NovelToon NovelToon
SEBELUM SENJA PAMIT DI AKAR TUA

SEBELUM SENJA PAMIT DI AKAR TUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Healing
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

"Kalau kau memang ingin mati, setidaknya selesaikan dulu 7 permintaanku. Setelah itu, aku tidak akan melarangmu gantung diri di pohon ini."
Kehilangan karier, dikhianati sahabat, dan ditinggal tunangan, Gani pulang ke desa masa kecilnya hanya dengan satu tujuan: mati dengan tenang di bawah pohon beringin tua.
Namun, rencananya berantakan saat Kirana—gadis desa yang cerewet, keras kepala, namun memiliki senyum paling tulus—menemukannya di hutan dan memberinya satu kesepakatan gila. Gani terpaksa menyetujui "7 Permintaan" gadis itu sebelum ia diizinkan mati.
Mulai dari mencuri mangga Kepala Desa hingga menari di bawah hujan badai, setiap permintaan justru perlahan mengembalikan warna di hidup Gani yang kelabu.
Namun, saat cinta mulai menunda niat kematiannya, Gani menyadari satu kebenaran yang kejam: Kirana memiliki alasan yang jauh lebih tragis darinya untuk tidak bisa hidup lebih lama lagi.
Kini, mampukah tangan yang pernah hancur itu menyelamatkan satu-

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Rotasi Bumi yang Terhenti

​Tawa dan sorak-sorai di halaman rumah itu tidak mereda secara bertahap. Suara itu mati seketika, seolah seseorang baru saja mencabut kabel daya dari sebuah pengeras suara raksasa.

​Bumi di bawah telapak kaki Gani berhenti berputar.

​Tubuh Kirana terasa begitu ringan di pangkuannya, namun beban ketakutan yang menghantam dada Gani memiliki bobot ribuan ton. Wajah gadis itu yang beberapa detik lalu merona karena senyum bahagia, kini berubah menjadi warna kebiruan yang mengerikan (sianosis). Mata sabitnya menggulung ke atas, menyisakan bagian putihnya saja.

​"KIRANA!"

​Raungan Gani membelah kesunyian yang membeku itu. Suara baritonnya pecah, melengking dipenuhi oleh keputusasaan purba yang merobek pita suaranya.

​"Minggir! Semuanya minggir! Beri dia udara!" Gani membentak kerumunan warga yang secara refleks merangsek maju karena panik. Tangannya yang gemetar brutal dengan cepat membuka tiga kancing teratas kemeja Kirana untuk membebaskan saluran pernapasannya.

​Gani menempelkan telinganya ke dada kiri gadis itu. Jantungnya berdetak, tapi sangat kacau. Iramanya tidak beraturan, bergetar cepat layaknya kepakan sayap ngengat yang terjebak di dalam toples kaca, tidak memompa darah ke seluruh tubuh. Fibrilasi.

​"Bibi Ratna! Pak Kades! Panggil Pak Mantri sekarang!" teriak Gani. Matanya liar mencari bantuan, menembus wajah-wajah pias warga desa.

​Pak Kades adalah orang pertama yang berhasil menguasai kepanikannya. Pria paruh baya itu berbalik dengan gerakan patah-patah. "Maman! Lari ke puskesmas! Seret Pak Mantri ke sini bawa tabung oksigen! Udin, ambilkan kunci Mobil Siaga Desa di laci Balai Desa! Sekarang! Lari!"

​Kedua pemuda dan anak kecil itu melesat membelah kerumunan layaknya peluru.

​Di teras, Bibi Ratna sudah jatuh terduduk di lantai, menangis histeris sambil memegangi kaki Kirana yang terasa sedingin es. "Nduk... ya Allah, Nduk Kirana... sadar, Nduk..."

​Gani tidak memedulikan tangisan itu. Ia mengingat kursus pertolongan pertama (CPR) yang pernah diwajibkan oleh perusahaannya dulu untuk level manajemen. Ia mengunci jari-jarinya, meletakkan pangkal telapak tangannya tepat di tengah tulang dada Kirana.

​"Jangan tinggalkan aku," desis Gani dari sela-sela giginya. Matanya memerah menyala, rahangnya mengeras. "Kau sudah berjanji, Kirana. Kau sudah berjanji!"

​Gani mulai memberikan kompresi dada. Satu. Dua. Tiga. Empat. Setiap tekanan yang ia berikan harus diukur dengan sangat hati-hati agar tidak mematahkan tulang rusuk gadis mungil itu, namun harus cukup kuat untuk memompa paksa otot jantungnya yang sedang gagal berfungsi.

