NovelToon NovelToon
SINGGASANA SEMENTARA : Dua Ranjang Satu Rahasia

SINGGASANA SEMENTARA : Dua Ranjang Satu Rahasia

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Selingkuh / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Rey.writerid

Bagi Winda, menjadi istri Baskara adalah sebuah kepasrahan. Namun, sebuah bisikan miring di pesta malam itu meruntuhkan harga dirinya: Winda hanyalah singgasana sementara sebelum masa lalu suaminya kembali. >
Kecewa, hancur, dan mati rasa, Winda nekat melangkah ke dalam takdir yang kelam. Di bawah guyuran hujan malam itu, ia menyerahkan raganya pada Aryo—suami dari sahabat baiknya sendiri. Sebuah pelarian gila demi membalas rasa sakit hatinya.

Namun, selembar benang rahasia itu perlahan ditarik oleh takdir. Saat kebenaran tentang kesetiaan Baskara terungkap, Winda justru mendapati dirinya terbangun di rumah sakit dengan sebaris kalimat yang meremukkan jiwanya: "Kamu hamil, Sayang."

Di atas dua ranjang yang berbeda, satu rahasia besar kini terkunci rapat. Winda terjebak dalam labirin penyesalannya sendiri, sementara di seberang sana, sang sahabat juga tengah merayakan kehamilan yang sama.

Ketika waktu perlahan membongkar tabir, siapakah yang akan bertahan di atas singgasana yang sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey.writerid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SISA SISA YANG TERTINGGAL

Di ruang tamu yang berantakan itu, atmosfer terasa begitu mencekam dan dingin. Winda duduk bersimpuh dengan tubuh gemetar, sementara Baskara berdiri tegak di hadapannya dengan tatapan mata yang tajam, menuntut jawaban tanpa celah.

"Apa maksud ucapan Aryo tadi, Winda? Jelaskan padaku," tanya Baskara. Suaranya bener-bener datar, tanpa emosi, namun sarat akan tekanan yang menghimpit dada.

Dengan air mata yang mengalir deras membanjiri pipinya, pertahanan Winda runtuh total. Ia tidak bisa lagi mengelak. Winda akhirnya menceritakan semuanya—tentang malam terkutuk di hotel pinggiran kota bersama Aryo. Namun, di tengah isak tangisnya yang histeris, Winda yang tersudut mulai melimpahkan rasa bersalahnya pada Baskara.

"Ini semua karena Mas! Mas dari awal nggak pernah jujur sama aku! Mas gak pernah cerita soal Alena, soal hubungan kalian di masa lalu, bahkan soal dia yang datang ke rumah ini! Mas yang membuat aku merasa gak berharga di rumah ini, Mas yang membuat aku berpikiran kalau aku cuma singgasana sementara!" jerit Winda meluapkan seluruh rasa sakitnya.

Baskara tertegun sejenak mendengarnya. Semburat luka dan kekecewaan yang teramat dalam langsung terpancar dari sepasang matanya. Baskara menghela napas panjang, lalu berucap dengan suara yang bergetar menahan perih.

"Iya... aku akui aku memang salah karena nggak pernah jujur dari awal sama kamu, Winda," ucap Baskara, nadanya meninggi namun tertahan. "Tapi bukan berarti kamu bisa bertindak seenaknya di belakangku! Aku selama ini diam karena aku sedang berjuang, Winda! Aku sudah mencoba membuka hatiku, aku sudah mencoba mencintai kamu dengan tulus! Dan apa balasanmu? Kamu malah main gila di belakangku dengan suami sahabatmu sendiri?!"

Baskara melangkah maju, menatap lurus ke arah perut buncit Winda yang sudah berusia tujuh bulan. "Dan sekarang... aku mau nanya satu hal yang paling penting. Di dalam perut kamu itu... anak siapa, Winda?!"

Winda seketika terdiam membeku. Lidahnya kelu. Ia hanya bisa menangis terisak-isak dengan dada yang sesak luar biasa, tak mampu memberikan jawaban pasti. "Maafkan aku, Mas... Maaf... aku nggak tahu... Maafkan aku..." rintih Winda putus asa.

