NovelToon NovelToon
Transmigrasi Permaisuri Yang Tidak Dicintai

Transmigrasi Permaisuri Yang Tidak Dicintai

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / Time Travel
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Afrasya Andila

Dahulu, dia hanyalah seorang wanita biasa yang hidup pas-pasan. Namun, takdir berkata lain. Dia terbangun dalam tubuh seorang permaisuri yang tak dicintai, diabaikan oleh suaminya dan tak dianggap oleh rakyat.

Tapi, bukannya bersedih, dia malah kegirangan! Siapa yang peduli dengan cinta jika dia memiliki kekayaan, kekuasaan, dan kehidupan mewah yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya? Menjadi permaisuri abal-abal yang kaya raya? Tentu saja dia mau!

Dia akan menikmati setiap momen dalam kemewahan ini, biarpun tanpa cinta. Karena baginya, yang penting adalah menjadi permaisuri kaya, bukan permaisuri yang dicintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Afrasya Andila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5. Selir "Suara Kejepit" dan Tawa Permaisuri

Cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui jendela besar paviliun, menyilaukan mata Melan yang masih asyik bergelung di balik selimut sutranya. Namun, begitu kesadarannya terkumpul, dia langsung terduduk tegak.

Pikirannya tidak lagi melayang ke arah stok sabun cuci piring yang habis, melainkan ke arah gudang emas di balik lemarinya.

"Lin! Siapkan gaun yang paling ringan tapi tetap kelihatan mahal. Hari ini saya mau keluar istana!" seru Melan dengan semangat membara.

Dayang Lin masuk dengan langkah terburu-buru, membawa nampan berisi air mawar. "Keluar istana, Yang Mulia? Tapi... Anda harus meminta izin kepada Yang Mulia Raja terlebih dahulu. Itu adalah protokol tetap bagi seorang Permaisuri."

Melan mendengus. "Minta izin sama si Gorden Berjalan itu? Repot amat. Tapi ya sudahlah, daripada saya dicegat penjaga di gerbang terus ditusuk tombak, mending saya temui dia sekarang. Di mana dia?"

"Biasanya Yang Mulia Raja sedang berada di taman mawar jam begini, menikmati teh pagi," jawab Lin sambil mulai menata rambut Melan.

Melan memilih gaun berwarna krem pastel pilihan yang jauh lebih kalem dibanding selera Melan "asli" yang kabarnya suka warna merah menyala seperti cabai rawit.

Setelah siap, dia melangkah menuju taman mawar dengan langkah santai, diikuti Lin yang terus-menerus merapikan ekor gaunnya.

Namun, langkah Melan terhenti saat mendekati gazebo taman. Sayup-sayup, terdengar suara yang membuat bulu kuduknya berdiri. Bukan karena seram, tapi karena suaranya sangat... aneh.

"Aduh, Yang Mulia Raja... tehnya sedikit terlalu panas untuk bibir saya yang tipis ini. Bisakah Yang Mulia meniupkannya untuk saya? Hiks."

Melan mengintip dari balik semak-semak mawar. Di sana, Raja Nolan duduk dengan gaya kaku seperti biasa. Di sampingnya, ada seorang wanita yang dandanannya membuat Melan ingin beristighfar.

Bedaknya tebal sekali, putihnya tidak nyambung dengan warna leher, dan perona pipinya merah bulat seperti baru saja ditampar kanan-kiri.

"Siapa itu, Lin? Muka apa tembok bangunan?" bisik Melan tanpa sadar.

Lin menutup mulutnya, menahan tawa sekaligus takut. "Itu Nona Fek Fe, Yang Mulia. Putri dari Marquess. Kabarnya, beliau adalah kandidat kuat selir pertama yang dipilih oleh dewan penasehat untuk memperkuat aliansi kerajaan."

Melan memperhatikan tingkah Fek Fe. Wanita itu memegang cangkir teh dengan kelingking yang diangkat setinggi langit, lalu bicara dengan nada yang dibuat-buat. suara yang dipencet sedemikian rupa sampai terdengar seperti kejepit pintu.

"Yang Mulia Raja, apakah baju saya hari ini cantik? Saya menghabiskan waktu tiga jam hanya untuk memilih renda ini agar serasi dengan mata tajam Yang Mulia..." ucap Fek Fe sambil mengedipkan matanya berkali-kali, seolah-olah ada debu masuk ke sana.