​Dua menit yang terasa seperti dua abad berlalu dalam ketegangan yang mencekik.

​Suara rem sepeda motor yang berdecit kasar terdengar di depan pagar. Pak Mantri melompat turun bahkan sebelum mesin motornya mati, menenteng sebuah koper medis darurat dan sebuah tabung oksigen portabel berukuran sedang. Maman berlari menyusul di belakangnya.

​"Beri saya ruang, Mas Gani!" instruksi Pak Mantri, menjatuhkan lututnya di samping Kirana.

​Gani menghentikan kompresinya, mundur setengah langkah, memberikan akses pada pria medis itu. Tangannya yang bebas dari dada Kirana kini gemetar tak terkendali. Keringat dingin sebesar biji jagung mengucur dari pelipisnya.

​Pak Mantri langsung memasangkan sungkup oksigen ke wajah Kirana dan memutar keran tabung hingga maksimal. Ia kemudian menempelkan stetoskop ke dada gadis itu. Wajah Pak Mantri yang biasanya tenang, seketika menegang ngeri.

​"Syok kardiogenik," gumam Pak Mantri, tangannya bergerak cepat mencari pembuluh darah di lengan Kirana untuk memasang jalur infus darurat. "Jantungnya kolaps total. Ototnya tidak sanggup memompa darah sama sekali. Cairan mulai naik kembali ke paru-paru."

​"Lakukan sesuatu!" bentak Gani kalap, suaranya parau. "Berikan obat apa pun yang kau punya!"

​"Ini bukan hal yang bisa diselesaikan dengan suntikan adrenalin, Mas Gani!" Pak Mantri membalas tatapan pria itu dengan ketegasan medis. "Dia butuh alat kejut jantung (defibrillator) dan ventilator sekarang juga. Kita tidak bisa menahannya di sini. Kita harus membawanya ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten."

​Terdengar suara klakson mobil menyalak keras. Pak Kades telah mengemudikan Mobil Siaga Desa—sebuah minibus Suzuki APV warna perak yang sudah berumur—dan memarkirkannya tepat di depan pekarangan rumah Kirana.

​"Masukin ke mobil! Cepat!" teriak Pak Kades dari kursi kemudi.

​Gani tidak berpikir dua kali. Ia menyusupkan kedua lengannya ke bawah tubuh Kirana, mengangkat gadis itu dengan sangat protektif, berhati-hati agar masker oksigen dan selang infus yang baru dipasang Pak Mantri tidak terlepas.

​Ia berlari menuruni teras. Belasan warga desa membelah jalan, memberikan ruang. Banyak ibu-ibu yang sudah menangis terisak melihat kondisi Kirana yang tidak berdaya, berdoa bersahut-sahutan.

​Gani masuk ke bagian belakang minibus yang joknya sudah dilipat. Ia memangku kepala dan tubuh bagian atas Kirana, menstabilkannya dari guncangan. Pak Mantri masuk dari pintu sisi yang lain, memangku tabung oksigen dan mengawasi laju cairan infus. Bibi Ratna memaksa ikut, duduk di kursi depan di sebelah Pak Kades, terus merapalkan doa-doa dengan bibir bergetar.

​"Pegang yang kuat di belakang!" seru Pak Kades.

​Minibus itu mengaum keras, ban belakangnya berdecit menyapu debu jalanan, lalu melesat meninggalkan Desa Karangbanyu dengan kecepatan penuh.

​Perjalanan sejauh tiga puluh kilometer menuju kota kabupaten itu adalah perjalanan paling menyiksa yang pernah dialami Gani seumur hidupnya.

​Jalan aspal antardesa yang banyak berlubang membuat minibus itu terus berguncang keras. Setiap kali ban menghantam lubang, tubuh Kirana sedikit terlempar, dan Gani harus mengeratkan pelukannya untuk menahan gadis itu.

​Waktu terasa kehilangan esensinya. Satu menit terasa seperti seratus jam.

​Gani menundukkan pandangannya. Ia menatap wajah Kirana yang terhalang masker plastik embun. Wajah yang biasanya cerewet, usil, dan selalu memaksakan senyum itu kini kosong. Bibirnya ungu, dan napasnya terdengar sangat memprihatinkan, seolah setiap tarikan udara adalah pertempuran hidup dan mati.

