Zara Ayleen adalah perempuan religius dari keluarga sederhana yang percaya bahwa hidup selalu punya jalan lurus untuk tetap dijalani. Namun satu malam yang kelam menghancurkan keyakinannnya. Dalam keadaan yang tak pernah ia kehendaki, Zara menjadi korban dari kesalahan seorang lelaki yang bahkan tak kenal dengan baik—Arsyad Faizandra Wiratama pewaris perusahaan besar yang hidupnya penuh kendali, kekuasaan dan kesombongan. Kesalahan itu memaksa mereka terikat dalam pernikahan tanpa cinta. Bagi Arsyad pernikahannya dengan Zara merupakan bentuk tanggung jawab bukan perasaan. Bagi Zara, pernikahannya dengan Arsyad adalah ujian terberat dalam hidupnya. Dibawah satu atap, mereka hidup sebagai suami istri yang asing. Arsyad dingin dan berjarak, sementara Zara memendam luka dan berharap dalam diam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Pernikahan
Aku mematut didepan cermin, penampilanku kini sudah rapi sempurna. Aroma melati wangi semerbak memenuhi ruang kamarku yang terbilanh kecil, hanya berukuran 4x4 meter.
Kebaya berwarna putih sudah melekat rapi pada tubuhku yang kecil, riasan wajah telah merubah wajahku yang tadinya pucat pasi kini terlihat lebih segar.
Malam ini malam yang akan mengganti statusku, malam ini aku akan menjadi seorang istri dari laki-laki yang tidak aku kenal. Laki-laki yang aku tidak ketahui asal usulnya. Dia yang telah merenggut kesucianku.
Aku memandangi wajahku, anak kecil ini kini harus terpakasa menikah akibat perbuatan seseorang yang kejam, bernama pria.
“Cantik banget mbak.” Seorang prias wanita membuyarkan lamunanku. Aku hanya tersenyum tipis, tidak ada tenaga lagi untuk berbasa-basi. Saat ini perasaanku sedang tidak baik-baik saja. Fikiranku hanya terfokus pada bagaimana kehidupan rumah tanggaku nanti. Ya Allah bukan ini yang aku pinta, aku tidak pernah meminta nasib seperti ini. Yang aku pinta adalah hanya ingin menikah dengan laki-laki baik, yang bisa menuntunku dan membimbingku kedalam kebaikan, yang bisa menjadi imam yang baik untuku dan anak-anaku kelak.
Tapi enkaulah pemilik skenario terbaik, aku tidak berpasrah begitu saja. Aku percaya didepan sana kebahagiaan akan menjemputku. Kabulkan do’a hambamu untuk yang ini.
“Ra….. sudah dek?” Kak Sofhia, kakak keduaku yang paling dekat denganku, karena mungkin umur kita yang berbeda hanya satu tahun.
Aku mengangguk pasrah, entah mengapa aku merasa tidak rela dengan pernikahan ini. Aku merasa ada yang sedikit menjanggal dihatiku, aku tidak yakin dengan pernikahan ini. Ya Allah bantu aku.
“Malah bengong lagi, akad akan segera dimulai mempelai pria sudah datang.” Ucapnya lembut, mengusap bahuku.
“Kak….” Air mataku sudah menggenang dipelupuk mata. “Apakah ini jalan yang benar, tapi kenapa hati zara merasa berat sekali untuk pernikahan ini.”
Kak diana datang, ia mengusap pelan punggungku. “Memang begitu godaan pernikahan ra, yakinlah ini jalan yang terbaik insyaAllah. Kamu jangan sedih nanti make up nya luntur. Udah cantik begini adik kaka na.”
“Udah yok turun, yang lain udah nunggu udah malem juga.”
Aku mulai menuruni tangga perlahan di gandeng dengan kedua kaka ku kak diana dan shofia. Kaki ku sedikit bergetar dan hampir saja tersandung, kalau tidak ada yang memegangi tanganku, mungkin aku sudah tersungkur kedepan.
Sudah sampai dilantai bawah, sekilas melayangkan pandang, rombongan dari mempelai pria hanya sedikit dan tentu saja aku tidak mengenalinya. Aku menundukan kepala, berjalan menuju tempat yang telah dipersiapkan, disamping pria yang kini sudah duduk tegap berhadapan dengan ayah. Jas hitam melekat sempurna ditubuh gagahnya, pria disampingku nyaris sempurna, tapi bukan dia yang aku inginkan, aku nyaris membencinya.
Lengan kokoh itu kini sudah menjabat erat tangan ayah, ijab kabul akan segera dilafalkan. Jantungku kian berdegup cepat.