BRAKKK!

Baskara memukul dinding rumah dengan kepalan tangannya yang mengeras hingga menimbulkan suara dentuman yang keras. Pria itu menggeram frustrasi, dadanya naik turun dengan napas memburu. Ada rasa sesal, amarah, dan kekecewaan yang menggulung di dalam hatinya. Namun, di sisi lain, jauh di dalam lubuk hatinya, Baskara tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa ia terlanjur menyayangi janin yang ada di dalam kandungan Winda selama tujuh bulan ini.

Melihat kemarahan Baskara, pandangan Winda mendadak mengabur. Kepalanya terasa berputar hebat, hatinya terlalu hancur menahan beban yang teramat berat. Detik berikutnya, tubuh lemah Winda ambruk dan terjatuh pingsan di atas lantai.

"Winda?!" Baskara yang panik langsung melupakan amarahnya seketika. Ia bergegas menerjang maju, mengangkat tubuh istrinya, dan langsung membawanya lari ke rumah sakit.

Suasana di rumah sakit berubah menjadi sangat kacau dan kelang-kabut. Dokter dan perawat berlarian keluar masuk ruang darurat setelah memeriksa kondisi Winda yang mengalami syok berat hingga memicu kontraksi dini. Akibat kondisinya yang kritis, dokter memutuskan bahwa Winda harus segera menjalani operasi sesar darurat demi menyelamatkan nyawanya dan sang bayi, meskipun usianya baru tujuh bulan.

Beberapa jam yang menegangkan berlalu. Dari dalam ruang operasi, suara tangisan melengking seorang bayi laki-laki akhirnya pecah, membelah kesunyian lorong rumah sakit.

Baskara berdiri diam di depan jendela kaca ruang operasi. Matanya menatap sayu ke arah Winda yang masih belum sadarkan diri di atas brankar. Namun, setiap kali ia menatap wajah bayi yang baru lahir itu, memori kepalanya justru berputar ulang menampilkan wajah gila dan obsesif Aryo saat mengamuk di rumahnya tadi pagi. Ucapan Aryo terus terngiang-ngiang bagai kaset rusak: "Itu anak aku, Winda! Aku selalu terbayang-bayang kamu dan anak kita!"

Hati Baskara bener-bener remuk. Rasa sangsi dan bayang-bayang pengkhianatan itu terlalu besar untuk ia tanggung. Pria itu memejamkan matanya rapat-rapat. Dengan sisa ketegaran yang tersisa, Baskara berjalan menuju administrasi rumah sakit. Ia melunasi dan membayar seluruh biaya persalinan serta perawatan Winda tanpa sisa. Setelah semua urusan selesai, Baskara berbalik perlahan, melangkah meninggalkan rumah sakit itu, dan pergi menghilang dari kehidupan Winda.

Perlahan, Winda membuka kelopak matanya yang terasa sangat berat. Aroma obat-obatan langsung menusuk indra penciumannya. Hal pertama yang ia cari saat kesadarannya pulih adalah sosok suaminya.

"Mas... Mas Baskara..." panggil Winda dengan suara serak. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, namun ruangan rawatnya kosong melongpong. Baskara tidak ada di sana.

Tak lama, seorang perawat masuk membawa bayinya yang sedang menangis. Winda menerima bayi kecil itu dengan tangan gemetar, mendekapnya erat ke dadanya sembari ikut menangis. Di dalam hatinya yang didera kegelisahan, Winda mencoba menghibur dirinya sendiri. Mungkin Mas Baskara sedang pulang ke rumah untuk menyiapkan keperluan kami. Iya, Mas Baskara pasti menungguku di rumah.

Winda mengambil ponselnya dengan jemari yang lemas, mencoba menelepon nomor Baskara. Namun, jangankan diangkat, nomor itu bahkan tidak aktif.

Setelah diizinkan pulang oleh dokter, Winda membawa bayi kecilnya kembali ke rumah dengan taksi. Begitu melangkah masuk ke dalam rumah, suasana sepi yang mencekam langsung menyambut kedatangannya. Tidak ada lampu yang menyala, tidak ada aroma masakan, hanya ada suara tangisan bayinya yang menggema di ruang tamu yang sunyi.

