Kinan dan Darwin bertemu pada malam hujan yang penuh bahaya. Untuk menghilang dari masa lalu mereka, keduanya pindah ke sebuah desa dan berpura-pura menjadi suami istri.
Di balik kehidupan sederhana sebagai guru TK dan petugas kebersihan puskesmas, mereka menemukan berbagai kejanggalan yang merugikan warga. Saat berusaha mengungkap kebenaran, perasaan yang awalnya hanya sandiwara mulai berubah menjadi nyata.
Namun tidak ada yang tahu bahwa Kinan adalah bos mafia yang ditakuti, dan Darwin adalah CEO yang sengaja menghilang dari dunia bisnis.
Ketika rahasia mereka terbongkar, mana yang lebih sulit dipertahankan: penyamaran, atau perasaan yang terlanjur tumbuh?
Pernikahan 2 Rahasia: Antara CEO dan Bos Mafia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Desa Sonorejo
Darwin mengikuti arah pandangnya. Mobil hitam itu masih terparkir di kejauhan. Pintu pengemudi terbuka. Seorang pria turun. Meski hanya siluet di bawah cahaya lampu jalan yang redup, Kinan mengenalinya.
Pria itu berjalan beberapa langkah lalu berhenti di dekat sebuah truk besar yang terparkir di bahu jalan.
Dua orang sudah menunggunya di sana. Salah satu dari mereka membawa tas hitam.
Darwin mengamati beberapa saat. "Itu orang yang mengejarmu?" Kinan tidak langsung menjawab.
Pria itu menerima tas tersebut, membukanya sebentar, lalu berbicara dengan kedua orang itu.
Tidak ada yang menoleh ke arah pickup.
Tidak ada yang tampak mencari siapa pun.
Namun kehadirannya saja sudah cukup membuat Kinan merasa tidak nyaman.
"Lebih baik kita tidak berada di sini," katanya pelan.
Darwin menatap wajahnya, wanita itu terlihat benar-benar waspada. Bukan karena takut.
Melainkan karena mengenali bahaya.
Sebelum Darwin sempat bertanya lagi, suara kap mesin ditutup terdengar dari depan kendaraan.
Brak.
Keduanya langsung menoleh. Sopir pickup berjalan di sisi kendaraan. Langkahnya semakin dekat. Kinan refleks merunduk di balik karung-karung sayuran. Darwin ikut menundukkan kepala. Suasana mendadak terasa sempit. Hanya ada bau tanah, sayuran basah, dan suara langkah yang semakin mendekat.
Krek.
Terpal bergeser sedikit. Cahaya lampu jalan masuk dari celah yang terbuka. Jantung Kinan berdetak lebih cepat. Tangannya perlahan mengepal.
Beberapa detik berlalu. Tidak ada suara. Tidak ada gerakan. Lalu terdengar gumaman pelan.
"Terpalnya longgar." Terpal kembali jatuh menutupi bak.
Langkah kaki menjauh. Kinan tidak bergerak. Darwin juga tetap diam. Baru setelah terdengar pintu kabin ditutup, mereka saling berpandangan.
Mesin pickup menyala. Getarannya terasa sampai ke lantai bak. Kendaraan itu mulai bergerak perlahan keluar dari bahu jalan. Meninggalkan mobil hitam di belakang.
Kinan menoleh sekali lagi. Pria itu masih berdiri di dekat truk. Sedang berbicara dengan dua orang tadi. Tidak ada tanda-tanda ia menyadari keberadaan mereka.
Jarak semakin jauh. Lampu-lampu kendaraan perlahan mengecil. Lalu menghilang ditelan gelap malam.
Beberapa waktu kemudian, Darwin tertidur lagi.
Kepalanya bersandar pada karung berisi kubis.
Napasnya teratur. Seolah pelarian di tengah malam hanyalah perjalanan biasa baginya.
Kinan memandangnya beberapa saat. Lalu mengalihkan pandangan ke luar. Pemandangan mulai berubah. Gedung-gedung menghilang. Deretan ruko semakin jarang. Jalan raya yang lebar berganti jalan dua lajur yang sepi.
Sesekali hanya ada truk pengangkut hasil panen yang melintas dari arah berlawanan.