“Saya terima nikah dan kawinnya Zara Ayleen binti Mizwar dengan mas kawin cincin perhiasan dibayar tunai.” Suarany tegas menggema diruangan ini, pelafalnya begitu lancar tanpa hambatan seperti orang yang sudah mempersiapkannya jauh-jauh hari.
“SAH….”
Ada yang berdenyut nyeri didalam dada ini, aku pasrah dan menerima semua ini.
Lafalan do’a sudah dilayangkan oleh bapak penghulu dan para pemuka yang turut diundang oleh ayah.
Tidak terasa air mataku menetes.
Sesuai perintah dari ayah, aku hanrus mencium tangan suamiku. Tangannya tidak dingin dan juga tidak hangat. Sekilas aku mendongak menatap wajahnya, datar tidak ada ekspresi apapun, tatapannya sulit diartikan. Aku mulai mencium tangannya, air mataku jatuh ditangannya sontak dengan cepat aku mengusapnya.
Tidak ada kecupan hangat, seperti pasangan pengantin yang berbahagia yang saling mencintai satu sama lain, kini kami sibuk dengan fikiran masing-masing, mendatangi surat nikah dan lain-lain.
Para tamu yang hadir turut memberikan selamat, hanya tetangga dekat rumah dan kerabat dekat ayah dan ibu. Walaupun dari ekspresi mereka tidak luput, seperti orang yang sedang curiga, bagaimana tidak mengundang kecurigaan, pernikahan ini sungguh tiba-tiba dan tanpa direncanakan.
***
“Kemasi pakaianmu!, pindah kerumah saya malam ini juga!” Ucapnya dibelakangku, dengan santainya ia memasuki kamarku tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
“Tidak mau. Aku mau tetap disini, aku tidak mengenalmu, aku tidak tahu kejahatan apalagi yang kamu akan lakukan terhadapku jika kita hanya hidup berdua saja.” Ucapku tegas.
“Heh… saya telah melafalkan ijab. Dari detik itu juga kamu harus patuh terhadapku. Tidak ada bantahan.” Tidak mau kalah. Pria itu dengan santainya merbahkan tubuhnya dikasurku.
Ia mulai melepaskan jas yang masih melekat pada tubuhnya, mulai melonggarkan dasi dan melepas kancing kemeja bagian atasnya.
Tanganku bergetar, apa yang akan pria itu lakukan, ingatanku mulai berputar kembali pada malam kelam itu.
“Stop!,” aku memegang telinga dan memejamkan mata.
“Tolong jangan lakukan itu lagi, aku mohon…” entah mengapa rasanya sangat sesak setelah mengingat kejadian malam itu.
“Kenapa kamu selalu berprasangka buruk terhadapku, aku hanya membuka kancing kemeja bagian atas saja. Ingat saya menikahimu atas dasar tanggung jawab, bukan karena memenginginkan tubuhmu kembali, ingat itu!”
Aku membuka mata, kini pria itu sudah merebahkan tubuhnya dengan tangan sebagai bantalan, dengan tatapan yang tetuju pada langit-langit kamar.
“Baik, untuk malam ini, malam terakhir untukmu tidur dikamar ini, besok sore saya jemput dan tinggal dirumah yang telah saya sediakan. Tidak ada bantahan,”
Aku masih mematung didepan cermin. Mulai membuka semua aksesoris yang masih melekat pada hijab yang masih kukenakan.
Apakah aku sanggup tidur satu ranjang bersamanya?, jangankan satu ranjang dengan jarak bebeapa meter seoeeti inpun sudah membuat saya takut.
“Tidurlah!, saya tidak akan menyentuhmu walau setitikpun.” Ucapnya kemudian memejamkan matanya.
Aku berjalan perlahan piya berwarna krean sudah melekat ditubhku, rambutku masih basah karena tadi aku harus mandi, badan terasa lengket sekali. Pria itu mungkin sudah berlayar dialam mimpi, suara dengkurannya terdengar jelas ditelingaku.
Aku mulai meringkuk disampingnya, dengan jarak yang cukup jauh. Berhati-hati menarik selimut yang tertimpa badannya. Walaupun hati ini tidak tenang, tapi harus bagaimana lagi, tidak ada lagi tempat untuk ku bernaung.
Visual Arsyad Faizandra Wiratama, untuk visual zara ayleen Author belum nemu ya temen-temen
*
*
Jangan lupa like, komen dan vote ya, sama kadih bintang juga. Dukungan dari kalian sangat berarti untuk author💗