​Sebuah ironi yang kejam menyergap kesadaran Gani. Setengah jam yang lalu, ia berada di puncak kemenangan. Raka menjadi buronan, pengacara yang mengintimidasinya lari ketakutan, dan kehormatannya kembali bersih. Ia telah menaklukkan musuh-musuh dari masa lalunya dengan gemilang.

​Tapi apa arti semua kemenangan itu sekarang?

​Gani menyadari bahwa uang miliaran rupiah, reputasi, dan berita nasional tidak ada artinya jika dibandingkan dengan satu tarikan napas gadis di pelukannya ini. Alam semesta seolah menamparnya, mengingatkannya bahwa ia hanyalah manusia biasa. Ia bisa membangun paviliun tahan badai, tapi ia tidak bisa merancang struktur untuk menopang jantung yang rusak.

​"Bertahanlah, Tiran Kecil," bisik Gani, menempelkan keningnya ke pelipis Kirana yang sedingin es. Air mata yang selama bertahun-tahun tidak pernah keluar dari mata pria itu, akhirnya menetes, jatuh mengenai pipi gadis itu. "Kau tidak bisa pergi sekarang. Rumahnya belum berdiri. Kau sudah berjanji padaku."

​Pak Mantri terus memonitor denyut nadi di leher Kirana dengan jari-jarinya yang tegang. "Pak Kades, lebih cepat! Denyutnya semakin melemah!"

​"Ini sudah mentok gasnya, Mantri! Jalannya rusak parah!" balas Pak Kades dengan suara panik, membunyikan klakson panjang untuk menyingkirkan sebuah truk pengangkut pasir di depannya.

​Gani memejamkan mata rapat-rapat. Ia mengutuk dunia. Ia mengutuk sistem birokrasi, mengutuk jalanan rusak ini, mengutuk segala hal. Namun di atas semua amarah itu, Gani mulai merapalkan sesuatu yang sudah belasan tahun tidak ia lakukan.

​Pria yang terbiasa mengandalkan logika dan probabilitas matematis itu, kini mulai berdoa.

​Jika Kau ada... batin Gani memohon pada kekuatan yang tak terlihat. Jika Kau mendengarku... ambil saja semua yang baru kudapatkan kembali hari ini. Ambil uangku, ambil reputasiku, ambil semuanya. Jangan dia. Kumohon, biarkan dia hidup.

​Setelah dua jam yang terasa seperti penyiksaan neraka, minibus itu akhirnya berbelok tajam memasuki pelataran Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Kabupaten.

​"SUS! DOKTER! KODE BIRU!" Pak Mantri berteriak melompat dari pintu geser bahkan sebelum mobil itu berhenti sepenuhnya.

​Kepanikan di dalam mobil seketika berpindah ke pelataran rumah sakit. Tiga orang perawat dan seorang dokter jaga IGD yang sudah terbiasa dengan situasi seperti ini langsung berlari keluar membawa brankar (ranjang dorong pasien).

​Gani menggendong Kirana keluar dari mobil dengan gerakan cepat namun sangat hati-hati, membaringkannya ke atas brankar.

​"Pasien perempuan, dua puluh empat tahun. Riwayat gagal jantung kronis. Cardiac arrest (henti jantung) sejak satu jam yang lalu dalam perjalanan, napas gasping!" Pak Mantri langsung memberikan laporan medis dengan kecepatan kilat kepada dokter jaga saat mereka mendorong brankar itu melewati pintu kaca otomatis.

​"Siapkan defibrillator! Injeksi Epinefrin satu miligram! Intubasi sekarang!" teriak dokter IGD memberikan komando beruntun.

​Mereka menerobos lorong panjang berbau karbol yang menyengat. Lampu-lampu neon putih di langit-langit berkelebat di atas mereka. Suara roda brankar yang berderit nyaring di atas lantai ubin, disusul oleh suara teriakan medis, menciptakan sebuah orkestra horor yang membekukan darah.

​Saat brankar itu didorong masuk ke dalam sebuah ruangan khusus dengan pintu ganda bertuliskan RUANG RESUSITASI, dua orang perawat pria bertubuh besar segera menghentikan langkah Gani.

​"Bapak keluarga pasien? Mohon tunggu di luar!" tahan salah satu perawat, meletakkan tangannya di dada Gani.

​"Saya suaminya! Biarkan saya masuk!" Gani berbohong tanpa ragu sedikit pun, matanya memerah buas, mencoba menerobos. Ia tidak akan membiarkan gadis itu berjuang sendirian di kelilingi orang asing berbaju putih.