Langit perlahan memucat. Malam mulai menyerahkan tempatnya kepada pagi. Entah kapan akhirnya Kinan ikut tertidur.
Ketika matanya terbuka lagi, sinar matahari sudah menyelinap dari sela terpal. Pickup masih berjalan. Namun kali ini pemandangan di luar benar-benar berbeda. Sawah terbentang sejauh mata memandang. Kabut tipis menggantung di atas pematang. Beberapa petani berjalan sambil memikul cangkul.
Darwin membuka mata hampir bersamaan. Ia berkedip beberapa kali lalu duduk tegak. "Aku bermimpi atau kita memang diculik?"
Kinan tidak menanggapi. Tatapannya tertuju ke depan. Sebuah gapura sederhana berdiri di tepi jalan. Catnya terlihat tak sempurna. Sebagian hurufnya bahkan sudah mengelupas.
Namun tulisannya masih terbaca.
SELAMAT DATANG DI DESA SONOREJO
Pickup melaju melewati gapura itu. Terdengar suara mesin tua dan udara pagi yang membawa aroma tanah basah.
Darwin membaca tulisan di gapura sekali lagi. Lalu menoleh pada Kinan. "Kau pernah ke sini?"
"Belum."
"Aku juga." Mereka terdiam beberapa saat.
Pickup terus bergerak memasuki desa. Pickup tua itu terus bergerak menyusuri jalan desa yang masih basah oleh embun pagi.
Beberapa menit kemudian kendaraan itu melambat. Di depan, tampak sebuah pertigaan kecil dengan warung sederhana yang baru membuka pintunya. Seorang ibu sedang menyapu halaman. Dua anak berseragam SD berjalan sambil bercanda di pinggir jalan.
Pickup akhirnya berhenti. Mesinnya mati. Suasana mendadak sunyi.
Darwin dan Kinan saling pandang. "Kita turun?" tanya Darwin.
"Kita memang bukan pemilik kendaraan ini."
Darwin mengangguk. Mereka menyingkirkan sebagian karung sayuran lalu turun dari bak.
Begitu kedua kaki mereka menyentuh tanah, suara pintu kabin terbuka. Sopir pickup menoleh ke belakang.
Lalu membeku. "Astagfirullah." Pria paruh baya itu melotot.
Darwin mengangkat tangan. "Pagi, Pak."
Sopir itu berkedip beberapa kali. "Kalian dari mana?"
Darwin berpikir sejenak. "Itu Dari sini."
"Kok bisa ada di belakang?"
"Kami numpang."
"Numpang sejak kapan?"
Darwin menoleh ke Kinan. "Kau ingat sejak kapan kita berada di sini ?"
"Tidak."
"Nah."
Sopir itu masih tampak kebingungan. Tatapannya berpindah dari Darwin ke Kinan lalu kembali lagi.
Seolah sedang berusaha memahami bagaimana dua orang asing bisa muncul dari tumpukan sayuran miliknya.
Darwin mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompet. "Tetap terima kasih sudah mengantar."
Sopir itu refleks menerima uang tersebut. "Tapi saya tidak mengantar kalian."
"Justru itu yang membuat kami berterima kasih."
Darwin tersenyum tipis.
Sebelum sopir sempat mengajukan pertanyaan lain, ia sudah melangkah menjauh. Kinan mengikuti di sampingnya. Mereka berjalan menyusuri jalan desa tanpa tujuan yang jelas.
Di belakang, sopir pickup masih berdiri sambil memegang uang dan menatap mereka dengan wajah bingung.
Matahari mulai naik. Desa itu perlahan hidup.
Beberapa warga terlihat menyapu halaman. Ada yang sedang memberi makan ayam. Ada pula yang duduk di warung sambil menikmati kopi pagi.
Tidak seorang pun memperhatikan Darwin dan Kinan. Dan itu terasa menyenangkan. Untuk sementara.
Mereka berhenti di bawah pohon besar dekat lapangan desa. Darwin duduk di bangku semen yang catnya mulai memudar. Tubuhnya terasa pegal.
Kinan berdiri beberapa langkah di depannya.
Mengamati suasana sekitar.
Darwin mengikuti arah pandangnya. "Tempat ini terlihat membosankan."
"Kedengarannya kau suka."
"Aku memang suka hal-hal yang membosankan."
