NovelToon NovelToon
Dibalik Tatapan Profesor

Dibalik Tatapan Profesor

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Alena datang ke London untuk mengejar gelar dan masa depan baru di Kingston University. Ia berniat fokus belajar, menjauh dari drama, dan menata hidupnya kembali.

Namun semuanya berubah ketika ia bertemu Dr. Adrian Vale—dosen muda yang terkenal dingin, pendiam, dan nyaris mustahil didekati.

Di depan semua orang, Adrian adalah pria profesional dengan kendali sempurna. Tetapi di balik tatapan tajam dan sikap tenangnya, tersimpan hasrat gelap yang perlahan hanya muncul saat bersama Alena.

Dimulai dari pertemuan-pertemuan singkat, diskusi malam yang terlalu lama, hingga ciuman terlarang di tempat yang tak seharusnya—hubungan mereka tumbuh menjadi rahasia yang berbahaya.

Semakin dekat, semakin sulit berhenti.

Di antara aturan kampus, reputasi yang dipertaruhkan, dan perasaan yang makin dalam, Alena harus memilih:

Menjaga masa depannya...

atau menyerah pada pria yang mampu membuatnya kehilangan kendali hanya dengan satu tatapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Panggilan ke Ruang Dosen

AB 5 — Panggilan ke Ruang Dosen

Hari-hari berikutnya terasa seperti siksaan tersendiri bagi Alena.

Di hadapan orang lain, di dalam kelas, mereka harus berpura-pura menjadi sosok yang profesional dan biasa saja. Adrian kembali menjadi Dr. Vale yang dingin, tegas, dan tak tersentuh. Alena kembali menjadi mahasiswi yang patuh, mencatat setiap kata yang diucapkan dosennya tanpa berani menatap terlalu lama.

Tapi di dalam hati? Segalanya berubah total.

Setiap kali Alena mendengar suara bariton itu menjelaskan materi, otaknya langsung melayang kembali ke malam itu di perpustakaan. Ke hangatnya bibir itu, ke kuatnya pelukan itu, dan ke bisikan yang mengatakan bahwa dia diinginkan.

"Pay attention to the graph, people. This will be on your mid-term test."

[Perhatikan grafiknya, semuanya. Ini bakal keluar di ujian tengah semester.]

Ucap Adrian di depan kelas, suaranya datar dan dingin. Matanya menyapu seluruh ruangan, dan saat berhenti sebentar di wajah Alena, tidak ada senyum, tidak ada kedipan mata. Hanya tatapan profesional biasa.

Seolah-olah ciuman itu hanyalah mimpi.

Alena menunduk, memainkan ujung pulpen di tangannya. Dadanya terasa sesak. Dia bingung. Apakah pria itu menyesal? Apakah dia menganggap apa yang terjadi malam itu hanya kesalahan sesaat dan ingin melupakannya?

Pikiran itu membuatnya gelisah.

 

Siang itu, saat jam istirahat hampir berakhir, seorang staf administrasi mendatangi tempat duduk Alena.

"Miss Alena?"

"Yes?"

"Dr. Vale memintamu datang ke ruangannya sekarang. Katanya ada masalah dengan berkas pendaftaran mata kuliahmu yang perlu diperbaiki segera."

Alena tersentak. Jantungnya langsung berdegup kencang. "O-okay. Thank you."

Dengan kaki yang terasa berat, Alena berjalan menuju koridor dosen. Jalanan itu terasa panjang dan sunyi. Setiap langkah membawanya semakin dekat ke pintu kayu tebal bertuliskan nama Dr. Adrian Vale, Ph.D.

Dia menarik napas panjang, mengetuk pintu pelan.

Tok.. tok.. tok..

"Come in."

[Masuk.]

Suara itu terdengar dari dalam.

Alena memutar gagang pintu dan masuk perlahan. Ruangan itu luas, beraroma buku tua dan parfum mahal yang sangat familiar. Jendela besar membiarkan cahaya matahari sore masuk, menerangi debu-debu yang beterbangan.

Adrian duduk di balik meja kerjanya yang besar. Dia sedang sibuk menulis sesuatu dengan kacamata baca yang menempel di hidungnya, membuatnya terlihat sangat sexy dan dewasa.

Melihat Alena masuk, dia meletakkan pulpennya. Dia tidak langsung bicara, hanya menatap gadis itu dari atas ke bawah dengan tatapan yang sulit dibaca.

