"Di mata dunia, dia adalah pangeran penyelamat. Di mataku, dia adalah sipir penjara yang kejam."
Bagi keluarga besar Aris Baskoro, Aris adalah anak berbakti dan abang idaman. Sebagai seorang Manager Regional sukses dengan gaji puluhan juta, dia tak pernah ragu melunasi cicilan mobil adiknya, membiayai kuliah saudara-saudaranya, hingga memberikan tas-tas branded untuk ibunya tercinta. Aris adalah 'pahlawan' yang selalu diagung-agungkan.
Namun, di balik pintu rumahnya sendiri, Aris adalah monster yang berbeda bagi sang istri, Maya Safira.
Di rumah mewah yang mereka tempati, Maya harus hidup dalam 'kemiskinan' yang dipaksakan. Aris memperlakukannya bukan sebagai istri, melainkan tawanan. Setiap rupiah uang belanja dicatat, setiap struk harus dilaporkan. Sementara Aris royal pada orang lain, dia pelit setengah mati pada istri dan anaknya, Dafa. Maya bahkan harus memutar otak mencari uang seratus ribu untuk SPP anaknya yang menunggak, padahal di saat yang sama, Aris baru saja mentransfer
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AwandaMw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
**Bab 5 Rahasia di balik seragam
____💐
Pagi itu, Maya bangun dengan perasaan yang berbeda. Beban yang biasanya menghimpit dadanya setiap kali melihat kalender terasa sedikit terangkat. Di dalam ponselnya, sebuah notifikasi dari aplikasi perbankan digital menjadi harta karun rahasianya. Saldo sebesar satu juta rupiah—hasil tulisan pertamanya—adalah simbol kemerdekaan kecil yang ia miliki.
Aris masih sibuk mematut diri di depan cermin, merapikan dasi sutranya yang mahal. Ia melirik Maya yang sedang menyiapkan tas sekolah Dafa melalui pantulan cermin.
"Hari ini Dafa tidak usah sekolah dulu, May," ucap Aris enteng, seolah sedang membicarakan cuaca. "Pihak sekolah kemarin kirim pesan ke saya. Katanya kalau belum bayar tunggakan, anak itu jangan dibawa ke kelas. Saya malu kalau ditegur di depan orang tua murid lain."
Maya menghentikan gerakannya. Ia menarik napas dalam, mencoba menjaga suaranya agar tetap stabil. "Tanggung, Mas. Hari ini ada kegiatan melukis yang Dafa tunggu-tunggu. Soal SPP, biar aku yang urus."
Aris tertawa sinis, suara tawa yang selalu membuat Maya merasa kerdil. "Kamu yang urus? Pakai apa? Pakai daun? Atau mau minta ke Bapakmu lagi? Sudah saya bilang, saya belum ada uang cash. Semua uang masuk ke deposito dan investasi. Kamu itu harusnya paham, uang laki-laki itu tidak semuanya bisa cair seketika."
Maya tidak menjawab. Ia hanya terus memasukkan buku gambar ke tas Dafa. Kebohongan Aris sudah terlalu usang untuk diperdebatkan. Ia tahu persis, kemarin Aris baru saja pamer di grup keluarga kalau ia baru saja membeli satu set stik golf baru.
"Sudah, jangan banyak bantah. Suruh Dafa main di rumah saja. Dan ingat, siang nanti Ibu mau mampir. Masakkan makanan yang enak, jangan memalukan saya dengan menu tempe lagi," tutup Aris sebelum melenggang pergi dengan aroma parfum yang memenuhi ruangan.
Begitu mobil Aris menghilang dari pandangan, Maya langsung bergegas. Ia memakaikan seragam Dafa yang sudah rapi disetrika.
"Kita ke sekolah, Bu?" tanya Dafa dengan mata berbinar"
"Iya, Sayang. Kita bayar sekolah Dafa hari ini ya," jawab Maya sambil mencium kening putranya.
Sesampainya di sekolah, Maya langsung menuju ruang tata usaha. Ia menyerahkan uang tunai yang baru saja ia tarik dari ATM dekat pasar. Petugas tata usaha menatapnya dengan heran.
"Loh, Bu Maya, Pak Aris kemarin baru saja menelpon bilang kalau pembayarannya akan ditunda bulan depan karena ada keperluan mendesak," ujar petugas itu ramah.
Dada Maya berdenyut nyeri. Aris bahkan tega menelpon sekolah hanya untuk memastikan anaknya tidak sekolah karena ia enggan mengeluarkan uang. "Mungkin suami saya lupa, Bu. Ini saya bayar lunas untuk dua bulan yang menunggak, ditambah bulan depan."
Setelah menerima kuitansi dengan stempel lunas, Maya merasa sebuah beban berat terangkat dari pundaknya. Ia melihat Dafa berlari masuk ke kelas dengan ceria. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, Maya merasa memiliki kendali atas hidupnya kembali.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.
Siang harinya, sesuai ancaman Aris, Ibu Ratna datang. Tidak sendirian, ia membawa Siska dan dua orang kerabat jauhnya. Mereka masuk ke rumah Maya seperti sekumpulan mandor yang sedang menginspeksi proyek.
"Mana Aris, May?" tanya Ibu Ratna sambil duduk di kursi ruang tamu, langsung menyalakan kipas angin dengan kencang.
"Mas Aris masih di kantor, Bu. Tadi katanya Ibu mau makan siang di sini?" Maya keluar dari dapur dengan membawa nampan berisi teh hangat.