​"Maaf, Pak. Aturan medis. Dokter sedang melakukan kejut jantung. Bapak tidak bisa masuk. Mohon kerja samanya untuk keselamatan pasien!" Perawat itu mendorong tubuh Gani ke belakang dengan tenaga penuh, lalu menutup pintu ganda itu rapat-rapat dengan bunyi klik yang menggema.

​Gani terdorong mundur. Kakinya yang sedari tadi dipaksa berdiri menggunakan adrenalin, akhirnya menyerah.

​Pria itu merosot turun, punggungnya bergesekan dengan dinding ubin dingin berwarna putih pucat, hingga ia jatuh terduduk di lantai lorong rumah sakit.

​Kedua tangannya yang kasar, kapalan, dan terbalut perban tipis itu kini terkulai lemas di atas lututnya. Tangan itu gemetar hebat. Di atas kulit dan perbannya, masih menempel aroma melati yang pudar, bercampur dengan bau obat antiseptik.

​Bibi Ratna dan Pak Kades tiba beberapa saat kemudian. Wanita paruh baya itu langsung terduduk di kursi tunggu plastik, menutupi wajahnya dan menangis tersedu-sedu. Pak Kades bersandar di dinding sebelah pintu, menundukkan kepalanya, mulutnya komat-kamit merapalkan selawat tiada henti.

​Gani menatap pintu ganda yang tertutup rapat itu. Pandangannya kosong.

​Di balik pintu itu, ia bisa mendengar sayup-sayup perintah dokter.

​"Clear! Shock!" Terdengar bunyi dentuman defibrillator yang menghantam tubuh.

​"Belum ada ritme! Pompa lagi! Siapkan dosis kedua!"

​Setiap detik yang berlalu menggerogoti sisa kewarasan Gani. Ia menenggelamkan wajahnya di antara kedua lututnya, menarik rambutnya sendiri dengan kuat untuk mengalihkan rasa sakit di dadanya.

​Selama hampir satu jam, Gani terjebak dalam api penyucian itu. Tidak ada yang keluar dari ruangan tersebut. Ketidakpastian adalah bentuk siksaan yang paling kejam.

​Ponsel di saku celana jin Gani bergetar berkali-kali. Panggilan masuk dari Seno sang jurnalis, panggilan dari nomor-nomor tak dikenal dari Jakarta yang pasti berasal dari stasiun televisi, dan rentetan notifikasi media sosial yang meledak menyambut 'kembalinya sang arsitek jenius'.

​Dunia di luar sana sedang merayakan namanya. Tapi di lorong dingin ini, Gani membiarkan ponsel itu bergetar tanpa memedulikannya. Ia mematikan daya ponselnya dengan sekali tekan. Dunia bisa menunggu. Jika Kirana tidak kembali, maka ia juga tidak punya alasan untuk kembali ke dunia itu.

​Akhirnya, suara pintu resusitasi terbuka.

​Dokter jaga yang tadi menangani Kirana keluar. Pria itu tampak kelelahan, melepaskan masker bedah dari wajahnya yang dibanjiri keringat, meninggalkan bekas merah di pangkal hidungnya.

​Gani melesat berdiri layaknya pegas yang dilepaskan. Pak Kades dan Bibi Ratna ikut berdiri.

​"Dokter, bagaimana? Kirana selamat, kan?" desak Bibi Ratna terisak.

​Dokter itu menatap Gani, lalu menatap Bibi Ratna. Ia menghela napas berat, sebuah napas yang terlalu sering ia embuskan saat harus membawa berita buruk kepada keluarga pasien.

​"Kami berhasil mengembalikan ritme jantungnya setelah tiga kali kejut, dan cairan di paru-parunya sudah kami keluarkan melalui selang. Pasien saat ini sudah melewati fase henti jantung," jelas dokter itu.

​Gelombang kelegaan seketika menyapu lorong itu. Bibi Ratna berseru mengucap syukur sambil memeluk lengan Pak Kades. Gani mengusap wajahnya dengan kedua tangan, dadanya mengembang lega.

​Namun, jeda dokter itu terlalu panjang. Wajah medis itu tidak menyiratkan kemenangan.

​"Tapi..." lanjut dokter itu, memadamkan kelegaan yang baru berumur sedetik itu secara brutal. "Saya harus jujur kepada Anda semua. Kondisinya sangat kritis. Kami harus memasang inkubasi (selang napas) dan memindahkannya ke ruang ICCU (Intensive Cardiovascular Care Unit)."

