Nadia Tujuah tahun menikah dengan Raka
mengurus Ibu mertuanya dengan baik
mengurus anak adopsi dengan baik
selalu bersabar karena dia hanyalah anak yatim piatu
Namun tepat di usia pernikahannya yang ke tujuh
Raka malam menikah lagi Dengan Ratna Sepupunya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sap 14
“Nadia, kenapa kamu berubah?” Tatapan Yuni kini tertuju pada Nadia.
“Iya, kamu boleh kecewa, tapi jangan berlebihan, Nadia. Kamu ngambek jangan kelamaan.”
Nadia tertawa hambar. Jemarinya saling menggenggam erat di atas pangkuan.
“Aku lelah terus dibohongi.”
“Nadia, aku sudah minta maaf soal uang. Ke depan, masalah biaya rumah dan SPP Nanda biar aku yang tangani.”
“Benar-benar tidak berguna. Tidak mau bantu suami. Kamu kayak anak kecil. Hanya karena tidak diajak ke Puncak, ngambeknya seperti ini. Sebagai seorang istri, seharusnya kamu membantu suami.”
Nadia mengangkat wajahnya perlahan. Matanya memerah menahan emosi yang sejak tadi berusaha ia kendalikan.
“Ya, aku memang kayak anak kecil yang terus dibohongi. Bahkan sampai sekarang pun kalian tidak jujur sama aku,” ucap Nadia.
“Apanya yang bohong, Nadia?”
“Kamu ngapain saja kemarin di Puncak?” tanya Nadia.
“Sudah aku bilang, aku meeting, Nad.”
Nadia menggeleng pelan.
“Kamu bohong lagi.”
“Nad...” ucap Raka.
“Cukup, Raka. Sepertinya Nadia sudah mengetahui semuanya,” potong Yuni.
Raka mulai gelisah. Rahangnya mengeras. Ia merasa sudah menyembunyikan semuanya dengan sangat rapat. Apa mungkin Nadia benar-benar mengetahui kenyataannya?
“Katakan, Nadia. Apa yang kamu ketahui?”
Nadia menghela napas panjang. Dadanya terasa sesak.
“Aku sudah tahu kamu menikah dengan Ratna kemarin di Puncak.”
Suasana mendadak hening.
Raka dan Yuni terdiam. Keduanya tak menyangka Nadia bisa mengetahui hal itu.
“Dari mana kamu tahu, Nadia?”
“Tidak penting dari mana aku tahu. Yang jelas, kalian semua pembohong.”
Hening kembali menyelimuti ruangan.
Raka hendak berbicara, tetapi Yuni lebih dulu mengangkat tangan menghentikannya.
“Ya sudah, berarti kamu sudah tahu. Sekarang kamu tinggal menerima saja.”
Nadia menatap lurus ke depan.
“Ceraikan aku, dan aku akan membawa Nanda pergi.”
Raka langsung berdiri. Wajahnya panik.
“Tidak bisa, Nad.”
“Kenapa?”
“Aku masih mencintai kamu.”
Nadia tersenyum tipis. Senyum yang justru terasa menyakitkan.
“Masih saja kamu berbohong, Mas,” ucap Nadia tenang.
“Aku jujur. Aku masih mencintai kamu, Nad. Aku serius.”
“Kalau kamu masih mencintai aku, kenapa kamu mengkhianati aku?”
Raka terdiam tak berkutik. Bibirnya bergerak pelan, tetapi tak ada kata yang keluar.
“Maaf, Nad. Aku terpaksa, Nad.”
“Kamu terlalu banyak menyembunyikan sesuatu dariku. Sepertinya kamu memang tidak menganggapku sebagai istri. Kalau kamu dipaksa menikah oleh Ratna, harusnya kamu cerita padaku.”
Nadia mengusap sudut matanya yang mulai basah.
“Akhir-akhir ini memang kamu tidak menganggapku sebagai istri. Kamu tidak pernah mengajakku bicara soal rumah tangga ini. Bahkan kamu mengajak Ibu bicara, sedangkan sama aku tidak.”
“Dia anakku, Nadia,” sela Yuni dengan nada kesal.
“Tapi Mas Raka adalah suamiku. Sekarang aku malah ragu apa Mas Raka masih menganggapku istrinya atau tidak.”
“Sebagai istri yang menerima uang dari Raka, sebaiknya kamu diam saja, Nadia.”
Nadia menoleh ke arah Yuni.
“Ibu juga seharusnya jangan ikut campur urusan Mas Raka.”
“Kenapa?”
“Karena Ibu juga tinggal menerima uang dari Mas Raka.”
“Aku ibunya, Nadia!” bentak Yuni sambil berdiri.
“Cukup! Cukup! Aku mohon hentikan pertengkaran ini!” seru Raka sambil memegang kepalanya yang mulai berdenyut.
“Istri kamu memang tidak berguna, Raka!”
Yuni bangkit dengan wajah merah padam.
Bruk!
Terdengar suara pintu dibanting keras.
Raka memejamkan mata. Dadanya terasa berat.
“Aku sudah membuat terlalu banyak luka pada Nadia.”
Raka berbalik menuju kamar Nadia. Namun baru beberapa langkah, ia berhenti.
“Tapi dia ibuku yang sudah melahirkan aku.”
Ia mengembuskan napas berat sambil mengacak rambutnya frustrasi.