Angin pagi berembus pelan. Daun-daun bergerak di atas kepala mereka.
Kinan akhirnya duduk di bangku yang sama. Jarak di antara mereka menyisakan ruang untuk satu orang lagi. "Kalau mereka mencariku, mereka akan mulai dari kota."
Darwin mengangguk. "Orang-orang ayahku juga."
"Kita tidak bisa terus berpindah."
"Tidak."
Mereka kembali diam. Seorang petani melintas sambil mengendarai sepeda motor tua.
Darwin menatap lurus jalan desa yang membentang di depan mereka. Sederhana. Tidak menjanjikan apa-apa. Mungkin justru itu yang mereka butuhkan. "Aku punya usul."
Kinan menoleh.
"Kita tinggal di sini sementara."
"Sementara?"
"Kalau ternyata desa ini penuh pembunuh berantai, kita pergi."
Kinan memandangnya beberapa detik. Lalu mengalihkan pandangan ke lapangan. "Dan kalau tidak?"
Darwin menyandarkan punggung ke bangku. "Kalau tidak, kita bersembunyi sampai semua orang bosan mencari."
Kinan memperhatikan beberapa warga yang mulai berdatangan ke pasar kecil di ujung jalan.
Tidak ada seorang pun yang mengenalnya. Tidak ada yang tahu siapa dirinya. "Cukup aman," katanya.
Darwin mengangguk. "Ya, kamu benar."
.
.
.
Sore menjelang ketika mereka menemukan rumah kontrakan pertama. Bangunannya sederhana. Dinding bata yang sudah dicat beberapa kali. Halaman kecil di depan. Atapnya tidak bocor, setidaknya dari luar terlihat begitu.
Pemilik rumah tampak tertarik menyewakannya.
Sampai akhirnya seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun datang menghampiri. Pak RT.
Atau lebih tepatnya orang yang mengurus pendataan pendatang di desa itu.
"KTP-nya, Mas."
Darwin dan Kinan saling pandang. Hanya sesaat.
Namun cukup lama untuk membuat pria tua itu mengernyit. "KTP?" ulang Darwin.
"Iya. Pendatang harus lapor."
Darwin mengeluarkan dompet. Kinan tetap diam.
Pria tua itu memperhatikan mereka bergantian.
"Kalian dari mana?"
"Kota."
"Ya saya tahu dari kota."
Darwin tersenyum tipis. Pria tua itu tidak membalas senyumnya. Tatapannya berpindah ke Kinan. "Istrinya tidak bawa KTP?"
Kinan membuka mulut. Darwin lebih cepat. "Bawa."
"Mana?"
Hening.
Pria tua itu menyilangkan tangan. "Kalian suami istri?" Pertanyaan sederhana. Namun membuat keduanya terdiam.
Darwin melirik Kinan. Kinan balas melirik.
Tidak ada yang menjawab. Dan itu ternyata sudah cukup menjadi jawaban.
Ekspresi pria tua itu berubah. "Kalau bukan keluarga, saya tidak bisa izinkan tinggal satu rumah."
Darwin menghela napas pelan. "Pak..."
"Bukan saya yang buat aturan." Pria tua itu menggeleng. "Banyak anak muda datang ke desa, bilang saudara, bilang teman. Akhirnya bikin masalah."
Darwin mengusap wajahnya. Kinan masih diam.
Pria tua itu kembali bicara.
"Kalau memang suami istri, tunjukkan surat nikah atau identitas."
"Lalu kalau tidak?"
"Tidak bisa tinggal." Tidak ada nada marah. Justru karena diucapkan dengan tenang, kalimat itu terasa lebih sulit dibantah.
Pria tua itu berbalik. "Saya kembali besok pagi."
Langkahnya menjauh meninggalkan halaman.
Darwin dan Kinan tetap berdiri di tempat.
Rumah kontrakan yang beberapa menit lalu terlihat menjanjikan mendadak terasa jauh.
Beberapa saat berlalu.
Darwin memecah keheningan. "Menurutmu kalau aku bilang kita sepupu, dia percaya?"
"Tidak."
"Teman kerja?"
"Tidak."
Darwin mengembuskan napas panjang. "Ini desa yang sangat curiga."
Kinan menatap jalan yang mulai sepi. Kemudian berkata pelan. "Hanya ada satu cara."