Kinara Novelya Putri
Sakit hati tidak membuat Kinar menyerah untuk melanjutkan hidupnya. Karena ia percaya, jika suatu saat nanti ia akan mendapatkan cinta yang begitu tulus dari seorang pria.
Jefan Bintang Yudhistira
Jefan yang merasa dikhianati oleh Mecca akhirnya mendekati Kinar yang ia ketahui sudah lama menaruh hati padanya.
"Sebenarnya apa sih status hubungan kita?" Tanya Kinar sangat pelan tapi Jefan masih mampu mendengarnya karena jarak mereka yang dekat.
Jefan mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan Kinar. Ia diam, menunduk seakan tak memiliki keberanian untuk menatap wajah Kinar lagi.
"Kita ciuman, kamu panggil aku sayang, bahkan sikap kamu begitu manis sama aku. Tapi status hubungan kita nggak ada kejelasannya."
"Kamu sabar ya! Aku janji akan selesaikan hubungan aku sama Mecca secepat mungkin."
"Aku nggak butuh janji, Jef. Aku hanya butuh kamu jawab apa status hubungan kita selama ini?"
"Kamu maunya gimana?" Jefan membalikkan pertanyaan Kinar yang membuat Kinar kecewa dan keluar dari mobilnya begitu saja.
Akankah Kinar dan Jefan dapat bersatu dalam ikatan cinta? Akankah jalan cinta mereka mulus tanpa adanya lika-liku? Cerita selengkapnya langsung baca ya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon is fitriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 6 Pesta
Setelah selesai merias diri, Kinar memesan taksi lewat aplikasi online. Awalnya ia berencana hendak pergi bersama Elsa dan Erwin, namun setelah dipikir ulang, Kinar memutuskan berangkat sendiri.
"Mending gue di depan aja deh." Gumam Kinar. "Duh!!! Ribet amat sih pakai heels gini." Gerutu Kinar membetulkan sendalnya yang kebesaran.
Dengan langkah yang sedikit kesulitan, akhirnya Kinar sampai di depan pintu. Ketika ia membuka pintu nampak Jefan di hadapannya sehingga membuat mereka saling beradu pandang. Jantung keduanya tiba tiba berdetak lebih kencang.
"Kinar cantik banget!" Gumam Jefan dalam hati dengan mata yang tak berkedip.
Penampilan Kinar yang mengenakan dress selutut berwarna biru muda sangat cocok dikulitnya, serta rambut yang ia biarkan tergerai menambah pesona Kinar malam itu.
"Jefan kelihatan makin tampan pakai jas gini!" Batin Kinar menatap lekat penampilan Jefan.
"Jefan, lo ngapain di sini?" Tanya Kinar setelah tersadar dari lamunannya.
"Jemput lo." Jawab Jefan disertai senyum.
"Tapi lo jangan marah soalnya Mecca yang nyuruh." Lanjutnya
"Tapi gue udah pesen taksi, Jef!"
"Atau mau gue batalin aja?" Jefan mengangguk.
Kinar mengambil ponsel dari dalam tasnya. Namun, ketika ia hendak duduk malah kesrimpet kakinya sendiri sehingga membuat dirinya hampir terjatuh, beruntung ada Jefan yang dengan sigap menangkap tubuh Kinar. Mata mereka kembali beradu, tapi kali ini tatapannya lebih dalam. Hingga suara dering ponsel Kinar menyadarkan keduanya.
"Hallo!" Sapa Kinar.
"....."
"Iya pak saya Kinar."
"....."
"Oh begitu. Iya pak nanti akan saya cancel."
Kinar menyimpan kembali ponselnya setelah panggilannya dengan sopir taksi yang mengatakan jika ia tidak bisa menjemput Kinar terputus.
"Awwww!!!" Kinar meringis memegang pergelangan kakinya.
"Kenapa, Kin?" Jefan menoleh ke arah pergelangan kaki Kinar. "Kaki lo kayaknya keseleo." Jefan menuntun Kinar untuk duduk kemudian berjongkok di hadapan Kinar.