Ibu Ratna menatap teh itu dengan pandangan meremehkan. "Makan siang apa? Siska bilang kamu pelitnya minta ampun kemarin. Aris itu capek cari uang, tapi istrinya malah menyembunyikan uang tabungan buat keluarga sendiri. Apa benar kamu sering kirim uang ke Bapakmu di desa tanpa izin Aris?"
Maya tertegun. Fitnah itu lagi. "Tidak benar, Bu. Uang dari mana yang saya kirim? Uang belanja saja selalu saya laporkan struknya ke Mas Aris setiap minggu."
"Ah, jangan alasan! Siska lihat sendiri kamu pegang laptop mahal kemarin siang. Aris bilang dia tidak pernah belikan kamu laptop. Pasti itu hasil menyisihkan uang dapur, kan? Atau jangan-jangan Bapakmu yang minta dibelikan?" cecar Ibu Ratna.
Siska yang duduk di samping ibunya menimpali dengan nada sinis, "Iya, Mbak. Kemarin Mbak Maya panik banget pas aku datang. Laptopnya langsung disembunyikan. Kalau bukan hasil 'ngutil' uang Mas Aris, kenapa harus takut?"
Maya mencoba tetap tenang, meski jemarinya gemetar. "Laptop itu barang lama dari zaman aku kerja dulu, Sis. Baru aku servis."
"Sudah, sudah!" potong Ibu Ratna. "Ibu ke sini bukan mau dengar pembelaan kamu. Ibu mau minta uang lima juta. Aris bilang, sisa uang renovasi rumah bulan lalu ada di kamu. Ibu mau pakai buat DP umrah. Masmu sudah setuju."
Maya mematung. Aris benar-benar licin. Ia melempar tanggung jawab "menolak" keinginan ibunya kepada Maya. Aris tahu Maya tidak punya uang itu, tapi Aris membiarkan ibunya percaya bahwa Maya-lah yang memegang uangnya. Dengan begitu, jika Ibu Ratna gagal mendapatkan uang, yang dibenci adalah Maya, bukan Aris.
"Bu... Mas Aris tidak pernah menitipkan uang renovasi ke saya. Semua uang renovasi kemarin dibayar langsung oleh Mas Aris ke kontraktornya," jelas Maya perlahan.
"Bohong!" teriak Ibu Ratna sambil menggebrak meja. "Aris tidak mungkin bohong pada ibunya sendiri! Kamu pasti mau pakai uang itu buat operasi katarak Bapakmu, kan? Kurang ajar kamu ya, May! Umrah itu ibadah, masa kamu lebih mementingkan Bapakmu yang sudah bau tanah itu?"
Caci maki itu mengalir deras. Maya hanya bisa menunduk, air matanya jatuh ke lantai keramik yang dingin. Di saat ia baru saja merasakan sedikit kebahagiaan karena bisa membayar sekolah Dafa, ia kembali dihantam oleh kenyataan bahwa ia hidup di tengah keluarga pemangsa.
"Kalau sampai sore ini Aris bilang uang itu ada di kamu dan kamu tidak kasih, Ibu akan suruh Aris menceraikan kamu! Istri macam apa yang berani menahan hak mertuanya?" ancam Ibu Ratna sebelum pergi meninggalkan rumah dengan emosi meluap-luap.
Maya terduduk lemas di sofa. Di tengah keputusasaannya, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Raka masuk.
Raka: "May, klien puas banget sama artikel pertama. Ada 5 artikel lagi buat minggu ini. Kalau lo sanggup, fee-nya gue naikin dua kali lipat. Ambil nggak?"
Maya menatap layar ponsel itu. Di satu sisi, ada ancaman perceraian dan mertua yang kejam. Di sisi lain, ada jalan keluar yang mulai terbuka lebar.
Maya menghapus air matanya dengan kasar. Ia berdiri, mengambil laptopnya yang disembunyikan di balik taplak meja.
"Aku ambil, Rak. Semuanya," balas Maya tegas.
Ia tidak akan lagi memohon pada Aris untuk menjelaskan kebenaran pada ibunya. Ia tidak akan lagi menangis meminta uang untuk Dafa.
Jika mereka ingin menganggapnya "istri pelit yang menyembunyikan uang", maka ia akan benar-benar menjadi wanita kaya yang memiliki uangnya sendiri—uang yang tidak akan pernah ia bagikan kepada orang-orang yang hanya tahu cara menghisap darahnya.
Malam itu, saat Aris pulang dan mulai bertanya dengan nada mengancam tentang "uang renovasi" yang diminta ibunya, Maya hanya menjawab pendek.
"Tanya saja pada dirimu sendiri, Mas. Kamu yang buat skenarionya, kamu yang harus selesaikan. Dan satu lagi... Dafa sudah sekolah tadi. Lunas."
Aris terbelalak. "Lunas? Pakai uang siapa?!"
Maya menatap suaminya tepat di mata, tanpa rasa takut sedikit pun. "Uang yang selama ini kamu bilang tidak ada. Ternyata, kalau aku mencari sendiri, uang itu ada banyak sekali, Mas."
Aris terdiam, terpaku melihat kilat di mata istrinya yang selama ini selalu redup. Untuk pertama kalinya, sang Manager Regional itu merasa ada sesuatu yang mulai lepas dari genggamannya.
_____💐