Menjalin hubungan serius dan hari pernikahan pun telah ditetapkan, tentunya membuat gadis manapun akan berpikir bahwa pria itulah yang akan menjadi imam dalam rumah tangganya, tak terkecuali gadis cantik bernama Azira putri. Namun semua mimpi dan harapan indah itu hancur seketika, dengan kedatangan seseorang dari masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5.
Lexi terus mengayunkan langkah menjauh meninggalkan bad pasien yang ditempati oleh Reka, melintas di depan meja staff dokter, melirik pada Zira yang kini tengah sibuk memeriksa reka medis pasien. Secara kebetulan Zira mengangkat pandangannya, sehingga untuk beberapa detik tatapan keduanya saling beradu. Zira buru-buru mengalihkan pandangannya kembali pada reka medis dihadapannya.
Setelah Lexi benar-benar berlalu, Zira memandang ke arah pintu di mana tubuh tegap pria itu baru saja menghilang. Kini Zira kembali teringat pada ucapan Lexi semalam yang memintanya meninggalkan calon suaminya, Leon.
"Ya Tuhan... Mengapa aku harus terlibat dengan pria kejam sepertinya?." Batin Zira merasa putus asa.
"Dokter Zira..." Lamunan Zira buyar seketika saat mendengar seruan dari salah seorang rekan sejawatnya.
"Iya, dok."
"Titipan bunga dari calon suami tercintanya dokter Zira." Rekan sejawatnya tersebut menyerahkan buket bunga titipan dari Leon kepada Zira. "Tuh, orang di depan." Dokter yang usianya beberapa tahun diatas usia Zira tersebut menuding ke arah dinding kaca di mana nampak Leon tengah berdiri sambil tersenyum hangat ke arah calon istrinya. Zira memang tak dapat mendengar apa yang dikatakan oleh Leon, namun dari gerakan bibirnya, Zira dapat menebak jika pria itu tengah mengucapkan kata i love you untuknya. Zira lantas membalasnya dengan senyuman hangat. Tak lama berselang, Leon pun berlalu dari tempatnya berdiri saat ini.
"Calon suami dokter Zira romantis banget, bikin iri deh." Canda rekan sejawatnya tadi dihadapan beberapa perawat yang juga bertugas di ruangan tersebut.
Zira merespon nya dengan senyuman tipis, seolah membenarkan. Leon termasuk tipikal pria romantis. Bagaimana tidak, hampir setiap hari pria itu mengirimkan buket bunga untuknya, dan dibeberapa kesempatan pria itu bahkan rela meluangkan waktunya untuk mengantarkannya langsung ke rumah sakit tempat Zira bekerja, makanya membuat sosok Leon sebagai calon suami Zira dikenal oleh para rekan kerja Zira. Hampir semua sifat yang didambakan oleh kaum hawa ada pada diri Leon.
"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang?." Batin Zira. Ia sangat dilematis dengan permasalahan yang kini tengah dihadapinya. Di satu sisi ia tidak sanggup berpisah dengan pria yang sangat dicintainya, tapi di sisi lain Zira teringat pada perkataan Lexi. Belum tentu Leon bersedia menerima wanita bekas pria lain, terlebih pria itu adalah kakaknya sendiri.
"Apa sebaiknya aku mengakui kondisiku yang sebenarnya kepada Leon? Tapi bagaimana jika apa yang dikatakan pria itu benar, Leon tidak mau menerimaku setelah tahu yang sebenarnya?." Saking banyak pikiran, Zira sampai tak menyadari kedatangan salah seorang keluarga pasien yang kini tengah berdiri didepan mejanya hendak melaporkan bahwa cairan infus milik anggota keluarganya hampir habis.
Sore harinya.
Zira mendapat telepon dari Leon.
"Halo. Ada apa, Leon?."
"Aku sudah di depan, sayang. Sore ini aku akan bermain basket dengan teman-temanku, dan aku ingin kamu ikut bersamaku!." Terdengar suara Leon dari seberang telepon.
"Baiklah." Biasanya setelah bermain basket bersama teman-temannya mood Leon jauh lebih baik. Zira berencana membahas hal penting tentang kondisinya kepada Leon setelah pria itu selesai bermain basket nantinya. Jika Leon bersedia menerima apapun kondisinya sekarang, maka Zira tak lagi ambil pusing dengan ancaman Lexi.
Setelah menyudahi panggilan telepon, Zira bersiap untuk pulang.
Kedatangan Zira disambut oleh tatapan serta senyuman manis Leon.
