Tian Yuofan tumbuh dalam kehidupan yang tidak pernah mudah. Sejak usia delapan tahun, ia sudah harus belajar bertahan sendiri, merawat ibunya yang kehilangan kewarasannya akibat trauma masa lalu. Ia bahkan tidak bisa menyentuhnya, takut memicu trauma ibunya.
Tanpa keluarga yang utuh, tanpa teman, Yuofan menjalani hari-harinya sendirian di dunia yang tidak memberi banyak ruang bagi orang lemah. Ia belajar memahami lingkungan, membaca keadaan, dan bertahan dengan caranya sendiri.
Namun suatu hari, sebuah kejadian yang awalnya tampak seperti kesialan justru membawanya pada sesuatu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya—sebuah pertemuan yang perlahan mengubah arah hidupnya.
Dari sana, perjalanan yang tak pernah ia pikirkan pun benar-benar dimulai…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KuntilTraanak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4—Mutiara
Sebuah tawa berat mengisi seluruh ruangan. Tawa yang terdengar begitu senang, seakan ia berhasil keluar dari penderita seribu tahun.
Wuxu menatap kearah bocah dibawahnya. Senyuman kecil terangkat dari sudut bibirnya, memancarkan niatan yang terlihat begitu jelas. Dengan cepat, ia terbang kearah Yuofan.
[ “Glupvek! Kael telo-vrak druvalah grabra-zhul!” ]
Dasar naif! Akan ku ambil tubuhmu!
Yuofan terdiam melihat Wuxu yang melayang kearah nya. Telat ketika Wuxu berada di depan wajahnya, ia menancapkan kembali pedang itu pada tempatnya seraya mengucapkan…
[Krevan, Ostrava aetern-zhul, Yadra schvarn-blad vel-sangra]
Wuxu terkejut melihat hal itu, dengan wajah panik ia menengok kearah belakang dimana rantai itu kembali mendekatinya. Dan dalam sekejap ia kembali ditarik keatas tiang dengan rantai yang melilit tangan dan lehernya. Wajahnya terlihat marah dan tak percaya menatap kearah Yuofan yang hanya tersenyum kecil.
[ “KTORAZH DRUVA, MALKA-VRA?!” ]
SIAPA KAU SEBENARNYA, BOCAH?!
Yuofan menutup mulutnya, badannya terlihat bergetar hebat, dan setelah ia terjatuh kelantai. “Sungguh, aku sangat malu untuk mu.” ucap yuofan yang kemudian tertawa kencang, ia berguling-guling di lantai sembari memegangi perutnya.
“Bisa-bisanya kau menjadi raja iblis, kepintaran saja kau tidak punya!” lanjutnya yang menangis menikmati momen lucu ini.
Sebenarnya sejak awal ia memasuki bangunan ini, ia sudah bisa membaca pola-pola aneh itu. Ia sendiri tak tahu mengapa, tapi yang pasti pola itu terus bertuliskan Krevan, Ostrava aetern-zhul, Yadra schvarn-blad vel-sangra atau yang artinya kekang, tahan selamanya, selagi pedang bersama.
Awalnya ia tak paham, tetapi setelah memasuki ruang kedua dan mendapati sesosok makhluk menyeramkan. Ia pun paham maksud dari kalimat tersebut, apalagi ketika membaca pola yang ada pada tiang penyangganya.
Yang mana didalam tiang itu tertulis bahwa yang di rantai adalah raja iblis ketigabelas, Wuxu—Sang penguasa kehampaan atau. Lalu terdapat juga kalimat yang mengatakan kebebasan Wuxu didapat dari tubuh, kontrak, dan penyembahan, kebebasan nya adalah kehancuran bagi 'kami'. Ia tidak terlalu mengerti siapa itu 'kami', tetapi pada intinya Wuxu tak akan bisa bebas selagi pedang ditancapkan di altar. Jikapun bebas, ia harus mendapatkan tubuh baru karena ia hanyalah seonggok jiwa.
[ “Druva kael varghel-trek-vek?!” ]
Berani-beraninya kau menipuku?!
“Hah?” Yuofan menyeka air mata di ujung matanya. “Kau saja tadi menipuku, tak mungkin aku diam saja.” ucapnya seraya bangkit dan menepuk pakaiannya. Ia melirik kearah pedang, tetapi sesaat kemudian ia langsung berbalik badan dan berniat pergi dari sana.
[ “Stavra, verdom-kra!” ]
Berhenti, sialan!
Yuofan menengok kearah Wuxu dengan alis yang diangkat sebelah, “Apa? Kenapa? Mau menipuku lagi?” tanya nya, tetapi tanpa menunggu jawaban ia langsung kembali berjalan menuju ruang pertama.
[ “Cih, da vel. Khaelun kontraz-sukhrava vor-zhul.” ]
Cih, baiklah. Mari kita buat kontrak.
Yuofan menghentikan langkahnya, ia berbalik dan kembali menatap rubah hitam itu dengan wajah datar. “Menurutmu aku akan percaya?”
[ “Kael druvalah intra-zhul zhera tamra-hass vekra-krov zherav.” ]
Aku tau di dalam dirimu terdapat kebencian dan dendam.