​Dokter itu menatap Gani dengan serius. "Otot jantungnya telah mengalami nekrosis (kematian jaringan) yang masif. Kapasitas pompa jantungnya (Ejection Fraction) saat ini berada di bawah lima belas persen. Kami memasangkan obat-obatan penyokong tensi dosis maksimal hanya agar darahnya tetap mengalir."

​"Apa maksudnya, Dok?" Gani bertanya, suaranya berubah menjadi sangat dingin dan kalkulatif, menolak untuk panik untuk kedua kalinya. "Jelaskan dengan bahasa yang bisa saya selesaikan."

​"Maksudnya, Pak," dokter itu merendahkan suaranya, "Rumah sakit kabupaten ini hanya memiliki peralatan untuk menstabilkannya sementara. Kami tidak punya teknologi ECMO (paru dan jantung buatan) atau fasilitas operasi bedah toraks tingkat lanjut. Jantung pasien sudah tidak sanggup bekerja sendiri. Tanpa transplantasi jantung, atau setidaknya pemasangan pompa jantung mekanis (LVAD) dalam waktu dekat... dia hanya punya waktu beberapa hari. Maksimal satu minggu."

​Dunia Gani kembali berhenti berputar.

​Beberapa hari. Angka itu jauh lebih mengerikan daripada angka dua miliar rupiah yang ditagih pengacara padanya.

​"Rujuk dia," potong Gani cepat, nada suaranya berubah menjadi perintah seorang eksekutif yang tidak menerima kata 'tidak'. "Rujuk dia ke rumah sakit pusat jantung nasional di Jakarta. Sekarang juga."

​Dokter itu menatap penampilan Gani yang kotor, penuh tanah dan debu kapur. "Pak, merujuk pasien dalam kondisi sangat tidak stabil sejauh ratusan kilometer membutuhkan ambulans ICU khusus dengan dokter pendamping. Dan... operasi transplantasi atau pemasangan alat itu membutuhkan biaya miliaran rupiah. Antrean BPJS untuk kasus ini sangat panjang. Tanpa jaminan deposit finansial dari keluarga, rumah sakit pusat tidak akan bisa langsung melakukan tindakan ekstrem."

​Dokter itu mencoba realistis, mengingatkan Gani bahwa mereka adalah orang daerah dengan keterbatasan.

​Gani terdiam. Ia memejamkan mata.

​Ia tidak punya uang. Hartanya disita. Rekeningnya dibekukan oleh bank. Ia adalah pria miskin yang baru saja memenangkan pertarungan reputasi.

​Tapi tunggu. Ia memenangkan reputasi.

​Mata Gani terbuka. Sesuatu bergeser di dalam otaknya. Sesuatu yang mematikan dan brilian. Kemarahan dan keputusasaan di matanya perlahan digantikan oleh fokus absolut dari seorang pria yang siap membakar seluruh dunia demi menyelamatkan satu nyawa.

​"Dokter, pertahankan dia malam ini. Berikan perawatan terbaik yang rumah sakit ini miliki," ucap Gani, suaranya mengalun rendah namun memancarkan otoritas yang membuat dokter itu refleks mengangguk.

​Gani berbalik menatap Pak Kades.

​"Pak Kades, jaga Kirana bersama Bibi Ratna. Saya harus pergi," instruksi Gani.

​"Pergi ke mana, Mas Gani? Jakarta?" tanya Pak Kades bingung.

​"Tidak. Saya harus mencari sinyal internet yang bagus," Gani merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel yang tadi ia matikan. Ia menyalakannya kembali, menatap rentetan notifikasi dari para wartawan, investor lama, dan tokoh publik yang mencarinya.

​Sebuah senyum miring, putus asa namun berbahaya, terlukis di wajah Gani.

​"Dunia sedang mencari saya untuk meminta maaf," gumam Gani pelan, menatap lurus ke arah pintu ganda ruang resusitasi. "Dan saya akan membuat mereka membayar setiap permintaan maaf itu dengan harga yang sangat, sangat mahal."

1
Quinza Azalea
lanjut thor😍
Quinza Azalea
luarbiasa
Quinza Azalea
lanjut thor
Yeni Puspitasari
segar , konyol, keren 😍
Yeni Puspitasari
dari dua novel yg mengerikan Thor, cerita baru mu kali ini membuat ku tertawa lebar🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!