Di balik dinding suci sebuah pondok pesantren, tersembunyi seorang buronan. Reyshaka El Zhafran atau Shaka—tak pernah membayangkan hidupnya akan berakhir di tempat yang paling ia hindari. Demi lolos dari kejaran polisi, pengedar narkoba itu nekat bersembunyi di pesantren milik Ustadz Haidar, seorang ulama yang dikenal bijak dan disegani.
Awalnya, Shaka hanya ingin selamat. Namun hari demi hari, ketenangan, nasihat, dan ketulusan Ustadz Haidar perlahan meruntuhkan tembok keras di hatinya. Untuk pertama kalinya, Shaka mulai mengenal arti penyesalan dan harapan untuk berubah. Semua menjadi semakin rumit saat ia bertemu Hanindya Daisha Ayu—putri sang ustadz yang berhati lembut dan shalihah. Tanpa disadari, perasaan itu tumbuh diam-diam, menyiksa shaka dalam keheningan.
Tapi bagaimana mungkin seorang mantan pengedar narkoba seperti dirinya pantas mencintai perempuan sebersih Hanindya?
Terlebih, Hanindya telah dijodohkan dengan Ustadz Ilyas—lelaki yang jauh lebih layak dibanding dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
“Lo gak tahu gimana hidup gue,” lanjut Shaka dengan suara bergetar. “Lo gak tahu apa yang udah gue lewatin.” Ustadz Haidar tetap diam mendengarkan dan itu justru membuat Shaka semakin kesal. “Jadi jangan sok ngerti!” bentaknya lagi.
Suara Shaka menggema di dalam mushola.
Dadanya naik turun dengan kasar, matanya memerah, bukan karena ingin menangis tapi karena kelelahan yang terlalu lama dipendam, rasa marah yang terlalu lama disimpan dan rasa sakit yang tidak pernah benar-benar sembuh. Namun di tengah semua ledakan emosi itu, ustadz Haidar tetap tenang. Ia sama sekali tidak merasa marah, tersinggung, ataupun membalas perkataan pemuda dihadapannya dengan nada tinggi. Ia hanya menatap Shaka dengan sorot mata yang sulit dijelaskan.
“Aku memang tidak tahu,” ucap ustadz Haidar akhirnya yang membuat Shaka terdiam sesaat. “Aku tidak tahu kehidupan seperti apa yang kamu jalani. Aku juga tidak tahu penderitaan apa yang sudah kamu lewati sampai membuatmu berada di titik ini. Tapi Allah tahu.” Kalimat itu keluar dengan pelan di antara keheningan malam. “Allah tahu semua yang terjadi pada hamba-Nya.” Tatapan Ustadz Haidar tidak lepas dari wajah Shaka. “Termasuk luka yang tidak pernah kamu ceritakan ke siapa pun.”
Mushola itu kembali dipenuhi keheningan.
Namun kali ini, keheningan itu terasa berat.
Seolah udara di dalam ruangan ikut menahan sesuatu yang selama ini dipendam terlalu lama. Shaka masih berdiri di tempatnya. Tatapannya tertuju lurus pada Ustadz Haidar. Entah kenapa, kalimat yang dikatakan oleh laki laki paruh baya itu terasa mengganggu dan menusuk, seolah tanpa sadar membongkar sesuatu yang selama ini mati-matian ia kubur sendirian.
Shaka mengalihkan wajahnya sebentar, rahangnya mengeras. Ia benci perasaan ini. Ia benci saat ada seseorang yang mencoba masuk ke dalam hidupnya. Karena setiap kali itu terjadi, semuanya selalu berakhir sama.
Pengkhianatan, kehilangan, rasa sakit. Dan sekarang laki-laki di hadapannya ini bicara tentang Tuhan seolah semuanya mudah, seolah luka bisa hilang hanya dengan beberapa kalimat.
Shaka tertawa kecil, namun tawanya terdengar getir dan pahit.
