NovelToon NovelToon
KEBANGKITAN VAMPIR TERKUAT DARI TIDUR PANJANG

KEBANGKITAN VAMPIR TERKUAT DARI TIDUR PANJANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Romansa Fantasi
Popularitas:220
Nilai: 5
Nama Author: Arafi Arif Dwi Firmansyah

Kurza adalah vampir terkuat dimasa lalu, entah apa yang ada dipikiranya sehingga dia memutuskan untuk beristirhat/tidur di dalam sebuah goa . sebelum Putri Kerajaan Alabas tanpa sengaja membangunkan Kurza dari tidurnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arafi Arif Dwi Firmansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5. Siapa Gadis Ini?

"Namaku Kurza" jawab vampir itu. Malam yang tenang itu seolah berhenti berputar. Desas angin dan dinginnya udara luar tidak lagi terasa bagi Kurza, karena fokusnya kini teralihkan sepenuhnya pada beban ringan di bahunya. Khiya tertidur pulas, napasnya teratur dan tenang. Kurza sempat tertegun sejenak, takut gerakan kecilnya akan mengusik tidurnya. Namun, bukannya menjauh, ia justru sedikit memiringkan kepalanya, menjaga agar posisi Khiya tetap nyaman dalam lelapnya. Di bawah langit yang kelam, keheningan itu bukan lagi kesunyian yang mencekam, melainkan ruang bagi Kurza untuk menjaga Khiya dalam diam.

‎hari yang melelahkan tentunya untuk Khiya, berlari dari kejaran bandit, membantu menolong para korban yang selamat. "Saya akan mencari tau siapa gadis ini sebenarnya" gumam Kurza didalam hati. Sepanjang malam Kurza terjaga dan sama sekali tidak bergerak. kepala Khiya yang tadinya bersandar di bahu Kurza berpindah di pangkuan Kurza dengan selimut dari baju Kurza. Iya sepanjang malam Kurza tidak memakai baju agar Khiya terus terjaga dari dinginya malam di desa itu.

‎Tidak terasa malam berlalu dengan cepat, Pagi pun segera datang. Kurza membangunkan Khiya perlahan, "Khiya,,, bangun; matahari sebentar lagi muncul." suara Kurza tepat didekat telinga Khiya. Khiya terbangun, "Aku butuh darahmu Khiya, sebentar lagi sinar matahari muncul" Kalimat itu meluncur dari bibir Kurza dengan nada rendah namun mendesak, memecah kesunyian fajar yang mulai menyingsing.

‎Khiya yang baru saja tersentak dari tidurnya masih berusaha mengumpulkan kesadaran. Matanya yang sayu menatap wajah Kurza yang tampak pucat di bawah sisa-sisa kegelapan.

Permintaan itu bukan sekadar ajakan bangun biasa, melainkan peringatan agar Khiya cepat memberika darahnya. Tanpa ragu sedikit pun, Khiya menyingkap rambut yang menutupi lehernya, memberikan akses penuh bagi Kurza. Di matanya tidak ada ketakutan, hanya sebuah pengabdian yang tulus dan kesadaran bahwa hidup Kurza bergantung pada dirinya saat cahaya matahari mulai mengancam.

Kurza menyambut pengabdian itu dengan penuh rasa syukur. Kekuatan yang didapatkan dari kerelaan Khiya memungkinkan Kurza untuk bergerak dibawah sinar matahari, tepat saat semburat cahaya emas pertama mulai membelah langit di ufuk timur.

‎"Terima kasih, Khiya..." bisik Kurza dengan nada yang dalam, menyadari betapa besar pengorbanan yang telah diberikan. Kurza mengambil baju yang semalam di gunakan untuk menutupi tubuh Khiya dan memakainya. Khiya melirik ke arah baju Kurza yang dipenuhi noda darah para bandit, "Tuan Kurza; mari kita ke sungai!" Ajak Khiya "untuk apa kita ke sungai Khiya?" tanya Kurza, " membersihkan noda darah yang menempel di baju tuan" jawah Khiya. ‎Kurza mengangguk pelan, menyadari betapa kontrasnya noda darah bandit yang mengotori pakaiannya. Sisa-sisa pertarungan kemarin masih menempel, bau besi yang amis mulai mengering di bawah udara fajar yang segar.