"Bagaimana kerjaan kamu hari ini, sayang?." Mungkin bagi sebagian orang pertanyaan sederhana seperti itu tidaklah berarti tapi bagi Zira itu bisa mengurangi rasa lelahnya setelah seharian berkutat dengan rutinitas nya di ruang IGD.
"Seperti biasa, cukup melelahkan." Jawab Zira sambil tersenyum manis seperti biasanya.
Leon membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Zira masuk ke dalam mobilnya. Setelahnya, Leon pun mengitari mobil dan ikut duduk di bangku kemudi. Leon sangat menjaga Zira, bahkan di dalam hubungan mereka yang sudah terjalin selama tiga tahun Leon hanya menci-um pipi Zira, tidak lebih, dan itu hanya terjadi beberapa kali. Sangat jauh berbeda dengan pembuatan Lexi yang membuat Zira merasa pria itu telah merendahkan harga dirinya.
Begitu menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit, akhirnya mobil Leon tiba di lapangan basket di mana biasanya ia dan teman-temannya bermain.
Ketika memasuki lapangan, Zira sangat terkejut dengan keberadaan calon kakak iparnya yang kini terlihat tengah memasang sepatu olahraganya.
Menyadari arah pandang Zira, Leon lantas berkata. "Sudah lama sekali aku tidak pernah lagi bermain basket dengan mas Lexi. Aku kangen melihat kehebatan mas Lexi dalam bermain basket, makanya aku mengajaknya sekalian."
Lexi yang baru saja selesai memasang sepatunya lantas memandang ke arah datangnya adiknya dan juga Zira. Sebuah tatapan datar nyaris tanpa ekspresi terpancar dari sorot mata tegas milik seorang Lexiano Fernandez.
Leon pun ikut mendudukkan tubuhnya di samping Lexi dan juga teman-temannya, mengganti pantofel yang dikenakannya dengan sepatu olahraga.
Usai bersiap-siap, Leon dan teman-temannya langsung memasuki lapangan, sementara Lexi masih berdiam diri pada posisinya.
Zira merasa tubuhnya lemas seketika di saat tinggal berdua saja dengan Lexi di bangku penonton.
"Rupanya kau cukup keras kepala juga nona Azira putri, enggan menuruti perkataanku." Ujar Lexi tanpa menatap ke arah Zira. "Apa perlu aku memperlihatkan hal mengejutkan dihadapan adikku?." Lexi melirik sejenak pada Zira.
"Jika anda sampai berani melakukan tindakan gila pasti akan berdampak juga pada hubungan anda dengan calon istri anda, bukan? Apa anda tidak takut ditinggal pergi oleh calon istri anda kalau beliau sampai tahu apa yang pernah dilakukan oleh calon suaminya terhadap wanita lain?." Kedatangan Lexi untuk menjenguk Reka di rumah sakit pagi tadi dijadikan Zira sebagai senjata untuk memutar balikkan keadaan.
Perkataan Zira seolah tidak berpengaruh sedikitpun pada pria itu. Buktinya, Lexi justru melebarkan senyum mendengarnya.
"Sepertinya anda sudah salah paham nona Azira putri. Apa yang dikatakan oleh gadis itu di rumah sakit tadi sama sekali tidak benar, dia bukan calon istri saya. Kalaupun dia tahu tentang apa yang pernah terjadi diantara kita, saya tidak peduli sama sekali." Setelah mengatakan kalimat itu, Lexi bangkit dari duduknya dan berlalu memasuki lapangan, bergabung bersama Leon dan juga teman-temannya.
Sepeninggal Lexi, Zira sontak menyadarkan punggungnya pada sandaran bangku penonton, menatap ke arah pria yang dianggapnya tak punya hati, Lexi.
"Leon adalah pria yang sangat baik, lalu bagaimana mungkin ia memiliki seorang kakak yang tidak punya hati nurani seperti pria itu?." Zira bergumam dengan perasaan tak menentu, niat dan rencananya untuk mengakui kondisinya yang sebenarnya kepada Leon pun seolah lenyap begitu saja.
Hingga detik ini, Zira masih bertanya-tanya mengapa tiga tahun lalu Lexi tega melakukan perbuatan bej-at kepadanya, padahal mereka tidak pernah saling kenal satu sama lain.
kamu benci banget ma Lexi,tanpa kamu sadari suami mu banyak pengagumnya
dan aku begitu juga 😆😆😆
kesian dia karena ambisi gila orang tuanya yang ingin berbesan dengan orang tua mu
Mimi aja Lex 🤣