Enam tahun menunggu suami pulang dari Korea, Nandin percaya semua pengorbanannya akan terbayar. Ia membesarkan dua anak kembar seorang diri, bekerja siang malam demi menyambung hidup, sementara suaminya tak pernah mengirim nafkah sedikit pun.
Namun kepulangan suaminya justru membawa surat perceraian.
Pengkhianatan itu menghancurkan hidup Nandin hingga ia kehilangan kewarasannya dan harus menjalani rehabilitasi di sebuah pondok di Jawa Timur. Terpisah dari kedua putri yang sangat dicintainya, Nandin berjuang bangkit dari luka yang nyaris merenggut hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhatu Lukita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anak-anak yang Tak Pernah Ditanyakan
Ada satu hal yang perlahan dipelajari Nandin selama suaminya berada di Korea.
Manusia bisa terbiasa dengan kesepian.
Awalnya terasa menyakitkan.
Lalu menjadi kebiasaan.
Dan pada akhirnya, menjadi bagian dari hidup.
Pukul tiga pagi, alarm ponsel berbunyi.
Nandin langsung membuka mata.
Tubuhnya terasa pegal luar biasa.
Perutnya sudah sangat besar.
Bahkan untuk bangun dari tempat tidur saja ia membutuhkan beberapa detik untuk mengumpulkan tenaga.
"Kita bangun ya, Nak."
Tangannya mengusap perutnya.
Dua tonjolan kecil bergerak dari dalam.
Membuat senyumnya mengembang.
Meski hidup sedang tidak baik-baik saja, bayi-bayinya selalu berhasil menjadi alasan untuk bertahan.
Dengan langkah pelan, ia berjalan menuju dapur.
Hari itu ada pesanan tiga puluh nasi kotak dari kantor kelurahan.
Jumlah terbesar yang pernah ia terima sejak membuka katering rumahan.
Aroma bawang goreng segera memenuhi ruangan sempit itu.
Panci besar mulai mendidih.
Ayam-ayam yang sudah dimarinasi semalaman siap digoreng.
Nandin bekerja sambil sesekali memegangi pinggangnya yang nyeri.
Namun ada perasaan hangat yang mengisi dadanya.
Usahanya mulai berkembang.
Perlahan.
Sedikit demi sedikit.
Tetapi berkembang.
"Bu Nandin!"
Suara dari luar rumah membuatnya menoleh.
Ternyata Bu Rini.
Tetangganya yang selama ini banyak membantu mempromosikan kateringnya.
"Saya mau tambah pesanan."
Nandin langsung tersenyum.
"Tambah berapa, Bu?"
"Sepuluh kotak."
"Mau buat kapan?"
"Besok pagi."
Mata Nandin berbinar.
"Siap."
"Alhamdulillah."
Bu Rini tertawa.
"Masakanmu memang enak."
Nandin tersipu malu.
Pujian itu sederhana.
Namun bagi seseorang yang selama berbulan-bulan hanya menerima kritik dan pengabaian, pujian sekecil apa pun terasa begitu berarti.
Sebulan terakhir, nama katering Nandin mulai dikenal warga sekitar.
Awalnya hanya tetangga.
Lalu pengajian.
Kemudian acara kantor kelurahan.
Bahkan beberapa guru sekolah dasar dekat kompleks mulai menjadi pelanggan tetap.
Keuntungan yang didapat memang belum besar.
Tetapi cukup untuk membayar kebutuhan sehari-hari.
Cukup untuk membeli susu kehamilan.
Cukup untuk menyisihkan sedikit demi sedikit biaya persalinan.
Untuk pertama kalinya sejak Wisnu pergi, Nandin merasa memiliki kendali atas hidupnya sendiri.
Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.
Siang itu, saat sedang mengemas pesanan, tiba-tiba pandangannya berkunang-kunang.
Tangannya gemetar.
Napasnya terasa pendek.
Perutnya mengeras.
Sangat keras.
"Ngh..."
Nandin memegangi meja.
Tubuhnya berkeringat dingin.