‎Dengan bersamaanya cahaya matahari di pagi hari mereka bergegas menuju aliran sungai terdekat yang tersembunyi di balik rimbunnya pepohonan. Suara gemericik air yang jernih seolah menjanjikan penyucian atas segala kekacauan yang terjadi sepanjang malam tadi. Sesampainya di tepi sungai, airnya tampak dingin dan berkilau seperti cermin perak. Khiya mulai membasuh muka dan membersihkan noda-noda merah di lehernya, sementara Kurza melecuti semua pakaian yang ia kenakan di hadapan Khiya.

Khiya terkaget melihat pemandangan di depan matanya dengan teriakan "Tuaaannn,,, kenapa tuan lepas baju didepan saya?? "tanya Khiya dengan tangan mendorong tubuh Kurza, Kurza yang belum siap dengan dorongan Khiya. ‎Kurza terjerembap ke bebatuan karena dorongan kuat Khiya. Ia mengerjapkan mata, baru sadar kalau tindakannya yang terlalu spontan itu membuat Khiya syok.

‎"Aduh! Iya, iya,!" sahut Kurza sambil mengusap lengannya. "Justru karena kamu mau mencuci bajuku, aku lepas bajuku dulu" seru Kurza. Kurza berdiri tegak, membiarkan sinar matahari mengenai tubuhnya yang atletis, sementara ia memegang pakaian kotor itu dengan santai. Khiya masih mematung, wajahnya sudah semerah tomat. Ia antara ingin marah karena keberanian Kurza, tapi juga tidak bisa membantah Kurza.

‎"T-tapi Tuan bisa bilang dulu! Dan jangan berdiri sedekat ini tanpa sehalai baju!" protes Khiya pelan, meski akhirnya dia mengambil baju kotor yang ada di tangan Kurza sambil menutup mata. "Baik, baik! Jangan dorong-dorong lagi, aku bisa jatuh ke air!" jawab Kurza. Kurza akhirnya mengalah, mengangkat kedua tangannya sambil tertawa kecil melihat tingkah Khiya yang begitu panik.

Dengan langkah santai, Kurza berjalan menuju sebuah batu besar di pinggir sungai dan berjongkok di baliknya. Hanya puncak kepalanya yang sesekali terlihat mengintip.

‎"Sudah begini? Aku sudah sembunyi di balik batu," teriak Kurza dari balik persembunyiannya. "Sekarang cepat cuci bajuku dan bajumu juga! lepas baju yang kena darah, saya tidak akan melihat, janji!" Seru Kurza dari balik batu. Khiya memastikan posisi Kurza benar-benar terhalang batu sebelum ia berani bergerak. Dengan sangat hati-hati dan perasaan waswas, ia mulai melepas pakaian luarnya yang kotor, sambil sesekali melirik ke arah batu, takut kalau-kalau Kurza tiba-tiba muncul lagi.

‎Kurza yang semula berjongkok rapi, mulai merasa gatal untuk berbuat jahil. Pikiran nakalnya muncul; ia merasa ini kesempatan langka untuk menggoda Khiya lebih jauh. Dengan gerakan yang sangat pelan agar tidak menimbulkan suara atau gesekan pasir, ia mulai menggeser tubuhnya.

‎Ia menempelkan wajahnya di pinggiran batu, menyisakan celah sempit hanya untuk satu matanya mengintip. Kurza menahan napas, berusaha tetap setenang mungkin agar keberadaannya tidak disadari.

‎Di sana, ia melihat Khiya yang tengah sibuk mencuci pakaiannya, tampak waswas namun tidak menyadari bahwa ada sepasang mata yang sedang memperhatikannya dari balik bayangan batu. Kurza menyeringai kecil, merasa menang karena berhasil mengelabui gadis itu. Namun, tepat saat ia ingin melihat lebih jelas, sebuah ranting kecil di bawah kakinya berbunyi "Krak!"

‎Khiya sontak menoleh ke arah sumber suara. Matanya yang bulat langsung menangkap satu mata Kurza yang sedang mengintip dari balik celah batu. Seketika, wajah Khiya yang semula merah karena malu berubah menjadi merah padam karena amarah yang meledak.