Melan tidak tahan lagi. Dia keluar dari persembunyiannya sambil tertawa terbahak-bahak.

"Bwahaha! Aduh, ampun! Perut saya sakit!"

Nolan dan Fek Fe serentak menoleh. Wajah Nolan langsung mengeras saat melihat Permaisurinya berdiri di sana sambil memegangi perut, tertawa sampai air mata keluar.

"Permaisuri? Apa yang Anda lakukan di sini?" tanya Nolan dingin, meski dalam hati dia merasa heran.

Kemarin pagi saat sarapan, Melan bertingkah bar-bar. Tadi malam dia menghina bajunya. Sekarang, dia tertawa seperti orang gila?

Fek Fe berdiri, wajah dempulnya tampak tersinggung. "Yang Mulia Permaisuri, sungguh tidak sopan tertawa seperti itu di depan Yang Mulia Raja. Apakah Anda tidak diajarkan tata krama di kediaman Duke?"

Melan menyeka air matanya, mencoba meredakan tawanya. "Maaf, maaf. Habisnya lucu sekali. Nona... siapa tadi? Fek Fe? Suara Anda itu asli atau memang sedang sakit tenggorokan? Kedengarannya seperti suara kucing yang ekornya tidak sengaja terinjak. Dan itu bedak... kalau Anda bersin, apa tidak terjadi polusi udara di taman ini?"

"Anda... Anda berani menghina saya?!" Fek Fe menjerit kecil, suaranya makin melengking tinggi.

"Yang Mulia Raja, lihat! Permaisuri merendahkan saya!"

Nolan mengerutkan kening, menatap Melan tajam. Dia memperhatikan wajah istrinya itu. Sejak kemarin, Melan tidak lagi memakai makeup tebal yang biasa dia gunakan.

Wajahnya polos, hanya sedikit rona alami, tapi Nolan harus mengakui dalam diam bahwa Melan jauh lebih cantik begini. Jauh lebih bersih dibanding Fek Fe yang duduk di sampingnya.

Tapi pasti ini hanya sandiwara baru, pikir Nolan sinis. Dia sengaja tidak berdandan agar terlihat berbeda dan menarik perhatianku. Dasar licik.

"Cukup, Permaisuri," ujar Nolan tegas. "Apa tujuan Anda datang ke sini? Jika hanya untuk membuat keributan, sebaiknya Anda kembali ke paviliun Anda."

Melan mengatur napasnya, mencoba bersikap formal meski hatinya masih ingin tertawa.

"Saya datang untuk meminta izin, Yang Mulia Raja. Saya ingin keluar istana hari ini. Saya bosan di dalam terus, saya butuh melihat dunia luar... dan mungkin belanja sedikit."

Nolan mengangkat sebelah alisnya. "Belanja? Bukankah gudang Anda sudah penuh dengan barang-barang tidak berguna yang Anda beli setiap minggu?"

"Itu kan Melan yang dulu, Yang Mulia. Melan yang sekarang ingin membeli barang yang benar-benar berguna," sahut Melan santai.

"Jadi, bagaimana? Boleh tidak? Saya janji tidak akan memalukan nama kerajaan... meskipun baju Anda sendiri sudah cukup memalukan."

Nolan mendengus. "Anda masih saja membahas pakaian saya."

"Karena memang perlu dibahas, Yang Mulia," Melan melirik Fek Fe yang masih cemberut.

"Apalagi melihat calon selir Anda ini. Kalian berdua kalau jalan bareng pasti dikira rombongan sirkus yang sedang tersesat. Satunya gorden berjalan, satunya lagi badut kekurangan panggung."

"Yang Mulia Raja!" Fek Fe merengek, tangannya mencoba meraih lengan baju Nolan.

"Lihat betapa jahatnya Permaisuri! Saya hanya ingin menjadi pendamping yang baik untuk Anda, tapi beliau malah menyerang fisik saya!"

Nolan melepaskan tangan Fek Fe dengan halus namun tegas. Dia merasa pening.

"Permaisuri, jika saya mengizinkan Anda keluar, apa jaminannya Anda tidak akan berulah di pasar?"

"Jaminannya? Hm, apa ya?" Melan mengetuk dagunya. "Begini saja. Kalau saya berulah, Yang Mulia boleh memotong jatah bulanan saya selama satu tahun.

