Indry gadis religius yang lembut dan terlalu baik pada semua orang.
Zaki lelaki yang selalu hadir dan memberi namun perbedaan keyakinan selalu menjadi tembok pemisah yang tak terlihat diantara mereka.
pertemuan di stasiun tegal setelah 15 Tahun berpisah, menjadi awal dari kisah yang entah apa ujung nya.
tawa kecil, telfonan larut malam dan rasa nyaman pelan pelan berubah jadi kangen dan terbiasa.
tapi bagaimana jika cinta saja tak cukup?
bagaimana kalau Tuhan punya rencana lain....
dan satu keputusan yang harus dipilih,
melanjutkan.... atau melepaskan....
karna kadang, kangen terbesar adalah kangen yang hanya Tuhan yang tau....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Yuliantina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep 9: Travel nya sejuk, tapi hati Zaki sedikit meleleh gerah.
Jam 12:20 siang. Terminal Kalideres.
Zaki duduk di bangku travel paling belakang. AC-nya kenceng, tapi keringetnya masih netes.
Dia pegang Dadanya yang masih berdentum detak didalam.
Di saku dada, rosario pink muda masih nyangkut. Lupa dikasih balik.
Lupa bilang “ini punya kamu”.
Di sebelahnya, bapak-bapak ngorok. Di depan, ibu-ibu buka bekal rendang.
Zaki nggak lapar. Otaknya muter ulang 6 jam terakhir:
Indry pucat. Indry pegang perut. Indry bilang “rumah pulang”.
Zaki Pria Dewasa. Laki-laki normal.
Dia nggak buta.
Dia lihat Indry capek, kurusan setelah terakhir kali di stasiun malang, tapi matanya masih tajam.
Dia lihat cara Indry tepok kepala Meta, cara Indry pegang rosario.
Dia nggak munafik: ada hasrat. Ada keinginan buat peluk, buat bilang “udah, istirahat. Aku yang jaga”.
Tapi adabnya lebih kenceng dari hasratnya.
15 tahun dia nunggu.
15 tahun dia jaga jarak.
Kalau sekarang dia nyelonong, sama aja dia nggak beda sama laki-laki lain yang cuma mau “dapet”.
Zaki tarik napas. Pegang rosario di saku.
“Ya Allah… kalau dia emang untukku, tolong jagain dia. Kalau bukan, tolong kasih aku kuat buat mundur.”
Travel mulai jalan. Zaki pejam mata. Tapi nggak bisa tidur.
*Jam yang sama. Kos Karawaci.*
Indry baring miring. Perut masih perih, tapi udah makan bubur Zaki.
Ventolin di meja.
Dia pegang HP. Di layar: chat Zaki yang terakhir “Kamu makan ya. Jangan lupa ventolin.”
Indry dewasa. namun siapa sih wanita yang nggak rindu punya sandaran?
Apalagi setelah badai hidupnya.
Kepala keluarga 6 orang.
Tapi Dia tau batas. Dia tau Zaki alim.
Dia tau kalau dia minta pelukan, Zaki nggak akan tolak… tapi juga nggak akan langgar batas.
Tapi Tuhan, kangen itu aneh.
Sudah ketemu, tapi tambah rindu.
Sudah lihat orangnya, tapi rasanya pengen denger suara lagi.
Pengen lihat cara dia naruh bubur.
Pengen…
dipeluk. sebentar saja.
Indry tarik selimut.
Bisik pelan: “Tuhan, kalau ini ujian, kasih aku kuat. Kalau ini jodoh, kasih aku sabar.”
Meta keluar dari kamar, rambut acak.
“Dry… lu tiduran tapi mata melek. Mikirin Zaki kan?”
Indry nggak jawab. Meta langsung nyengir. “Woy! Romantis diam lu ketahuan. Mukamu kayak orang baru putus cinta, padahal baru ketemu.”
Indry lempar bantal. Meta nangkep.
*Jam 1 siang. Grup WA “Keluarga AndreBetari”
meledak lagi.*
Ogah: “KAK! KAK ZAKI UDAH SAMPE MANA?!”
Carel: “TADI MALAM KATANYA TIDUR DI LANTAI?! SERIUS?!”