Suasana langsung berubah. Udara di ruangan itu seakan menjadi padat dan panas. Ketegangan yang mereka coba sembunyikan kemarin, kini meledak kembali tanpa perlu kata-kata.

"Tutup pintunya," perintah Adrian pelan. Bahasa Indonesia. Suara rendah dan dalam.

Alena menurut, menutup pintu itu perlahan hingga berbunyi klik pelan. Sekarang hanya ada mereka berdua di dalam ruangan tertutup itu.

"Duduk," tunjuk Adrian ke kursi di hadapannya.

Alena duduk dengan tegangan tinggi. Tangannya dia taruh di atas pangkuan, mencoba tenang.

"Berkas saya ada masalah apa, Pak?" tanya Alena memberanikan diri, memulai topik formal dulu.

Adrian tidak menjawab langsung. Dia justru berdiri dari kursinya, berjalan keluar dari balik meja, dan berjalan mendekati Alena. Langkahnya pelan, santai, tapi setiap langkah itu membuat jantung Alena makin berpacu.

Pria itu berhenti tepat di depan gadis itu. Sangat dekat.

Alena harus mendongak untuk menatap wajahnya. Dia bisa melihat rahang tegas itu mengeras, bisa melihat kilatan di mata hitam itu yang kini tidak lagi dingin, melainkan penuh dengan gejolak yang ditahan-tahan.

Adrian menopang tangannya di sandaran kursi Alena, sedikit menjepit gadis itu di sana. Aura dominannya keluar begitu kuat.

"Berkas?" tanya Adrian balik, suaranya berat. "Kamu tahu sendiri kan kalau berkasmu tidak ada masalah apa-apa, Alena."

Alena menelan ludah. "Te-terus kenapa Bapak panggil saya?"

Adrian menatap wajah itu lekat-lekat. Dia terlihat sedang menahan diri sangat keras. Otot rahangnya bergerak-gerak menahan emosi. Jarak mereka hanya beberapa sentimeter. Alena bisa merasakan panas tubuh pria itu, bisa mencium aroma yang sama yang membawanya ke langit malam itu.

"Aku gila..." gumam Adrian pelan, lebih ke dirinya sendiri. "Aku harusnya menjauh. Aku harusnya menjaga jarak aman sama kamu. Tapi..."

Matanya menelusuri wajah Alena, turun ke bibir gadis itu lalu kembali ke mata.

"...aku nggak bisa. Sejak malam itu, aku nggak bisa fokus. Semua yang aku lihat cuma wajah kamu."

Alena terpaku. Darah seakan berhenti mengalir.

Adrian menundukkan wajahnya sedikit, membuat tatapan mereka semakin intens.

"Jawab aku jujur..." bisiknya, suaranya terdengar serak dan parau.

Tangannya yang besar perlahan terulur, jari telunjuknya dengan sangat lembut menyentuh pipi Alena, mengusapnya pelan. Sentuhan itu membuat Alena gemetar.

"Kamu... menyesal?" tanya Adrian pelan, tatapannya tajam mencari kepastian. "Menyesal pernah cium aku? Menyesal apa yang terjadi di perpustakaan?"

Pertanyaan itu menggantung di udara. Berat. Penuh ketakutan akan jawaban yang menyakitkan.

Alena menatap manik mata di depannya. Dia bisa melihat keraguan di sana, dia bisa melihat perjuangan batin pria itu. Tapi dia juga bisa melihat rasa sayang dan hasrat yang sama besarnya dengan yang dia rasakan.

Rasa takut, rasa ragu, semua lenyap seketika.

Alena menggeleng pelan. Bibirnya terbuka, mengucapkan satu kata yang menjadi jawaban segalanya.

"Tidak."

Suaranya lembut, tapi tegas.

"Saya tidak menyesal, Pak."

Mendengar jawaban itu, napas Adrian tampak lega seketika. Tatapan mata itu berubah, menjadi lebih lembut namun juga lebih membara. Dia semakin mendekatkan wajahnya, hingga hidung mereka hampir bersentuhan.

"Syukurlah..." bisiknya. "Karena kalau kamu menyesal... aku mungkin nggak akan sanggup melepaskan kamu pergi."

1
jeakawa loving❤️
masih coba untuk membaca walau agak loncat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!