“Kenapa jadi ribet seperti ini sih?”
Raka berbalik menuju kamar ibunya. Namun ketika sampai di depan pintu, langkahnya kembali terhenti.
“Harusnya Ibu mengerti aku sudah membuat banyak luka untuk Nadia.”
Akhirnya Raka kembali ke kamar Nadia dan membuka pintu perlahan.
Nadia sedang duduk di tepi ranjang sambil meremas ujung bajunya. Bahunya tampak turun, seolah seluruh tenaganya habis.
“Nadia, maafkan aku, Nad.”
“Kenapa harus Ratna, Mas?”
Raka terdiam. Ia tidak bisa menjawab.
“Apa Ratna hamil duluan, Mas?”
“Tidak, Nad. Aku bukan lelaki bejat, Nad.”
Raka menghela napas panjang.
“Nad, aku mohon maafkan aku, Nad.”
Nadia menarik napas dalam-dalam sebelum berkata,
“Kalau begitu, ceraikan Ratna, Mas.”
“Enggak bisa, Nad.”
“Kenapa?” tanya Nadia.
Raka terdiam bimbang. Tatapannya jatuh ke lantai.
“Kalau begitu, ceraikan aku, Mas.”
“Nad, tolong jangan berikan aku pilihan sulit.”
Nadia tertawa kecil. Tawa yang terdengar getir.
“Saat menikahi Ratna, kenapa kamu enggak bilang ini pilihan sulit?”
“Nad, bisa kita baik-baik saja? Banyak kok wanita yang dipoligami. Ya, awalnya memang enggak terima, namun seiring waktu akhirnya mereka menerima juga.”
“Berikan aku alasan yang jelas. Kenapa aku harus menerima poligami?”
“Nadia, nabi saja poligami. Artinya enggak ada larangan.”
Nadia langsung mengangkat kepalanya. Matanya menatap tajam ke arah Raka.
“Jangan samakan kamu dengan nabi. Apakah akhlak kamu sudah sama dengan nabi? Apakah kamu sudah jujur sama aku? Apakah kamu sudah membahagiakan aku? Dan apakah Ratna itu janda tua yang sudah tidak bisa mencari nafkah? Apakah Ratna wanita jenius yang sudah hafal ribuan hadis sehingga harus kamu nikahi?”
Suara Nadia bergetar. Bukan karena takut, melainkan karena terlalu kecewa.
Dia paling tidak suka ketika ada lelaki yang ingin berpoligami dengan membawa-bawa nama nabi untuk membenarkan keinginannya.
Raka hanya diam.
“Kamu hanya menuruti nafsu saja untuk poligami. Kamu harus menceraikan salah satu, karena kalau dilanjutkan, akan terluka dua-duanya,” ucap Nadia.
“Nad, tolonglah demi Nanda.”
Nadia memejamkan mata.
Dan di sinilah titik lemah Nadia.
“Nadia, kamu tahu sendiri Nanda sangat dekat denganku. Apa kamu tega kalau Nanda sedih gara-gara kita pisah?” Raka berkata pelan, mencoba menekan kegelisahan yang sejak tadi menguasai dirinya. Ia tahu ini adalah titik lemah Nadia.
Nadia menunduk sesaat sebelum menjawab, “Aku akan bawa Nanda.”
Raka menggeleng cepat. Rahangnya mengeras.
“Kamu pasti tahu, kan, kalau dalam perceraian siapa yang jadi korban?”
Nadia diam. Jemarinya kembali meremas ujung bajunya.
“Yang jadi korban pasti anak, Nadia. Hatinya akan terluka, pikirannya akan kacau. Jiwa anak korban perceraian bisa terguncang. Dia bisa membenci salah satu orang tuanya atau bahkan keduanya. Apa kamu mau Nanda tumbuh dalam kebencian?”
Mata Nadia berkaca-kaca, tetapi suaranya tetap tegas.
“Kalau begitu ceraikan Ratna, Mas. Demi Nanda.”
Kini giliran Raka yang terdiam. Tatapannya menghindar.
“Enggak bisa, Nad.”
Kening Nadia berkerut. Dadanya semakin sesak.
“Berarti Ratna sedang hamil anak kamu, Mas. Makanya kamu enggak mau menceraikan dia.”
“Dia tidak hamil. Kamu bisa lakukan tes pada dia,” jawab Raka cepat.
“Lalu kenapa kamu enggak mau cerai sama dia?”
Raka mengembuskan napas panjang.
“Nadia, bisakan kita hidup bersama? Kamu jadi istri pertama dan Ratna jadi istri kedua. Kita bersama membesarkan Nanda. Itu solusi yang paling pas, dan Ratna sudah mau.”
“Dia mau, tapi aku enggak mau,” balas Nadia tanpa ragu.
“Aku enggak akan menceraikan kamu, Nadia!” Kini suara Raka terdengar keras.
Nadia menatapnya lurus.
“Kalau begitu, aku akan menggugat kamu, Mas.”
melawan itu perlu demi kewarasan..kesehatan mental biar g jadi orang yg lemah ...aq paling benci kli melihat orang diam kli di singgung di kata katai mkinya klo mertua yg ngatai..langsung q lawan..g ada istilah mertua julid hatus di hormati..yg ada harus dihindari biar sehat jiwa raga
selamat berkarya Thor ditunggu cerita seru selanjutnya....tetap semangat Thor 💪💪