"Jefan mau ngapain?" Kinar menahan tangan Jefan yang sudah menyentuh pergelangan kakinya.
"Gue bantu urut ya." Jawab Jefan kemudian mulai mengurut pelan kaki Kinar.
"Tahan bentar, Kin!" Kata Jefan ketika melihat Kinar yang meringis kesakitan.
"Coba lo gerakin! Pelan pelan aja!" Kinar menurut, perlahan ia menggerakkan pergelangan kakinya. Memang belum sembuh sempurna, tetapi rasa sakitnya sedikit berkurang.
Tak mau membuat Mecca menunggu, Jefan dan Kinar pun beranjak pergi menuju kafe yang sudah Mecca booking.
Sesampainya di tempat tujuan, Jefan menahan Kinar yang hendak turun dari mobilnya. Sehingga membuat gadis itu mengerutkan keningnya.
"Lo udah nggak marah kan sama gue?" Tanya Jefan dengan sedikit keraguan.
"Marah?" Kinar membalikkan pertanyaan Jefan membuat laki-laki itu mengangguk pelan.
"Gue nggak pernah marah sama lo, Jef." Jawab Kinar diiringi senyuman.
"Berarti kita bisa berteman?" Kinar mengangguk yakin.
Jefan nampak bahagia dengan anggukan Kinar. Rasanya beban pikiran yang mengganggunya hilang begitu saja. Jefan mengambil sebuah kotak dari jok belakang dan menyerahkannya kepada Kinar.
"Apa ini, Jef?" Tanya Kinar menerima pemberian Jefan.
"Buka aja!" Jawab Jefan. Kinar pun membuka kotak tersebut dan betapa terkejutnya ketika mengetahui isi dari kotak itu.
"Tadi siang pas gue nemenin Mecca shopping, nggak sengaja gue lihat sepatu itu. Gue pikir itu akan sangat cocok di kaki kamu yang mungil." Tutur Jefan. Ya memang siang tadi ketika Mecca memilihkan 1 dress untuk Kinar, Jefan juga berinisiatif ingin memberikan sesuatu yang mungkin bisa membuat Kinar terkesan. Terlebih sejak hari kemarin Kinar tak membalas chatnya.
"Ketimbang yang lagi kamu pake sekarang." Jefan melirik heels Kinar yang terlihat sangat norak.
Jefan mengambil sepatu yang ada di tangan Kinar kemudian memasangkannya ke kaki Kinar.
"Gimana suka nggak?" Tanya Jefan.
"Suka banget Jef! Lo kok tau aja sih kesukaan gue?" Jefan tersenyum lega melihat Kinar menyukai pemberiannya.
Suasana pesta terlihat begitu ramai. Banyak teman teman Mecca yang hadir. Kinar yang baru saja tiba dengan Jefan berjalan menghampiri Mecca memberikan sebuah kado untuk gadis itu. Begitu juga dengan Jefan, merogoh saku jasnya dan mengeluarkan kotak kecil berwarna navy. Mulut Mecca menganga melihat kado yang ia dapatkan dari kekasihnya. Sebuah kalung berlian yang begitu indah, Jefan mengalungkan benda tersebut ke leher Mecca yang kemudian diiringi tepuk tangan dari tamu yang hadir.
Ketika tiba di inti acara, seluruh tamu berkumpul menyanyikan lagu happy birthday untuk mengiringi Mecca meniup lilin. Tiba saat potong kue, pada umumnya potongan pertama akan diberikan kepada orang yang spesial. Sudah bisa dipastikan jika kue pertama Mecca akan diberikan kepada kekasihnya, namun ternyata tidak. Senyum Mecca kian merekah ketika Rendra menghampirinya dan memberikan 1 buket bunga mawar. Saat itu juga Mecca memberikan kue pertamanya untuk Rendra. Jefan yang tadinya nampak bahagia langsung berubah lesu melihat pemandangan di depan matanya. Begitu juga dengan Kinar. Elsa dan Erwin juga terlihat saling berbisik tentu membicarakan tentang kue pertama Mecca.