“Kalau Allah memang tahu semuanya...” ucap Shaka pelan yang membuat ustadz Haidar tetap diam mendengarkan. “Kenapa hidup gue jadi kayak gini?” Suaranya mulai naik. “Kenapa?” Dadanya naik turun dengan kasar. “Kalau Tuhan emang tahu penderitaan gue…” lanjutnya dengan suara bergetar, “kenapa Dia bikin hidup gue hancur begini?!”
Suara itu menggema di dalam mushola, bukan sekadar kemarahan, Itu jeritan seseorang yang terlalu lama menyimpan luka.
Shaka melangkah mundur beberapa langkah sambil mengusap wajahnya dengan kasar. “Kalian semua gampang ngomong soal Tuhan,” katanya sinis. “Soal sabar, soal ujian hidup.” Ia tertawa lagi, tapi kali ini tawanya terdengar lebih menyakitkan. “Lo tahu gak gimana rasanya hidup sendirian?” Tatapannya terlihat tajam saat mengarah pada Ustadz Haidar. “Lo tahu gak gimana rasanya jadi anak kecil yang gak punya siapa-siapa?”
Shaka kembali bicara sebelum Ustadz Haidar sempat menjawab.
“Gue yatim piatu.” Kalimat itu keluar begitu saja dengan dingin namun menyimpan luka yang begitu besar. “Nyokap gue mati waktu gue kecil.” Napas Shaka mulai berat. “Bokap gue nyusul beberapa tahun kemudian.” Tatapannya terlihat kosong untuk sesaat seolah sedang melihat masa lalu yang tidak ingin ia ingat. “Setelah itu…” ia tersenyum miris, “Hidup gue kayak sampah.”
Ustadz Haidar masih diam, memberi ruang untuk Shaka bicara dan entah kenapa, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Shaka terus bicara.
“Mau makan susah, mau sekolah susah, numpang hidup ke sana-sini kayak pengemis.”
Tangannya mengepal. “Gak ada yang peduli.” Kalimat itu keluar pelan namun terasa sangat berat. “Orang-orang cuma bilang kasihan.” Shaka tertawa sinis. “Tapi habis itu apa? Mereka pergi. Jadi jangan bilang Tuhan ngerti penderitaan gue kalau kenyataannya gue harus bertahan hidup sendirian.”
Suasana mushola terasa semakin sesak. Angin malam yang masuk dari sela jendela terasa dingin namun tidak sedingin cerita yang baru saja keluar dari mulut Shaka.
“Di dunia ini…” lanjutnya lirih, “Nggak ada yang bakal peduli sama anak yatim piatu kayak gue.” Ia menatap Ustadz Haidar dengan tajam.
“Kalau bukan gue sendiri yang berjuang.” Kalimat itu terdengar begitu jujur, begitu mentah dan menyakitkan. Shaka mengusap wajahnya dengan kasar sebelum melanjutkan perkataannya, “Lo pikir gue pengen jadi kayak gini?” Nada suaranya meninggi. “Lo pikir gue bangga jadi pengedar narkoba?!” Dadanya kembali naik turun. “Tapi dunia gak pernah kasih gue pilihan!” Tangan Shaka menunjuk dirinya sendiri. “Gue cuma mau bertahan hidup!” Nada suaranya terdengar pecah penuh emosi. “Dan jalan ini…” ia menggertakkan rahangnya, “Jalan ini satu-satunya yang bikin gue bisa makan.”
Suasana hening kembali memenuhi mushola.
Shaka menunduk sebentar sambil mengatur napasnya yang kacau. Semua emosi yang selama ini ia simpan seolah keluar begitu saja malam itu. Di hadapan orang asing yang bahkan baru dikenalnya beberapa jam. Namun anehnya, ia tidak bisa berhenti untuk tidak mengatakannya. Mungkin karena ia terlalu lelah, mungkin karena selama ini tidak pernah ada yang benar-benar mendengarkan keluh kesahnya, atau mungkin karena tatapan Ustadz Haidar tidak menghakimi dirinya.