Tapi kalau saya pulang dengan tertib, Yang Mulia harus membuang satu baju yang paling banyak rumbainya di lemari Anda. Bagaimana? Adil kan?"

Nolan terdiam sejenak. Dia merasa tertantang, sekaligus penasaran dengan apa yang akan dilakukan Melan di luar sana.

"Baiklah. Saya izinkan. Tapi Anda harus dikawal oleh ksatria pilihan saya. Saya tidak ingin Anda melarikan diri atau diculik karena kelakuan aneh Anda."

"Deal! Siapkan ksatria yang paling tampan ya, Yang Mulia, agar saya semangat jalannya," canda Melan sambil mengedipkan sebelah mata pada Nolan, yang sukses membuat sang Raja mematung sesaat.

Melan berbalik, melambaikan tangan tanpa menoleh lagi. "Dah, Raja Nolan! Dah, Nona Bedak Tembok! Semoga tehnya tidak bikin sakit perut ya!"

Begitu Melan menjauh, Fek Fe langsung mengadu lagi. "Yang Mulia, Permaisuri benar-benar sudah berubah menjadi kasar. Anda tidak boleh membiarkannya bertindak semena-mena."

Nolan tidak menjawab. Matanya masih tertuju pada punggung Melan yang berjalan menjauh. Ada sesuatu yang berbeda.

Melan yang dulu akan sangat cemburu melihatnya bersama wanita lain, dia akan mengamuk dan menjambak rambut siapa pun yang mendekatinya. Tapi hari ini... Melan justru menertawakan mereka. Dia terlihat sangat lepas, sangat tidak peduli.

Apa dia benar-benar hilang ingatan? Atau ini adalah taktik baru untuk membuatku merasa bersalah? Nolan membatin. Apapun itu, aku tidak boleh jatuh ke dalam perangkapnya. Dia tetaplah perempuan gila perhatian.

Sementara itu, di sepanjang koridor, Melan hampir melompat-lompat kegirangan.

"Hahaha! Lin, kamu lihat muka Nona Fek Fe tadi? Kayak adonan kue yang gagal mengembang!"

Lin tertawa kecil di belakangnya. "Anda sangat berani, Yang Mulia. Biasanya Anda akan sangat marah jika melihat Nona Fek Fe mendekati Raja."

"Ngapain marah, Lin? Cowok kayak Nolan itu kalau di dunia saya... eh, di tempat asal saya, itu tipikal cowok red flag. Ganteng tapi kaku, seleranya buruk, dandanannya ribet. Mending saya fokus sama emas-emas saya. Yuk, kita siapkan koper—eh, maksud saya tas belanja yang besar. Hari ini kita harus foya-foya!"

Gue bakal borong semua makanan enak di pasar! batin Melan penuh kemenangan. Persetan sama selir, persetan sama Nolan. Yang penting perut kenyang, hati senang, dan dompet aman!

Dia merasa hidupnya sebagai permaisuri abal-abal ini mulai terasa sangat menyenangkan. Tidak ada sinyal HP? Tidak masalah. Menghina Raja dan selirnya ternyata jauh lebih menghibur daripada scrolling TikTok seharian.

1
ilaa
lanjut up thorr, penasaran sama si fek fe
merpati: ga nyangka 🤭
total 1 replies
Ma Em
Melan emang unik sdh diculik tapi msh saja memikirkan bagaimana caranya bisnis untuk mengumpulkan pundi pundi uang masuk ke kantongnya .
merpati: soalnya di kehidupan sebelumnya melan jadi pekerja, di kehidupan kedua dia mau jadi bosnya
total 1 replies
Ma Em
Semoga apa yg akan Melan lakukan segera terlaksana dan benar2 sukses dgn yg Melan bangun agar Raja dan orang2 yg ada di kerajaan Nolan tdk meremehkan Melan lagi .
merpati: melan mah nggak peduli di remehin yg penting kaya dulu 🤭🙏
total 1 replies
Andini Cantik
lanjuttttt up
Firniawati
bagus tidak menye² tapi pemilihan katanya yg campur aduk
merpati: makasih kakaa, nanti aku revisi
total 1 replies
Firniawati
ayo kak kapan updatenya?
Sesarni Andiva
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!