"Me!" Panggil Jefan mendekati Mecca yang asyik ngobrol dengan Rendra dan teman lainnya.
"Hai sayang." Ucap Mecca begitu manis. "Eh ya beb kenalin ini Mas Rendra, Mas Rendra ini Jefan." Lanjut Mecca.
Jefan dan Rendra pun saling berjabat tangan.
Di tengah tengah pesta, tiba-tiba Mecca berpamitan untuk pergi karena ada pekerjaan yang mendadak. Hal itu membuat Jefan naik darah, ia menarik tangan Mecca menjauh dari teman temannya.
"Kamu ini gimana sih, Me! Masa mau ninggalin pesta kamu sendiri?" Tanya Jefan tak paham dengan jalan pikiran Mecca.
"Ya mau gimana lagi beb, aku mendadak ada pemotretan."
"Pemotretan apa malam-malam begini? Jangan-jangan ini cuma alasan kamu doank biar bisa pergi sama Rendra!" Tuduh Jefan dengan nada yang ketus.
"Kok kamu bisa mikir gitu sih, Jef? Aku beneran ada kerjaan." Kata Mecca, tetapi Jefan sudah tidak bisa diam lagi. Amarahnya kian menumpuk, semenjak kehadiran Rendra di tengah-tengah pesta, Mecca seakan tak menghiraukannya lagi. Mecca asyik dengan dunia barunya.
"Kamu sadar nggak kalau sekarang kamu udah nggak peduli sama hubungan kita? Kamu terlalu sibuk dengan dunia baru kamu!"
"Kan kamu tau ini mimpi aku dari lama. Lagi pula kan dari awal kamu juga dukung aku. Kenapa sekarang ngomongnya gini?"
Jefan mengepalkan kedua tangannya, menahan amarah yang entah kenapa tak bisa ia luapkan di hadapan Mecca. Hatinya hanya bisa merasakan sakit dengan perlakuan Mecca.
"Sayang, kamu harus tetep percaya sama aku. Aku pergi dulu ya!" Kata Mecca sembari mengecup pipi kanan Jefan. Jefan diam tak berkutik, ia hanya melihat kekasihnya berjalan beriringan dengan Rendra meninggalkan kafe.
"Aaaaaaa!!!" Jefan menarik kain putih yang menutupi meja hingga semua benda yang ada diatasnya jatuh berserakan.
Amarah yang sedari tadi ia tahan akhirnya meluap juga. Kinar hanya bisa menghela nafas melihat kekacauan yang terjadi. Ia sendiri tak menyangka jika Mecca bisa berbuat seperti itu dengan Jefan. Pasalnya yang ia tau, kedua insan tersebut rasa cintanya begitu dalam.
"Kin, mending lo bawa Jefan pergi dari sini deh!" Ucap Elsa yang tiba tiba berdiri di samping Kinar.
"Gue nggak mau ikut campur masalah mereka, Sa." Jawab Kinar
"Yakin lo? Ini Jefan lho yang terluka, yakin lo nggak mau jadi obat buat luka hatinya?" Kinar menoleh menatap Elsa. Mencari tau maksud dari ucapan sahabatnya itu.
"Lo udah cukup sembunyi di balik perasaan lo sendiri!" Kata Elsa sembari menatap Kinar.
Kinar hanya diam mendengarkan apa yang hendak Elsa utarakan lagi.
"Gue sahabat lo, gue tau semua tanpa lo harus ngomong." Lanjut Elsa. Kinar masih tetap dalam diamnya sampai akhirnya Elsa pergi meninggalkan dirinya.
cuma sangat disayangkan,, alurnya muter muter..
selalu diceritakan lagi dan lagi, bisa 1 bab tu yg muter..
semoga kedepan lebih baik lagi.. semangat
-POSESSIVE PILOT
-"AFFAIR WITH UNCLE++"
-My best friend's Daddy is my husband
-Pengantin Pengganti Tersakiti