“Lalu? Apa urusanmu?” Yuofan melipat kedua tangannya didepan dada dengan wajah bertanya.
[ “Kael druvalah helvra-zhul tamra vekra finavra-zhul.” ]
Aku akan membantumu menuntaskannya
Yuofan mengangkat sedikit ujung bibirnya nyaris tak terlihat. Ia kembali berjalan mendekati altar, disana ia mengambil mutiara sebelumnya yang tertancap pada tiang.
[ “Hei! Hei! Hei! Stavrek-zhul!” ]
Hei, hei, hei! Tunggu!
Yuofan tak mempedulikannya, ia mengangkat mutiara itu keatas dengan mulut terbuka lebar. Hal itu tentu membuat Wuxu kesal, apalagi ketika Yuofan melepaskan mutiara itu dan membiarkannya masuk kedalam mulutnya.
[ “Druva ena Krava varkh-kra?!” ]
Apa yang kau lakukan?!
Yuofan menelan mutiara itu. “Membuat kontrakan, apalagi?” jawabnya seraya mengangkat kedua bahunya.
Dengan langkah santai, ia menarik kembali pedang hitam sebelumnya. Kembali, rantai-rantai itu berjatuhan hingga menimbulkan suara bising. Namun kali ini sedikit berbeda, Wuxu tak lagi melayang melainkan langsung terjatuh kelantai.
“Wah, apa yang terjadi? Raja iblis yang kejam ini sudah tak memiliki kekuatan kah?” ucapnya membuat Wuxu semakin kesal. Ia kemudian beralih pada pedang ditangannya, ia lalu menyentuh bilah pedang tersebut dengan tangannya yang masih terluka. Darahnya melapisi bilah tersebut, yang tak lama setelah itu darah membentuk pola aneh yang memiliki arti tuanku.
Wuxu yang masih terbaring lemas langsung diserap masuk kedalam pedang tanpa aba-aba. Yuofan pun tersenyum lebar merasakan dopamin tinggi yang hadir dalam dirinya. Namun kesenangan itu tak berlangsung lama, dikala tiba-tiba kepalanya terasa sakit. Ribuan memori ingatan mengalir dengan deras didalam kepalanya, hal itu bahkan membuat nya mengeluarkan darah dari dalam hidungnya.
“Sial,” Yuofan berusaha mengatur nafasnya seraya menyeka darah dari hidung nya. “Ternyata kau tak seburuk apa yang aku pikirkan.” lanjutnya yang kini semakin membuat Wuxu merasa jengkel.
“Diam kau bajingan!” balas Wuxu.
Yuofan pun terkekeh melihat reaksinya.
Dalam ingatan yang muncul, Yuofan bisa melihat dengan jelas bahwa Wuxu tidaklah dikurung oleh dewa, melainkan oleh bangsanya sendiri, yaitu iblis. Yang mana iblis itu mengkhianati Wuxu karena merasa bahwa Wuxu bukanlah raja yang tegas, apalagi Wuxu merupakan iblis dengan darah campuran. Maka dari itu iblis tersebut mengkhianati Wuxu untuk mengambil tahtanya, ia juga mengurung Wuxu menggunakan sebuah artefak milik dewa yaitu Istana Kesunyian. Dan artefak itu adalah bangunan yang saat ini ia masuki.
Sebenarnya Istana ini tidak memiliki apapun didalamnya selain altar yang berfungsi mengekang target. Tetapi Wuxu yang menyimpan seluruh hartanya didalam ruang hampa menggunakan kekuatannya, yang kemudian ia keluarkan harta tersebut didalam istana ini. Fungsinya adalah untuk menarik para orang-orang serakah dan berniat untuk memanfaatkan mereka.
Tetapi kenyataannya jauh berbeda dari apa yang ia pikirkan, sebab tak seorangpun berhasil menemukan istana ini hingga Yuofan datang.
“Aku turut prihatin dengan apa yang menimpamu.” ucap Yuofan seraya berjalan meninggalkan ruangan kedua.
“Aku pun turut prihatin denganmu.” balas Wuxu dari dalam pedang.
Yuofan terdiam, tetapi ia tak membalasnya. Ia tahu bahwa dengan memakan mutiara itu, maka Wuxu sepenuhnya akan tunduk padanya. Karena kekuatannya sendiri sudah diserap oleh tiang itu dan berubah menjadi mutiara. Tetapi dampak dibaliknya adalah, mereka akan saling memahami dan mengerti. Apa yang terjadi pada Wuxu akan bisa ia rasakan, sebeliknya pun begitu, apa yang ia rasakan bisa dirasakan oleh Wuxu.
“Cepatlah obati tanganmu itu, bajingan.” ucap Wuxu dengan nada kesal, karena saat ini ia bisa merasakan apapun yang dirasakan oleh bocah itu. Apalagi ia tak memiliki kekuatan tersisa dari dalam dirinya, dan hanya menyisakan jiwa tanpa raga.
“Sungguh, aku terharu ada seseorang yang mengkhawatirkan ku.” Ucap Yuofan dengan nada dramatis membuat Wuxu ingin menyembelihnya.