NovelToon NovelToon
Enam Tahun Berlalu,Kau Masih Di Sana

Enam Tahun Berlalu,Kau Masih Di Sana

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Ketos / Teen Angst
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Sinopsis:

Enam tahun lalu, Azzalia sengaja mendorong Danendra pergi karena merasa dirinya terlalu dingin untuk cinta setulus itu. Ia menghilang tanpa jejak, berharap luka laki-laki itu sembuh.

Namun di kota ini, semesta mempertemukan mereka kembali. Saat Azzalia masih membeku dalam rasa bersalah, Danendra justru masih berdiri di titik yang sama.

"Azzalia, kalau kamu sudah capek berkelana, tolong menoleh ke belakang. Aku masih di sini, menunggu kamu."

Masihkah ada ruang untuk cinta yang pernah dibuang, atau pertemuan ini hanya untuk membuka luka lama yang belum benar-benar kering?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: vanilla latte dan orang yang sama

Waktu seolah berlari mengejarku. Detak jam dinding di kantor yang biasanya terasa lambat, kini terdengar seperti lonceng peringatan. Angka dua belas muncul di layar komputerku, dan bersamaan dengan itu, sosok Danesha sudah berdiri di samping kubikelku dengan wajah ceria.

"Zal, yuk! Kantin depan ada menu baru, keburu antre panjang nanti," ajak Nesha sambil menenteng tas kecilnya.

Aku baru saja hendak berdiri dan meraih tas, berharap bisa lari bersama Nesha dan bersembunyi di keramaian kantin, namun suara Mbak Selly memotong langkahku.

"Nesha, Azzalia nggak bisa ikut kalian dulu ya. Dia harus dampingi Pak Danendra makan siang untuk bahas teknis proyek," ucap Mbak Selly dengan nada yang tak terbantahkan.

Nesha melongo, matanya beralih menatapku dengan penuh tanda tanya. "Hah? Pak Danendra yang dari pusat itu, Mbak?"

"Iya, perintah langsung dari beliau. Jadi kamu makan sama yang lain dulu ya, Nesh," tambah Mbak Selly lagi.

Aku hanya bisa menunduk, menghindari tatapan menyelidik Nesha. Aku tahu Nesha pasti teringat kejadian di taman kemarin pagi. Dia tahu ada sesuatu yang tidak beres, tapi di depan Mbak Selly, dia hanya bisa mengangguk pelan meski wajahnya terlihat sangat bingung.

"Oh... oke deh. Semangat ya, Zal," bisik Nesha sambil menepuk bahuku, lalu melangkah pergi dengan keraguan yang jelas terpancar dari punggungnya.

Aku menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberanianku. Dengan langkah gontai, aku berjalan menuju lobi. Dari kejauhan, aku sudah melihatnya. Danendra berdiri di dekat pintu kaca besar, sedang berbicara di telepon. Penampilannya yang rapi dan berwibawa membuat beberapa staf wanita yang lewat mencuri-curi pandang, namun fokusnya langsung beralih padaku begitu aku melangkah mendekat.

Ia mematikan sambungan teleponnya dan memasukkan ponsel ke saku celana. "Tepat waktu. Saya suka staf yang disiplin," ucapnya datar, namun ada kilatan kemenangan di matanya.

"Mari, mobilnya sudah siap di depan," lanjutnya tanpa menunggu jawabanku.

Aku mengikutinya keluar menuju sebuah mobil hitam mengkilap yang sudah menunggu di lobi. Sopir kantor membukakan pintu belakang untuk kami. Aku ragu sejenak, namun Danendra sudah masuk lebih dulu dan memberi isyarat agar aku duduk di sampingnya.

Suasana di dalam mobil begitu hening dan dingin, sebanding dengan suhu AC yang menusuk kulit. Aku memilih menatap keluar jendela, mengamati jalanan Kota J yang mulai padat, sementara Danendra sibuk dengan tablet di tangannya.

"Kita tidak akan ke restoran mewah," suaranya tiba-tiba memecah kesunyian, membuatku sedikit terlonjak.

"Lalu kita mau ke mana, Pak?" tanyaku tanpa menoleh.

"Ke tempat yang menyajikan vanilla latte terbaik di kota ini. Saya dengar kamu masih menyukai itu, bukan?"

Deg. Jantungku serasa berhenti berdetak. Ia masih ingat. Setelah enam tahun, setelah semua luka yang kuberikan, dia masih menyimpan detail kecil tentang seleraku seolah itu adalah informasi paling penting dalam hidupnya.

"Itu hanya urusan pekerjaan, Pak. Anda tidak perlu repot-repot mengingat hal sepele seperti itu," sahutku berusaha sedingin mungkin.

Danendra meletakkan tabletnya, lalu memutar tubuhnya menghadapku. Jarak kami sangat dekat di dalam kabin mobil yang sempit itu.

"Bagi kamu mungkin sepele, Zal. Tapi bagi saya, setiap inci tentang kamu adalah hafalan yang tidak pernah bisa saya lupakan, bahkan jika saya ingin sekalipun."