Rasa sakit menjalar dari pinggang hingga perut bawah.
"Ya Allah..."
Ia mencoba berdiri.
Namun kakinya justru melemas.
Bruk!
Tubuhnya terduduk di lantai.
Untung Bu Rini yang sedang datang mengambil pesanan langsung melihat kejadian itu.
"Astagfirullah!"
Wanita itu berlari menghampiri.
"Nandin!"
"Aku nggak apa-apa..."
"Nggak apa-apa dari mana?!"
Wajah Nandin pucat seperti kertas.
Bahkan bibirnya mulai kehilangan warna.
"Perutku sakit."
"Kita ke klinik sekarang."
"Nggak usah..."
"Nggak bisa!"
Bu Rini langsung memanggil suaminya.
Lima belas menit kemudian mereka sudah berada di klinik.
Dokter yang memeriksa langsung terlihat serius.
"Kamu terlalu banyak aktivitas."
Nandin menunduk.
"Saya harus kerja, Dok."
Dokter menghela napas.
"Saya mengerti."
"Tapi kandungan kembarnya mulai memberi tekanan besar."
Jantung Nandin berdebar.
"Tekanan bagaimana?"
"Risiko lahir prematur meningkat."
Deg.
Kalimat itu langsung membuatnya panik.
"Terus gimana, Dok?"
"Kamu harus lebih banyak istirahat."
Nandin hampir tertawa getir.
Istirahat?
Bagaimana caranya?
Kalau ia berhenti bekerja, siapa yang akan membayar hidup mereka?
Siapa yang akan membeli kebutuhan bayi?
Siapa yang akan membayar biaya persalinan?
Dokter seolah mengerti isi kepalanya.
"Saya tahu keadaanmu sulit."
"Tapi kesehatan bayi lebih penting."
Nandin mengangguk pelan.
Meski di dalam hati ia tahu itu tidak akan mudah dilakukan.
Malam harinya, Nandin duduk di depan rumah sambil menikmati angin.
Tubuhnya masih lemas.
Namun pikirannya jauh lebih lelah.
Ia membuka WhatsApp.
Seperti biasa.
Tidak ada pesan dari Wisnu.
Tidak ada panggilan.
Tidak ada kabar.
Padahal hari ini dokter mengatakan kehamilannya mulai berisiko.
Padahal hari ini ia hampir pingsan.
Padahal hari ini ia sangat membutuhkan seseorang untuk bersandar.
Tapi tidak ada.
Wisnu seperti menghilang dari kehidupan mereka.
Yang tersisa hanya status "suami" di atas kertas.
Beberapa hari kemudian.
Sebuah kenyataan yang lebih menyakitkan akhirnya sampai ke telinga Nandin.
Saat itu ia sedang mengantar pesanan ke rumah Bu Ratna.
Tetangga yang kebetulan tinggal tidak jauh dari rumah Ibu Sri.
Mereka sedang mengobrol santai saat nama Wisnu tiba-tiba disebut.
"Oh iya."
Bu Ratna tertawa kecil.
"Anak Bu Sri memang perhatian ya."
Nandin mengangkat kepala.
"Perhatian?"
"Iya."
"Kenapa?"
"Hampir tiap malam telepon ibunya."
Senyum di wajah Nandin langsung membeku.
"Apa?"
"Iya."
"Sering banget."
"Mungkin kangen."
Bu Ratna masih terus berbicara.
Namun telinga Nandin mulai berdenging.
Hampir tiap malam?
Telepon?
Jadi Wisnu punya waktu menelepon?
Punya waktu berbicara berjam-jam?
Tetapi tidak pernah punya waktu untuk menanyakan kondisi istrinya?
Kondisi anak-anaknya?
Malam itu Nandin tidak bisa tenang.
Ia mencoba menghubungi Ibu Sri.
Tidak diangkat.
Ia mencoba lagi.
Tetap tidak diangkat.
Akhirnya ia memutuskan datang langsung ke rumah mertuanya.
Begitu sampai, suara tawa langsung terdengar dari ruang tamu.