‎"TUAAANNNN!!!" teriak Khiya dengan suara yang melengking hingga burung-burung di sekitar sungai terbang ketakutan.

‎Tanpa pikir panjang, Khiya menyambar sebuah batu kali yang ukurannya pas di genggaman dan langsung melemparkannya ke arah kepala Kurza yang mengintip. "DASAR MESUM! KATANYA JANJI TIDAK MENGINTIP!" ‎Kurza yang terkejut karena ketahuan langsung menarik kepalanya kembali ke balik batu besar, namun terlambat. Batu yang dilempar Khiya nyaris saja mengenai telinganya. ‎"Aduh! Ampun, Khiya! Aku cuma mau memastikan bajunya sudah selesai atau belum!" seru Kurza dari balik batu, mencoba membela diri dengan alasan yang sangat tidak masuk akal sambil mengelus dadanya yang berdebar kencang. "BOHONG! Keluar dari sana dan menjauh sepuluh langkah lagi, atau aku akan melempar batu yang lebih besar!" ancam Khiya sambil memeluk pakaiannya erat-erat, matanya berkaca-kaca karena antara kesal dan malu.

‎Bukannya merasa bersalah, senyum miring justru terkembang di wajah Kurza. Bukannya menjauh sepuluh langkah seperti perintah Khiya, ia malah sengaja menongolkan kepalanya lagi dengan wajah tanpa dosa. "Sepuluh langkah? Itu jauh sekali, Khiya! Bagaimana kalau tiba-tiba ada bandit lagi yang muncul dari semak-semak saat kau sedang... yah, tidak pakai baju lengkap?" goda Kurza sambil mengedipkan sebelah mata. Ia kemudian sengaja melompat keluar dari balik batu, berdiri tegak tanpa baju dan celana yang menempel di tubuhnya sambil berkacak pinggang. "Lagipula, air sungainya segar sekali. Daripada aku sembunyi di batu ini lebih baik aku mandi!" seru Kurza dari balik batu. Kurza mulai melangkah maju satu demi satu, pura-pura hendak mendekati Khiya yang masih panik.

"Satu... dua... tiga... aku datang, Khiya!" seru Kurza dengan nada jahil yang dibuat-buat, membuat percikan air di kakinya terdengar keras.

‎Khiya semakin panik, bingung harus berbuat apa, jika dia berdiri Kurza dengan leluasa melihat tubuh telanjangnya. "Jangan mendekat! Tuan benar-benar tidak tahu malu! Berhenti di sana atau aku benar-benar akan berteriak!

‎Byurrr!

‎Air sungai menciprat dengan keras ke segala arah saat Kurza mendarat tepat di depan Khiya. Gadis itu terlonjak kaget, wajah dan seluruh bagian depan tubuhnya basah kuyup terkena hantaman air akibat ulah konyol Kurza. Kurza muncul dari permukaan air, menyibakkan rambutnya yang basah ke belakang, lalu tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Khiya yang membeku seperti patung.

"Hahaha! Lihat wajahmu, Khiya! Sekarang aku membuatmu basah sekalian!" seru Kurza dengan nada kemenangan, masih berdiri di dalam air yang setinggi pinggang tepat di hadapan gadis itu.

‎Jarak mereka kini sangat dekat. Uap air dingin yang menyentuh kulit Khiya berpadu dengan rasa panas di wajahnya yang kian membara. Napas Khiya memburu, tangannya mengepal erat, menatap Kurza yang tampak sangat menikmati hasil kejahilannya.

‎"Tuan... Kurza..." geram Khiya dengan nada rendah yang berbahaya, sementara air menetes dari ujung hidungnya. sudah abaikan saja aku, dan cepat cuci baju kita. setelah itu gosok badan ku. . . .

1
T28J
hadiir kakak 🙏
Arafi Arif Dwi Firmansyah: Terima kasih bosku.
total 1 replies
putri kurnia
lanjutannya dooong, penasaran bgt ini 😍
putri kurnia
bikin penasaran kelanjutannya
Arafi Arif Dwi Firmansyah: sabar ya. malam ini bab 4 selesai.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!