Aku meremas jemariku di pangkuan, mencoba mengabaikan getaran aneh yang mulai menjalar di dadaku. Takdir benar-benar sedang mempermainkanku; terjebak di dalam ruang sempit bersama pria yang paling ingin kuhindari, menuju tempat yang penuh dengan kenangan yang ingin ku kubur dalam-dalam.

"Bahkan tatapan mata kamu masih sama seperti enam tahun lalu zal,masih datar dan dingin"

"Lalu saya harus menatap seperti apa pak?tatapan mata saya dari dulu memang seperti ini,saya harus berubah atau apa?disini saya bekerja pak,bukan untuk membahas masa lalu"

Danendra hanya menyunggingkan senyum tipis, sebuah senyum yang sulit diartikan—antara merasa geli atau justru terluka oleh ketegasanku. Ia kembali menyandarkan punggungnya, menatap lurus ke arah jalanan di depan kami.

"Kamu benar. Kita di sini untuk bekerja," ucapnya pelan, suaranya kini terdengar lebih rendah. "Tapi profesionalitas bukan berarti kamu harus mematikan seluruh sisi kemanusiaanmu, Zal. Kamu terlihat seperti sedang memakai zirah besi yang terlalu berat untuk kamu panggul sendiri."

Aku terdiam, tidak mampu membalas kalimatnya. Kata-katanya selalu punya cara untuk menyelinap masuk ke celah terkecil di pertahananku. Aku memilih kembali menatap jendela, menyaksikan deretan bangunan yang berlalu cepat, berusaha keras mengabaikan keberadaannya yang begitu dominan di sampingku.

Tak lama kemudian, mobil berhenti di depan sebuah kafe bergaya minimalis dengan kaca-kaca besar. Begitu masuk, aroma kopi yang kuat menyambut kami. Danendra membimbingku ke sebuah meja di sudut yang cukup privat, jauh dari keramaian pengunjung lain.

"Dua vanilla latte dan satu porsi croissant," ucap Danendra pada pelayan tanpa perlu melihat menu.

Setelah pelayan pergi, keheningan kembali menyergap. Aku mengeluarkan buku catatan kecil dan bolpoin dari tas, mencoba menciptakan suasana "kerja" yang sejak tadi aku agungkan.

"Jadi, poin mana yang ingin Bapak bahas lebih detail?" tanyaku formal, menatap lurus ke arah matanya.

Danendra menghela napas, ia melipat kedua tangannya di atas meja. "Simpan dulu buku catatanmu, Azzalia. Saya tidak mau bicara soal angka saat kopinya belum datang."

"Tapi Pak—"

"Lima menit," potongnya cepat. "Berikan saya waktu lima menit untuk bicara sebagai Danendra, bukan sebagai atasanmu. Setelah itu, saya janji kita hanya akan bicara soal proyek sampai jam makan siang selesai."

Aku ragu, namun akhirnya menurunkan buku catatanku. Hatiku berdesir. Lima menit ini terasa seperti waktu eksekusi yang paling menakutkan.

"Kenapa Kota J?" tanyanya tiba-tiba. "Dari semua tempat di dunia ini, kenapa kamu memilih kota yang jaraknya ratusan kilometer dari rumah? Apa karena kamu benar-benar ingin lari sejauh mungkin dari saya, atau ada hal lain yang kamu cari di sini?"

Aku menelan ludah. Pertanyaan itu adalah kotak pandora yang selama ini kukunci rapat. Aku memilih tempat ini justru karena kupikir aku tidak akan pernah bertemu dengannya di sini.

"Kota ini tenang, Pak. Saya hanya ingin memulai semuanya dari nol, tanpa ada bayang-bayang masa lalu yang terus menghantui," jawabku sejujur mungkin, meski suaraku sedikit bergetar.

"Memulai dari nol..." Danendra mengulang kalimatku dengan nada getir. Tepat saat itu, pelayan datang membawakan pesanan kami. Ia menyesap kopinya perlahan, lalu menatapku dengan binar mata yang kembali sendu. "Sayangnya, Zal, sejauh apa pun kamu berlari, titik nol kamu akan selalu ada di tempat yang sama. Dan hari ini, titik itu sedang duduk di depan kamu."

Kalimat itu menghantamku telak. Aku meraih gelas vanilla latte-ku, membiarkan rasa manis dan hangatnya meresap di lidah, mencoba mencari ketenangan yang tiba-tiba hilang. Kami kembali terdiam, terjebak dalam pusaran kenangan yang belum usai, di sebuah meja kafe yang kini terasa seperti medan perang emosional bagi kami berdua.

1
kokita
ihhb kok jahat banget yang nyebarin🥺 nanti azzalia ngilang lagi thorr😭
kokita
semangat ngejar azzalia🤭
kokita
jangan kaku-kaku zal,
kokita
pepet terus nen🤣
kokita
makan siang bareng mantan🤭
kokita
keren torrr
kokita
kalau saling cinta kenapa pergi zal🤭
kokita
aku malah yang deg-degan thor😄
kokita
balikan zal
langit buku
si Danendra setia banget
Kembang Lombok
kenapa ak yg dek dekan yaaa🤭
falea sezi
zalia ini aneh di. tolak tp kepikiran ywda napa dlu g di. trima jalanin aneh bgt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!