Setelah beberapa saat, Ustadz Haidar akhirnya menarik napas pelan. Tatapannya tetap terlihat tenang namun kali ini terlihat lebih dalam dan memahami semua penderitaan yang dirasakan oleh Shaka.
“Aku tidak akan bilang hidupmu mudah,” ucap ustadz Haidar pelan yang membuat Shaka diam. “Aku juga tidak akan bilang rasa sakit mu tidak nyata.Tapi…” ia berhenti sejenak. Tatapannya menatap lurus ke mata Shaka.
“Kadang manusia terlalu sibuk menyalahkan Tuhan atas nasib yang menimpa dirinya.”
Shaka langsung mengernyit sementara rahangnya kembali mengeras, namun Ustadz Haidar tetap melanjutkan perkataannya, “Padahal Allah tidak pernah memaksa manusia memilih jalan yang buruk. Allah memberi manusia pilihan. Dan manusia sendiri yang menentukan jalan hidupnya.”
Shaka menatap ustadz Haidar dengan tajam.
“Lo mau nyalahin gue sekarang?”
“Tidak.” Jawab ustadz Haidar dengan cepat. “Tapi aku ingin kamu mengerti sesuatu.”
Ustadz Haidar melangkah pelan mendekat.
Tidak terlalu dekat, namun cukup untuk membuat kata-katanya terasa lebih nyata.
“Menjadi miskin bukan dosa. Menjadi yatim piatu juga bukan dosa.” Tatapannya terlihat lembut. “Tapi saat kamu memilih jalan yang menghancurkan hidupmu sendiri, itu pilihan.”
Shaka mengepalkan tangannya kuat-kuat sementara ustadz Haidar melanjutkan perkataannya,
“Aku tahu dunia bisa sangat kejam. Kadang manusia dipaksa bertahan dengan cara yang salah. Tapi salah tetaplah salah.”
Kalimat itu membuat wajah Shaka menegang.
Ia ingin membantah namun sebagian kecil dari dirinya tahu bahwa ada sesuatu yang benar dari ucapan itu dan itu membuatnya semakin kesal.
“Kamu bilang jadi pengedar narkoba adalah caramu bertahan hidup,” lanjut Ustadz Haidar. "Namun pernahkah kamu berpikir…” ia berhenti sejenak. "Tentang anak-anak muda yang hidupnya hancur karena barang yang kamu jual?” Shaka terdiam. “Pernahkah kamu berpikir tentang ibu yang menangis karena anaknya kecanduan? Tentang keluarganya yang rusak karena pengaruh barang haram itu hingga membuat hidup mereka berantakan?Jalan yang kamu pilih bukan hanya merusak hidupmu sendiri, nak. Tapi juga menghancurkan kehidupan orang lain.”
Dengan ikhtiar, tawakal dan kesabaran, setiap langkah menuju jodoh bisa menjadi jalan ibadah yang diridhai Allah.
Kondisi dalam hubungan percintaan barangkali tidak akan semulus kelihatannya.
Tentu saja setiap orang akan selalu berharap mendapatkan pasangan yang ia cintai dan mencintai dirinya. Akan tetapi, dalam hidup tentu harus realistis.
Tidak semua yang kita inginkan itu bisa terwujud.
Apa yang menurut kita baik, belum tentu baik menurut Allah.
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui".
Percayakan kepada Allah yang Maha Mengetahui, Allah Sang Pemilik Hati Manusia. Jodohmu sudah diatur oleh-Nya...🤭
Sholawat ini diciptakan oleh Imam Bushiri, penyair sekaligus ulama yang tersohor di kalangan umat Muslim.
Kata burdah secara bahasa diartikan sebagai mantel.
Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa burdah berasal dari kata bur’ah yang berarti shifa (kesembuhan).
Sholawat Burdah sendiri merupakan sajak-sajak pujian kepada nabi Muhammad SAW, pesan moral, nilai-nilai spiritual, semangat perjuangan, dan sebagainya.