Langkah kaki Winda terhenti saat matanya menangkap sesuatu di atas meja makan. Di sana, terletak sebuah koper besar yang cukup berat. Winda membukanya dengan perlahan. Matanya membelalak kaku melihat tumpukan uang tunai yang sangat banyak di dalam koper tersebut. Di samping uang itu, terdapat selembar sertifikat tanah atas namanya, dan selembar kertas putih dengan kop resmi: SURAT CERAI.

"Nggak... Nggak mungkin... Mas Baskara nggak mungkin ceraikan aku..." bisik Winda menggelengkan kepalanya histeris, menolak mempercayai lembaran kertas yang ada di tangannya.

Dengan air mata yang mengucur deras, Winda bergegas membawa bayinya ke lantai atas, menidurkan malaikat kecil itu dengan hati-hati di dalam kamar. Setelah itu, ia langsung berlari menuju lemari pakaian milik Baskara. Begitu pintu lemari dibuka, lutut Winda seketika lemas hingga ia jatuh terduduk di lantai.

Kosong. Semua baju-baju milik Baskara sudah tidak ada, telah diangkut pergi tanpa menyisakan satu pun jejak.

Detik itu juga, kenyataan pahit menghantam batin Winda dengan sangat telak. Sekarang, ia bener-bener sendiri. Rumah megah ini mendadak terasa begitu luas dan asing. Winda menangis sejadi-jadinya, meratapi nasibnya yang hancur berkeping-keping akibat kesalahan masa lalunya.

Winda berjalan kembali ke kamar bayinya dengan langkah goyah. Ia memandangi wajah suci putranya yang tengah tertidur lelap. Dengan suara serak yang sarat akan kerinduan pada suaminya, Winda berbisik lirih, "Nama kamu... BAGASKARA ANANTA." Winda sengaja menyisipkan nama Baskara di sana, berharap suatu hari nanti sang anak bisa menuntun ayahnya untuk kembali pulang.

Hari-hari pun berlalu, dan waktu perlahan merayap naik. Winda kini menjalani kehidupannya yang baru sebagai seorang ibu tunggal. Setiap hari ia menyibukkan diri merawat buah hatinya, memasak, dan membersihkan rumah sendirian. Sesekali, ayah kandung Winda datang berkunjung untuk menengok kondisi putri dan cucunya setelah sang ayah memutuskan keluar dan mengundurkan diri dari kantor milik Ayah Serena karena merasa tidak enak hati.

Meski waktu terus berjalan, luka di hati Winda tak pernah benar-benar sembuh. Di tengah kesibukannya, Winda selalu mencoba menghubungi ponsel Baskara setiap hari, namun panggilannya tidak pernah sekalipun tersambung. Ia juga mencoba menelepon Serena untuk meminta maaf dan menjelaskan kelanjutannya, namun Serena pun tidak pernah mau mengangkat teleponnya lagi. Persahabatan dan pernikahannya bener-bener telah mati.

Hingga setiap kali malam tiba, saat suasana rumah sudah berubah menjadi sangat sunyi dan Bagaskara kecil sudah tertidur lelap di ranjangnya, Winda akan duduk sendirian di sudut kamar. Di bawah kegelapan malam, ia hanya bisa memeluk lututnya dan menangisi seluruh penyesalan, kesepian, dan takdir hidupnya yang kini terdampar dalam kesendirian yang teramat sunyi.

1
Tamirah
Ikhlaskan Aryo untuk sahabat mu.serena sdh banyak membantu mu.masih banyak laki laki diluar sana yg lebihh baik dari Aryo .Jangan jangan Aryo hanya mengincar kedudukan di perusahaan ituu
Tamirah
cerita ini belummm jelas alur nya, sekilas Kalau winda cinta mati sama Aryo,cinta bertepuk sebelah tangan.Aryo memanfaatkan winda krn dekat dgn Serina.mungkin Karena Serina orang kaya, kalau sekedar cantik itu relatif.lanjut Thor.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!