Mauba: “ROMANTIS BANGET! TIDUR DEKAT PINTU!”
Paul: “KAK INDRY JATUH CINTA KAN?! JAWAB!”
Paul :"Ada yang bakalan makan HALAL terus ni. "
Paul skakmat bahasa halus...
Meta nggak tahan. Dia ambil HP Indry, bales pakai stiker api 🔥
Meta: “Udah ya anak-anak! Zaki udah otw pulang! Nggak ada adegan cium! Nggak ada adegan nikah! Yang ada bubur habis, ventolin kebeli, rosario ketinggalan di saku Zaki!”
Ogah: “ROSARIO KETINGGALAN?! ITU TANDA JODOH KAK!”
Carel: “KAK META JANGAN KOMPOR!”"KAGAK SETUJU GUA!!!!! "
Meta: “Gue bukan kompor. Gue korek api. Lu yang bahan bakarnya kering.”
Indry nyambar HP. “MET LU GILA YA! DIEM!”
Meta ngak. “Biar mereka nggak kepo ke lu. Fokus istirahat.”
Tapi Indry tau. Meta sengaja. Biar dia nggak overthinking sendirian.
*Jam 4 sore. Travel masuk Cirebon.*
Zaki baru berani buka WA.
Notif Indry: “Sudah makan?”
Zaki baca 3 kali. Tangannya gemetar.
15 tahun dia nggak pernah nanya “sudah makan” ke Indry. Sekarang bisa.
Dia bales:
“Udah. Kamu juga ya.”
Indry bales 10 detik kemudian:
“Udah. Makasih buburnya.”
Zaki diem. Jari mau ngetik panjang, tapi dihapus.
Akhirnya dia kirim voice note 3 detik. Suaranya pelan, sedikit serak:
“Indry… hati-hati ya. Aku kangen.”
Kirim.
Zaki langsung tutup HP. Muka merah.
“Astagfirullah… gue kenapa nekat.”
Di kos Karawaci, Indry denger voice note itu.
Dia ulang 2 kali.
“Indry… hati-hati ya. Aku kangen.”
Dia nggak bales. Dia nggak berani.
Tapi matanya basah.
15 tahun, baru pertama kali Zaki bilang “kangen”.
Meta ngintip dari belakang. “WOY! SUARA ZAKI! ROMANTIS! AKU REKAM YA!”
Indry langsung rebut HP. “JANGAN! LU HAPUS!”
Meta ketawa. “Tenang, gue simpen di hati. Sama kayak lu simpen Zaki 15 tahun.”
*Jam 6 sore Zaki sampai Tegal.*
Zaki sampai. Rumah sepi. Bu Warti udah sholat.
Dia masuk kamar, duduk di pinggir kasur. Pegang rosario pink muda.
Dia nggak bisa tidur.
Hasrat ada. Tapi adab nahan.
Rindu ada. Tapi takut ganggu Indry.
Dia buka WA. Lihat foto Indry 3 hari lalu: pakai seragam Klinik, rosario di tangan.
Zaki kirim chat pendek:
“Indry, istirahat ya. Aku jaga dari sini.”
Indry baca jam 10 malam. Dia nggak bales. Tapi dia screenshot.
Dia simpen di folder “Doa”.
Dua orang. Dua doa. Dua rasa kangen.
Tapi satu adab: nggak maksa. Nggak nyelonong. Nggak nyakitin.
Meta ngetik di grup:
“Anak-anak, tidur ya. Kakak kalian aman. Zaki juga aman. Yang nggak aman cuma hati Meta… soalnya gue nahan nggak nge-spill voice note Zaki.”
Ogah: “KAK META SPILL DONG!!”
Carel: “JANGAN KAK!”
Mauba: “KAK INDRY BACA NGGAK VOICE NOTE ITU?!”
Paul: “KAK INDRY JAWAB YA! BILANG AKU MASIH SUKA BEBONG KECAP! "
Indry matiin HP.
Dia pejam mata. Di luar, hujan kecil.
Di Tegal, Zaki juga pejam mata.
Di saku, rosario pink muda masih hangat.
Aku kangen, Indry.
Tapi Tuhan tau.