menatap Monica dengan tajam. Bahkan, semakin tajam.
"Apa yang kau katakan pada orang tua mu!" ucap Max. Memegang dagu Monica dan meremas nya dengan kuat. "Jawab!" ucap Max lagi berteriak di depan wajah Monica.
"A-aku tidak mengatakan apapun" ucap Monica bergetar. Air mata nya mulai keluar membasahi wajah cantiknya itu.
"Walapun aku mengatakan tidak peduli dengan mu. Itu bukan berarti kau bebas keluar tanpa seizin ku! Apa kau mengerti! Hah?!" ucap Max.
"I-iya" ucap Monica terbata.
"Masuk ke dalam kamar mu sana! Mulai sekarang, kau tidak boleh keluar dari apartemen ini tanpa seizin ku. Apa kau mengerti! Hah?!" ucap Max. Ia melepaskan dagu Monica dengan kasar. Monica menganggukkan kepalanya. Setelah Max melepaskan nya ia pun segera masuk ke dalam kamar nya.
saya mampir lg thor
menang dasar,,,,, cerita ini Tdk ada mencerminkan adab yg baik.