Ibu Sri sedang menelepon seseorang.
Dan suara itu...
Suara yang sangat dikenalnya.
Wisnu.
Jantung Nandin langsung mencelos.
Ia berdiri di depan pintu.
Mendengar percakapan mereka.
"Iya, Nu."
Ibu Sri tertawa.
"Uangnya sudah Ibu terima."
Suara Wisnu terdengar samar dari speaker.
"Nanti bulan depan saya kirim lagi."
"Jangan lupa buat renovasi dapur ya, Bu."
"Iya."
"Kalau kurang bilang saja."
Nandin membeku.
Kalau kurang bilang saja.
Kalimat itu terus bergema di kepalanya.
Sementara dirinya...
Bahkan untuk membeli vitamin kehamilan harus menghitung sisa uang di dompet.
Tangan Nandin mengepal.
Pintu langsung ia dorong.
Brak!
Ibu Sri terkejut.
"Nandin?"
Wisnu juga langsung diam di ujung sana.
"Mas."
Suara Nandin bergetar.
"Kamu ada waktu ternyata."
Hening.
Tak ada yang menjawab.
"Kamu bisa telepon Ibu setiap hari."
Masih hening.
"Tapi kamu nggak pernah sekalipun tanya anak-anakmu."
Ibu Sri langsung berdiri.
"Jangan bikin keributan."
"Saya bicara sama suami saya, Bu."
"Kamu nggak sopan!"
Nandin tertawa miris.
Sopan?
Setelah semua yang mereka lakukan?
"Aku cuma mau tanya satu hal, Mas."
Suaranya mulai pecah.
"Apakah kamu masih menganggap kami keluarga?"
Hening.
Sangat lama.
Lalu suara Wisnu akhirnya terdengar.
"Kamu terlalu sensitif."
Kalimat itu menjadi tetes terakhir yang membuat gelas kesabaran Nandin meluap.
"Sensitive?"
Air matanya jatuh.
"Aku hampir pingsan minggu lalu."
Tidak ada jawaban.
"Dokter bilang kehamilanku berisiko."
Tidak ada jawaban.
"Aku mengandung anak kembar kita."
Tetap tidak ada jawaban.
Dan saat itulah Nandin sadar.
Tidak peduli berapa banyak ia bicara.
Tidak peduli seberapa keras ia menangis.
Lelaki itu sudah tidak lagi peduli.
Malam semakin larut ketika Nandin pulang.
Langkahnya terasa berat.
Namun bukan karena perutnya.
Melainkan karena hatinya.
Sesampainya di rumah, ia langsung masuk kamar.
Lalu duduk di pinggir tempat tidur.
Tangannya mengusap perutnya perlahan.
Dua bayi kecil itu kembali bergerak.
Seolah merasakan kesedihan ibunya.
"Maaf ya..."
Bisiknya.
"Ibu gagal memilih ayah yang baik buat kalian."
Air mata mengalir lagi.
Namun kali ini berbeda.
Tidak ada harapan yang tersisa.
Tidak ada penantian.
Tidak ada lagi alasan untuk membela Wisnu.
Karena kenyataannya sudah sangat jelas.
Lelaki itu tidak meninggalkan mereka karena sibuk.
Tidak meninggalkan mereka karena kesulitan.
Tidak juga karena tidak punya waktu.
Ia memilih untuk tidak peduli.
Dan itu jauh lebih menyakitkan.
Malam itu juga, untuk pertama kalinya sejak Wisnu pergi ke Korea...
Nandin berhenti menunggu.
Ia berhenti berharap ponselnya berbunyi.
Berhenti berharap ada transfer masuk.
Berhenti berharap ada perhatian.
Karena ia sadar satu hal.
Mulai hari ini...
Ia hanya punya dirinya sendiri.
Dan dua bayi kecil yang sedang berjuang tumbuh di dalam rahimnya.
Sementara di luar sana, badai yang lebih besar sedang menunggu.
Badai yang akan datang bersamaan dengan hari kelahiran mereka.